<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>muttaQin &#187; Kultum</title>
	<atom:link href="http://www.ahmadmuttaqin.com/tags/kultum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ahmadmuttaqin.com</link>
	<description>Keluarga dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Jun 2010 11:39:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dakwah, Debat &amp; Kebebesan Berekspresi</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 03:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Debat]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kebebesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wa mau’idhati al-hasanati wa jaadil-hum billaatii hiya ahsan. (Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak (hikmah) dan peringatan yang baik-baik, lalu debatlah dengan cara yang terbaik).
Ayat diatas sering dijadikan rujukan tentang metode dan strategi berdakwah: yang pertama dengan menyeru pada jalan Allah secara bijak (bi al-hikmah), kedua pemberian wejangan/nasihat [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F11%2F02%2Fdakwah-debat%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F11%2F02%2Fdakwah-debat%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Dakwah,Debat,Informasi,Kebebesan" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-494" title="Screen shot 2009-11-02 at 9.37.29 AM" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/11/Screen-shot-2009-11-02-at-9.37.29-AM.png" alt="Screen shot 2009-11-02 at 9.37.29 AM" width="298" height="163" />Ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wa mau’idhati al-hasanati wa jaadil-hum billaatii hiya ahsan. </em>(Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak (hikmah) dan peringatan yang baik-baik, lalu debatlah dengan cara yang terbaik).</p>
<p>Ayat diatas sering dijadikan rujukan tentang metode dan strategi berdakwah: yang pertama dengan menyeru pada jalan Allah secara bijak (<em>bi al-hikmah</em>), kedua pemberian <em>wejangan</em>/nasihat yang baik-baik (<em>mau’idha hasanah</em>), dan yang ketiga, bila masih nggak mau juga, maka debatlah namun dengan cara yang paling baik, tidak menimbulkan prahara (<em>jaadilhum billati hiya ahsan</em>). Ketiga strategi tersebut seoalah berlaku <em>squence</em>, 1, 2, dan 3. Padahal, kalau dicermati ayat tersebut mengandung dua perintah. Pertama adalah perintah dakwah dengan cara menyeru dan memberi peringatan, yang kedua adalah perintah untuk mendebat dengan cara yang sebaik mungkin.</p>
<p><span id="more-493"></span></p>
<p>Kenapa dua perintah? Sebab <em>wau ‘athf</em> pada <strong><em>wa</em></strong><em> jaadilhum </em>mestinya merujuk pada kata perintah (<em>fi’il amr</em>) <em>ud’uu, </em>bukannya pada kata benda (<em>isim</em>) <em>al-hikmah wa mau’idhatu al-hasanah</em> yang selama ini sering dipahami. Dalam struktur bahasa Arab kata sambung “dan” (<em>wa athf</em>) mesti merujuk pada kata yang pararel. Karena <em>Jaadil-hum</em> adalah <em>fiil amr</em>, maka ia mesti merujuk pada <em>fii’l amr</em> sebelumnya, yaitu <em>ud’uu, </em>bukan pada dua kata benda (<em>isim</em>) <em>al-hikmah</em> dan al-<em>mau’idhah</em>.</p>
<p>Perintah untuk berdebat ini perlu dimaknai secara komprehensif. Bukan hanya mendebat pandangan pihak lain yang tidak sesuai dengan kita pada forum-furum debat. Juga bukan terbatas pada forum debat antar dua kelompok agama sebagaimana sering dilakukan oleh Ahmad Dedat dengan para pendeta dan pastur untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam. Lebih luas lagi, debat bisa juga dimaknai sebagai <em>counter information </em>terhadap isu-isu miring yang memojokkan Islam.</p>
