Di beberapa kegiatan resmi organisasi dan forum-forum pengajian sering muncul pertanyaan peserta tentang sikap Muhammadiyah terhadap Tasawuf. Dalam sebuah pelatihan kader se-Sumatera beberapa waktu yang lalu, pertanyaan ini menyeruak ketika narasumber menyampaikan materi Paham Agama dalam Muhammadiyah, Dinamika Gerakan Pembaharuan dan Pemikiran dalam Islam, serta Perbedaan Identitas Muhammadiyah dengan Gerakan-Gerakan Islam lainnya. Beberapa penanya tidak sekedar mencari pejelasan sikap resmi organisasi terhadap Sufism beserta segala apseknya namun juga menekankan bahwa dimensi esoteris itu diperlukan dalam beragama agar tidak terjebak pada formalisasi ritual. Dalam bahasa studi agama, having religion saja tidak cukup, perlu ditingkatkan menjadi being religious agar tidak terjebak pada dataran simbolik.
Archive for the ‘Teropong’ Category
Menanti Tajdid Spiritual
Category Teropong
Muhammaddiyah, the Fatwa & Paradox of Modernity
“Why does Muhammadiyah enthusiastically release fatwas (religious verdicts) lately?” Ask a friend of mine in a milis responding the new fatwa of the Majelis Tarjih and Tajdid (MTT – Council of Legal Affair and Reform) on bank interest. The fatwa was one of Council National Meeting (Munas Tarjih) outcomes in Malang, East Java, 1-4 April 2010. Like previous Muhammadiyah fatwa on banning cigarette, the latest fatwa also stirred up pros and conts.
This brief posting will not address to the pro and cont issues about the fatwa. It rather would like to see beyond the fatwa from theory of modernity noting the phenomena as both the paradox of Muhammadiyah and, in a broader scope, the paradox of modernity.
The Best Keyword for the article:
Muhammadiyah, Fatwa & Paradok Modernitas
“Mengapa Muhammadiyah akhir-akhir ini getol mengeluarkan fatwa?” Tanya seorang kawan dalam sebuah milis saat menanggapi keluarnya fatwa Muhammadiyah tentang haramnya bunga bank pada Munas Tarjih di Malang 1-4 April 2010. Sebagaimana fatwa MTT sebelumnya tentang haramnya rokok, fatwa tentang bunga bank ini juga menuai pro dan kontra.
Hemat saya, produktifnya Muhammadiyah mengeluarkan fatwa akhir-akhir ini menandakan paradox Muhammadiyah sekaligus paradox modernitas pada konteks yang lebih luas.
The Best Keyword for the article:
Muhammadiyah, Fiqih Tembakau & Kritik Negara
Category Teropong
Muhammadiyah baru saja mengeluarkan fatwa rokok haram, merevisi fatwa sebelumnya (2005) yang menyatakan rokok itu mubah tapi ditinggalkan lebih baik. Fatwa Muhammadiyah kali ini “setingkat lebih tinggi” dari fatwa MUI tentang rokok yang menyatakan rokok pada dasarnya makhrukh, namun haram untuk anak-anak dan wanita hamil.
Berbagai respon, pro dan kontra terhadap fatwa haram rokok Muhammadiyah terus bermunculan. Diantara yang kontra menyatakan keluarnya fatwa rokok haram itu menunjukkan para ulama Muhammadiyah tidak peka terhadap permasalahan kaum tani, dan hanya bisa memberi stempel halal dan haram. Betulkah demikian? Read More
The Best Keyword for the article:
Mencari Spiritualitas Otentik
Category Teropong
Mengapa orang rela membayar mahal hanya untuk mengikuti spiritual training selama 1-3 hari? Mari kita tengok kelas-kelas Yoga, Meditasi, Emosional-Spiritual Training, zikir massal, serta berbagai gemblengan spiritual yang akhir-akhir ini menjamur di tanah air. Program-progam “olah” spiritual tersebut ditawarkan oleh berbagai lembaga dengan beragam latar tradisi. Sebagian representasi dari sufisme dalam Islam, sebagian bersumber dari tradisi Tiongkok (Reiki, Fallun Ghong), sebagian dari tradisi India (Yoga, Meditasi), sebagian juga dari tradisi Jawa (ritual Ruwatan), dan sebagian lagi merupakan kombinasi antara Sufisme, managemen dan psikologi humanistik.
Yang menarik dari lembaga-lembaga penawar program spiritualitas tersebut adalah upaya korporatisasi layanan spiritual. Lembaga-lembaga tersebut memiliki kantor dan sekretariat yang representatif, staff yang terlatih dan cekatan, serta publikasi yang menawan di berbagai media massa. Selain itu, layanan jasa dan produk spiritual dikemas sedemikian rupa menjadi beragam paket. Manfaat dari mengikuti program spiritual juga selalu mereka expose dalam bentuk testimony para alumninya. Read More
The Best Keyword for the article:
Sang Pengkhianat
Category Teropong
Umumnya, orang merasa sakit bila dikhianti. Namun akhir-akhir ini banyak yang, tanpa mereka sadari, justru merasa senang dan bangga. Dengan suka cita mereka bahkan merayakan kehadiran ‘sang pengkhianat’ itu.
Mau tahu siapa pengkhianat dan penyambut setia kehadirannya? Simak refleksi berikut ini.
Ketika sambungan telepon kabel belum menjangkau ke semua rumah, hand phone (HP) masih menjadi barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang, wartel adalah pilihan utama masyarakat untuk berkomunikasi jarak jauh dengan kolega dan keluarganya. Usaha wartel pada waktu itu betul-betul jadi primadona. Sayangnya, hanya mereka yang punya modal dan koneksi dengan otoritas perusahaan telekomunikasi lah yang bisa mengakses bisnis yang sangat menguntungkan waktu itu.