<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIFE FOR OTHERS &#187; Kultum</title>
	<atom:link href="http://www.ahmadmuttaqin.com/tags/kultum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ahmadmuttaqin.com</link>
	<description>:Berbagi Merajut Kebersamaan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 03:50:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>The Power of Forgiveness</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 05:37:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[400 dirham untuk yang telah dimaafkan]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban memaafkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[_________ Mendengar hal itu Hasan lalu berkata pada budaknya bahwa mulai detik itu juga ia bebas, menjadi manusia merdeka. Tidak hanya itu, Hasan bahkan memberinya 400 keping dirham. Bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini, 400 dirham itu sama dengan:  400 x Rp. 37.000,00 = Rp. 14.800.000,00 !!!) __________ Oleh: Ahmad Muttaqin Ayat 133-134 QS. [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/20/taqabbalallah-minna-wa-minkum/' rel='bookmark' title='Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum'>Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F09%2F29%2Fthe-power-of-forgiveness%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F09%2F29%2Fthe-power-of-forgiveness%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=400+dirham+untuk+yang+telah+dimaafkan,keajaiban+memaafkan&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_0860.jpg"><img class="size-medium wp-image-696 alignleft" title="IMG_0860" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_0860-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>_________</p>
<p>Mendengar hal itu Hasan lalu berkata pada budaknya bahwa mulai detik itu juga ia bebas, menjadi manusia merdeka. Tidak hanya itu, Hasan bahkan memberinya 400 keping dirham. Bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini, 400 dirham itu sama dengan:  400 x Rp. 37.000,00 = Rp. 14.800.000,00 !!!)</p>
<p>__________</p>
<p><em>Oleh: Ahmad Muttaqin</em></p>
<p>Ayat 133-134 QS. Ali Imran sedemikian popular pada bulan Syawal, menjadi ayat pilihan yang paling banyak dibaca dan diulas oleh para ustadz, kyai, dan mubaligh di berbagai forum pengajian, taklim, maupun seremonial. Di acara syawalan atau halal bil-halal, dua yat ini nyaris tidak pernah absen dibaca sebagai “legitimasi” tradisi saling memaafkan.</p>
<p>Saking populernya dan khawatir dua ayat ini dikultuskan, salah seorang khatib Jum’at  di Yogyakarta pada khutbahnya pada H+14 dari Idul Fitri mengingatkan: “Jamah jum’at rahimakumullah…, sekali lagi saya tegaskan  ayat 133-134 surat Ali Imran ini bukan ayat syawalan!!”</p>
<p><span id="more-693"></span>Mengapa dua ayat ini yang sering diulas  para penceramah saat menerangkan hikmah halal bil-halal? Mungkin karena ayat 133 menegaskan perintah bersegera menggapai ampunan Allah serta menuju surga-Nya yang diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang  bertaqwa. Ciri-ciri orang yang bertaqwa ini dijelaskan lebih lanjut dalam ayat berikutnya (134), antara lain: aktif bersedekah baik saat berkelimpahan, pas-pasan, mupun kekurangan; mampu menahan amarah; berkenan memaafkan orang lain; dan gemar berbuat kebajikan.</p>
<p>Bila dikaitkan dengan ayat perintah puasa (QS Al-Baqarah 183) yang menegaskan tujuan puasa itu untuk menggapai taqwa, penjelasan ciri orang yang bertaqwa dalam QS Ali Imran 34 ini cukup pas diulas pada bulan syawal, saat kaum Muslimin baru saja selesai menjalankan puasa Ramadhan. Uniknya, secara sosiologis penjelasan ciri pribadi taqwa itu seolah telah termanisfestasi dalam kultur masyarakat Indonesia yang selalu bersilaturahmi dengan kerabat, tetangga dan sahabat dalam rangka maaf-memaafkan pada hari raya idul fithri. Pada konteks inilah tidak mengherankan bila ayat tersebut menjadi sangat popular. Matra saling memaafkan yang terkandung sangat kuat pada ayat tersebut tidak hanya mampu menggerakakan roda sosial bahkan juga ekonomi pada tiap Idul Fitri. Barangkali ini salah satu bentuk keajaiban memaafkan (<em>the power of forgiveness)</em>.</p>
