Pagi itu istri saya tampak sibuk dan tergesa. Sejak jam 3 pagi dia sudah bangun, duduk serius di depan laptop sambil tangannya memencet-mencet huruf demi huruf pada keyboard. Menjelang jam 7, dia minta tolong di-lay-out-kan hasil kerjanya dan mengeprintkannya sambil wanti-wanti pada saya untuk tidak mengotak-atik isinya. Dia sendiri langsung menuju kamar mandi dan bersiap ke kampus untuk ujian.
Saat me-lay-out kubaca kalimat-kalimat pada paper istriku itu. Jiwa “editor” saya langsung bekerja dan membenahi beberapa kalimat yang menurutku kurang pas. Selesai; segera saya print, lalu kuserahkan ke istri sesaat sebelum dia men-starter motornya.
Siang hari, sekembalinya dari kampus saya bertanya: “Gemana ujiannya Bunda? Sukses? Terus, papernya?”
Dengan santai dia menjawab, “Ya… begitulah. Yang penting semua sudah Bunda jawab, tapi paper tidak jadi Bunda kumpulkan.”
“Lho, kenapa?” protesku.




Ceritanya, tiga miggu yang lalu saya menyambangi sekretariat Center for Teaching Staff Development (CTSD) di lantai 3 Gedung Pusat Studi UIN Sunan Kalijaga. Direktur CTSD yang akan bertugas ke Sorong selama 3 minggu tampak surprise melihat saya datang siang itu. Kukatakan padanya kalau saya sedang riset lapangan di Jogja. Mengetahui saya punya waktu agak luang pada akhir pekan, setengah kegiraangan dia meminta saya untuk mengganti mengajar Studi Islam pada mahasiswa asal Tiongkok yang tengah mengambil program Sandwich di Universitas Ahmad Dahlan, salah satu Perguruang Tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta.