<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>muttaQin &#187; Mereka Berkata</title>
	<atom:link href="http://www.ahmadmuttaqin.com/tags/kata-mereka/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ahmadmuttaqin.com</link>
	<description>Keluarga dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Jun 2010 11:39:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Stop-Revive-Survive</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/15/stop-revive-survive/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/15/stop-revive-survive/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 22:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mereka Berkata]]></category>
		<category><![CDATA[Kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
‘Why do you pray [shalat] five times a day? Aren’t you disturbed by those activities?” Itu  pertanyaan lain yang sering dilontarkan ‘bule’ pada masyarakat Muslim di Barat. Dan lagi, mereka tidak bakal menerima jawaban tekstual. Karena itu jawabannya sebisa mungkin &#8216;rasional&#8217; sesuai atau setidaknya mendekati apa yang selama ini ada di sekitar mereka.
&#8220;When you make [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F15%2Fstop-revive-survive%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F15%2Fstop-revive-survive%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Kebutuhan,Sholat,Spiritual" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-373" title="stop-revive-surveive" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/08/stop-revive-surveive-300x203.jpg" alt="stop-revive-surveive" width="300" height="203" />‘Why do you pray [<em>shalat</em>] five times a day? Aren’t you disturbed by those activities?” Itu  pertanyaan lain yang sering dilontarkan ‘bule’ pada masyarakat Muslim di Barat. Dan lagi, mereka tidak bakal menerima jawaban tekstual. Karena itu jawabannya sebisa mungkin &#8216;rasional&#8217; sesuai atau setidaknya mendekati apa yang selama ini ada di sekitar mereka.</p>
<p>&#8220;When you make a journey driving in a highway for along time, let’s say from Brisbane to Sidney, you will find a sign “Stop-Revive-Survive” indicating you are close to a rest stop. Do you know what does that means?&#8221; Mendengar ilustrasi tersebut sang bule pun mengangguk, tanda mulai mengerti arah pembicaanku.</p>
<p>Hidup itu ibarat melakukan perjalanan panjang. Agar sampai ke tujuan dengan selamat kita perlu bekal dan sarana yang memadahi. Mobil yang kita kendarai perlu diisi bensinnya agar tidak kehabisan di tengah jalan. Perut kita perlu diberi makan agar tetap punya tenaga dan bisa berkonsentrasi menyetir. Fisik kita pun perlu diistirahatkan agar tidak terforsir. Intinya, dalam perjalanan itu kita perlu ‘waktu jeda’ untuk mencharge energi.</p>
<p><span id="more-366"></span></p>
<p>Bayangkan, apa yang akan terjadi bila jalan tol yang beratus-ratus kilo itu tidak ada fasilitas rest area? Berapa banyak mobil macet karena kehabisan bensin? Berapa banyak kecelakaan bakal terjadi karena pengemudinya capek, lapar dan ngantuk? Nah, sholat itu analoginya sebagaimana rest area itu. Ia menjadi sarana <em>revive </em>agar tetap bisa <em>survive</em>.</p>
<p>Di tengah kesibukan menjalani beragam aktivitas, manusia perlu &#8216;jeda&#8217; untuk mengisi ‘battery’ spiritual dan menyegarkan kembali tubuh dan pikiran. Kadang kita merasa <em>stuck, meaningless</em>, dan tidak ada progress dalam bekerja; kalaupun ada progressnya tidak sesuai dengan harapan. Saat itulah sebenarnya kita perlu <em>stop, </em>berhenti  sesaat dari aktivitas itu sebab fisik, jiwa dan pikiran kita sedang <em>drop</em>. Kita perlu waktu untuk melakukan evaluasi, instropeksi, dan mungkin juga reorientasi. </p>
<p>Bagi Muslims, sholat memberi sarana <em>revive </em>yang lengkap. Ia mampu memulihkan kepenatan lahir, mengobati keletihan batin dan menjernihkan fikir. Energi yang kita peroleh dari sholat inilah yang akan membantu kita tetap <em>survive</em> dalam menapaki jalan panjang duniawi yang kadang terjal dan berliku. Menyadari arti penting sholat ini, maka ia tidak semata-mata kewajiban tapi kebutuhan. To Muslims, sholat is not a burden at all; it is a basic need.</p>
<p>Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/chrissam42/3211794317/</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=366&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/15/stop-revive-survive/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tunjukkan, bukan Katakan</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/05/tunjukkan-bukan-katakan/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/05/tunjukkan-bukan-katakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 01:39:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mereka Berkata]]></category>
		<category><![CDATA[amal shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Anti Terror]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		

Menangkal terorisme adalah kewajiban kita bersama. Tunjukkan pada dunia bahwa perilaku teroris itu sama sekali tidak Islami. Isyhaduu bi-anna Muslimun pada konteks ini bisa berati: Tunjukkan-lah bahwa kami itu bukan teroris! 
