<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIFE FOR OTHERS &#187; spiritualitas</title>
	<atom:link href="http://www.ahmadmuttaqin.com/tag/spiritualitas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ahmadmuttaqin.com</link>
	<description>:Berbagi Merajut Kebersamaan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 03:50:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Wawancara RNW</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 08:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar/News]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[RNW]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[Saat melakukan riset pustaka di Leiden akhir tahun 2010, kami peserta upgrading course Indonesian Young Leader Program diundang oleh Radio Nederland Wereldomreap (Radio Netherlands Worldwide &#8211; RNW). Selain melihat dari dekat radio internasional yang mengudara dengan 10 bahasa tersebut, saya sempat diwawancarai oleh Bapak Bari Muchtar, selaku producer acara, reporter dan pembaca berita versi Indonesia [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F05%2F07%2Fwawancara-nrw%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F05%2F07%2Fwawancara-nrw%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Indonesia,RNW,spiritualitas,Wawancara&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/RNW.jpg"><img class="size-full wp-image-776 alignleft" title="RNW" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/RNW.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Saat melakukan riset pustaka di Leiden akhir tahun 2010, kami peserta upgrading course Indonesian Young Leader Program diundang oleh Radio Nederland Wereldomreap (Radio Netherlands Worldwide &#8211; RNW). Selain melihat dari dekat radio internasional yang mengudara dengan 10 bahasa tersebut, saya sempat diwawancarai oleh Bapak Bari Muchtar, selaku producer acara, reporter dan pembaca berita versi Indonesia tentang riset yang sedang saya lakukan. Waktu itu, saya sendiri kurang memperhatikan kapan wawancara tersebut mau diudarakan. Saat googling sekitar 5 bulan setelah wawancara tersebut, saya menemukan tautan tentang menjamurnya kelompok spiritualitas di Indonesia. Setelah saya klik ternyata hasil wawancara RNW yang telah disiarkan sejak 7 Januari 2011 yang lalu.</p>
<p>Berikut screen shoot dari wawancara tersebut yang saya ambil dari http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/kelompok-spiritualitas-menjamur-di-indonesia<span id="more-760"></span><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/Picture-1.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-777" title="Picture 1" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/Picture-1.png" alt="" width="650" height="524" /></a></p>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/Picture-3.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-778" title="Picture 3" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/Picture-3.png" alt="" width="649" height="495" /></a></p>
<p>Rekaman wawancara selengkapnya ada di <a href="http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/kelompok-spiritualitas-menjamur-di-indonesia">sini.</a></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="contoh wawancara">contoh wawancara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="pengertian wawancara">pengertian wawancara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="pengertian wawancara menurut para ahli">pengertian wawancara menurut para ahli</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="wawancara berita">wawancara berita</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="pengertian rekaman">pengertian rekaman</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="contoh wawancara berita">contoh wawancara berita</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="wawancara bahasa indonesia">wawancara bahasa indonesia</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="ruwatan anak menurut agama islam">ruwatan anak menurut agama islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="contoh rekaman wawancara">contoh rekaman wawancara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="contoh wawancara bahasa indonesia">contoh wawancara bahasa indonesia</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=760&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanti Tajdid Spiritual</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 10:26:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian tajdid]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Tajdid Spiritual]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=563</guid>
		<description><![CDATA[Di beberapa kegiatan resmi organisasi dan forum-forum pengajian sering muncul pertanyaan peserta tentang sikap Muhammadiyah terhadap Tasawuf. Dalam sebuah pelatihan kader se-Sumatera beberapa waktu yang lalu, pertanyaan ini menyeruak ketika narasumber menyampaikan materi Paham Agama dalam Muhammadiyah, Dinamika Gerakan Pembaharuan dan Pemikiran dalam Islam, serta Perbedaan Identitas Muhammadiyah dengan Gerakan-Gerakan Islam lainnya. Beberapa penanya tidak [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/21/komodifikasi-spiritual/' rel='bookmark' title='Komodifikasi Spiritual'>Komodifikasi Spiritual</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F04%2F10%2Ftajdid-spiritua%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F04%2F10%2Ftajdid-spiritua%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Muhammadiyah,pengertian+tajdid,spiritualitas,Tajdid+Spiritual,Tasawuf&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/04/P1170405.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-564" title="P1170405" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/04/P1170405-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Di beberapa kegiatan resmi organisasi dan forum-forum pengajian sering muncul pertanyaan peserta tentang sikap Muhammadiyah terhadap Tasawuf. Dalam sebuah pelatihan kader se-Sumatera beberapa waktu yang lalu, pertanyaan ini menyeruak ketika narasumber menyampaikan materi Paham Agama dalam Muhammadiyah, Dinamika Gerakan Pembaharuan dan Pemikiran dalam Islam, serta Perbedaan Identitas Muhammadiyah dengan Gerakan-Gerakan Islam lainnya. Beberapa penanya tidak sekedar mencari pejelasan sikap resmi organisasi terhadap Sufism beserta segala apseknya namun juga menekankan bahwa dimensi esoteris itu diperlukan dalam beragama agar tidak terjebak pada formalisasi ritual. Dalam bahasa studi agama, <em>having religion </em>saja tidak cukup, perlu ditingkatkan menjadi <em>being religious</em> agar tidak terjebak pada dataran simbolik.</p>
<p><strong><span id="more-563"></span>Tasawuf, Akhlaq &amp; Ihsan</strong></p>
<p>Terhadap pertanyaan warga Muhammadiyah tentang Tasawwuf, jawaban narasumber ternyata tidak tegas mengatakan bahwa Muhammadiyah itu anti tasawuf atau menyebut Sufisme itu haram. Narasuber Paham Agama dalam Muhammadiyah bahkan mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak bisa menyalahkan tasawuf begitu saja. Menurutnya, Muhammadiyah juga mengambil tasawuf dalam bentuknya yang lain. Mengingat inti dan tujuan tasawuf adalah akhlaq al-karimah, maka muhammadiyah lebih mengelaborasinya ke akhlaq karimah tersebut, bukan pada thariqah (tarikat) yang existensinya sendiri sangat variatif. Bukankah sebagian tarikat dinilai <em>muktabarah</em> (valid, authentic, diterima eksistensinya sebab tidak bertentangan dengan syariah) dan sebagian yang lain dikategorikan <em>ghairu muktabar</em> (dinilai menyimbang dan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip syari’ah)?</p>
<p>Terhadap pertanyaan peserta bahwa Muhammadiyah cenderung anti tasawuf, nara sumber Dinamika Gerakan Pembaharuan dan Pemikiran dalam Islam mengaku bahwa ia bisa memahami bila selama ini Muhammadiyah itu terkesan alergi terhadap tasawuf, sebab ormas yang berdiri sejak 1912 itu selama ini lebih menekankan aspek ritual-ibadah. ”Namun demikian”, lanjut narasumber tersebut, ”kita tidak bisa begitu saja menyalahkan orang yang mengamalkan tasawuf. Bila sebagian besar orang Muhammadiyah merasa cukup dan ’puas’ mendekatkan diri kepada Allah melalui pintu ibadah, para pelaku tasawuf mengangap masih kurang. Karena itu mereka  mengelaborasi ’jalan lain’ yang lebih mengolah aspek rasa melalui tasawuf.” Olah rasa dalam beribadah semacam ini pada dasarnya sejalan dengan konsep<em> ihsan</em>.</p>
