<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIFE FOR OTHERS &#187; Serba-serbi</title>
	<atom:link href="http://www.ahmadmuttaqin.com/tags/serba-serbi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ahmadmuttaqin.com</link>
	<description>:Berbagi Merajut Kebersamaan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 03:50:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Indonesia Jujur: Yuk… mulai dari kita sendiri</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 03:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[Jujur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu istri saya tampak sibuk dan tergesa. Sejak jam 3 pagi dia sudah bangun, duduk serius di depan laptop sambil tangannya memencet-mencet huruf demi huruf pada keyboard. Menjelang jam 7, dia minta tolong di-lay-out-kan hasil kerjanya dan mengeprintkannya sambil wanti-wanti pada saya untuk tidak mengotak-atik isinya. Dia sendiri langsung menuju kamar mandi dan bersiap [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F06%2F12%2Findonesia-jujur%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F06%2F12%2Findonesia-jujur%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=diri+sendiri,Jujur&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/06/Trio-Lanang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-782" title="Trio Lanang" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/06/Trio-Lanang-300x231.jpg" alt="" width="300" height="231" /></a>Pagi itu istri saya tampak sibuk dan tergesa. Sejak jam 3 pagi dia sudah bangun, duduk serius di depan laptop sambil tangannya memencet-mencet huruf demi huruf pada keyboard. Menjelang jam 7, dia minta tolong di-lay-out-kan hasil kerjanya dan mengeprintkannya sambil wanti-wanti pada saya untuk tidak mengotak-atik isinya. Dia sendiri langsung menuju kamar mandi dan bersiap ke kampus untuk ujian.</p>
<p>Saat me-lay-out kubaca kalimat-kalimat pada paper istriku itu. Jiwa “editor” saya langsung bekerja dan membenahi beberapa kalimat yang menurutku kurang pas. Selesai; segera saya print, lalu kuserahkan ke istri sesaat sebelum dia men-starter motornya.</p>
<p>Siang hari, sekembalinya dari kampus saya bertanya: “Gemana ujiannya Bunda? Sukses? Terus, papernya?”</p>
<p>Dengan santai dia menjawab, “Ya… begitulah. Yang penting semua sudah Bunda jawab, tapi paper tidak jadi Bunda kumpulkan.”</p>
<p>“Lho, kenapa?” protesku.</p>
<p><span id="more-781"></span>“Setelah Bunda baca lagi di kampus tadi, paper Bunda memang jadi lebih bagus, tapi Bunda tidak mau mengumpulkan tugas yang bukan orisinal hasil karya Bunda sendiri. Terimakasih dan maaf tadi Ayah sudah ikut capek-capek mengedit.”</p>
<p>Dug, saya jadi merasa bersalah sebab tidak menjalankan amanat istriku tadi dengan baik. Saat me-lay-out, jujur, saya juga mengedit tidak hanya yang salah ketik tapi juga memasukan beberapa opini saya di paper itu. Saya menyesal, gara-gara mengedit terlalu jauh menjadikan istriku gagal mengumpukan tugas. Namun pada saat bersamaan saya bangga pada istri yang kekeh dengan pendiriannya untuk berbuat jujur, memperoleh nilai kuliah hanya dari karya dan keringatnya sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Akhir-akhir ini dunia pendidikan tanah air  kembali tercoreng dengan terungkapnya kasus menyontek massal yang sistimatis pada SDN Gadel II Surabaya saat Ujian Nasional Mei lalu. Lebih memprihatinkan lagi, meski sudah terungkap terjadi contek massal, guru wali kelas serta kepala sekolah juga mengakui praktik itu dan telah diberi sanksi oleh Pemkot Surabaya, sebagian wali murid SD tersebut justru menjustifikasi &#8220;praktik nyontek itu sudah biasa”.</p>
<p>Bermula dari pengakuan anaknya, Al, bahwa ia telah ditekan oleh guru wali kelasya agar &#8220;membantu&#8221; teman-temannya saat UN, Ny S tergugah untuk mengajarkan kejujuran pada anaknya dengan melaporkan kasus penyontekan massal itu ke pihak sekolah, komite sekolah, serta instansi terkait. Karena pihak-pihak yang dilapori lamban mengambil tindakan, kasus tersebut diungkap  ke media massa. Barulah dinas pendidikan dan pemkot Sby bertindak.  Alih-alih mendukung penegakan kejujuran yang dilakukan Ny. S, sebagian wali murid justru mendemo dan mengusir Ny S beserta keluarganya dengan tuduhan telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung.</p>
<p>Waduw..…, tuduhan mencemarkan nama baik sekolah dan kampung? Emang masih punya nama baik setelah terbukti ada praktik curang massal di UN itu? Bukankah sebagian wali murid dan warga itulah yang mencemarkan nama baik mereka sendiri dengan tanpa malu dan hati nurani serta membabi buta membela kebathilan?</p>
<p>Menyimak barbagai berita di media massa dan milist  tentang peristiwa miris tersebut, nama baik sekolah dan kampung justru makin terpuruk dengan perilaku tidak terpuji sebagian wali murid dan warganya yang mengusir salah satu warganya yang berusaha berbuat jujur.</p>
<p>&#8220;Warga g*bl#g…!&#8221; “Memalukan…!” &#8220;Dunia sudah terbalik&#8230;!&#8221; &#8220;Masyarakat kita sudah sakit.&#8221; Itu sebagian komentar pedas pembaca pada sebuah berita online yang intinya menyayangkan tindakan sebagian warga dan wali murid yang kebablasan. Ada juga komentar yang lebih lunak mengatakan: “Mereka adalah korban dari sistem Pendidikan Nasional yang hanya mengukur anak didik dari angka-angka.”</p>
<p>Sadar telah terjadi sesat logiga di sebagian masyarakat bahwa jujur tidak lagi membawa mujur, namun jujur bisa berarti hancur sebagaimana di alami Ny. S dan keluarganya, muncul dukungan dan pembelaan dari masyarakat luas terhadap keluarga penegak kejujuran ini melalui kumpulan organisasi profesi, face book, milist dan jejaring sosial lainnya. Ikatan Guru Indonesia (IGI), misalnya, selain membuat pernyataan keprihatinan dan seruan dukungan bagi keluarga Ny. S juga telah menginisiasi menghimpun dana kepedulian untuk menyediakan beasiswa bagi si Al, anak cerdas yang ditekan oleh wali kelas untuk menyebarkan contekan di kasus tersebut. Kerena keluarga tersebut sudah terusir dari kampungnya, ada juga usaha menghimpun bantuan membuatkan rumah baru bagi keluarga jujur tersebut melaui berbagai milist. Kasus yang dialami Ny. S ini juga mendorong masyarakat untuk kembali menyuarakan pentingnya kejujuran seperti pada blog <a href="http://www.bincangedukasi.com/indonesiajujur-suarakan-dukunganmu-akan-kejujuran.html">bincangedukasi</a> ini.</p>
<p>Upaya membela dan mengapresiasi individu dan keluarga penegak kejujuran tersebut patut didukung dan dihargai. Kampanye berbuat jujur pun juga perlu terus digalakkan. Namun siapa kira-kira yang bersedia mengadvokasi sebagian wali murid dan warga yang telah terperosok &#8220;sesat logika&#8221; tersebut? Bukankah mereka juga perlu didampingi agar sadar dan kembali kepada track yang benar? Saya kawatir, selalu mencemooh dan menyalahkan sepenuhnya kepada mereka justru makin memperparah keadaan, sebab sebagaimana dinyatakan para ahli, mereka sejatinya juga korban kebijakan UN yang salah kaprah.</p>
<p>***</p>
<p>Bagi saya sendiri yang mengikuti hiruk pikuk kasus tersebut dari luar Indonesia, keberanian Ny. S untuk menjadi <em>whistle blower</em> menyuarakan kejujuran meski burujung pengusiran dari kampungnya telah memberikan banyak hikmah. Saya semakin terpanggil untuk terus berperilaku jujur kapanpun dan kepada siapapun.</p>
<p>Misalnya, suatu waktu juragan  warung ayam panggang saya di Sydney memberikan uang cash lewat adiknya yang setelah saya hitung teryata terlalu banyak. Segera saya meng-sms juragan tersebut untuk mengklarifikasi bahwa uang yang diberikan untuk membayar kekurangan upah minggu kemarin &#8220;is too much.&#8221;</p>
<p>Sabtu kemarin, saat warung tutup lebih awal dari biasanya dan bos saya tanya kira-kira nanti akan selesai bersih-bersih jam berapa; saya jawab seperti biasanya, kira-kira jam 6 sore. Ternyata saya berhasil menyelesaikan perkerjaan satu jam lebih awal. Kawatir dia nanti mengirim upah ke rekening saya kelebihan, maka paginya segera saya SMS si bos memberitahukan “Yesterday I finished at 5pm instead of 6”.  Padahal, kalaupun saya tidak memberitahukan selesai lebih awal, si Bos tidak bakalan tahu, sebab dia sudah terlanjur mencatat jadwal kerja saya Sabtu ini dari jam 12.30 – 18.00. Hmmm&#8230;, rasanya “PLONG…” bisa berbuat jujur minggu ini.</p>
<p>Indonesia Jujur: mari mulai dari diri kita sendiri, dari hal-hal yang dianggap remeh temeh sekalipun.</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="slogan kejujuran">slogan kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="kultum tentang kejujuran">kultum tentang kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="contoh slogan kejujuran">contoh slogan kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="contoh kalimat slogan kejujuran">contoh kalimat slogan kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="walpaper ibu hamil">walpaper ibu hamil</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="slogan kejujuran in English">slogan kejujuran in English</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="kultum tentang kejujuran di ujian nasional">kultum tentang kejujuran di ujian nasional</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="lanang bagus">lanang bagus</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="slogan bagus baru tentang kejujuran">slogan bagus baru tentang kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="slogan jujur saat ujian">slogan jujur saat ujian</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=781&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maher Zain</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 04:28:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Global]]></category>