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
“Pak, saya malu pada teman-teman di sekolah. Mereka selalu bilang saya teroris hanya kerana saya beragama Islam. Apa yang harus saya katakana pada mereka bahwa [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F05%2Ftunjukkan-bukan-katakan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F05%2Ftunjukkan-bukan-katakan%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=amal+shalih,Anti+Terror,Australia" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-313" title="anti terrorist" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/08/anti-terrorist-283x300.gif" alt="anti terrorist" width="283" height="300" /></p>
<p>Menangkal terorisme adalah kewajiban kita bersama. Tunjukkan pada dunia bahwa perilaku teroris itu sama sekali tidak Islami. <em>Isyhaduu bi-anna Muslimun </em>pada konteks ini bisa berati: Tunjukkan-lah bahwa kami itu bukan teroris! </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>“Pak, saya malu pada teman-teman di sekolah. Mereka selalu bilang saya teroris hanya kerana saya beragama Islam. Apa yang harus saya katakana pada mereka bahwa saya bukan teroris?” Demikian pertanyaan salah satu siswa sekolah menengah di Austrlia. Sejak peristiwa 9/11 dia selalu diledek teman-temannya sebagai teroris. Cara berfikir asosiatif media Barat yang sering melekatkan pelaku terror dengan identitas Islam pelan namun pasti telah mempengaruhi cara pandang masyarakat pada minoritas Muslim di Barat. Realitas di Australia ini mengingatkan saya saat melakukan riset dampak tragedy 11/9 terhadap kehidupan sehari-hari komunitas Muslim Miami, Florida USA. Beberapa informan mengabarkan tidak sedikit sister yang terpaksa cobot jilbab dan beberapa brother menyamarkan identitas keislamannya seperti mengganti nama Muhammad dengan Mo, dan mencukur jenggot. </p>
<p><span id="more-310"></span></p>
<p>Yang ditanya siswa di atas adalah anak Kyai Indonesia yang jadi dosen di sebuah universitas Australia bagian selatan. Ia menjawab, “<em>well</em>, anda tidak perlu mengatakan apa-apa. Tidak perlu repot berteriak lantang menyangkal tuduhan mereka.”</p>
<p>Mendapat jawaban demikian, makin bingung siswa tadi. “<em>Lha kog</em>?” kira-kira begitu dia terus bertanya.</p>
<p>Sang dosen lalu melanjutkan: “Sekeras apapun kita berteriak lantang menyangkal, imagi asosiatif mereka akan terus muncul. Di sini kita bisa menjelaskan panjang lebar bahwa Islam itu berasal dari kata <em>sa-la-ma</em> yang berarti selamat. Allah itu bersifat <em>Rahman</em> (Maha Pengasih) dan <em>Rahiem</em> (Maha Penyayang). Islam adalah agama yang megajarkan rahmat untuk semesta alam, anti kekerasan dan cintai damai. Islam itu… dan begitu seterusnya. Eh, belum selesai kita berargumen tiba-tiba bom meledak lagi di London, di Mumbai, dan di Jakarta yang ironisnya si pelaku dengan lantang mengatasnamakan Islam. Maka satu-satunya cara menjawab bahwa kita bakan teroris ya dengan pebuatan; tidak cukup hanya kata-kata. Tunjukkan sikap dan kepribadian yang Islami, yang rahmatan lil-‘aalamien. Mulailah dari dari hal-hal kecil, misalnya: datang tepat waktu, disiplin, rajin, dan selalu menjaga kebersihan. Tunjukkan bahwa kita itu peduli pada kelestarian lingkungan; bahwa kita itu toleran dan bisa menghargai perbedaan. Kalau mereka perlu bantuan, kita tolong sebelum mereka meminta. Kita sapa mereka dengan ramah, dan begitu seterusnya. Insya Allah, pelan-pelan imagi mereka akan berubah setelah melihat langsung perilaku kita dan menyadari bahwa Muslim itu ramah dan anti kekerasan.”</p>
<p>Harus diakui, hingga kini definisi terorisme itu sendiri masih tendensius. PBB cenderung membatasi pengertian yang menyebut terorisme itu segala tidakan kekerasan yang dilakukan sabagai expresi ideologis atau politis tertentu. Dengan definisi ini, maka kekerasan-kerasan yang dilakukan dengan motive non ideologis/politis bukan dianggap terror. Misalnya, karena cinta ditolak seseorang meledakkan gedung. Berdasar definisi di atas, tindakan ini meski bisa menimbulkan korban yang jauh lebih banyak dan ketakutan yang luar biasa tidak dianggap teror, hanya kriminal.</p>