<p>Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dalam dunia internet yang mengantarkan setiap orang bisa dengan bebas dan leluasa membuat blog, memposting opini dan pendapat pribadi atau kelompok, maka berita dan informasi yang merendahkan, menghina, dan menghujat Islam dan umat Islam akan semakin banyak. Ditutupnya blog yang memuat kartun nabi Muhammad di Indonesia beberapa waktu yang lalu tidak akan menutup syahwat mereka yang tetep gigih ingin melecehkan Islam. Ini bisa dibaca dari tidak menyesalnya kartunis Denmark yang telah melecehkan Nabi bahkan akan tetep berkarya atas nama kebebasan berekspresi meski karyanya tersebut diprotes oleh kaum Muslim seantero Dunia. Disinilah perlunya umat Islam proaktif “mendebat” informasi-informasi yang menghina Islam tersebut dengan cara terbaik. Tidak cukup hanya dengan sikap reaktif; protes, demo turun ke jalan sambil marah-marah. Informasi tentang Islam yang sesat menyesatkan tersebut harus didebat dengan counter informasi yang cerdas dan terarah.</p>
<p>Saatnya umat Islam membuat <em>task force</em> “pusat informasi” terdiri dari orang-orang yang “melek” hukum, media, teknologi dan tentu saja ajaran Islam itu sendiri untuk mendebat dan meluruskan berita-berita miring tentang Islam. Saatnya generasi Muslim proaktif memanfaatkan fasilitas blog, wordpress, mailing list, friendster, facebook serta fasilitas ‘dunia maya’ lainnya untuk syiar Islam. Bila tidak, maka internet akan dipenuhi oleh bloger-bloger yang hanya menyiarkan kesesatan. Itulah kira-kira makna strategis dari perintah Allah “<em>jaadilhum billati hiya ahsan</em>.” Semoga bermanfaat.</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><ul class='dicari'><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/dakwah+dan+debat/" title="Dakwah dan Debat">Dakwah dan Debat</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/teknik+debat/" title="teknik debat">teknik debat</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/uduu+ilaa/" title="uduu ilaa">uduu ilaa</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/debat+dalam+dakwah/" title="debat dalam dakwah">debat dalam dakwah</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/dakwah+kultum+3+nasehat/" title="dakwah kultum 3 nasehat">dakwah kultum 3 nasehat</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/perintah+dakwah/" title="PERINTAH DAKWAH">PERINTAH DAKWAH</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/pengertian+teknik+debat/" title="pengertian teknik debat">pengertian teknik debat</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/maksud+kebebesan+menurut+islam/" title="maksud kebebesan menurut islam">maksud kebebesan menurut islam</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kultum+terbaik+muhammadiyah/" title="kultum terbaik muhammadiyah">kultum terbaik muhammadiyah</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kultum+tentang+dakwah/" title="kultum tentang dakwah">kultum tentang dakwah</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.518 ms --><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=493&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resep Bahagia</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 09:36:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[Bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Philantrophy]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		

Belum pernah saya dengar bisnis atau usaha bangkrut hanya karena rajin sedekah. Sedekah adalah investasi ukhrawi dan duniawi. Sekecil apapun ia bagian dari pengendalian diri, pengejewentahan rasa syukur dan kepedulian sosial.