		<category><![CDATA[Maher Zain]]></category>
		<category><![CDATA[Shalawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini saat saya numpang mobil teman di Sydney selalu mendengar alunan shalawat nabi yang lain dari yang lain. Nada, irama dan melodinya sangat khas. Vocalnya jernih, berkarakter dan berkelas penyayi internasional. Sholawat tersebut dinyanyikan baik dalam versi arab maupun Inggris. Daaannn, yang membuat saya semakin penasaran dan terkesima, cara pelafalan shalawat versi Arabnya sangat [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F04%2F01%2Fmaher-zain%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F04%2F01%2Fmaher-zain%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Global,Maher+Zain,Shalawat&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/04/maher-zain-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-788" title="maher-zain-1" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/04/maher-zain-1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Akhir-akhir ini saat saya numpang mobil teman di Sydney selalu mendengar alunan shalawat nabi yang lain dari yang lain. Nada, irama dan melodinya sangat khas. Vocalnya jernih, berkarakter dan berkelas penyayi internasional. Sholawat tersebut dinyanyikan baik dalam versi arab maupun Inggris. Daaannn, yang membuat saya semakin penasaran dan terkesima, cara pelafalan shalawat versi Arabnya sangat fashih, Englishnya juga sangat <em>fluent</em>.</p>
<p>Setelah goggling dan “youtubing” akhirnya ketemu juga penyanyi tersebut. Dialah Maher Zain. Ternyata, lagu-lagu Islaminya  sudah beredar di pasaran sejak 2009!! Sungguh kuper saya dalam hal ini.</p>
<p>Menyimak beberapa lagu serta tema videoklipnya, saya kira Maher Zain cukup berhasil membawa pesan universalitas Islam lewat musik. Video klipnya dibuat sangat professional. Meski lagu-lagunya mengandung lafal arab dan tema-temanya diambil dari kisah dan ajaran Rasulullah Muhammad SAW, namun figure dan setting video klipnya tidak melulu berbau mesjid, padang pasir, atau onta. Coba simak video klip lagu <a href="http://www.youtube.com/watch?v=QbICjWI7Vrw&amp;feature=related">The Chosen One</a> yang, bahkan, terkesan sangat &#8220;Barat&#8221; di bawah ini:<span id="more-742"></span></p>
<p><object width="620" height="374"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/QbICjWI7Vrw?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/QbICjWI7Vrw?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="620" height="374" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Selain tema klip, syair, dan genre lagu yang beragam mulai dari Pop, R&amp;B, India-Pakistani hingga Middle-eastern, universalisasi Musik Islami juga ditunjukkan Maher dengan menampilkan lagu dalam berbagai bahasa. Lagunya  yang berjudul <a href="http://www.youtube.com/watch?v=Kvger_C4LN8">Insya-Allah</a> di-launching dalam empat versi: Inggris, Arab, Perancis, dan Melayu. Dibawah ini adalah klip versi France:</p>
<p><object width="620" height="374"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Kvger_C4LN8?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/Kvger_C4LN8?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="620" height="374" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Terakhir, sebagaimana Islam mengajarkana agar umatnya tidak mengumbar syahwat serta memelihara karunia cinta, ada baiknya kita simak lagunya yang berjudul <a href="http://www.youtube.com/watch?v=Plkq0sd-n54">for the rest of my life</a> ini.</p>
<p><object width="620" height="490"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Plkq0sd-n54?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/Plkq0sd-n54?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="620" height="490" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Selamat menikmati.</p>
<p>NB: Foto Maher Zein dari http://teroponginternet.blogspot.com/2011/05/maher-zein-siapakah-dia.html</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="lagu-lagu maher zain">lagu-lagu maher zain</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="LAFAL LAGU">LAFAL LAGU</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="shalawat nabi">shalawat nabi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="sholawat nabi">sholawat nabi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="makna lagu for the rest of my life">makna lagu for the rest of my life</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="lagu-lagu sholawat">lagu-lagu sholawat</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="lagu sholawat berbagai bahasa">lagu sholawat berbagai bahasa</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="album sholawat terbaru 2012">album sholawat terbaru 2012</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="alunan sholawat nabi">alunan sholawat nabi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="sholawat inggris">sholawat inggris</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=742&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Study hard, collect money (?)</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 05:27:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[study hard]]></category>
		<category><![CDATA[study smart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=727</guid>
		<description><![CDATA[“Study hard mate, the money is waiting for you to be collected,” pesan seorang sopir bemata sipit saat menjawab ucapan “thank you” para mahasiswa yang turun dari MetroBus menuju kampus University of Western Sydney di Bankstown NSW. Saya yang mendengar ucapan sang sopir tersenyum. “Tumben nih pak sopir ngasih pesan pada mahasiawa supaya belajar baik-baik,” [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F03%2F14%2Fstudy-hard-collect-money%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F03%2F14%2Fstudy-hard-collect-money%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=study+hard,study+smart&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/03/study_hard_wallpaper_by_ims_corner-d330tcx.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-734" title="study_hard_wallpaper_by_ims_corner-d330tcx" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/03/study_hard_wallpaper_by_ims_corner-d330tcx-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>“Study hard mate, the money is waiting for you to be collected,” pesan seorang sopir bemata sipit saat menjawab ucapan “thank you” para mahasiswa yang turun dari MetroBus menuju kampus University of Western Sydney di Bankstown NSW. Saya yang mendengar ucapan sang sopir tersenyum. “Tumben nih pak sopir ngasih pesan pada mahasiawa supaya belajar baik-baik,” batinku.  Biasanya ucapan yang muncul dari para sopir itu cuman “thank you mate,” itupun diucapkan dengan senyum terpaksa dan nada yang rendah.</p>
<p>Meski saya salut dengan keramahan pak sopir itu tadi, saya juga tersentak dengan lanjutan yang  kira-kira dalam ungkapan Jawa begini: <em>ndang luluso, ndang goleko duwit!!!</em></p>
<p><em>Dug</em>, pikiranku berontak: “Aku tidak mau jadi budak duit!” Belajar itu selain harus  HARD, juga mesti SMART. Lagi pula, belajar bukan untuk cari uang tapi mencerna pengetahun, mendaur ulangnya menjadi thesis, dibuktikan jadi teory, lalu menemukan formula ilmu baru yang syukur-syukur menjadi bagian pemecah masalah kehidupan. Kalo hanya untuk cari uang, mengapa mesti nunggu lulus? Dengan belajar SMART, insya Allah uang bisa didapat sambil terus belajar.<span id="more-727"></span></p>
<p>Hmm, bukankah itu terlalu muluk-muluk, sok idealis? Ya, memang sih. Tapi bukankah harapan itu harus diformat dari cita-cita ideal? Lihat tuh akibat program pragmatis, banyak yang sekolah hanya demi nilai, demi tambahan dua atau tiga huruf gelar, demi selembar ijazah, demi popularitas, dan bla-bla-bla&#8230; demi-demi hal pragmatis lainnya, yang penting setalah lulus dapat kerja. Begitu dapat kerja, berhentilah proses belajar. Yang kayak gini nih, tak ubahnya hanya jadi robot industri.</p>
<p>Tidak mau bernasib seperti robot? Tanyakan pada diri Anda, untuk apa sekolah dan kuliah? Lalu, teruslah belajar, kapanpun, dimanapun, kepada siapapun.</p>
<p>__________</p>
<p>Poster from: <a href="http://i-am-elfandcassiopeia116.blogspot.com/2011_01_01_archive.html">http://i-am-elfandcassiopeia116.blogspot.com/2011_01_01_archive.html</a></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="study hard">study hard</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="wallpaper keren">wallpaper keren</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="study hard wallpaper">study hard wallpaper</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="mahasiswa wallpaper">mahasiswa wallpaper</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="wallpaper kata mutiara">wallpaper kata mutiara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="kepribadian muhammadiyah yang seharusnya diperjuangkan">kepribadian muhammadiyah yang seharusnya diperjuangkan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="gambar-gambar buku">gambar-gambar buku</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="wallpaper pesan">wallpaper pesan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="wallpaper kampus">wallpaper kampus</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="study in australia wallpaper">study in australia wallpaper</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=727&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FPI Brisbane</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 14:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[FPI Brisbane]]></category>
		<category><![CDATA[Ifthar]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa di Mancanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=674</guid>
		<description><![CDATA[__________ &#8230; menjadi warga FPI Brisbane memperoleh banyak manfaat. &#8230;Selain silaturahmi fisik kita pun bersilaturahmi lidah,&#8230; bersama-sama menikmati anake kuliener dari berbagai Negara sahabat (Arab, Afrika, Pakistan, India, Indonesia, dll) &#8230; Sebuah ukhuwah multicultural yang lengkap, nikmat dan indah. ___________ Oleh: Ahmad Muttaqin “Mangan ora mangan sing penting ngumpul (makan tidak makan yang penting berkumpul).” [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F08%2F29%2Ffpi-brisbane%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F08%2F29%2Ffpi-brisbane%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=FPI+Brisbane,Ifthar,Puasa+di+Mancanegara,Ukhuwah&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_26542.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-677" title="IMG_2654" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_26542-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>__________</p>
<p>&#8230; menjadi warga FPI Brisbane memperoleh banyak manfaat. &#8230;Selain silaturahmi fisik kita pun bersilaturahmi lidah,&#8230; bersama-sama menikmati anake kuliener dari berbagai Negara sahabat (Arab, Afrika, Pakistan, India, Indonesia, dll) &#8230; Sebuah ukhuwah multicultural yang lengkap, nikmat dan indah.</p>
<p>___________</p>
<p><em>Oleh: Ahmad Muttaqin</em></p>
<p>“<em>Mangan ora mangan sing penting ngumpul</em> (makan tidak makan yang penting berkumpul).” Ungkapan itu sering dilekatkan pada mayarakat Indonesia, terutama Jawa, yang gemar berkumpul baik dalam suasana suka maupun duka.</p>
<p>Budaya kumpul inilah, konon, yang mendorong orang Indonesia lebih banyak memiliki tradisi lisan dibanding tulisan. Dengan berkumpul, interaksi sesama family, kerabat, dan sejawat didominasi ngobrol, senda gurau, serta komunikasi verbal lainnya. Meski teknologi komunikasi telah menawarkan beragam cara “ngobrol” jarak jauh secara virtual (telepon, email, mailingslist, chating, sms, dll) terasa kurang afdhol bila aktifitas tersebut tidak dilakukan dengan tatap muka secara langsung. Alasan itu pula barangkali yang mendasari masyarakat perantauan Nusantara gemar membuat berbagai paguyuban atau organisasi sesuai dengan kepentingannya.<span id="more-674"></span></p>
<p>Di Brisbane, perkumpulan sasama perantau asal Indonesia luar biasa banyaknya; ada yang berbentuk organisasi payung, persatuan pelajar/mahasiswa, ikatan keagamaan, kelompok daerah, asosiasi profesi hingga hoby. Sebagian diantaranya adalah: PIQ (Persatuan Indonesia Quensland), PPIA (Persatuan Pelajar Indonesia di Australia) cabang Quensland, ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith Uni), UQISA (The Univerity of Quensland Indonesian Student Association), PPIA QUT, IMCoGU (Indnesian Muslim Community of Griffith University), IISB (Indonesian Islamic Society of Brisbane), MIPIQ (Masyarakat Indonesia Pemburu Ikan Quensland), Perkumpulan Masyarakat Bali di Gold Coast, WKI Brisbane (Warga Kristen Indonesia), Brisbane Fotografer Club, dan masih banyak lagi kelompok-kelompok lain yang saya tidak bisa menyebutkannya.</p>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2489.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-678" title="IMG_2489" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2489-1024x682.jpg" alt="" width="620" height="412" /></a></p>
<p>Setelah hampir 2 tahun berkomunikasi dengan beberapa teman yang bergabung dalam berbagai perkumpulan di perantauan tersebut, ternyata ada “organisasi” lain yang aktifnya musiman. Nama perkumpulan tersebut mirip-mirip dengan salah satu ormas di Indonesia yang identik dengan sikap tegas dan keras-nya. Media Barat sering memberi stempel <em>hardliner</em> atau Islam garis keras pada ormas ini.  Saya yakin anda tahu ormas apa yang saya maksud. Ya betul, FPI.</p>
<p>Meski sebutannya sama, FPI Brisbane ini jauh dari tindak kekerasan. Walaupun beroperasi hanya setiap Ramadhan, FPI Brisbane juga tidak pernah melakukan razia tempat-tempat yang dianggap pusat maksiat. Padahal, selama Ramadhan ini warung-warung makan, kantin di kampus, dan tempat-tempat “maksiat” lain buka sebagaimana biasa. Di Kampus, kita pun bisa dengan mudah melihat hilir mudik wanita pakai baju “you can see”, bercelana ketat, berjalan megal megol sambil makan burger, sandwich, kebab, atau minum soft dring di muka umum. Namun oleh FPI Brisabe hal tersebut dibiarkan saja.</p>
<p>Mau tau apa itu FPI Brisbane? FPI yang saya maksudkan adalah singkatan dari Front Pemburu Ifthar.  Warganya sebagian besar student, namun tidak sedikit juga yang Permanent Resident. Warga FPI ini dengan senang hati menghadiri buka puasa bersama di kampus atau di beberapa masjid yang biasanya dilanjutkan dengan <em>dinner</em> dan sholat tarowih. Dalam perkembangannya, selain FPI versi pemburu, ada juga versi penyedia (Front Penyedia Ifthar). Menjadi warga FPI versi penyedia ini tentu lebih mulia dan insya Allah akan memperoleh berkah labih banyak.</p>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2512.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-679" title="IMG_2512" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2512-1024x682.jpg" alt="" width="620" height="412" /></a></p>
<p>Berdasar pengalamn, menjadi warga FPI Brisbane memberi banyak manfaat. Yang paling utama adalah memperkokoh jalinan silaturahmi. Rasa-rasanya hanya di perantauan-lah saya bisa bertatap-muka langsung dan sholat berjamaah berdampingan dengan saudara sesama Muslim asal Jordan, Saudi, Libyia, Oman, Somalia, Pakistan, India, Maroko, Belanda, Brunei, Malaysia, dan tentu warga Australia sendiri. Selain silaturahmi fisik kita pun juga bersilaturahmi lidah. Saat madhrib tiba, bersama-sama menikmati anake kuliener dari berbagai Negara sahabat (Arab, Afrika, Pakistan, India, Indonesia, dll) tergantung siapa host pada saat ifthar tersebut. Sebuah ukhuwah multicultural yang lengkap, nikmat dan indah.</p>
<p>Apakah anda juga warga FPI? Selamat menuntaskan ibadah Ramadhan.</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/" title="perkumpulan masyarakat">perkumpulan masyarakat</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/" title="orang indonesia di brisbane">orang indonesia di brisbane</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/" title="shalat berjamaah di australia">shalat berjamaah di australia</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/" title="fpi indonesia">fpi indonesia</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/" title="masyarakat bali">masyarakat bali</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/" title="minuman kaleng indonesia">minuman kaleng indonesia</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/" title="nama nama ormas di indonesia">nama nama ormas di indonesia</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/" title="silahturahmi sama bule">silahturahmi sama bule</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/" title="warga kristen indonesia brisbane">warga kristen indonesia brisbane</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=674&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/29/fpi-brisbane/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENJADI INDONESIA DI MANCA NEGARA</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 01:17:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian Day]]></category>
		<category><![CDATA[ISAGU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[____________ Dengan balutan busana yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia, batik, semua panitia dan Indonesian Permanent Resident (PR) tersenyum, bahu-membahu, dan bangga menjadi warga Indonesia. Mereka semua merdeka menghadirkan Indonesia di negeri tetangga. _____________ Oleh: Ahmad Muttaqin Status minoritas bisa jadi salah satu pemicu “militansi” sekaligus kebersamaan. Perasaan senasib di negeri [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F08%2F08%2Fmenjadi-indonesia-di-manca-negara%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F08%2F08%2Fmenjadi-indonesia-di-manca-negara%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Hari+Merdeka,Indonesian+Day,ISAGU&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2383.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-664" title="IMG_2383" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2383-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>____________</p>
<p>Dengan balutan busana yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia, batik, semua panitia dan Indonesian Permanent Resident (PR) tersenyum, bahu-membahu, dan bangga menjadi warga Indonesia. Mereka semua merdeka menghadirkan Indonesia di negeri tetangga.</p>
<p>_____________</p>
<p><em>Oleh: Ahmad Muttaqin</em></p>
<p>Status minoritas bisa jadi salah satu pemicu “militansi” sekaligus kebersamaan. Perasaan senasib di negeri orang telah merekatkan sekat-sekat yang biasanya berjarak di negari asal, lebur jadi satu dalam balutan patriotisme menghadirkan identitas Indonesia. Tidak ada sentimen ras, suku, agama, maupun golongan. Hanya ada satu: INDONESIA. Itu yang tampak ketika komunitas Indonesia di Brisbane yang diorganisir ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith University) menyelenggarakan <em>Indonesian Day</em> di kampus tersebut, Kamis 5 Agustus 2010.</p>
<p><span id="more-663"></span>Salah satu sudut Griffith University, <em>undercroft</em> di sebelah library disulap menjadi Indonesia. Bendera merah putih, peta nusantara, serta pernik-pernik kerajinan menghiasa arena tersebut. Aneka lomba rakyat menjlenag 17 Agustus  seperti lari karung, tarik tambang, makan krupuk, balap bakiak, sepak bola sarung, serta lari pingpong digelar.  Pentas tari saman, tari lilin, tari merak, poco-poco dan sajojo hingga musik angklung pun dihadirkan. Tidak ketinggalan, kulinar khas nusantara, sate, juga dijajakan. Walhasil, 1200 tusuk sate ukuran jumbo ludes terjual, lengkap dengan es teller-nya.</p>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2347.jpg"><img class="alignleft size-large wp-image-665" title="IMG_2347" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2347-1024x682.jpg" alt="" width="620" height="412" /></a></p>
<p>Meski bertajuk Indonesian Day, namun nuansa internasional cukup kentara. Wajah-wajah Bule, China, Afrika, India, Arab, dll., memadati acara yang digelar dari jam 10 – 14.30 tersebut. Tidak satupun raut muka yang hadir tampak murung. Dengan balutan busana yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia, batik, semua panitia dan Indonesian Permanent Resident (PR) tersenyum, bahu-membahu, dan bangga menjadi warga Indonesia. Mereka semua merdeka menghadirkan Indonesia di negeri tetangga.</p>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2282.jpg"><img class="alignleft size-large wp-image-666" title="IMG_2282" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_2282-1024x682.jpg" alt="" width="620" height="412" /></a></p>
<p>Beberapa hari sebelumnya, saat mempersiapkan <em>ubo rampe</em> kegiatan itu, seorang teman menyampaikan: &#8220;Iya ya, justru ketika sedang tidak berada di Tanah Air nasionalisme kita muncul. Rasa-rasanya belum pernah saya bersibuk-sibuk ria menjalang peringatan 17 Agustus di kampung. Biasanya anak-anak saya yang pasang bendera merah putih kecil-kecl macam gini.&#8221; Begitulah, kebanggaan menjadi orang Indonesia itu kadang muncul saat kita menatapnya dari luar Nusantara.</p>
<p>Dirgahayu Indonesia!!!</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="tari manca negara">tari manca negara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="busana tari lilin">busana tari lilin</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="patriotisme indonesia">patriotisme indonesia</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="busana tari INDONESIA">busana tari INDONESIA</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="kostum tari saman">kostum tari saman</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="pengertian tari lilin">pengertian tari lilin</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="tari lilin dengan busana">tari lilin dengan busana</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="pakaian tari lilin">pakaian tari lilin</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="kostum dan properti tari lilin">kostum dan properti tari lilin</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/" title="pengertian uborampe">pengertian uborampe</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=663&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/08/08/menjadi-indonesia-di-manca-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajar Islamologi Mahasiswa Tiongkok</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 23:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Islamologi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Ceritanya, tiga miggu yang lalu saya menyambangi sekretariat Center for Teaching Staff Development (CTSD) di lantai 3 Gedung Pusat Studi UIN Sunan Kalijaga. Direktur CTSD yang akan bertugas ke Sorong selama 3 minggu tampak surprise melihat saya datang siang itu. Kukatakan padanya kalau saya sedang riset lapangan di Jogja. Mengetahui saya punya waktu agak luang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/05/persidangan-mahasiswa/' rel='bookmark' title='Persidangan Mahasiswa'>Persidangan Mahasiswa</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F10%2F25%2Fmengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F10%2F25%2Fmengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Islamologi,Mahasiswa+Tiongkok,Mengajar&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p> <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' />  <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' />  <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' />  <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' />  <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' /> <img class="alignleft size-medium wp-image-476" title="Masjid Tiongkok" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/10/Masjid-Tiongkok-300x198.jpg" alt="Masjid Tiongkok" width="300" height="198" />Ceritanya, tiga miggu yang lalu saya menyambangi sekretariat Center for Teaching Staff Development (CTSD) di lantai 3 Gedung Pusat Studi UIN Sunan Kalijaga. Direktur CTSD yang akan bertugas ke Sorong selama 3 minggu tampak surprise melihat saya datang siang itu. Kukatakan padanya kalau saya sedang riset lapangan di Jogja. Mengetahui saya punya waktu agak luang pada akhir pekan, setengah kegiraangan dia meminta saya untuk mengganti mengajar Studi Islam pada mahasiswa asal Tiongkok yang tengah mengambil program Sandwich di Universitas Ahmad Dahlan, salah satu Perguruang Tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta.</p>
<p>Tidak satupun mahasiswa asal Tiongkok di kelas tersebut Muslim, karena itu materi Keislaman yang disampaikan pun lebih ditekankan pada Islamologi. <em>Islam Ditinjau Dari Berbagai Aseknya </em>karya Harun Nasution dipandang pas sebagai rujukan untuk menjelaskan seluk beluk agama Islam bagi non Muslim. Buku tersebut menguraikan Islam tidak secara doktriner, tapi mengupasnya dari berbagai sudut pandang seperti historis, sosiologis serta filosofis.  Meski jauh dari kesan indroktinatif, namun karya doctor alumni McGil Univesity itu tetap diperkaya dengan nukilan-nukilan dalil naqli dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits untuk menunjukkan bahwa paparan historis, sosiologis dan filosofis dalam buku ini tidak bertentangan dengan nash .<span id="more-474"></span></p>
<p>Sabtu 17 Oktober saya masuk kelas untuk menjelaskan Makna Islam yang Sebenarnya. Lalu pada 25 Oktober mengupas keterkaitan antara Ibadah dalam Islam dengan Latihan Spiritual dan Pembinaan Moral. Sejak awal saya dipesan agar menjelakan secara pelan-pelan, sebab mereka juga masih belajar bahasa Indonesia. Semula saya berpikir, kalau bahasa Indonesia mereka masih terbata-bata saya toh bisa menerangkan dengan bahasa Inggris. Namun, salah satu pengelola program menyampaiakan sms bahwa mereka juga tidak faham bahasa Inggris. Akhirnya satu istilah bisa saya ulang berpuluh kali agar mereka mengerti. Hampir 30an mahasiswa itupun setia mebuka-buka “Buku Bantal” Kamus Indonesia-Tiongkok. Belum cukup, masing-masing mereka juga ditemani kamus elektronik.</p>
<p>Meski saya harus rela berserak-serak akibat teriak mengulang-ulang materi kuliah, namun saya salut pada kegigihan mereka belajar bahasa Indonesia. Salah satu alasan kenapa saya bersedia mengajar mereka adalah hasrat untuk menjelaskan pada dunia bahwa Islam itu damai, indah, anti kekerasan dan penuh dengan ajaran etika universal. Islam sama sekali tidak identik dengan terror dan ketebelakngan, seperti yang sering dipropagandakan berbagai media Asing.</p>