<p>Data historis pada masa shahabat menunjukkan <em>“the power of forgiveness</em>” yang sangat manakjubkan.  Salah seorang budak Hasan bin Ali, cucu Rasulullah, memperoleh kebebabasan dan menjadi manusia merdeka lantaran membaca QS. Ali Imran:  134 ini. Maulana Muhammad Ali dalam <em>The Holy Qoran, English Translation and Commentary </em>mengisahkan: suau hari budak cucu Rasulullah tersebut merasa bersalah karene menghidangkan makanan yang terlalu panas. Kawatir akan mendapat murka dari majikannya, buru-buru budak tersebut membaca “…<em>al-kaadzimina al-ghaidha”</em> (orang-orang yang menahan amarah), saat itu juga Hasan menimpali bahwa dirinya tidak marah. Lalu, budak tersebut melanjutkan dengan membaca <em>“…al-‘aafina ‘aninnaas</em> (orang-orang yang berkenan memberi maaf); Hasan pun menjelaskan bahwa ia telah memaafkan kesalahan budak tersebut. Kemudian, melihat sang majikan yang sangat pemaaf itu, si budak kembali melanjutkan penggalan ayat “<em>wa-Allahu yuhibbu al-muhsiniin</em>” (dan Allah mencintai orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan). Mendengar hal itu Hasan lalu berkata pada budaknya bahwa mulai detik itu juga ia bebas, menjadi manusia merdeka. Tidak hanya itu, Hasan bahkan memberinya 400 keping dirham. Bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini, 400 dirham itu sama dengan:  400 x Rp. 37.000,00 = Rp. 14.800.000,00 !!!)</p>
<p>Itulah keajaiban memberi maaf. Tidak hanya menghindarkan konflik dan pertikaian yang berpotensi mendorong manusia saling merendahkan, memaafkan telah mengantarkan ke jalan yang jauh lebih terpuji: memuliakan sesama dan bersedekah. Konflik, gontok-gontokan, dendam, pertikaian, perkelahian antar  kelompok hingga perang saudara yang sering mengkibatkan manusia berada pada titik nadir moralitas, penyebabnya satu: tidak adanya kesediannya saling memaafkan.</p>
<p>Saudara, para pembaca blog ini, dengan ini saya tebarkan maaf untuk segala kemungiknan kesalahan yang para pembaca mungkin pernah perbuat pada saya; dan sebalikanya, saya pun memohon perkenan saudara untuk memaafkan segala salah dan khilaf saya.</p>
<p><em>Wallahu A’lam</em></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="keajaiban memaafkan">keajaiban memaafkan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="ayat syawalan">ayat syawalan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="QS Ali Imran ayat 133-134">QS Ali Imran ayat 133-134</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="surah Ali Imran ayat 133-134">surah Ali Imran ayat 133-134</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="ali imran ayat 133">ali imran ayat 133</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="400 dirham setara dengan">400 dirham setara dengan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="ayat ali imran 133-134">ayat ali imran 133-134</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="surah q s ali imran ayat 133">surah q s ali imran ayat 133</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="penjelasan surat ali imran ayat 133-134">penjelasan surat ali imran ayat 133-134</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/" title="gambar tentang hikmah tasamuh">gambar tentang hikmah tasamuh</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=693&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/20/taqabbalallah-minna-wa-minkum/' rel='bookmark' title='Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum'>Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/09/29/the-power-of-forgiveness/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah, Debat &amp; Kebebesan Berekspresi</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 03:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Debat]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kebebesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wa mau’idhati al-hasanati wa jaadil-hum billaatii hiya ahsan. (Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak (hikmah) dan peringatan yang baik-baik, lalu debatlah dengan cara yang terbaik). Ayat diatas sering dijadikan rujukan tentang metode dan strategi berdakwah: yang pertama dengan menyeru pada jalan Allah secara bijak (bi al-hikmah), kedua pemberian [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F11%2F02%2Fdakwah-debat%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F11%2F02%2Fdakwah-debat%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Dakwah,Debat,Informasi,Kebebesan&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-494" title="Screen shot 2009-11-02 at 9.37.29 AM" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/11/Screen-shot-2009-11-02-at-9.37.29-AM.png" alt="Screen shot 2009-11-02 at 9.37.29 AM" width="298" height="163" />Ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wa mau’idhati al-hasanati wa jaadil-hum billaatii hiya ahsan. </em>(Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak (hikmah) dan peringatan yang baik-baik, lalu debatlah dengan cara yang terbaik).</p>
<p>Ayat diatas sering dijadikan rujukan tentang metode dan strategi berdakwah: yang pertama dengan menyeru pada jalan Allah secara bijak (<em>bi al-hikmah</em>), kedua pemberian <em>wejangan</em>/nasihat yang baik-baik (<em>mau’idha hasanah</em>), dan yang ketiga, bila masih nggak mau juga, maka debatlah namun dengan cara yang paling baik, tidak menimbulkan prahara (<em>jaadilhum billati hiya ahsan</em>). Ketiga strategi tersebut seoalah berlaku <em>squence</em>, 1, 2, dan 3. Padahal, kalau dicermati ayat tersebut mengandung dua perintah. Pertama adalah perintah dakwah dengan cara menyeru dan memberi peringatan, yang kedua adalah perintah untuk mendebat dengan cara yang sebaik mungkin.</p>
<p><span id="more-493"></span></p>
<p>Kenapa dua perintah? Sebab <em>wau ‘athf</em> pada <strong><em>wa</em></strong><em> jaadilhum </em>mestinya merujuk pada kata perintah (<em>fi’il amr</em>) <em>ud’uu, </em>bukannya pada kata benda (<em>isim</em>) <em>al-hikmah wa mau’idhatu al-hasanah</em> yang selama ini sering dipahami. Dalam struktur bahasa Arab kata sambung “dan” (<em>wa athf</em>) mesti merujuk pada kata yang pararel. Karena <em>Jaadil-hum</em> adalah <em>fiil amr</em>, maka ia mesti merujuk pada <em>fii’l amr</em> sebelumnya, yaitu <em>ud’uu, </em>bukan pada dua kata benda (<em>isim</em>) <em>al-hikmah</em> dan al-<em>mau’idhah</em>.</p>
<p>Perintah untuk berdebat ini perlu dimaknai secara komprehensif. Bukan hanya mendebat pandangan pihak lain yang tidak sesuai dengan kita pada forum-furum debat. Juga bukan terbatas pada forum debat antar dua kelompok agama sebagaimana sering dilakukan oleh Ahmad Dedat dengan para pendeta dan pastur untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam. Lebih luas lagi, debat bisa juga dimaknai sebagai <em>counter information </em>terhadap isu-isu miring yang memojokkan Islam.</p>
<p>Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dalam dunia internet yang mengantarkan setiap orang bisa dengan bebas dan leluasa membuat blog, memposting opini dan pendapat pribadi atau kelompok, maka berita dan informasi yang merendahkan, menghina, dan menghujat Islam dan umat Islam akan semakin banyak. Ditutupnya blog yang memuat kartun nabi Muhammad di Indonesia beberapa waktu yang lalu tidak akan menutup syahwat mereka yang tetep gigih ingin melecehkan Islam. Ini bisa dibaca dari tidak menyesalnya kartunis Denmark yang telah melecehkan Nabi bahkan akan tetep berkarya atas nama kebebasan berekspresi meski karyanya tersebut diprotes oleh kaum Muslim seantero Dunia. Disinilah perlunya umat Islam proaktif “mendebat” informasi-informasi yang menghina Islam tersebut dengan cara terbaik. Tidak cukup hanya dengan sikap reaktif; protes, demo turun ke jalan sambil marah-marah. Informasi tentang Islam yang sesat menyesatkan tersebut harus didebat dengan counter informasi yang cerdas dan terarah.</p>
<p>Saatnya umat Islam membuat <em>task force</em> “pusat informasi” terdiri dari orang-orang yang “melek” hukum, media, teknologi dan tentu saja ajaran Islam itu sendiri untuk mendebat dan meluruskan berita-berita miring tentang Islam. Saatnya generasi Muslim proaktif memanfaatkan fasilitas blog, wordpress, mailing list, friendster, facebook serta fasilitas ‘dunia maya’ lainnya untuk syiar Islam. Bila tidak, maka internet akan dipenuhi oleh bloger-bloger yang hanya menyiarkan kesesatan. Itulah kira-kira makna strategis dari perintah Allah “<em>jaadilhum billati hiya ahsan</em>.” Semoga bermanfaat.</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="teknik debat yang baik">teknik debat yang baik</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="teknik debat">teknik debat</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="PERINTAH DAKWAH">PERINTAH DAKWAH</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="kultum cinta tanah air">kultum cinta tanah air</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="arti wa jaadilhum billati hiya ahsan">arti wa jaadilhum billati hiya ahsan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="wa jaadilhum billati hiya ahsan">wa jaadilhum billati hiya ahsan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="perintah mendebat dengan cara yang baik">perintah mendebat dengan cara yang baik</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="apa arti wa jaadilhum billati hiya ahsan">apa arti wa jaadilhum billati hiya ahsan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="kata kata wejangan">kata kata wejangan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/" title="dakwah billati hiya ahsan">dakwah billati hiya ahsan</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=493&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resep Bahagia</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 09:36:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[Bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[hadist tentang kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Philantrophy]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Belum pernah saya dengar bisnis atau usaha bangkrut hanya karena rajin sedekah. Sedekah adalah investasi ukhrawi dan duniawi. Sekecil apapun ia bagian dari pengendalian diri, pengejewentahan rasa syukur dan kepedulian sosial. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- “Wahai Rasulullah, berilah kami resep hidup bahagai,”  tanya seorang sahabat. Rasulullah menjawab: “Antashaddaqa wa anta shahiihun syakhikhun takhsya al-fakra wa ta’muli al-ghina” (Bersedekahlah di kala [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F29%2Fresep-bahagia%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F29%2Fresep-bahagia%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Bahagia,hadist+tentang+kebahagiaan,Philantrophy,Sedekah&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-301" title="Giving8" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/Giving8.jpg" alt="Giving8" width="264" height="193" /></p>
<p>Belum pernah saya dengar bisnis atau usaha bangkrut hanya karena rajin sedekah. Sedekah adalah investasi ukhrawi dan duniawi. Sekecil apapun ia bagian dari pengendalian diri, pengejewentahan rasa syukur dan kepedulian sosial.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>“Wahai Rasulullah, berilah kami resep hidup bahagai,”  tanya seorang sahabat. Rasulullah menjawab: “<em>Antashaddaqa wa anta shahiihun syakhikhun takhsya al-fakra wa ta’muli al-ghina” </em>(Bersedekahlah di kala kamu masih sehat, sementara hidup mu masih serba kekurangan dan kamu sendiri ingin menjadi kaya). Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang sering disebut <em>muttafaqun ‘alaih. </em>Artinya, dari segi sanad  insya Allah tingkat keshahihannya terjamin.</p>
<p><span id="more-298"></span></p>
<p>Mengapa Rasulullah mendorong kita bersedekah ketika masih sehat? Sebab kenyatannya orang yang sehat itu sering tidak sadar, lupa bahwa sehat itu karunia Allah SWT. Lupa diri inilah pangkal dari tindakan ceroboh, sembrono, tidak hati-hati dan tentu juga kurang produktif. Biasanya, kesadaran akan berbuat baik, termasuk bersedekah, baru muncul ketika kita sedang dicoba dengan rasa sakit. Saat berbaring di rumah sakit, kita sering merenungi tindakan-tindakan masa lalu. Begitu menyadari punya banyak dosa muncul keinginan taubat, berazam untuk memperbanyak sedakah sebagai ungkapan syukur jika nanti sembuh. Orang yang bijak tentu akan sedekah tanpa harus menunggu sakit datang.</p>
<p>Kenapa juga Rasulullah SAW menganjurkan kita bersedekah ketika masih merasa kurang dan ingin kaya? Kenyataannya, manusia sering merasa tidak cukup. Diberi kekayaan berapapun jumlahnya selalu merasa kurang dan ingin lebih. Merasa masih kurang dan belum cukup ini sering dijadikan alasan untuk menunda-nunda sedekah. “Ah, saya kan masih perlu uang ini; ntar deh saya sedekah setelah banyak rejeki,” begitu kita sering berdalih. Sebenarnya, bersedakah saat kita sendiri masih memerlukan harta merupakan sarana pengendalian nafsu ingin menguasai dan kontrol terhadap kehalalan cara kita mencari rezeki. Sebab, tidak sedikit orang yang tergelincir pada tindak pidana korupsi berawal dari rasa tidak cukup dan nafsu ingin menguasai tanpa batas.   </p>
<p>Sebuah hadits Qudsi menyebutkan: &#8220;Allah senantiasa hadir ditengah-tengah orang miskin&#8221;. Ironinya, kita sering abai terhadap mereka. Padahal, moral hadis tersebut mengajarkan bahwa kita sedang &#8216;bertransaksi&#8217; dengan Allah saat terlibat aktif mengentaskan kaum mustadz&#8217;afin itu. Dengan sedekah kita tidak hanya simpati dan berempati tapi berpartisipasi langsung meringankan penderitaan orang lain. Merupakan kebahagiaan bila kita mampu membantu sesama keluar dari kesusahan. Sekecil apapun dana sedakah yang kita sumbangkan melalui lembaga philanthropy yang amanah dan professional berkontribusi mengurangi kemiskinan struktural dan meningkatkan kemakmuran.</p>
<p>Secara ekonomis sedekah mengenal hukum reward, “<em>man yazra’ yahshud</em>,<em>” </em>siapa menanam mengetam, siapa beramal dapat pahala, siapa berbuat kebajikan akan memperoleh kebaikan berlihat, begitu seterusnya. Pemilik toko yang yang rajin bersedekah di lingkungannya, insya Allah pelanggannya melimpah. Saudagar yang tidak pelit, insya Allah kekayaannya aman dari jarahan kriminal. Pengusaha yang tidak bakhil pada karyawannya, insya bisnisnya makin berkembang. Yang jelas, tidak ada dalam sejarah orang jatuh miskin karena sedekah. Belum pernah saya dengar, bisnis atau usaha bangkrut hanya karena yang bersangkutan dermawan. Singkatnya, sedekah adalah investasi yang berdimensi ukhrawi dan duniawi.</p>
<p>Pada konteks sosial sedekah adalah implementasi solidaritas dan ukhuwah. Disinilah arti penting 6T dalam Islam, <em>Ta’aruf, Tafahum, Tasamuh, Ta’awun, Takaful, </em>dan <em>Taqwa</em>. Bangunan sosial kita mestinya dilandasi oleh kemauan untuk saling mengenal (<em>ta’aruf</em>) dan saling memahami (<em>tafahum</em>) terhadap kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keberbedaan potensi yang ada bukan untuk diperselisihkan tapi untuk disinergikan dalam bingkai toleransi (<em>tasamuh</em>). Sikap toleran ini menjadi bekal berharga untuk bisa bekerja sama (<em>ta’aawun</em>) sehingga bila ada saudara yang perlu bantuan, meski berbeda golongan, akan  tetap saling menjamin (<em>takaful</em>) kelangsungan hidup dan keselatamannya dan bersama-sama meraih predikat taqwa. Sepanjang rantai 6T tersebut sedekah memimiliki peran yang sangat vital. <em> </em></p>
<p>Tidak berlebihan untuk mengatakan resep hidup bahagia Rasulullah SAW di atas berdimensi personal dan sosial. Sedekah, sekecil apapun bagian dari pengendalian diri dan pengejewentahan rasa syukur serta kontribusi sosial untuk menuju pribadi dan masyarakat yang sehat.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>. Semoga bermanfaat</p>
<p>Sumber gambar: <a href="http://coeinc.org/AllPages/9Sections/giving.htm">http://coeinc.org/AllPages/9Sections/giving.htm</a></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="pengertian taawun">pengertian taawun</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="hadist tentang kebahagiaan">hadist tentang kebahagiaan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="pengertian tasamuh">pengertian tasamuh</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="Pengertian tafahum">Pengertian tafahum</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="pengendalian diri menurut islam">pengendalian diri menurut islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="arti tafahum">arti tafahum</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="pengendalian diri dalam islam">pengendalian diri dalam islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="hadist tentang tasamuh">hadist tentang tasamuh</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="kultum sedekah">kultum sedekah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/" title="hadits kebahagiaan">hadits