Seorang Ayah dengan Dua Putra (Fata & Naufal) dan Satu Putri (Alidya) asli @DesaPonjong Gunungkidul, saat ini sebagai Dosen PTN di Yogyakarta


Dakwah, Debat & Kebebesan Berekspresi

Ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wa mau’idhati al-hasanati wa jaadil-hum billaatii hiya ahsan. (Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak (hikmah) dan peringatan yang baik-baik, lalu debatlah dengan cara yang terbaik).

Ayat diatas sering dijadikan rujukan tentang metode dan strategi berdakwah: yang pertama dengan menyeru pada jalan Allah secara bijak (bi al-hikmah), kedua pemberian wejangan/nasihat yang baik-baik (mau’idha hasanah), dan yang ketiga, bila masih nggak mau juga, maka debatlah namun dengan cara yang paling baik, tidak menimbulkan prahara (jaadilhum billati hiya ahsan). Ketiga strategi tersebut seoalah berlaku squence, 1, 2, dan 3. Padahal, kalau dicermati ayat tersebut mengandung dua perintah. Pertama adalah perintah dakwah dengan cara menyeru dan memberi peringatan, yang kedua adalah perintah untuk mendebat dengan cara yang sebaik mungkin.

Kenapa dua perintah? Sebab wau ‘athf pada wa jaadilhum mestinya merujuk pada kata perintah (fi’il amr) ud’uu, bukannya pada kata benda (isim) al-hikmah wa mau’idhatu al-hasanah yang selama ini sering dipahami. Dalam struktur bahasa Arab kata sambung “dan” (wa athf) mesti merujuk pada kata yang pararel. Karena Jaadil-hum adalah fiil amr, maka ia mesti merujuk pada fii’l amr sebelumnya, yaitu ud’uu, bukan pada dua kata benda (isim) al-hikmah dan al-mau’idhah.

Perintah untuk berdebat ini perlu dimaknai secara komprehensif. Bukan hanya mendebat pandangan pihak lain yang tidak sesuai dengan kita pada forum-furum debat. Juga bukan terbatas pada forum debat antar dua kelompok agama sebagaimana sering dilakukan oleh Ahmad Dedat dengan para pendeta dan pastur untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam. Lebih luas lagi, debat bisa juga dimaknai sebagai counter information terhadap isu-isu miring yang memojokkan Islam.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dalam dunia internet yang mengantarkan setiap orang bisa dengan bebas dan leluasa membuat blog, memposting opini dan pendapat pribadi atau kelompok, maka berita dan informasi yang merendahkan, menghina, dan menghujat Islam dan umat Islam akan semakin banyak. Ditutupnya blog yang memuat kartun nabi Muhammad di Indonesia beberapa waktu yang lalu tidak akan menutup syahwat mereka yang tetep gigih ingin melecehkan Islam. Ini bisa dibaca dari tidak menyesalnya kartunis Denmark yang telah melecehkan Nabi bahkan akan tetep berkarya atas nama kebebasan berekspresi meski karyanya tersebut diprotes oleh kaum Muslim seantero Dunia. Disinilah perlunya umat Islam proaktif “mendebat” informasi-informasi yang menghina Islam tersebut dengan cara terbaik. Tidak cukup hanya dengan sikap reaktif; protes, demo turun ke jalan sambil marah-marah. Informasi tentang Islam yang sesat menyesatkan tersebut harus didebat dengan counter informasi yang cerdas dan terarah.

Saatnya umat Islam membuat task force “pusat informasi” terdiri dari orang-orang yang “melek” hukum, media, teknologi dan tentu saja ajaran Islam itu sendiri untuk mendebat dan meluruskan berita-berita miring tentang Islam. Saatnya generasi Muslim proaktif memanfaatkan fasilitas blog, wordpress, mailing list, friendster, facebook serta fasilitas ‘dunia maya’ lainnya untuk syiar Islam. Bila tidak, maka internet akan dipenuhi oleh bloger-bloger yang hanya menyiarkan kesesatan. Itulah kira-kira makna strategis dari perintah Allah “jaadilhum billati hiya ahsan.” Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan