Setengah halaman iklan full colour produk elektronik dan furniture mulai dari LCD TV, AC, Kulkas, meja makan, tempat tidur, sofa, dari gerai ternama muncul di sebuah harian nasinal sekitar 15 hari sebelum Ramadhan tiba. Di atas gambar-gambar perabot dan elektronik tersebut tertulis “Sambut Ramadhan, persiapkan segala kebutuhan furnishing dan elektronik untuk menyambut bulan yang suci dan momen kebersamaan lebih berkesan”. Disamping kanan tulisan tersebut dengan warna merah dan angka nol cukup besar terbaca “cicilan 0% hingga 24 bulan”. Di bawah gambar-gambar produk yang diiklankan ada lambang dan nama bank.

Paragraf di atas salah satu contoh bagaimana bulan suci ramadhan telah dikomodifikasikan sedemikian rupa oleh para pemilik modal. Secara sederhana komodifikasi adalah proses menjadikan sesuatu yang sebenarnya bukan komoditas untuk diperjual-belikan menjadi barang atau jasa yang memiliki nilai ekonomi. Komodifikasi ramadhan adalah menjadikan simbol dan kegiatan-kegiatan yang berhubunga dengan ramadhan menjadi komoditas yang bernilai secara ekonomi. Termasuk dalam hal ini adalah produk barang dan jasa yang sebenarnya tidak memiliki kaitan dengan simbol dan amaliah ramadhan dihubung-hubungkan dengan ramadhan untuk meningkatkan omzet penjualan.

Semarak Simbolis dan Konsumerisme

Selama bulan ramadhan gebyar menyambut bulan suci di TV sangat kentara. Hampir semua stasiun TV menampakkan wajah Islamnya. Ada yang mengunggulkan sinetron religi dan quiz ramadhan; ada yang mengiklankan makanan dan minuman yang dianggap pas untuk sahur dan buka puasa; ada juga yang menyiarkan kontes da’i cilik dan da’i muda. Hadirnya acara-acara televisi bertemakan ramadhan tersebut satu sisi merupakan syiar Islam dalam menyambut dan menyemarakkan ramadhan.

Sayangnya, acara-acara tersebut isinya lebih banyak muatan entertaintment-nya dari pada dakwah. Pada tahap ini, menurut pakar budaya Pop UIN Sunan Kalijaga, Dr. Robby H. Abror, komodifikasi ramadhan yang makin massif telah menggeser makna ramadhan dari bulan pendisiplinan diri untuk beribadah kepada Allah SWT ke bulan penuh hiburan. Semarak simbolis ramadhan yang semacam ini tidak lain merupakan “festivalisasi kegiatan keagamaan,” kata Abd Aziz Faiz, M.Hum,  alumni S2 UIN Sunan Kalijaga yang menulis tesis tentang komodofikasi hijab. Abror yang menulis buku Islam, Budaya dan Media (2013) juga menegaskan bahwa makna ramadhan telah direduksi sedemikian rupa oleh pelaku media, sekedar dilihat sebagai komoditas yang memiliki nilai jual untuk memperoleh keuntungan.

Gempita Ramadan Masjid Moscow Cathedral
Gempita Ramadan Masjid Moscow Cathedral

Perebutan “kue” ramadhan tidak hanya terjadi di TV dan media elektronik lain seperti radio dan internet, namun yang lebih nyata juga berlangsung di pusat-pusat perbelanjaan modern. Untuk menggoda hasrat belanja masyarakat, discount besar-besaran ditawarkan. Menurut Dwi Wahyuning IF., S.H.I., LLM., Anggota LPP Aisyiyah, di tengah derasnya arus budaya konsumerisme, saat ini ramadhan tidak lagi monopoli milik umat Islam. Ramadhan telah menjadi ajang perlombaan antar pelaku usaha untuk mendorong umat berbelanja sebanyak-banyaknya. Akibat tidak kuat menerima godaan iklan yang bertubi-tubi, tidak sedikit kaum ibu yang mengeluh kalau pengeluaran rumah tangga di bulan ramadhan cenderung lebih tinggi.

Dunia usaha yang memanfaatkan sentimen dan momentum ramadhan untuk memasarkan produk-produknya merupakan berkah dan rahmat dari Islam untuk seluruh umat manusia apapaun latar belakangnya. Namun bentuk rahmat yang semacam ini perlu diimbangi dengan kesadaran internal agar umat tidak terjebak pada semarak simbolis maupun sekedar menjadi konsumen. Umat perlu terus didorong masuk menjadi pemain dan produsen dari pasar ramadhan tersebut. Bila tidak, jumlah umat Islam yang besar ini hanya akan menjadi penonton dan konsumen. Karena itu, tingkat melek media umat Islam perlu ditingkatkan agar bisa bersikap kritis dan obyektif, sehinga mampu memilih dan mamilah mana tayangan dan produk yang betul betul positif.

Dua Sisi Komodifikasi Ramadhan

Komodifikasi ramadhan, menurut Prof. Dr. Ach Muzakki, M.A., dosen UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga sekretaris Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, merupakan bagian dari proses komodifikasi agama, atau secara khusus komodifikasi Islam yang berlangsung di Indonesia. Dibandingkan dengan komodifikasi Islam yang lain, seperti dalam ibadah haji dan qurban, komodofikasi ramadhan jauh lebih massif dan fulgar sebab secara durasi waktu berlangsung lebih lama dan melibatkan umat dari semua kalangan. Puasa ramadhan hanya satu bulan, tapi proses komodifikasinya bisa dimulai sejak satu bulan sebelum dan satu bulan setelah ramadhan.

Prof. Muzakki, yang menulis desertasi tentang komodifikasi penerbitan Islam, juga menegaskan bahwa komodifikasi ramadhan itu sendiri  bermata ganda, positif dan negatif. Sisi positif komodifikasi ramadhan adalah keberhasilannya menghadirkan simbol-simbol Islam secara massif di ruang public dan mendorong masyarakat awam untuk mencari role model ber-Islam dari tanyangan media. Sisi negatifnya adalah karakter festivalisasi kegiatan ramadhan itu sendiri yang sulit dibedakan mana yang tuntunan dan mana yang tontonon, terutama oleh orang awam.

Agar umat, terutama dari kalangan awam, mampu menemukan ramadhan tetap bermakna dan tidak terjebak pada kegiatan yang hanya bersifat show atau tontonan, menurut Muzakki, dua hal perlu diperhatikan. Pertama, secara struktural Komisi Penyiaran Indonesa perlu lebih difungsikan dalam mengontrol dan “menertibkan” acara-acara ramadhan di televisi yang secara konten tidak memiliki fungsi edukasi dan jauh dari spirit ramadhan. Kedua, secara kultural, kaum elit agama harus proaktif dan kreatif dalam memanfaatkan media untuk berdakwah. Dengan demikian acara-acara ramadhan di telivisi, radio dan media lain memperoleh pengawalan dari para ahli agama, bukan diserahkan begitu saja kepada pelaku dunia hiburan. Keterlibatan elit agama ini penting, agar umat tidak terjebak menggunakan agama yang telah terkomodifikasi tersebut sebagai acuan moral. (AM)

NB: Tulisa  ini pernah dimuat di Majalah Al-Manar edisi Juli 2014 Sumber Gambar Image by Khusen Rustamov from Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.