kebahagiaan</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=298&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/29/resep-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faith in Action &amp; Ihsan pada Kemanusiaan</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 09:48:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[Faith in Action]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Pola pikir, tindakan dan gagasan umat Islam hendaknya selalu bersendikan pada aqidah Islamiyah. Ungkapan “buah dari aqidah yang benar (Iman) tidak lain adalah amal sholeh” harus menjadi spirit dan etos ummat Islam. Pribadi yang mengaku muslim mestinya selalu menebar amal shalih sebagai implementasi keimanannya di manapun mereka berada. Tidak kurang 60 ayat Al Qur’an menerangkan [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F24%2Ffaith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F24%2Ffaith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Faith+in+Action,Ihsan,Kemanusiaan&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-212" title="IslamicArt in Ibn Batutha" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/IslamicArt-in-Ibn-Batutha-300x225.jpg" alt="IslamicArt in Ibn Batutha" width="240" height="180" />Pola pikir, tindakan dan gagasan umat Islam hendaknya selalu bersendikan pada aqidah Islamiyah. Ungkapan “buah dari aqidah yang benar (Iman) tidak lain adalah amal sholeh” harus menjadi spirit dan etos ummat Islam. Pribadi yang mengaku muslim mestinya selalu menebar amal shalih sebagai implementasi keimanannya di manapun mereka berada. Tidak kurang 60 ayat Al Qur’an menerangkan korelasi antara keimanan yang benar dengan amal sholeh ini. Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa perintah beriman kepada Allah dan hari akhir selalu diikuti dengan perintah untuk melaksanakan amal shalih. Inilah makna operatif dari ungkapan “<em>al-Islamu ‘aqidatun wa jihaadun</em>”, bahwa kebenaran Islam itu harus diyakini sekaligus juga diperjuangkan pengamalannya secara sungguh-sungguh dalam konteks kemaslahatan dan bebas dari perilaku teror.</p>
<p><span id="more-199"></span></p>
<p>Aqidah adalah pondasi keber-Islaman yang tak terpisahkan dari ajaran Islam yang lain: akhlaq, ibadah dan Muamalat. Aqidah yang kuat akan mengantarkan ibadah yang benar, akhlaq yang terpuji dan muamalat yang membawa maslahat.</p>
<p>Selain sebagai pondasi, hubungan antara aqidah dengan pokok-pokok ajaran Islam yang lain bisa juga bersifat resiprokal dan simbiosis. Artinya, ketaatan menuanaikan ibadah, berakhlaq karimah, dan bermuamalah yang baik akan memelihara aqidah. Dengan kata lain, ibadah adalah pelembagaan aqidah dalam konteks hubungan antara makhkluq dengan Khaliq; akhlaq merupakan buah dari aqidah dalam kehidupan yang etis dan egaliter; dan muamalah sebagai implementasi aqidah dalam masyarakat yang bermartabahat dan menebar maslahat. Karena itu, agar aqidah tumbuh dan berkembang, aqidah harus operatif dan fungsional. Di Indonesia kita menyaksikan beberapa ormas Islam yang telah berhasil mengembangkan amal usaha atau unit pelayanan umat seperti Panti sosial dan anak yatim, lembaga pendidikan dan pondok pesantren, balai pengobatan dan rumah sakit, lembaga pengumpul dan penyalur zakat serta lembaga-lembaga sosial keagamaan lainnya. Lembaga atau unit pelayanan umat tersebut, meminjam istilah M. Amin Abdullah, merupakan bentuk <em>faith in action,</em> buah keimanan yang aktif dan salah satu bentuk pengejawantahan ‘tauhid sosial’<em> </em>atau ‘theologi pembangunan’. Sayanya, tidak sedikit buah <em>faith in action</em> tersebut yang terjebak pada bebagai kepentingan mulai dari ekonomi hingga politik.</p>
<p>Agar tetap kokoh dan kuat serta menjadi penyangga seluruh sendi keber-Islaman, aqidah harus dijaqa, dipelihara dan dipupuk sehingga bisa hidup subur dalam pribadi setiap Muslim. Pentingnya memelihara aqidah ini juga tersirat dalam <em>Sirrah Nabawiyah. </em>Saat membangun masyarakat Islam di Makkah dan Madidah selama 23 tahun Rasulullah Muhammad SAW tidak kenal lelah membina aqidah umatnya. Mengingat pentingnya aqidah ini bisa dimengerti bila setiap surat dalam Al Quran mengandung pokok-pokok ajaran keimanan.</p>
<p>Di tengah pasar bebas nilai dan ideologi saat ini, upaya merevitalisasi aqidah serasa memperoleh momentum. Mudah tergiurnya sebagian umat pada faham atau aliran-aliran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam merupakan efek dari lemahnya aqidah mereka. Ketidakpeduliaan sebagian umat Islam terhadap kerusakan lingkungan dan kebobrokan moral juga indikasi rapuhnya bangunan aqidah. Mulai memudarnya etos dan jiwa voluntarisme di kalangan umat dan semakin menguatnya syahwat duniawi adalah konsekuensi logis dari redupnya aqidah. Saatnya sekarang membenahi dan merevitalisasi aqidah agar umat memiliki pondasi yang benar, kokoh dan fungsional. Dengan bekal ini <em>faith in action</em> bisa dilipatgandakan untuk menghadirkan pesona Islam yang lebih “ihsan pada kemanusiaan.”</p>
<p><em>Wallahu ‘alam</em>, semoga bermanfat.</p>
<p>NB: Tulisan ini pernah dipostingkan di KAMIL (Kajian Milis) IISB@yahoogroup.com</p>
<p>Sumber gambar: http://www.flickr.com/photos/4444/336119576/</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="hubungan aqidah dengan muamalah">hubungan aqidah dengan muamalah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="kata bijak kemanusiaan">kata bijak kemanusiaan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="islam moral dan kemanusiaan">islam moral dan kemanusiaan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="ihsan dalam muamalat">ihsan dalam muamalat</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="aqidah">aqidah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="hubungan antara aqidah dengan muamalah">hubungan antara aqidah dengan muamalah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="arti muamalah">arti muamalah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="Peranan Ihsan">Peranan Ihsan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="hubungan tauhid dengan muamalah">hubungan tauhid dengan muamalah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/" title="hubungan aqidah dan muamalah">hubungan aqidah dan muamalah</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=199&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aqidah, Amal Shalih &amp; Wajah Islam</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 09:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[amal shalih]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[wajah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Secara lughawi (terminologis) istilah aqidah berasal dari kata “’aqada” yang berarti buhul dan mahkota; sedangkan secara istilah aqidah berarti sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasar wahyu, fitrah dan akal. Kebenaran tersebut dipatrikan dalam hati, diyakini keshahihannya, dan ditolak kemungkinan kebanaran selainnya. Pada kontek keber-Tuhanan, aqidah umat Islam adalah tauhid, men-gesakan Tuhan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/' rel='bookmark' title='Faith in Action &amp; Ihsan pada Kemanusiaan'>Faith in Action &#038; Ihsan pada Kemanusiaan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F24%2Faqidah-amal-shalih-wajah-islam%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F24%2Faqidah-amal-shalih-wajah-islam%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=amal+shalih,aqidah,wajah+Islam&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-218" title="IslamicArt-04" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/IslamicArt-04-300x300.jpg" alt="IslamicArt-04" width="300" height="300" />Secara <em>lughawi</em> (terminologis) istilah aqidah berasal dari kata “<em>’aqada</em>” yang berarti buhul dan mahkota; sedangkan secara istilah aqidah berarti sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasar wahyu, fitrah dan akal. Kebenaran tersebut dipatrikan dalam hati, diyakini keshahihannya, dan ditolak kemungkinan kebanaran selainnya.</p>
<p style="text-align: left;">Pada kontek keber-Tuhanan, aqidah umat Islam adalah tauhid, men-gesakan Tuhan (QS. Al-Ikhlash). Setidaknya ada tiga aspek tauhid yang harus diyakini: <em>pertama</em>, kepercayaan dan keyakinan bahwa hanya Allah yang berkuasa mencipta, memelihara, mengatur dan menguasai alam semesta (<em>tauhid Rububiyah </em>- QS. Al-A’raf: 54); <em>kedua,</em> kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang Haq (<em>tauhid Uluhiyah </em>– QS. Muhammad: 19); dan <em>ketiga,</em> kepercayaan dan keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak dan wajib dihampai/disembah (<em>tauhid Ubudiyah</em> – QS. Al Isra: 23).</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-196"></span></p>
