Archive for the ‘Teropong’ Category

Merdeka?

Posted 13 Aug 2009 — by Muttaqin
Category Teropong

MerdekaEnampuluh empat tahun usia republik-ku, namun kemerdekaannya hingga kini masih kusangsikan. Setiap bulan Agustus tanda tanya itu selalu muncul. Bukan hanya aku, kamu dan mereka kukira juga akan mempertanyakan status kemerdekaan ini; mengapa asing masih menguasai sumber daya mineral, bisnis strategis, arus informasi, bahkan juga makanan yang kita konsumsi.

Coba lihat: teknologi informasi kita ambil dari Amerika dan Eropa. Mobil dan motor kita datangkan dari Jepang. Daging dan susu yang kita minum produk Austraia dan New Zealand. Durian dan klengkeng yang tersaji di atas meja berasal dari Thailand. Bahkan bawang putih yang beredar di pasar tradisional pun diimpor dari China.

Lalu kemana saja putra-putri terbaik bangsa yang begelar doktor, insyinyur, dan ekonom itu? Diapakan saja tanah subur gemah ripah loh jinawi seluas nusantara itu? Apa saja yang diperbuat oleh petani dan nelayan kita selama ini? Kukira tidak bijak menggungat ketergantungan republik ini pada para insinyur, kaum intelek, petani, pedagang, juga nelayan. Aku yakin mereka telah bekerja keras sesuai bidangnya. Petani kita itu, misalnya, telah bekerja luar biasa: berangkat ke ladang pagi ba’da subuh; menjelang dhuhur pulang lalu dua jam kemudian  ke ladang lagi hingga menjelang maghrib. Kukira mitos pribumi malas yang mengatakan “orang Melayu kalau bekerja tidak berkeringat, kalau makan baru berkeringat,” itu sangat menyesatkan.

Read More

The Best Keyword for the article:

Modernity, Religious Change and Spiritual Revolution

Posted 07 Aug 2009 — by Muttaqin
Category English, Teropong

Emma FlowersAlthough Marx, Freud, and Weber had predicted religions would progressively disappear from society for the expansion of modern institutions, we watch not only religions that reject to away from society but also see the emergence of novel sensibility of religions and spirituality in late modernity. ‘Why should this be?’ ask Giddens who then finds Durkheim’s affirmation that religion has ‘some thing eternal’ namely ‘symbol of collective unity’ (Giddens, 1992: 207).

Will religion truly disappear due to massive spread of modernity? Were the question directed to Hefner, he would answer that the absent of religion in modern time is just temporary. Every society needs ‘collective moral consciousnesses’. Durkheim, as noted by Hefner, “believed that this lost of religion was but a temporary dysfunction of early modernization (see also Beckford, 1989: 25). No society can survive without a collective moral consciousness. The lost of social power of certain religions will be followed by the emergence of a new ‘civil religion’ replacing social role of the earliest. Such a civil religion is able to “provide coherence and stability even in the absence of a theistic canopy” (Hefner in Heelas, 1998: 150). Berger (1992) and Cox (1990) also predicted that the availability of spirituality in modern and even post-modern time is clearly potential (Hefner in Heelas, 1998: 150).  This because, as Mellor says, “societies have a sui generis reality that is collectively represented in religion”. Furthermore, “Religion is more than the mere cement of social solidarity”, it “continues act as an emergent, dynamic and creative force in societies” (Beckford and Wallis, 2006: xv).

Read More

The Best Keyword for the article:

Muhammadiyah dan Sufisme

Posted 06 Aug 2009 — by Muttaqin
Category Teropong

muhammadiyah2Di beberapa kesempatan, professor saya selalu bilang Sufisme tidak bakal mati. Meski puritanisme yang berkongsi dengan modernisme selalu berusaha memarginalkannya, ia selalu bisa hadir menerobos celah-celah kepenatan duniawi maupun ritual keagamaan yang terlalu formal dan “kering”. Kelenturannya beradaptasi dengan berbagai kondisi dan daya tahannya melintasi sekat-sekat aliran, kelompok, kelas sosial bahkan juga zaman merupakan nilai lebih mystical experience dalam Islam itu.