<p>Di tengah perang wacana, definisi yang tendensius ini dengan mudah menggiring media melakukan framing bahwa aksi terorisme satu dasawarsa terakhir ini punya kelekatan dengan Islam; mengikuti “sabda” Huntington bahwa Islam adalah “lawan” dari peradaban Barat setelah kekuatan Sosialis runtuh. Bebeberapa media lalu berlomba mengexplorasi kepribadian tersengka yang masih buron, bahwa ia itu pendiam, sederhana, dan rajin beribadah (<em>mahfum mukhalafah-</em>nya kira-kira: agar tidak jadi teroris maka jadilah orang yang periang, kaya dan tidak perlu rajin beribadah). Celakanya, sebagian pelaku yang tertangkap dengan bangga mengaku tindakan biadabnya atas nama Islam. Padahal semua mafhum yang namanya kekerasan, apalagi terror, itu tidak beragama. Untuk itu, menangkal terorisme adalah kewajiban kita bersama. Tunjukkan pada dunia bahwa perilaku teroris itu sama sekali tidak Islami. <em>Isyhaduu bi-annaa Muslimun </em>pada konteks ini bisa berati: Tunjukkan-lah bahwa kami itu bukan teroris! Dengan apa menunjukkankanya? Dengan menebar kebajikan dan keadilan.</p>
<p>Sumber gambar: http://www.totalstatements.com/product_info.php?products_id=34</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><ul class='dicari'><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/pengertian+tendensius/" title="pengertian tendensius">pengertian tendensius</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/arti+tendensius/" title="arti tendensius">arti tendensius</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/difini+mutaqin/" title="Difini Mutaqin">Difini Mutaqin</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/pengertian+muttaqin/" title="pengertian muttaqin">pengertian muttaqin</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/tendensius+artinya/" title="tendensius artinya">tendensius artinya</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/definisi+muttaqin/" title="definisi muttaqin">definisi muttaqin</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/definisi+tendensius/" title="definisi tendensius">definisi tendensius</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/defenisi+tendensius/" title="defenisi tendensius">defenisi tendensius</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/jadilah+periang/" title="jadilah periang">jadilah periang</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/cachen5jntlnbn5wjwww+ahmadmuttaqin+com20090729resep+bahagia+taaruf+tafahum+dan+takaful/" title="cache:n5jNTLnbn5wJ:www ahmadmuttaqin com/2009/07/29/resep-bahagia/ taaruf tafahum dan takaful">cache:n5jNTLnbn5wJ:www ahmadmuttaqin com/2009/07/29/resep-bahagia/ taaruf tafahum dan takaful</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 2.642 ms --><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=310&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/05/tunjukkan-bukan-katakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jamu</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/26/jamu/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/26/jamu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 08:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mereka Berkata]]></category>
		<category><![CDATA[AQF]]></category>
		<category><![CDATA[Continuous Improvement]]></category>
		<category><![CDATA[ISO]]></category>
		<category><![CDATA[JAMU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		

&#8230;“Why ISO? ISO is for industrial management”. Ketika teman saya menyahut bahwa di kampusnya sudah menerapkan ISO pada konteks akademik, staff Griffith tadi lalu bilang, “ISO is good as a starting point to change university culture but we need more than that.”
____________________
Kamis 23 Juli yang lalu saya diminta menghadiri kunjungan salah seorang pejabat Direktorat Kelembagaan [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F26%2Fjamu%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F26%2Fjamu%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=AQF,Continuous+Improvement,ISO,JAMU" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-280" title="Jamau gendong" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/Jamau-gendong.jpg" alt="Jamau gendong" width="247" height="234" /></p>
<p>&#8230;“Why ISO? ISO is for industrial management”. Ketika teman saya menyahut bahwa di kampusnya sudah menerapkan ISO pada konteks akademik, staff Griffith tadi lalu bilang, “ISO is good as a starting point to change university culture but we need more than that.”</p>
<p>____________________</p>
<p>Kamis 23 Juli yang lalu saya diminta menghadiri kunjungan salah seorang pejabat Direktorat Kelembagaan Dirjen Dikti Depdiknas yang sedang melakukan studi banding di Griffith University, Brisbane.  Pejabat tersebut memperoleh Executive Endeavour Award dari  pemerintah Australia selama 4 minggu. Setelah mengunjungi beberapa perguruan tinggi di South Australia dan otoritas permutuan perguruan tinggi di Canberra, Di minggu keempat beliau datang ke Brisbane didampinvi program officer Indonesia Multilateral, Middle East, South and South East Asia Australian Governement Departement of Education Employment and Workplace Relations (DEEWR). Di Griffith, pejabat tersebut diterima oleh Vive Chancellor &amp; President; Deputy Vice Chancellor (Academic); bagian Academic Registrar; Student Administration; Principal Policy Adviser to Vice Chancellor; Regional Manager, International Marketting; dan International Relations Officer. Selain saya, turut menyertai 2 mahasiswa PhD dan satu mahasiswa program master asal Indonesia.</p>
<p><span id="more-279"></span></p>
<p>Pada kesempatan itu president Griffith Uni menerangkan ada sekitar 38.000 mahasiswa (pertama kali beroperasi hanya seratuasan mahasiswa) yang tersebar di 5 kampus (dari hanya 1 kampus kecil) dalam 300-an lebih program studi. Dari tahun ke tahun Griffith Uni terus menunjukkan representasi internasional baik dari segi mahasiswa maupun staff. Mahasiswa Griffith berasal dari 122 negara, 60% staff-nya adalah non-Australian. Griffith Uni juga telah menjalin kerjasama dengan lebih dari 1000 institusi nasional maupun internasional.</p>
<p>Tentang Jaminan Mutu (JAMU), president dan beberapa staf yang lain menambahkan bahwa yang digunakan kampus ini mengacu pada AQF (Australian Quality Framework), sebuah sistem manajemen mutu yang digelindingkan oleh pemerintah Australia. Pada kontek ini Griffith menerapkan internal audit yang beradasar evaluasi student and staff satisfaction, juga external audit baik dari kalangan professional, organisasi profesi, atau external expert dari kampus atau lembaga lain yang kredible. Dari sekian kali audit, Griffith Uni selalu memperoleh hasil yang memuaskan. Yang menarik, AQF ternyata buah dari proses panjang dan gradual. Awalnya, tidak ada sistem penyeragaman mutu bagi kampus-kampus di Australia. Setiap kampus diberi kewenangan untuk menganut sistem mana yang lebih cocok. Para pengambil kebijakan menyadari bahwa kampus-kampus tersebut sudah ada jauh sebelum AQF yang mulai dikenalkan tahun 1994. Jelas, setiap universitas pasti memiliki sejarah panjang sendiri-sendiri dalam usaha memelihara mutu imput, proses dan output. Dengan proses yang bertahap ini tidak ada Perguruan Tinggi yang merasa terdikte. Upaya menerapkan jaminan mutu yang bisa dijadikan standard muncul dari kesadaran bersama, berkelanjutan dan tidak instant.</p>
<p>Setelah mendengar pengalaman Griffith Uni saya teringat model-model kebijakan top-down yang sering terjadi di kampung halaman, termasuk dalam hal penjaminan mutu. Saya teringat BAN dengan ‘proyek’ akreditasinya yang pada tahap tertentu menjadi “momok” bagi pengelola PT. Saya juga teringat kecenderungan ‘latah’ beberapa kampus untuk menerapkan sistem JAMU yang diadop dari dunia industri. Saat seorang teman menyampaikan bahwa di kampus dia saat ini sedang menerapkan standard ISO, salah satu vice chancellor adviser mengatakan kira kira begini: “why ISO? ISO is for industrial management”. Ketika teman saya tadi bilang bahwa di kampusnya sudah menerapkan ISO pada konteks akademik, staff Griffith tadi lalu bilang, “ISO is good as a starting point to change university culture but we need more than that.”</p>