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
“Wahai Rasulullah, berilah kami resep hidup bahagai,”  tanya seorang sahabat. Rasulullah menjawab: “Antashaddaqa wa anta shahiihun syakhikhun takhsya al-fakra wa ta’muli al-ghina” (Bersedekahlah di kala kamu masih [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F29%2Fresep-bahagia%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F29%2Fresep-bahagia%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Bahagia,Philantrophy,Sedekah" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-301" title="Giving8" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/Giving8.jpg" alt="Giving8" width="264" height="193" /></p>
<p>Belum pernah saya dengar bisnis atau usaha bangkrut hanya karena rajin sedekah. Sedekah adalah investasi ukhrawi dan duniawi. Sekecil apapun ia bagian dari pengendalian diri, pengejewentahan rasa syukur dan kepedulian sosial.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>“Wahai Rasulullah, berilah kami resep hidup bahagai,”  tanya seorang sahabat. Rasulullah menjawab: “<em>Antashaddaqa wa anta shahiihun syakhikhun takhsya al-fakra wa ta’muli al-ghina” </em>(Bersedekahlah di kala kamu masih sehat, sementara hidup mu masih serba kekurangan dan kamu sendiri ingin menjadi kaya). Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang sering disebut <em>muttafaqun ‘alaih. </em>Artinya, dari segi sanad  insya Allah tingkat keshahihannya terjamin.</p>
<p><span id="more-298"></span></p>
<p>Mengapa Rasulullah mendorong kita bersedekah ketika masih sehat? Sebab kenyatannya orang yang sehat itu sering tidak sadar, lupa bahwa sehat itu karunia Allah SWT. Lupa diri inilah pangkal dari tindakan ceroboh, sembrono, tidak hati-hati dan tentu juga kurang produktif. Biasanya, kesadaran akan berbuat baik, termasuk bersedekah, baru muncul ketika kita sedang dicoba dengan rasa sakit. Saat berbaring di rumah sakit, kita sering merenungi tindakan-tindakan masa lalu. Begitu menyadari punya banyak dosa muncul keinginan taubat, berazam untuk memperbanyak sedakah sebagai ungkapan syukur jika nanti sembuh. Orang yang bijak tentu akan sedekah tanpa harus menunggu sakit datang.</p>
<p>Kenapa juga Rasulullah SAW menganjurkan kita bersedekah ketika masih merasa kurang dan ingin kaya? Kenyataannya, manusia sering merasa tidak cukup. Diberi kekayaan berapapun jumlahnya selalu merasa kurang dan ingin lebih. Merasa masih kurang dan belum cukup ini sering dijadikan alasan untuk menunda-nunda sedekah. “Ah, saya kan masih perlu uang ini; ntar deh saya sedekah setelah banyak rejeki,” begitu kita sering berdalih. Sebenarnya, bersedakah saat kita sendiri masih memerlukan harta merupakan sarana pengendalian nafsu ingin menguasai dan kontrol terhadap kehalalan cara kita mencari rezeki. Sebab, tidak sedikit orang yang tergelincir pada tindak pidana korupsi berawal dari rasa tidak cukup dan nafsu ingin menguasai tanpa batas.   </p>
<p>Sebuah hadits Qudsi menyebutkan: &#8220;Allah senantiasa hadir ditengah-tengah orang miskin&#8221;. Ironinya, kita sering abai terhadap mereka. Padahal, moral hadis tersebut mengajarkan bahwa kita sedang &#8216;bertransaksi&#8217; dengan Allah saat terlibat aktif mengentaskan kaum mustadz&#8217;afin itu. Dengan sedekah kita tidak hanya simpati dan berempati tapi berpartisipasi langsung meringankan penderitaan orang lain. Merupakan kebahagiaan bila kita mampu membantu sesama keluar dari kesusahan. Sekecil apapun dana sedakah yang kita sumbangkan melalui lembaga philanthropy yang amanah dan professional berkontribusi mengurangi kemiskinan struktural dan meningkatkan kemakmuran.</p>
<p>Secara ekonomis sedekah mengenal hukum reward, “<em>man yazra’ yahshud</em>,<em>” </em>siapa menanam mengetam, siapa beramal dapat pahala, siapa berbuat kebajikan akan memperoleh kebaikan berlihat, begitu seterusnya. Pemilik toko yang yang rajin bersedekah di lingkungannya, insya Allah pelanggannya melimpah. Saudagar yang tidak pelit, insya Allah kekayaannya aman dari jarahan kriminal. Pengusaha yang tidak bakhil pada karyawannya, insya bisnisnya makin berkembang. Yang jelas, tidak ada dalam sejarah orang jatuh miskin karena sedekah. Belum pernah saya dengar, bisnis atau usaha bangkrut hanya karena yang bersangkutan dermawan. Singkatnya, sedekah adalah investasi yang berdimensi ukhrawi dan duniawi.</p>
<p>Pada konteks sosial sedekah adalah implementasi solidaritas dan ukhuwah. Disinilah arti penting 6T dalam Islam, <em>Ta’aruf, Tafahum, Tasamuh, Ta’awun, Takaful, </em>dan <em>Taqwa</em>. Bangunan sosial kita mestinya dilandasi oleh kemauan untuk saling mengenal (<em>ta’aruf</em>) dan saling memahami (<em>tafahum</em>) terhadap kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keberbedaan potensi yang ada bukan untuk diperselisihkan tapi untuk disinergikan dalam bingkai toleransi (<em>tasamuh</em>). Sikap toleran ini menjadi bekal berharga untuk bisa bekerja sama (<em>ta’aawun</em>) sehingga bila ada saudara yang perlu bantuan, meski berbeda golongan, akan  tetap saling menjamin (<em>takaful</em>) kelangsungan hidup dan keselatamannya dan bersama-sama meraih predikat taqwa. Sepanjang rantai 6T tersebut sedekah memimiliki peran yang sangat vital. <em> </em></p>
<p>Tidak berlebihan untuk mengatakan resep hidup bahagia Rasulullah SAW di atas berdimensi personal dan sosial. Sedekah, sekecil apapun bagian dari pengendalian diri dan pengejewentahan rasa syukur serta kontribusi sosial untuk menuju pribadi dan masyarakat yang sehat.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>. Semoga bermanfaat</p>
<p>Sumber gambar: <a href="http://coeinc.org/AllPages/9Sections/giving.htm">http://coeinc.org/AllPages/9Sections/giving.htm</a></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><ul class='dicari'><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/arti+tafahum/" title="arti tafahum">arti tafahum</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/pengertian+taawun/" title="pengertian taawun">pengertian taawun</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/taawun+dan+tasamuh/" title="ta`awun dan tasamuh">ta`awun dan tasamuh</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/pengertian+tafahum/" title="Pengertian tafahum">Pengertian tafahum</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/hadist+tentang+kebahagiaan/" title="hadist tentang kebahagiaan">hadist tentang kebahagiaan</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/arti+taawun/" title="Arti Taawun">Arti Taawun</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/hadits+bahagia/" title="hadits bahagia">hadits bahagia</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kata+kata+bahagia/" title="kata-kata bahagia">kata-kata bahagia</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/hadist+tentang+taawun/" title="HADIST TENTANG TAAWUN">HADIST TENTANG TAAWUN</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/hadis+tentang+bahagia/" title="hadis tentang bahagia">hadis tentang bahagia</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 2.062 ms --><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=298&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faith in Action &amp; Ihsan pada Kemanusiaan</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 09:48:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[Faith in Action]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Pola pikir, tindakan dan gagasan umat Islam hendaknya selalu bersendikan pada aqidah Islamiyah. Ungkapan “buah dari aqidah yang benar (Iman) tidak lain adalah amal sholeh” harus menjadi spirit dan etos ummat Islam. Pribadi yang mengaku muslim mestinya selalu menebar amal shalih sebagai implementasi keimanannya di manapun mereka berada. Tidak kurang 60 ayat Al Qur’an menerangkan [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F24%2Ffaith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F24%2Ffaith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Faith+in+Action,Ihsan,Kemanusiaan" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-212" title="IslamicArt in Ibn Batutha" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/IslamicArt-in-Ibn-Batutha-300x225.jpg" alt="IslamicArt in Ibn Batutha" width="240" height="180" />Pola pikir, tindakan dan gagasan umat Islam hendaknya selalu bersendikan pada aqidah Islamiyah. Ungkapan “buah dari aqidah yang benar (Iman) tidak lain adalah amal sholeh” harus menjadi spirit dan etos ummat Islam. Pribadi yang mengaku muslim mestinya selalu menebar amal shalih sebagai implementasi keimanannya di manapun mereka berada. Tidak kurang 60 ayat Al Qur’an menerangkan korelasi antara keimanan yang benar dengan amal sholeh ini. Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa perintah beriman kepada Allah dan hari akhir selalu diikuti dengan perintah untuk melaksanakan amal shalih. Inilah makna operatif dari ungkapan “<em>al-Islamu ‘aqidatun wa jihaadun</em>”, bahwa kebenaran Islam itu harus diyakini sekaligus juga diperjuangkan pengamalannya secara sungguh-sungguh dalam konteks kemaslahatan dan bebas dari perilaku teror.</p>
<p><span id="more-199"></span></p>
<p>Aqidah adalah pondasi keber-Islaman yang tak terpisahkan dari ajaran Islam yang lain: akhlaq, ibadah dan Muamalat. Aqidah yang kuat akan mengantarkan ibadah yang benar, akhlaq yang terpuji dan muamalat yang membawa maslahat.</p>
<p>Selain sebagai pondasi, hubungan antara aqidah dengan pokok-pokok ajaran Islam yang lain bisa juga bersifat resiprokal dan simbiosis. Artinya, ketaatan menuanaikan ibadah, berakhlaq karimah, dan bermuamalah yang baik akan memelihara aqidah. Dengan kata lain, ibadah adalah pelembagaan aqidah dalam konteks hubungan antara makhkluq dengan Khaliq; akhlaq merupakan buah dari aqidah dalam kehidupan yang etis dan egaliter; dan muamalah sebagai implementasi aqidah dalam masyarakat yang bermartabahat dan menebar maslahat. Karena itu, agar aqidah tumbuh dan berkembang, aqidah harus operatif dan fungsional. Di Indonesia kita menyaksikan beberapa ormas Islam yang telah berhasil mengembangkan amal usaha atau unit pelayanan umat seperti Panti sosial dan anak yatim, lembaga pendidikan dan pondok pesantren, balai pengobatan dan rumah sakit, lembaga pengumpul dan penyalur zakat serta lembaga-lembaga sosial keagamaan lainnya. Lembaga atau unit pelayanan umat tersebut, meminjam istilah M. Amin Abdullah, merupakan bentuk <em>faith in action,</em> buah keimanan yang aktif dan salah satu bentuk pengejawantahan ‘tauhid sosial’<em> </em>atau ‘theologi pembangunan’. Sayanya, tidak sedikit buah <em>faith in action</em> tersebut yang terjebak pada bebagai kepentingan mulai dari ekonomi hingga politik.</p>
<p>Agar tetap kokoh dan kuat serta menjadi penyangga seluruh sendi keber-Islaman, aqidah harus dijaqa, dipelihara dan dipupuk sehingga bisa hidup subur dalam pribadi setiap Muslim. Pentingnya memelihara aqidah ini juga tersirat dalam <em>Sirrah Nabawiyah. </em>Saat membangun masyarakat Islam di Makkah dan Madidah selama 23 tahun Rasulullah Muhammad SAW tidak kenal lelah membina aqidah umatnya. Mengingat pentingnya aqidah ini bisa dimengerti bila setiap surat dalam Al Quran mengandung pokok-pokok ajaran keimanan.</p>
<p>Di tengah pasar bebas nilai dan ideologi saat ini, upaya merevitalisasi aqidah serasa memperoleh momentum. Mudah tergiurnya sebagian umat pada faham atau aliran-aliran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam merupakan efek dari lemahnya aqidah mereka. Ketidakpeduliaan sebagian umat Islam terhadap kerusakan lingkungan dan kebobrokan moral juga indikasi rapuhnya bangunan aqidah. Mulai memudarnya etos dan jiwa voluntarisme di kalangan umat dan semakin menguatnya syahwat duniawi adalah konsekuensi logis dari redupnya aqidah. Saatnya sekarang membenahi dan merevitalisasi aqidah agar umat memiliki pondasi yang benar, kokoh dan fungsional. Dengan bekal ini <em>faith in action</em> bisa dilipatgandakan untuk menghadirkan pesona Islam yang lebih “ihsan pada kemanusiaan.”</p>
<p><em>Wallahu ‘alam</em>, semoga bermanfat.</p>
<p>NB: Tulisan ini pernah dipostingkan di KAMIL (Kajian Milis) IISB@yahoogroup.com</p>
<p>Sumber gambar: http://www.flickr.com/photos/4444/336119576/</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><ul class='dicari'><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/ihsan+dalam+muamalat/" title="ihsan dalam muamalat">ihsan dalam muamalat</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/konsep+al+ehsan/" title="konsep al-ehsan">konsep al-ehsan</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/peranan+ihsan/" title="Peranan Ihsan">Peranan Ihsan</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/al+ehsan+dalam+kehidupan/" title="al-ehsan dalam kehidupan">al-ehsan dalam kehidupan</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/implementasi+aqidah+dalam+gerakan/" title="implementasi aqidah dalam gerakan">implementasi aqidah dalam gerakan</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/ihsan+dalam+pendidikan/" title="ihsan dalam pendidikan">ihsan dalam pendidikan</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kepentingan+konsep+al+ehsan+dalam+pendidikan/" title="kepentingan konsep al ehsan dalam pendidikan">kepentingan konsep al ehsan dalam pendidikan</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/muamalat+dalam+islam+secara+ehsan+terhadap+allah/" title="muamalat dalam islam secara ehsan terhadap allah">muamalat dalam islam secara ehsan terhadap allah</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/konsep+ehsan+dalam+muamalat/" title="konsep ehsan dalam muamalat">konsep ehsan dalam muamalat</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/konsep+al+ehsan/" title="konsep al ehsan">konsep al ehsan</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 2.56 ms --><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=199&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aqidah, Amal Shalih &amp; Wajah Islam</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 09:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[amal shalih]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[wajah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Secara lughawi (terminologis) istilah aqidah berasal dari kata “’aqada” yang berarti buhul dan mahkota; sedangkan secara istilah aqidah berarti sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasar wahyu, fitrah dan akal. Kebenaran tersebut dipatrikan dalam hati, diyakini keshahihannya, dan ditolak kemungkinan kebanaran selainnya.
Pada kontek keber-Tuhanan, aqidah umat Islam adalah tauhid, men-gesakan Tuhan (QS. [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Faith in Action &#038; Ihsan pada Kemanusiaan'>Faith in Action &#038; Ihsan pada Kemanusiaan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F24%2Faqidah-amal-shalih-wajah-islam%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F24%2Faqidah-amal-shalih-wajah-islam%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=amal+shalih,aqidah,wajah+Islam" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-218" title="IslamicArt-04" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/IslamicArt-04-300x300.jpg" alt="IslamicArt-04" width="300" height="300" />Secara <em>lughawi</em> (terminologis) istilah aqidah berasal dari kata “<em>’aqada</em>” yang berarti buhul dan mahkota; sedangkan secara istilah aqidah berarti sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasar wahyu, fitrah dan akal. Kebenaran tersebut dipatrikan dalam hati, diyakini keshahihannya, dan ditolak kemungkinan kebanaran selainnya.</p>
<p style="text-align: left;">Pada kontek keber-Tuhanan, aqidah umat Islam adalah tauhid, men-gesakan Tuhan (QS. Al-Ikhlash). Setidaknya ada tiga aspek tauhid yang harus diyakini: <em>pertama</em>, kepercayaan dan keyakinan bahwa hanya Allah yang berkuasa mencipta, memelihara, mengatur dan menguasai alam semesta (<em>tauhid Rububiyah </em>- QS. Al-A’raf: 54); <em>kedua,</em> kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang Haq (<em>tauhid Uluhiyah </em>– QS. Muhammad: 19); dan <em>ketiga,</em> kepercayaan dan keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak dan wajib dihampai/disembah (<em>tauhid Ubudiyah</em> – QS. Al Isra: 23).</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-196"></span></p>