<p>Sumber gambar: http://img219.imageshack.us/img219/743/xianmosque02gh4.jpg</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="kata bijak mahasiswa">kata bijak mahasiswa</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="pengertian islamologi">pengertian islamologi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="pengertian mengajar">pengertian mengajar</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="arti islamologi">arti islamologi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="istilah mengajar">istilah mengajar</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="islamologi">islamologi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="dalil naqli tentang moral">dalil naqli tentang moral</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="dalil tentang moral bangsa">dalil tentang moral bangsa</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="Dalil kepribadian Muslim">Dalil kepribadian Muslim</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/" title="mengapa belajar islamologi">mengapa belajar islamologi</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=474&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/05/persidangan-mahasiswa/' rel='bookmark' title='Persidangan Mahasiswa'>Persidangan Mahasiswa</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan bagi Minoritas Muslims</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 03:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Minoritas Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Negeri Orang]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[The more temptation we face, the more reward we will have. Saat sedang asyik mendengarkan kuliah di kelas; datang mahasiswi dengan pakaian musim panas yang “compang-camping &#38; tidak lengkap.&#8221; Dia langsung duduk di sampingku, membuka tas, mengeluarkan minuman kaleng lalu menenggaknya, glek glek glek…. “uh segarnya…” batin saya. Kadang saya berfikir, puasa umat Islam Indonesia itu terlalu “manja.” Atas [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/07/31/ramadhan-mubaarak/' rel='bookmark' title='RAMADHAN MUBAARAK'>RAMADHAN MUBAARAK</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F27%2Framadhan-di-tengah-minoritas-muslims%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F27%2Framadhan-di-tengah-minoritas-muslims%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Minoritas+Muslim,Negeri+Orang,Puasa,Ramadhan&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-452" title="IMCoGU  Ifthar" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/08/IMCoGU-Ifthar.jpg" alt="IMCoGU  Ifthar" width="415" height="311" /></p>
<p><em>The more temptation we face, the more reward we will have.</em> Saat sedang asyik mendengarkan kuliah di kelas; datang mahasiswi dengan pakaian musim panas yang “compang-camping &amp; tidak lengkap.&#8221; Dia langsung duduk di sampingku, membuka tas, mengeluarkan minuman kaleng lalu menenggaknya, glek glek glek…. “uh segarnya…” batin saya. Kadang saya berfikir, puasa umat Islam Indonesia itu terlalu “manja.” Atas nama menghormati bulan Ramadhan tempat-tempat hiburan dan warung makan dihimbau tutup. Tempat maksiat digerebek. Operasi miras dilakukan di berbagai daerah, hotel dan rumah-rumah bordil pun dirazia.</p>
<p>______________</p>
<p>Rabu malam 26 Agustus 2009 waktu Brisbane, seorang jurnalis sebuah media massa cetak di Semarang mengontak saya via YM. Dia ingin tahu pengalaman puasa di negeri orang. Berikut ini penggalan chatting saya dengan wartawati tersebut, setalah dilakukan beberapa editing. Semoga bermanfaat.  </p>
<p>Fani (F)<em>: Assalamu&#8217;alaikum, mas Taqin.</em></p>
<p>Muttaqin (M): &#8216;Alaikum salam. Gemana kabarnya mbak?</p>
<p><em>F: Alhamdulillah</em></p>
<p>M: Oke. How may I help you?</p>
<p><em>F: Enggak, aku cuma mau nanya aja pengalaman puasa di luar negri. Sekarang di Australia ya mas?</em></p>
<p>M: Betul.</p>
<p><span id="more-449"></span></p>
<p><em>F: Di kota apa?</em></p>
<p>M: Brisbane.</p>
<p><em>F: Kuliah dimana, trus jurusannya apa?</em></p>
<p>M: Saya di PhD program Internatinal Business &amp; Asian Studies (IBAS), Griffith University.</p>
<p>Secara umum Ramadhan di Brisbane tahun 1430 ini lama puasanya hampir sama di Indonesia. Sekitar duabelas setangah jam. Hanya saja, pas masuk Ramadhan berbarengan dengan cuaca yang agak extrim; kalau siang panas banget &amp; menyengat.</p>
<p><em>F: Sahur jam berapa? Azan subuhnya?</em></p>
<p>M: Saya biasa mulai sahur jam 4 pagi. Adzan subuh hari pertama jam 5 kurang 5 menit. Buka puasa / maghrib jam 5.30 sore. Dari jadwal yang ada, tiap hari puasanya makin lama. Rata-rata bertambah 3-5 menit.</p>
<p><em>F: Enak puasa dimana, di Ausi apa Indonesia?</em></p>
<p>M: Secara sosial jelas enak di Indonesia.</p>
<p><em>F: Kenapa?</em></p>
<p>M: Karena gebyar ramadhan betul betul terasa di Indonesia, mulai dari telivisi, aktivitas masjid, media massa, pusat-pusat perbelanjaan, dlll</p>
<p>Di Indonesia kita selalu diiingatkan oleh pengeras suara masjid bahwa waktu sahur sudah tiba, suara mengaji/tadarus dari masjid2 sekitar, dll. Semua menambah suasana ramadhan makin syahdu.</p>
<p>Di Brisbane atau di negara Barat lain saat komunitas Muslim minoritas, sulit menemukan suasana Ramadhan di ruang publik.</p>
<p><em>F: Di sana masjidnya jauh atau dekat? Trus azannya dari masjid atau dari laptop?</em></p>
<p>M: Ada banyak masjid, tapi kebetulah jauh dari tempat tinggal saya. Untungnya di kampus ada “mushalla” yang bisa digunakan oleh teman-teman GUMSA (Griffith Uni Muslim Student Association) untuk kegiatan. Selama Ramadhan GUMSA mengkoordinir buka puasa bersama + sholat tarowih di mushalla kampus tiap hari. Buka puasa yang disediakan termasuk makan besar (dinner). Karena mayoritas muslims student berasal dari Timur Tengah, maka setiap buka puasa selalu tersedia kurma berkardus2. Setelah sholat maghrib kita makan malam bersama, dengan porsi yang, menurut ukuran perut Indonesia, bisa dipakai hingga sahur.</p>
<p>Bagi mahasiswa, bulan puasa seperti ini bisa &#8220;ngirit&#8221;, karena bisa ifthar + dinner &#8220;gratis&#8221; selama ramadhan. Itu salah satu kenikmatan puasa di Brisbane, he he he.</p>
<p>Mahasiswa Muslim dari Indonesia juga berpartisipasi menyediakan dinner buka puasa di kampus kami. Kita “patungan” menyediakan buka puasa bersama untuk <span style="text-decoration: underline;">+</span>150 mahasiswa. (Insya Allah dilaksanakan Sabtu 29 Agt 2009 ini).</p>
<p>Tentang adzan di mesjid atau mushalla kampus, yang adzan ya muadzin. Ada orang yang adzan, tapi pengerasnya hanya cukup untuk dalam mesjid. Tidak ada pengeras suara keluar. Kalau kita yang di kamar-kamar, untuk keperluan pribadi, biasanya dengan mengeset program adzan di laptopnya masing2.</p>
<p><em>F: Apa tantangan puasa di negeri orang.</em></p>
<p>M: Pertama jauh dari keluarga. Kedua, tidak ada suasana Ramadhan sama sekali di ruang piblik, termasuk kampus. Dan ketiga, &#8220;godaan&#8221; lingkungan sekitar.</p>
<p>Sebagai gambaran, kantin dan rumah makan kampus tetap buka seperti biasa, mengeluarkan aroma makanan yang menggoda. Mudah kita jumpai mahasiswa yang lalu lalang sambil menikmati burger dan minuman kemasan. Demikian juga di ruang kelas. Siang tadi, misalnya, saya menghadiri seminar yang menyediakan lunch. Mereka dengan santainya makan, terpaksa deh kita menelan ludah. Belum lagi dengan cara berpakaian para mahasiswi. Tahu sendirikan bagaimana cewek-cewek Barat bila berpakaian di musim panas? Pernah suatu saat sedang asyik mendengarkan kuliah di kelas; datang mahasiswi dengan pakaian “compang-camping” &amp; tidak lengkap yang langsung duduk di sampingku. Setelah itu dia buka tas, mengeluarkan minuman kaleng lalu menenggaknya, glek glek glek…. “uh segarnya…” batin saya.</p>
<p>Terlepas dari itu semua, meski puasa di negeri orang itu godaan dan tantangannya lebih besar, tapi pahalanya saya kira juga lebih banyak. <em>The more the temptation we face, the more reward we will have. </em>Begitu kira-kra.  ha ha ha.</p>
<p><em>F: Cuaca extrim yang panas di Brisbane sekarang sampai berapa derajat?</em></p>
<p>M: Kalau siang mencapai 30an derajat celcius. Mungkin untuk ukuran Indonesia masih moderate ya segitu itu. Hanya saya di Brisbane menjadi terasa extrim karena sebelum puasa suhunya sejuk di sekitar 10 derajat celcius; eh, begitu masuk Ramadhan suhu-nya tiba-tiba menjadi 30an derajat.</p>
<p><em>F: Apa yang dilakukan untuk mensiasati suhu yang panas itu?</em></p>
<p>M: Kita biasanya ngadem di kantor atau ruang ber AC lainnya di kampus.</p>
<p><em>F: Kalau hari libur gemana?</em></p>
<p>M: Alhamdulillah, mahasiswa PhD di kampus kami dapat jatah ruang kantor untuk kerja dan menulis. Kita bisa di kantor tersebut kapanpun kita mau, tidak terikat hari libur.</p>
<p><em>F: Itu untuk mahasiswa PhD, bagaimana dengan mahasiswa lain pada umunya. Sebab AC-kan mahal?</em></p>
<p>M: Mereka biasanya pergi ke perpustakaan yang tetap bukan meskipun hari libur.</p>
<p><em>F: Dibanding puasa di Amrik dulu enak mana?</em></p>
<p>M: Berdasar pengalaman, puasa di Ausi jauh lebih enak dibandingkan di Amrik (Miami, Florida). Kota Brisbane tempat saya tinggal sekarang lebih “ramah” pada komunitas Muslim. Toko-toko daging halal mudah didapat. Kampus tempat kami belajar menyediakan mushalla yang jadi satu dengan multifaith-centre . Di Brisbane juga banyak komunitas Indonesia. Mereka membuat perkumpulan seperti IISB (Indonesian Islamic Soceity of Brisbane) dan IMCoGU (Indonesian Muslim Community at Griffith Uni), dll. Komunitas2 ini aktif meyelenggarakan pertemuan seperti kajian mingguan dan pengajian bulanan. Di bulan Ramadhan ini kita sering menyelenggarakan buka puasa bersama. Kampus kami di Miami dulu tidak ada fasilitas khusus untuk prayer room, kegiatan MSA juga kurang meriah. Ramadhan betul-betul terasa hambar di Miami dulu.</p>
<p><em>F: Apa hikmah puasa di negari orang?</em></p>
<p>M: Menjadi minoritas Muslim di negeri orang tentu banyak tantangan, namun tetap banyak hikmah yang bisa dipetik: (1) Saya bisa menjalin persaudaraan dengan teman-teman Muslim dari berbagai Negara: Saudi, Mesir, Oman, Irak, Pakistan, India, Australia, Albania Brunei, Malaysia, dll. (2) Saya merasa benar-benar berpuasa, sebab tantangan dan godaan selalu di depan mata. (3) Terus, puasa saya terasa lebih bermakna sebab terbebas dari “gebyar simbolik ramadhan” yang terjebak budaya konsumtif sebagaimana terjadi di tanah air. (4) Karena secara kultur saya tidak bisa menemukan suasana Ramadhan di ruang publik, saya tertantang untuk menciptakan nuansa Ramadhan itu secara mandiri, dalam diri dan hati kita sendiri. Saya kira ini bagus untuk menumbuhkan “awareness of self-religiosity.” Kadang saya berfikir, puasa umat Islam Indonesia itu terlalu “manja.” Atas nama menghormati bulan Ramadhan tempat-tempat hiburan dan warung makan dihimbau tutup. Tempat  maksiat digerebek. Operasi miras dilakukan di berbagai daerah, serta hotel dan rumah-rumah bordil dirazia.</p>
<p><em>F: Bukankah bagus bila PSK dan Miras di basmi?</em></p>
<p>M: Betul itu bagus. Kalau memang berniat memerangi <em>pekat</em> tersebut jangan hanya dilakukan sesaat dong. Buat program yang sistematis, entaskan mereka dari libah nista dengan menyediakan lapangan kerja yang lebih bertarbat. Jangan hanya menggeropyok dan mempermalukan mereka didepan sorot kamera televisi. Mereka juga manusia kan? </p>
<p><em>F: Betul juga, kadang saya kasihan dengan cara-cara petugas yang membentak dan menyeret-nyeret mereka. </em></p>
<p>M: Ya begitulah. Saya kira mereka itu korban dari ketidakadilan. Tampaknya kita selalu gagal belajar dari peristiwa masa lalu. Selalu berteriak atas nama moral, tapi nyaris nihil prestasi dalam soal kesejahteraan. Tiap tahun drama penggropyokan itu selalu muncul, tanpa dibarengi dengan langkah nyata mengentaskan mereka dari lembah keterpurukan. Secara tidak lansung aparat berkata: Bermaksiat di bulan Ramadhan itu illegal, di luar bulan Ramadhan silahkan. Saya kawatir image “Islam” makin tercoreng dengan kebijakan seperti itu. Siapa tahu, akan muncul dendam terhadap Islam dari mereka yang kena razia itu, sebab operasinya selalau mengatasnamakan “cipta kondisi romadhan” namun cara melakukannnya jauh dari norma dan kesantunan.</p>
<p><em>Wallahu’alam</em></p>
<p>Sumber foto: <a href="http://s297.photobucket.com/albums/mm205/wandy_email/?action=view&amp;current=DSCN3037.jpg">http://s297.photobucket.com/albums/mm205/wandy_email/?action=view&amp;current=DSCN3037.jpg</a> | IMCoGU menjamu buka puasa (ifthar) bersama di Griffith University tahun 2008 / Ramadhan 1429.</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="kultum bulan puasa">kultum bulan puasa</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="pengertian puasa ramadhan">pengertian puasa ramadhan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="kultum ramadhan">kultum ramadhan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="contoh kata-kata maksiat">contoh kata-kata maksiat</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="kata bijak tentang mahasiswa">kata bijak tentang mahasiswa</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="bidang jurnalistik dan komunikasi massa di Griffith university">bidang jurnalistik dan komunikasi massa di Griffith university</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="kata-kata bijak mahasiswa muslim">kata-kata bijak mahasiswa muslim</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="kata-kata tentang maksiat">kata-kata tentang maksiat</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="kota brisbane enak">kota brisbane enak</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/" title="kuliah di griffith">kuliah di griffith</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=449&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/07/31/ramadhan-mubaarak/' rel='bookmark' title='RAMADHAN MUBAARAK'>RAMADHAN MUBAARAK</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PhD by Research</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:46:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[IBAS Griffith Uni]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[PhD by research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Sekedar berbagi pengalaman PhD by research tampaknya cocok untuk mahasiswa yang “malas” ikut perkuliahan seperti saya. Memang betul, saat aplikasi ke kampus calon mahasiswa harus sudah punya draft proposal disertasi, dan itu bagian dari persyaratan. Akan lebih baik bila jauah hari sebelum mendaftar sudah punya draft sebab proposal tersebut sangat berguna untuk hunting profesor yang [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F25%2Fphd-by-research%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F25%2Fphd-by-research%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=IBAS+Griffith+Uni,Pengalaman,PhD+by+research&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Sekedar berbagi pengalaman</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-252" title="research" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/research-300x214.jpg" alt="research" width="300" height="214" />PhD by research tampaknya cocok untuk mahasiswa yang “malas” ikut perkuliahan seperti saya. Memang betul, saat aplikasi ke kampus calon mahasiswa harus sudah punya draft proposal disertasi, dan itu bagian dari persyaratan. Akan lebih baik bila jauah hari sebelum mendaftar sudah punya draft sebab proposal tersebut sangat berguna untuk hunting profesor yang kira-kira tertarik dan bersedia menjadi supervisor. Sebelum mengirim aplikasi ke kampus yang dituju, ada baiknya melakukan kontak-kontak dengan calon supervisor. Bukti korespondensi dengan professor tersebut akan memudahkan memperoleh LoA dari bagian admisi kampus. Kalau sudah ada professor yang bersedia membimbing, biasanya bagian admisi tinggal menunjuk co-supervisor.</p>
<p><span id="more-248"></span></p>
<p>Enaknya PhD by research itu mahasiswa bisa langsung fokus ke object yang akan diteliti tanpa diribeti dengan tugas-tugas kuliah. Secara umum, full-time student PhD by research dapat jatah study minimal 2 tahun dan maksimal 4 tahun. Tahun pertama biasanya digunakan untuk mematangkan proposal disertasi, tahun kedua untuk field work, dan sisanya, tahun ke tiga dan keempat, untuk menulis disertasi secara lengkap.</p>
<p>Pada tahun pertama biasanya supervisor akan “mempush” PhD student melakukan bibliographical review yang berkaitan dengan teori, metode dan topik yang dikaji. Kadang-kadang mahasiswa dibuat “bingung” dan terasa <em>diombang-ambing;</em> diminta baca buku/jurnal yang sepintas tidak sesui dengan topik riset. Saking banyaknya bahan yang harus dibaca dan dibuat report untuk pertemuan mingguan atau dwi-mingguan, seorang teman dari department lain sampai bilang: “jangan harap anda bisa santai;  supervisor  itu nggak ingin mahasiswanya <em>ngangur </em>walau hanya sejenak. Selesai satu bacaan segera disusuli bacaan lain.” Tidak jarang draft teori dan metodologi yang diajukan ke supervisor tidak segera di-acc. Ungkapan “your report/paper is good, but I want it better,” atau “please convince me!,” juga “I want to push you in order to be the best,” sangat sering terdengar saat mahasiswa menghadap supevisor. Belakangan  saya menyadari bahwa semua proses itu bagian dari “cara” supervisor membimbing agar mahasiswa melihat topik riset secara komprehensif bahkan kemungkinan dari persepektif yang berbeda sekalipun.</p>
<p>Bisa dibilang tahun pertama adalah masa-masa tersulit. Mahasiswa diminta menyiapkan proposal riset yang harus dipresentasikan pada ujian “confirmation&#8221;. Dalam confirmation tersebut mahasiswa harus mempresentaskan rencana risetnya dihadapan 2 supervisor, external examiner, serhati hadirin lain yang biasanya PhD student atau juga dosen serta menjawab pertanyaan2 yang muncul. Confirmation inilah yang akan menentukan apakah proposal riset kita layak untuk diteruskan tanpa revisi, boleh dilakukan tapi dengan perbaikan, atau ditolak dengan konsekuensi status PhD student kita terancam pupus.</p>
<p>Setelah external examiner serta supervisor menyatakan riset project yang diseminarkan layak untuk diteruskan, mahasiswa diperbolehkan melakukan field work, itupun setelah memperoleh ethical clearance. Untuk medapatkan ethical clearance tersebut harus melewati serangkaian proses yang membutuhkan pikiran dan waktu yang tidak singkat. Meski demikian, ide dari ethical clearance tersebut saya pikir  sangat bagus, sebab memberikan perlindungan kepada subyek penelitian agar tidak menjadi korban exploitasi peneliti atas nama kerja ilmiah. Di Indonesia ethical clearance ini belum menjadi prasarat namun di negara-negara maju sudah.  </p>
<p>Bagi saya, tantangan terberat PhD by research adalah menjaga konsistensi untuk selalu keep going on the project di tengah berbagai godaan. Bukan hanya godaan terhadap gaya hidup yang serba “wah” di masyarakat Barat, atau juga rasa kangen yang luar bisa pada keluarga di tanah air, tapi juga godaan untuk switch ke topik lain yang sepintas lebih menarik setelah melakukan literature review.  </p>
<p>Meski banyak godaan dan tantangan, ambil program PhD di luar negeri itu lebih &#8220;kondusif&#8221; dibanding di negeri sendiri. Kalau di kampung sendiri proses menulis cenderung kurang fokus sebab terlalu banyak aktivitas extra seperti ronda, rapat RT, jagong manten, pertemuan organisasi, atau mungkin juga godaan untuk terlibat dalam proyek sambilan.  Proses menulis disertasi sering terbengkalai karena disibukkan oleh aktivitas extra tersebut. Akibatnya program doktor di tanah air rata-rata diselesaikan di atas 6 tahun. Belum lagi kalau ada hambatan sumber literatur yang belum tersedia di perpustakaan-perpusatakaan lokal.</p>
<p>_____________</p>
<p>Setelah disertasi selesai, kewajiban mahasiswa hanyalalah &#8220;men-submit&#8221; disertasitasinya ke program studi. Program studi lalu akan menunjuk &#8220;penguji&#8221; dari luar kampus. Setalah membaca dan menelaah disertasi tersebut, penguji akan menilai apakah disertasi tersebut diterima dan ybs layak diberi gelar Dr, atau harus ada minor revision, mayor revision, atau kadang, meski kasusnya jarang, diperlukan oral defense. Semua proses tersebut ditenggat oleh batasan waktu yang jelas sehingga mahasiwa tahu kapan hasil </p>
<p>Setahuku, PhD by research itu corak Eropa dan Australia namun keduanya ada perbedan. Kalao di Eropa, Belanda misalnya tidak ada ujian proposal. Proposal cukup di acc oleh supervisor, namun ada ujian desertasi (oral defense). Di Australia sebaliknya, ada ujian proposal namun umumnya tidak ada oral defense/ujian disertasi.</p>
<p>Sebagai ganti tidak ada kelas, PhD student di Australia biasanya dapat fasilitas ruang/office untuk kerja, dan kalo di kampus saya, lengkap dengan PC baru, unlimited internet access, serta acces pinjam buku-buku perpustakaan untuk waktu yang lebih lama. Selain itu, biasanya program study juga menawarkan berbagai macam workshop, seminar, dll. yang menunjung untuk riset/menulis disertasi.</p>
<p>Selain itu, program study juga memberikan allowance tiap mahasiswa untuk kepentingan riset, beli buku, atau menghadiri conference di dalam maupun luar negeri. Besarnya bervariasi tergantung tingkat &#8220;kemakmuran&#8221; prodi. Di tempat kami misalnya, Departemen International Business &amp; Asian Studies (IBAS) Griffith University Brisbane QLD, memberi 4000 AUD, di departemen lain cuma 3500 AUD. </p>
<p>Skian dulu, semoga bermanfaat.</p>
<p>Sumber gambar: http://www.geos.ed.ac.uk/research/rso/</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="arti phd">arti phd</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="pengalaman phd">pengalaman phd</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="program doktor Unsoed">program doktor Unsoed</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="persyaratan profesor">persyaratan profesor</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="jurnal perbaikan tanah">jurnal perbaikan tanah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="persyaratan proffesor">persyaratan proffesor</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="proposal disertasi">proposal disertasi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="pengalaman ph d">pengalaman ph d</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="p hd artinya">p hd artinya</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="pengalaman phd australia">pengalaman phd australia</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=248&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contreng !!!</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/08/contreng/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/08/contreng/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 05:29:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Contreng]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[TPS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Harapan perubahan itu kumulai hari ini. Bersama satu teman yang mengambil PhD bidang climate change asal Kendari, kami berangkat ke TPS. Sampai di lokasi berpuluh warga telah mengantri. Mereka bergerompol, ada yang berdiri, duduk di kursi, banyak juga yang melingkari meja penjualan makanan khas nusantara: siomay, pempek, tekwan, juga teh kotak. Seorang Bapak yang berdiri [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F08%2Fcontreng%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F08%2Fcontreng%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Contreng,Indonesiana,Pemilu,TPS&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"><img class="alignleft size-full wp-image-126" title="pemilu_20093" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/pemilu_20093.jpg" alt="pemilu_20093" width="68" height="114" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Harapan perubahan itu kumulai hari ini. Bersama satu teman yang mengambil <strong>PhD bidang climate change</strong> asal Kendari, kami berangkat ke TPS. Sampai di lokasi berpuluh warga telah mengantri. Mereka bergerompol, ada yang berdiri, duduk di kursi, banyak juga yang melingkari meja penjualan makanan khas nusantara: siomay, pempek, tekwan, juga teh kotak. Seorang Bapak yang berdiri di depan pintu mengatakan, untuk masuk ruangan TPS kita harus antri. Saya sendiri dapat nomor urut 10. Begitu giliran tiba, saya serahkan paspor dan surat undangan pada panitia. Sekitar sepuluh orang tampak sudah duduk di dalam ruangan menunggu giliran mencontreng. Saya menuju deretan kursi paling belakang. Lima menit kemudian, kira-kira pukul 12.14 nama saya dipanggil. Panitia menyerahkan kembali paspor saya dan memberi &#8220;kupon&#8221; tertulis angka 5. Saya serahkan kupon itu pada meja berikutnya dan panitia menggantinya dengan  kartu suara. Ia meminta saya membuka kartu tersebut dihadaannya, mengecek kalau-kalau ada kerusakan. Setelah dipastikan kartu &#8220;aman&#8221;, dengan pasti kulangkahkah kakiku menuju bilik pencontrengan. Sejak pagi jam 09.00 hingga petang pukul 20.00 waktu setempat, warga negara Indonesia yang berada di Brisbane dan sekitarnya diberi kesempatan untuk menentukan pilihan president dan wakil president RI ke 7 di Gedung 69 ruang 110 <strong>University of Queensland, St Lucia Campus. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Diujung pilpres 2009 yang heboh dan carut marut ini saya masih ingat berbagai analisis politik, rumor, issue, dan kampanye gelap berseliweran dengan janji-janji manis para capres dan cawapres. Saat menuju bilik suara, satu demi satu memori hingar-bingar kampanye yang terekam diberbagai media, milis, facebook dan obrolan santai muncul: mulai dari saling sindir dan cibir antar capres, lomba &#8220;ramalan&#8221; antar lembaga survey tentang prediksi perolehan suara masing-maisng calon, isu antek neolib, permainan canggih &#8220;merekayasa&#8221; polling sms, penelanjangan identitas agama keluarga cawapres, politik jilbab istri para capres dan cawapres, sinyalement salah satu capres yang gemar pada dunia klenik, &#8220;pelecehan&#8221; etnis tertentu oleh salah satu tim sukses, kisruh DPT hingga dugaan ketidaknetralan KPU. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Sesampai di bilik, kartu suara segera saya buka dan kutemukan tiga pasang gambar capres dan cawapres. Semuanya berdandan rapi. Tatapannya mantap dengan sedikit senyum refleksi orang terhormat penuh martabat. Melihat foto wajah-wajah gagah dan bersih itu, rasanya sulit dipercaya kalau di negeri tempat mereka berlaga &#8221;berebut&#8221; menjadi yang nomor satu masih banyak dijumpai pengangguran, komunitas kumuh, busung lapar, serta anak-anak tidak sekolah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Satu persatu foto mereka saya pandangi. Dalam hati saya bertanya, “hanya inikah stok calon pemimpin republik yang berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa?” Mataku kemudian fokus pada pasangan yang berada di ujung paling kiri. Saya teringat slogan-slogannya yang ingin memperjuangkan rakyat kecil, menyelamatkan ekonomi rakyat, berjanji pertumbuhan ekonomi diatas dua dugit, dan berteriak lantang anti neolib. Saya terbakar semangat mereka ingin mewujudkan negeri yang mandiri dan disegani. Namun saya segera berfikir, bagaimana mungkin itu terwujud <em>wong</em> dulu ketika capres tersebut menjadi presiden banyak BUMN strategis yang dijual? Saat mataku menatap pasangan yang di tengah, saya mengerti  dia telah berusa berbuat, diantaranya merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN meski itu atas &#8220;ultimatum&#8221;  Mahkamah Konstitusi; juga usahanya memberantas  korupsi meski dinilai masih tebang pilih. Namun aku juga tahu dari berbagi media dan milis, ia dikenal melankolis, sibuk membangun citra dan tebar pesona. Tim suksesnya juga terkesan pongah. Apa kayak gini yang mesti dilanjutkan? Dan ketika mataku tertuju pada pasangan di ujung kanan, saya mengenal semboyan mereka “the sooner the better” yang katanya terjemahan dari <em>fastabiquu al-khairat. </em>Saya suka gaya ceplas ceplos saudagar ini.<em> </em>Namun rekam jejak pasangannya dinilai banyak orang masih punya hutang masa lalu terkait HAM. Sebagian kalangan juga khawatir bisnis keluarga capres ini akan bertabrakan dengan kepentingan Negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Akhirnya, dengan <em>bismillahirrahmanirrahiem</em>, saya tentukan pilihan pada pasangan capres dan cawapres yang, menurut saya, visioner, cepat tanggap, berani mengambil keputusan. Pokoknya yang bisa membawa kemajuan bangsa <em>LEBIH CEPAT, </em> mampu me<em>LANJUTKAN</em> yang lalu ke arah yang <em>LEBIH</em> BAIK, dan mengeluarkan kebijakan yang lebih <em>PRO </em><em>RAKYAT KECIL</em><em>.</em> </span><em><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Wallahu a’lam.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 6pt; margin-left: 0cm; text-align: center;"><em><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;"><img class="size-large wp-image-133  aligncenter" title="pemilu-31" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/pemilu-31-1024x768.jpg" alt="pemilu-31" width="502" height="377" /></span></em></p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=118&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/08/contreng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Episode &#8216;Mendebarkan&#8217;</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 05:59:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Episodes]]></category>
		<category><![CDATA[heroik]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Saya harus banyak bersyukur. Sejak dari bangku SLTA hingga bisa melanjutkan ke program Ph.D ini bantuan beasiswa selalu mengililinga saya. SLTA saya dibiayai oleh Departemen Agama melalui program Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) yang diinisiasi oleh Menag H. Munawir Syadzali. Ketika Kuliah S1 memperoleh beasiswa dari Supersemar selama 2 tahun. S2 pertama memperoleh beasiswa dari [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F06%2F10%2Fepisode-mendebarkan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F06%2F10%2Fepisode-mendebarkan%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Episodes,heroik,Movie&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Saya harus banyak bersyukur. Sejak dari bangku SLTA hingga bisa melanjutkan ke program Ph.D ini bantuan beasiswa selalu mengililinga saya. SLTA saya dibiayai oleh Departemen Agama melalui program Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) yang diinisiasi <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>oleh Menag H. Munawir Syadzali. Ketika Kuliah S1 memperoleh beasiswa dari Supersemar selama 2 tahun. S2 pertama memperoleh beasiswa dari <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Departemen Agama R.I. dan S2 yang kedua <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>dari beasiawa Fulbright scholarship. Saat ini saya tengah menempuh program Ph.D dengan beasiswa dari Dirjen Dikti Depdiknas RI.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Selama memperoleh beasiswa-beasiswa tersebut, pengalaman paling ‘heroik’ dan ‘mendebarkan’ terjadi pada beasiswa Dikti. Saya sebut heroik sebab dikti membiayai lebih dari 2000 dosen PTN dan PTS untuk studi di Luar negeri; dan saya bilang mendebarkan sebab saya merasakan berdebar2 selama memproses pencairan beassiwa. Berdebar-debar karena harus menanti dana yang tidak kunjung turun padahal kita sudah di-deadline oleh kampus untuk segera memulai studi atau melanjutkan proses berikutnya. Untuk bisa segera memulai proses itu tentu kita harus memenuhi kewajiban pada pihak kampus dan punya stipend untuk hidup di negeri orang. Mungkin karena pengiriman dosen untuk studi di luar negeri dengan full sponshor pake rupiah ini bagi Dikti masih program baru dan masih mencari “bentuk” sehingga pihak penerima mesti aktif, proaktif, bahkan dalam batas tertentu “<em>greteh</em>” agar dana beasiwa bisa segera cair.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;"><img class="alignnone size-full wp-image-81" title="kusut" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/06/kusut.jpg" alt="kusut" width="500" height="375" /></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Dibawah ini penggalan kisah mendebarkan yang saya alami saat mencairkan beasiswa tahap 2, Januari – Juni 2009 yang berbeda dengan pengalaman pencairan tahan 1. Pencairan tahap satu dulu dilakukan dengan cara Kopertis mentransfer langsung dana beasiswa ke rekening karyasiswa. Untuk tahap 2 ini, dana tidak ditransfer langsung ke rekening penerima tapi melalui kampus asal karyasiswa tersebut. Dari kampus baru ditransfer ke dosen yang bersangkutan.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Awal Maret 2009 yang lalu saya memperoleh informasi dari bagian keuangan kampus bahwa dana dari Kopertis sudah dikirim ke rekening rektor di BNI. Dari rekening BNI dana tidak langsung dikirim ke rekening kita yang di Ausia, tapi dikirim dulu ke rekening bendahara kampus yang di BPD. Untuk bisa mengeluarkan dana dari BPD ini harus ada SK turunan dari Kontrak Rektor dengan Kopertis yang menerangkan dana tersebut akan dikirim ke dosennya yang sedang studi di Australia. Bagian keuangan juga mengatakan bahwa mereka baru berani mengirim uang itu setelah ada tanda tangan kwitansi dari penerima. Untungnya, bulan February yang lalu saya ada preliminary research dan konference di Jakarta sehingga bisa mampir Jogja untuk mengurus pencairan tersebut. Kwitansi untuk saya bisa segera saya tanda-tangani, sedang untuk teman yang juga di Ausi saya harus meyakinkan pada meraka, akan kasihan teman tersebut kalo dananya baru ditransfer setelah kwitansi asli dikirim ke Ausi dulu baru dikrim balik ke Jogja. Akhirnya disepakati saya yang akan membawa kwitansi teman tersebut dan menjamin akan segera mengirim kembali ke UIN agar beasiswa saya dan satu teman tersebut bisa segera dikirim. Itu fase ‘mendebarkan’ babak pertama.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Fase ‘mendebarkan’ kedua terjadi ketika saya dipanggil kabag Keuangan. Beliau membacakan Kontrak yang menyatakan penerima beasiswa bersedia dipotong PPh 15%. Hampir saja dana beasiwa kami kena potong 15% dari total dana termasuk beaya SPP dan asuransi kesehatan. Berdasar pesan dari bagian keuangan Kopertis, saya katakan bahwa point dan besaran potongan pajaknya sudah ada di perincian dana pada lampiran Kontrak. Akhirnya beliau cermati lagi lampiran kontrak dan hanya memotong 15 dari living allowance dan uang buku. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Fase ketiga muncul ketika saya harus memantau sudah sampai di mana perjalanan dana beasiswa tersebut, sejak akhir bulan Februari and 3 hari pertama bulan Maret saya harus kontak terus dengan bag Keuangan Kopertis dan salah satuKepala Biro di kampus saya. Hari Senin tgl 2 Maret dapat info dari Kopertis bahwa dana sudah masuk ke masing-masing Perguruan Tinggi. Info tersebut saya gunakan untuk terus menanyakan ke Kabiro bahwa dana sudah ditransfer. Kenapa saya terus aktif bertanya, sebab tgl 5 Maret saya harus kembali ke Brisbane. Tangal 3 Maret siang, saya baru dapat telepon dari bagian keuangan kampus yang meminta saya menyerahkan nomor rekening dan menandatangan kwitansi. Semula bagian keuangan kampus yang akan mentrasfer dana tersebut ke rekening kami di Ausi, tetapi ketika di BPD mereka memperoleh informasi kalo transfer dari BPD ke rekening luar negeri biayanya mencapai tujuh jutaan rupiah. Wow, cukup mahal kan? Akhirnya dana beasiswa kami berdua dari BPD diambil cash pada Rabu 4 Maret siang, diserahkan ke saya dan saya sendiri yang diminta mentrasfer dari Mandiri ke rekening Ausi dengan beaya $30 dolar per transfer. Biaya tranfer ditanggung oleh kita, penerima beasiswa.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Episode ‘mendebarkan’ terakhir terjadi saat saya harus membawa dana ratusan juta tersebut &#8211;jumlah yang cukup besar untuk ukuran saya&#8211; dari BPD ke Mandiri. Tidak mau abil resiko akhirnya kami putuskan untuk minta pengawalan polisi, lengkap dengan senapan di badannya. Sampai di Bank Mandiri sudah mendekati jam 15. Pihak teller mengatakan kalo transfer cash akan butuh waktu lama, sebab uang harus dihitung dulu, dipastikan keasliannya, dll. Karena keburu bank akan segera tutup, akhirnya saya debit dulu uang tersebut ke rekening saya, baru kamis pagi sekitar jam 8 saya ke Mandiri lagi untuk mentransfer dana tersebut ke Ausi. Untuk mentrasfer ke 2 nomor rekning di Ausi saya harus ‘ngendong’ sekitar 120 menit di Mandiri. Padahal, Kamis  siang 5 Maret itu saya harus meninggalkan Jogja menuju Brisbane lagi. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Berdasar pengalaman tersebut, kebijakan untuk mentrasfer dulu dana beasiswa dari Kopertis ke kampus asal karyasiwa semakin manambah alur birokrasi yang rumit dan berkepanjangan. Belum lagi masing-masing perguruan tinggi punya kebijakan birokrasi yang khas, unik dan berbeda-beda, yang umumnya bila pihak yang berkepentingan tidak aktif menanyakan cenderung akan terabaikan. </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Saat ini saya kembali memasuki fase mendebarkan KELIMA, sebab menurut informasi pihak Kopertis, dana tahap 3 untuk bulan Juli-Desember akan dicairkan bulan Juni ini. Sekarang sudah tanggal 10 Juni, tapi belum ada berita tentang prose pencairannya. Entah berapa episode kisah heroik untuk pencairan tahap 3 ini. Semoga semuanya lancar.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia; mso-bidi-font-family: Arial;">Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/unsunghero/90562369/</span></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="pengertian episode">pengertian episode</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="arti dikti">arti dikti</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="wajah kusut">wajah kusut</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="transfer bpd ke mandiri lama">transfer bpd ke mandiri lama</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="standar gaji di australia">standar gaji di australia</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="libertus darus">libertus darus</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="kusut">kusut</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="kisah penerima beasiswa dikti">kisah penerima beasiswa dikti</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="kisah para penerima beasiswa dikti">kisah para penerima beasiswa dikti</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/" title="jumlah transfer beasiswa dikti">jumlah transfer beasiswa dikti</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=20&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/10/episode-mendebarkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

