Istilah “hedonis” kembali populer di masyarakat. Awalnya adalah “sentilan” ketua KPK, Busyro Muqaddas, pertengahan Nopember yang lalu, tentang kebiasaan hidup mewah para anggota DPR dan pejabat tinggi RI. Kolom surat kabar, acara talk show TV, mailing list, wall facebook, kicauan di tweeter, bahkan gardu ronda menjadi ajang memperbincangkan perilaku hedonis para pejabat. Semuanya pada ‘koor’ mengkritisi, atau setidaknya menyayangkan, perilaku bermewah-mewah pejabat negara yang seolah tidak peka dengan problem ekonomi masyarakat.
Wajar bila sebagian masyarakat mempertanyakan dari mana para pejabat tersebut dapat uang untuk memperoleh mobil dan rumah mewah bernilai milyaran rupiah. Dihubungkan dengan masih tingginya indek korupsi di negeri ini, serta banyaknya aparatur negara –angota DPR, pejaba tinggi, ‘raja-raja” kecil di propinsi, kota dan kabupaten– yang menjadi OKB (orang kaya baru), kecurigaan masyarakat “jangan-jangan harta yg dipakai bermewah-mewah tersebut dari hasil korupsi” seolah memperoleh pembenaran. Read More