<p style="text-align: left;">Bertauhid dengan benar akan membentuk dua kesadaran sekaligus: sadar bahwa hari Akhir (kiamat) itu pasti akan datang dan sadar setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Dua kesadaran ini akan mengantarkan kesadaran berikutnya bahwa hidup manusia ini semata mata untuk beribadah dan beramal shalih dalam rangka menggapai ridha Allah SWT (QS. Adz Dzariyat: 56). Kesadaran tersebut bila diiringan dengan tindakan nayata akan membawa umat Islam mampu menempatkan dirinya sebagai khalifatullah di muka bumi yang bertanggungjawab dan berusaha mempertahankan martabat dirinya sebagai magkhluq Allah yang paling mulia (QS. At-Tin: 4-6).</p>
<p style="text-align: left;">Pada dasarnya aqidah berkaitan dengan sisi “dalam” manusia. Kekuatannya bergantung pada kebersediaan hati dan akal seseorang untuk berdialog dengan kebenaran wahyu Illahi. Aqidah kita termasuk kuat dan kokoh bila kita mampu mengakui “kebenaran itu tetap benar dan kebathilan itu tetap bathil” di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Keber-aqidahan kita dikatakan ikhlas jika seluruh pikiran dan perbuatan yang kita lakukan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah, diamalkan dengan sebaik-baiknya dan berorientasi pada hasil yang membawa kemaslahatan. Dengan begitu, aqidah tersebut akan membawa ketenteraman hati, menghilangkan riya dan memberi kemanfaatan pada orang lain.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan ungkapan yang lebih fungsional, kalau kita sudah meyakini bahwa Islam yang kita peluk ini adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya, sejak nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Rasul penutup Muhammad SAW; agama yang menjadi hidayah dan rahmat bagi umat manusia sepanjang masa; serta agama yang menjamin kesejahteraan hidup material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi, maka sudah sewajarnya jika seluruh kerja dan karya kita diorientasikan untuk syiar Islam dan menebar kemaslahatan untuk kemanusiaan dan peradaban. Sebab di pundak kita inilah citra Islam dan pesona Islam itu, bukan hanya pada para ulama, kyai atau pemimpin Islam. Semua yang telah mengikrarkan dua kalimah syahadah pada dasarnya memiliki kewajiban moral untuk menghadirkan wajah Islam yang <em>rahmatan lil’aalamin.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Wallahu ‘alam</em>, semoga bermanfat.</p>
<p style="text-align: left;">Tulisan ini pernah dipost-kan pada KAMIL (Kajian Milis) IISB@yahoogroups.com</p>
<p style="text-align: left;">Sumber gambar: http://homedecor.cafepress.com/item/traditional-art-ornament-round/202027317</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><ul class='dicari'><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kata+bijak+islami/" title="kata bijak islami">kata bijak islami</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kata+kata+bijak+islami/" title="kata-kata bijak islami">kata-kata bijak islami</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kultum+islami/" title="kultum islami">kultum islami</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/amal+shalih/" title="amal shalih">amal shalih</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kata+bijak+untuk+amal+manusia/" title="kata bijak untuk amal manusia">kata bijak untuk amal manusia</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kata+kata+bijak+islami+di+hadist/" title="kata kata bijak islami di hadist">kata kata bijak islami di hadist</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kultum+singkat+islam+tentang+rahmat+allah/" title="kultum singkat islam tentang rahmat allah">kultum singkat islam tentang rahmat allah</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/islam+dan+amal+shalih/" title="islam dan amal shalih">islam dan amal shalih</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kultum+islam/" title="kultum islam">kultum islam</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/kultum+aqidah/" title="kultum aqidah">kultum aqidah</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 2.392 ms --><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=196&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Faith in Action &#038; Ihsan pada Kemanusiaan'>Faith in Action &#038; Ihsan pada Kemanusiaan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