Muhammadiyah yang selama ini identik dengan organisasi Muslim kaum modernis berulang kali dinilai sebagai salah satu yang anti, atau setidaknya kurang ramah dan tidak apresiatif terhadap Sufisme (Howell 2001, 2004, 2007, 2008). Tampaknya, penilain ini berdasar pada: (1) Citra Modern Muhammadiyah, sementara kaum modern itu sendiri selalu melihat mystical experience bagian dari barrier yang menghambat kemajuan. Lebih kejam lagi, modernisme melekatkan mistisisme dengan keterbelakangan [backwards]. Penilaian Muhammadiyah sebagai gerakan yang mempelopori rasionalisasi pragmatik dalam Islam serta mengedepankan akal dan intelek sebagaimana diungkap Geerzt (1960) dan Peacok (1978) telah menempatkan Muhammadiyah itu by definition anti tasawuf yang dianggap expresi tradisionalisme; (2) karakter puritan Muhammadiyah yang anti TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat) serta pendapat sebagian ulama yang memandang tasawuf adalah expresi keberagaam yang kurang autentik dalam Islam sebab rujukannya sulit ditemukan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah secara langsung; dan (3) tidak satupun “organisasi” kaum Sufi atau Tarikat yang bernaung di bawah Muhammadiyah. Hal ini berbeda dengan, misalnya, Nahdhatul Ulama yang secara organisatoris “memayungi” kelompok-kelompok tarikat yang dinilai muktabar (diakui keabsahannya).

Read More

The Best Keyword for the article:

Dicari: Iron-Chef Muslim

Posted 27 Jul 2009 — by Muttaqin
Category Teropong

Chef

Sertifikasi halal ini, yang didesain sebagai bentuk kontrol dan pemberian jaminan keotentikan sebuah produk, sebenarnya berakar pada hilangnya kepercayaan atautrust konsumen terhadap produsen. Karena itu, selalin melalui nalar kuasa sertifikisai, kenapa tidak juga ditempuh jalan kultural dengan mencetak produsen2 jujur sebanyak-banyaknya? Sayangnya, sulit –atau memang belum ada– perguruan tinggi Islam yang punya program studi terkait permakanan seperti tata boga, hospitality, perhotelan, dll dan bereputasi cemerlang.

Read More

The Best Keyword for the article:

Islamic Cleric among Indonesian “Modernist” Muslims

Posted 25 Jul 2009 — by Muttaqin
Category English, Teropong

…it would be a problematic to generalize the norm of Islamic Clerics among Indonesian Modernist Muslims. The ‘faces’ of modernist Muslims are changing just as other institutions where polarization is one of the characteristics. The clerical authority among reformist Muslim in Indonesia is now, especially after reformation era, more multi-polar and more plural than ever before.

Read More

The Best Keyword for the article:

Cukup Satu Kali

Posted 16 Jul 2009 — by Muttaqin
Category Teropong

number-oneMenutut Foucault, pemenang dalam partarungan politik bukan siapa yang memperoleh suara terbanyak tapi siapa yang menentukan aturan main pertandingan itu. Masalahnya, apa yang akan terjadi bila diantara petarung teryata merangkap sebagai pembuat aturan? Itulah mengapa incumbent selalu memiliki lebih banyak kapital menang dibanding peserta lain.

Meski berbagai aturan telah sedemikian rupa mengeliminir campur tangan incumbent pada lembaga idependent pelaksana pertadingan, namun relasi kuasa antar lembaga yang berpusat pada the incumbent menjadikan lembaga tersebut sulit bisa netral 100%. Pun demikian juga pada lembaga pengawas dan perangkat penegak hukum lain yang dibentuk untuk mengontrol kerja pelaksana. Yang sering terjadi, laporan dari incumbent biasanya direspon dengan cepat, sementara laporan atas kecurangan incumbent cenderung diabaikan. Read More

Page 3 of 4« First...234