<p style="text-align: left;">Bertauhid dengan benar akan membentuk dua kesadaran sekaligus: sadar bahwa hari Akhir (kiamat) itu pasti akan datang dan sadar setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Dua kesadaran ini akan mengantarkan kesadaran berikutnya bahwa hidup manusia ini semata mata untuk beribadah dan beramal shalih dalam rangka menggapai ridha Allah SWT (QS. Adz Dzariyat: 56). Kesadaran tersebut bila diiringan dengan tindakan nayata akan membawa umat Islam mampu menempatkan dirinya sebagai khalifatullah di muka bumi yang bertanggungjawab dan berusaha mempertahankan martabat dirinya sebagai magkhluq Allah yang paling mulia (QS. At-Tin: 4-6).</p>
<p style="text-align: left;">Pada dasarnya aqidah berkaitan dengan sisi “dalam” manusia. Kekuatannya bergantung pada kebersediaan hati dan akal seseorang untuk berdialog dengan kebenaran wahyu Illahi. Aqidah kita termasuk kuat dan kokoh bila kita mampu mengakui “kebenaran itu tetap benar dan kebathilan itu tetap bathil” di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Keber-aqidahan kita dikatakan ikhlas jika seluruh pikiran dan perbuatan yang kita lakukan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah, diamalkan dengan sebaik-baiknya dan berorientasi pada hasil yang membawa kemaslahatan. Dengan begitu, aqidah tersebut akan membawa ketenteraman hati, menghilangkan riya dan memberi kemanfaatan pada orang lain.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan ungkapan yang lebih fungsional, kalau kita sudah meyakini bahwa Islam yang kita peluk ini adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya, sejak nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Rasul penutup Muhammad SAW; agama yang menjadi hidayah dan rahmat bagi umat manusia sepanjang masa; serta agama yang menjamin kesejahteraan hidup material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi, maka sudah sewajarnya jika seluruh kerja dan karya kita diorientasikan untuk syiar Islam dan menebar kemaslahatan untuk kemanusiaan dan peradaban. Sebab di pundak kita inilah citra Islam dan pesona Islam itu, bukan hanya pada para ulama, kyai atau pemimpin Islam. Semua yang telah mengikrarkan dua kalimah syahadah pada dasarnya memiliki kewajiban moral untuk menghadirkan wajah Islam yang <em>rahmatan lil’aalamin.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Wallahu ‘alam</em>, semoga bermanfat.</p>
<p style="text-align: left;">Tulisan ini pernah dipost-kan pada KAMIL (Kajian Milis) IISB@yahoogroups.com</p>
<p style="text-align: left;">Sumber gambar: http://homedecor.cafepress.com/item/traditional-art-ornament-round/202027317</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="kultum singkat islam">kultum singkat islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="kultum singkat">kultum singkat</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="kultum islam singkat">kultum islam singkat</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="kultum islami">kultum islami</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="islamic ornament">islamic ornament</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="kultum tentang aqidah">kultum tentang aqidah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="ornament islamic">ornament islamic</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="kultum islam">kultum islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="aqidah amal">aqidah amal</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/" title="kultum aqidah">kultum aqidah</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=196&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/faith-in-action-ihsan-pada-kemanusiaan/' rel='bookmark' title='Faith in Action &amp; Ihsan pada Kemanusiaan'>Faith in Action &#038; Ihsan pada Kemanusiaan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/24/aqidah-amal-shalih-wajah-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