<p>Jawaban staff tersebut mengingatkan saya saat berbincang dengan salah satu dosen UGM. Dia bilang, “perguruan tinggi itu berkutat dengan sumber daya manusia, bukan commercial items. Karena itu UGM menerapkan <em>Continuous Improvement</em> [CT] sebagai JAMU. Bila audit mutu yang diselenggarakan tiap tahun menemukan hasil yang telah memenuhi standard mutu, maka untuk tahun yang akan datang capaian mutunya akan ditingkatkan, dan begitu seterusnya.” Pokonya peningkatan mutu sebagai never ending process.</p>
<p>Sampai sini, ternyata JAMU itu bermacam-macam. Ada yang cap ISO, AQF, BAN, CT, dll serta berbagai produk lain yang tidak ber-merk. Kira-kira JAMU apa yang paling cespleng ya? Sepertinya belum ada yang mengalahkan kasiat JAMU Gendong deh.:))</p>
<p>Selamat meningkatkan mutu.</p>
<p>Sumber foto: <a href="http://newrule.net/">http://newrule.net/</a></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><ul class='dicari'><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/standar+mutu+jamu/" title="standar mutu jamu">standar mutu jamu</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/penilaian+standar+mutu+pada+jamu/" title="penilaian standar mutu pada jamu">penilaian standar mutu pada jamu</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/sejarah+jamu+gendong/" title="sejarah jamu gendong">sejarah jamu gendong</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/standar+iso+industri+rokok/" title="standar ISO industri rokok">standar ISO industri rokok</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/standar+mutu+perguruan+tinggi/" title="Standar mutu perguruan tinggi">Standar mutu perguruan tinggi</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/studi+di+griffith/" title="studi di griffith">studi di griffith</a></li><li><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/search/syarat+mutu+jamu/" title="syarat mutu jamu">syarat mutu jamu</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 5.949 ms --><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=279&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/26/jamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya Kenapa ?!</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/tanya-kenapa/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/tanya-kenapa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 13:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mereka Berkata]]></category>
		<category><![CDATA[Jarak Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Kenapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
 
Lagi-lagi jarak budaya gagal menyediakan jawaban yang memuaskan. Atau memang tidak bakal ada argument yang memuaskan, cukup sharing perspektif saja?  Sebab, kita bukan alat pemuas to?  
_______________
Mengapa hubungan sex pranikah dilarang dalam Islam? Mengapa orang Islam harus Sholat lima kali sehari? Mengapa Nabi Muhammad tidak boleh digambar?
Itu diantara pertanyaan non Muslim Australia terhadap mahasiswa Muslim Indonesia. Pertanyaan tersebut kadang [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F25%2Ftanya-kenapa%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F25%2Ftanya-kenapa%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Jarak+Budaya,Tanya+Kenapa" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em> </em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-271" title="Question-Mark 3" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/Question-Mark-3-300x201.jpg" alt="Question-Mark 3" width="300" height="201" />Lagi-lagi jarak budaya gagal menyediakan jawaban yang memuaskan. Atau memang tidak bakal ada argument yang memuaskan, cukup sharing perspektif saja?  Sebab, kita bukan alat pemuas to?  </p>
<p>_______________</p>
<p><em>Mengapa hubungan sex pranikah dilarang dalam Islam? Mengapa orang Islam harus Sholat lima kali sehari? Mengapa Nabi Muhammad tidak boleh digambar?</em></p>
<p>Itu diantara pertanyaan non Muslim Australia terhadap mahasiswa Muslim Indonesia. Pertanyaan tersebut kadang dilontarkan dengan nada heran dipenuhi rasa ingin tahu, namun tidak sedikit yang hanya iseng, mengetes kadar keimanan yang ditanya.</p>
<p><span id="more-257"></span></p>
<p>Terus terang, tidak mudah memberikan jawaban kepada mahasiawa non Muslim tersebut. Kultur “sekuler” dan kebebasan berfikir, berkeyakinan dan berekspresi yang telah mereka enyam sejak pendidikan dasar menjadikan rasio sebagai panglima dalam memahami segala hal di muka bumi, termasuk masalah agama. Ketika kita berikan jawaban keagamaan dengan argumen “itu semua perintah yang telah digariskan dalam Qur’an dan Hadis”, maka mereka akan bilang, “oke itu perintah, tapi kenapa diperintahkan begitu, kenapa agamamu melarang melakukan ini itu?” Mereka akan terus mengejar sampai curiosity-nya terpenuhi. Yang mereka butuhkan adalah argumen rasional, non-wahyu, yang bisa memenuhi kriteria berfikir logis  sesuai kultur mereka. Tentu saja ini tidak mudah, sebab secara kultural Indonesia dan juga beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim berbeda dengan Australia dan masyarakat Barat pada umumnya.  Jarak budaya inilah yang tetap menghalangi mereka sampai titik “puas” terhadap jawaban yang telah diberikan teman-teman, meski sudah secanggih apapaun argumen rasional kita sodorkan.</p>
<p>Tentang larangan premarital sex misalnya, teman-teman telah berusaha menjawab serasional mungkin, menegaskan bahwa itu berkaitan dengan pemeliharaan “property.” Perempuan atau laki-laki sebelum menikah pada dasarnya masih “milik” orang tuanya masing-masing. Premarital sex pada konteks ini tidak ubahnya “pencurian” terhadap harta orang tua. Laki-laki mencuri property orang tua perempuan, dan perempuan mencuri propertinya orang tua laki-laki. Pernikahan adalah media transaksi serah terima property tersebut yang dilakukan oleh dua keluarga. Jawaban ini tentu sulit diterima rasio masyarakat Barat yang menganggap nikah hanya sebuah alternatif cara melanggengkan hubungan laki-laki dan perempuan. Leih parah lagi, tidak sedikit masyarakat yang menganggap pernikahan sebagai institusi pengekang kebebasan. Kultur Barat juga menegaskan secara yuridis, orang tua sudah tidak memiliki <em>custodian privilege</em> terhadap anaknya yang telah berusia 17 tahun. Dengan kata lain usia 17 atau di beberapa negara 18 tahun adalah batas anak secara penuh bisa memiliki, memenej dan mengoptimalkan tubuhnya sendiri.  </p>
<p>Ada juga teman yang menjelaskan dengan kacamata sakralitas hubungan sex. Argumen ini menegaskan bahwa hubungan sex itu bukan sekedar <em>recreation, </em>pleasure dan kesenangan, lebih dari itu ia terkait dengan <em>creation</em> atau <em>reproduction </em>yang adiluhung. Hubungan sex atau reproduksi generasi yang dilakukan di luar bingkai pernikahan secara sosiologis akan mendegradasi derajat manusia dan menyulitkan kategorisasi nasab atau penentuan garis keturunan anak yang dilahirkan. Namun jawaban semacam ini juga akan mereka sanggah dengan mengatakan kebutuhan sex itu tidak ubahnya seperti kebutuhan makan dan minum. Kalau geneologis sebagai alasan, mereka akan bilang bukankah sekarang sudah ada teknologi uji DNA yang bisa dengan akurat dan mudah mencari siapa bapak dan ibu dari anak yang dilahirkan?</p>
<p>Teman yang lain mencoba menjawab dengan argumen pemeliharaan virginitas, simbol property termahal dari keperawanan dan keperjakaan. Kultur Timur sangat memelihara &#8220;barang  mahal&#8221; tersebut dan ia hanya akan diserahkan kepada orang tertentu dan pada moment tertentu mealalui moment sakral yang berdimesi vertikal maupun horizontal. Pernikahan adalah media resmi secara yurudis dan sosiologis untuk melegalkan serah terima virginitas tersebut. Legalitas ini penting seban secara psikologis akan mengantarkan kedua mempelai bisa menikmati virginitas masing-masing dengan rasa aman, amanah dan penuh makna. Arguman virginitas inipun juga akan ditolak sebab kultur individualisme Barat telah menggerus fungsi-fungsi komunal yang ada di masyarakat. Sekularisasi Barat telah telah mereduksi etika komunal mereka, jatuh di titik nadir digantikan oleh kebebasan individal. Selama dua individu enjoy, suka sama suka dan tanpa ada paksaan, maka keduanya berhak merayakan pencerabutan viginitas tersebut tanpa bingkai pernikahan. Di Barat, pernikahan tidak ubahnya sekedar kontrak antar dua individu dalam rangka mendapatkan berbagai benefit yang disediakan oleh negara seperti kredit lunak dan tunjangan keluarga namun secara sosiologis mulai nyaris tidak berimplikasi apa-apa. </p>
<p>Lagi-lagi perbedaan kultur gagal menyediakan jawaban yang memuaskan. Atau memang tidak perlu ada jawaban yang memuaskan, cukup sharing perspektif saja? Saya kira memang demikian, sebab kita bukan alat pemuas to?  </p>
<p><em>Wallaahu A&#8217;lam</em></p>
<p>Sumber gambar: http://www.pemphigus.org/news/</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=257&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/tanya-kenapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