<p>Penyebutan tasawuf itu equivalen dengan ihsan juga pernah diungkap oleh Allahu yarham K.H. Ahmad Azhar basyir, M.A (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah). Ketika pak Haedar masih di Badan Pendidikan Kader (kini Dr. H. Haedar Nashir, M.Si, salah satu Ketua PP Muhammadiyah) pernah menanyakan pada pak Azhar, ”bila Muhammadiyah itu menolak tasawuf, lalu alternatifnya apa?” Pak Azhar menjawab, bila merujuk pada hadits shahih tentang <em>ma huwa al-Islam, maa- huwa al-Iman, wa maa huwa al-Ihsan, </em>maka tasawuf itu adalah <em>ihsan</em>. Dalam hadits terebut disebutkan ihsan adalah <em>”ka-annaka taraahu fainlam taraahu fainnahu yaraaka”</em> (engkau merasa melihat Tuhan, bila pun tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah melihat engkau).</p>
<p><strong>Tajdid yang Terabaikan</strong></p>
<p>Muhammadiyah selama ini telah berhasil melembagakan <em>Islam</em> dalam kontek ibadah mahdhah melalui tuntutan ibadah sesuai Rasulullah dalam Himpunan Putusa Tarjih (HPT) dan tuntunan bermuamalah sesuai dengan Qur’an dan Sunnah dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) lalu diimplementasikan dalam Amal Usaha bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Muhammadiyah juga berhasil mengelaborasi prinsip-prinsip <em>Iman</em> dalam produk Paham Agama dalam Muhammadiyah, Khittah Perjuangan, Muqaddimah Anggaran Dasar, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup, Kepribadian Muhammadiyah, dll. Pertanyaannya kemudian, mengapa aspek <em>Ihsan</em> cenderung terabaikan proses pelembagaan dan implementasinya? Mana tafsir gerakan Muhammadiyah terhadap prinsip <em>Ihsan</em> ini? Ketimpangan inikah yang menyebabkan Muhammadiyah selalu dinilai ”kering” dan miskin spiritualitas? Inikah yang mendorong warga Muhammadiyah di berbagai lapisan selalu menanyakan pada pimpinan di atasnya tentang tasawuf dalam Muhammadiyah?</p>
<p>Memang secara personal sejumlah tokoh dan anak muda Muhammadiyah telah aktif mengkaji Sufisme dan spiritualitas, seperti HAMKA, Simuh, Abdul Munir Mulkhan, M. Damami, dan Najib Burhani; namun Muhammadiyah secara organisasatoris relatif diam. Diamnya organisasi pembaharu ini dalam mengelaborasi tasawuf bertolak belakang dengan predikat gerakan tajdid yang selama ini disandang. Dalam bidang Muamalah Muhammadiyah telah tampil sebagai teladan gerakan. Kritik pada dikhotomi pendidikan diikuti dengan pendirian sekolah-sekolah yang memberikan pelajaran agama dan pengetahuan umum sekaligus, kritik pada ketidakberdayaan umat dalam bidang kesehetan dan kesejahteraan diikuti dengan pendirian PKO dan panti-panti asuhan. Lalu mengapa kritik terhadap praktik spiritualitas yang berbau TBC (Tachayul-Bid&#8217;ah-Churafat) tidak diikuti dengan penyediaan saluran alternatif yang bernuansa olah spiritual namun secara syariah diterima?</p>
<p>Menurut hemat saya, keengganan Muhammadiyah menyediakan <em>guidance</em> dan saluran tasawuf bagi warganya di tengah pasar spiritualitas modern yang terus menguat akhir-akhir ini sama dengan membiarkan warganya untuk ”memulung” praktik olah batin dan rasa dari pasar global spiritualitas yang keontetikannya masih samar-samar. Coba tanya di sekitar anda, berapa banyak warga Muhammadiyah yang gandrung dengan lagu-lagu religius karya Hadad Alwi dan Opick, aktif mengikuti zikir masal, zikir penyembuhan, wisata religius, Yoga, Reiki, ESQ training, Pelatihan Sholat Khusuk, dan kegiatan olah spiritual sejenis baik dengan alasan mencari ketenangan, rezeki lancar, maupun kesehatan?</p>
<p>Ketidakpedualian Muhammadiyah pada isu-isu spiritualitas secara serius ini juga mengokohkan watak puritanismenya. Padahal, sebagaimana sejarah yang tejadi di berbagai gerakan keagamaan, kelompok puritan cenderung gagal menjadi mainstream. Akankah Muhammadiyah terus mengabaikan  hasrat warganya terhadap dimensi spiritual ini? <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="pengertian tajdid">pengertian tajdid</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="prinsip ibadah dalam islam">prinsip ibadah dalam islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="pengertian tajdid dalam muhammadiyah">pengertian tajdid dalam muhammadiyah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="hubungan akhlak dengan tasawuf">hubungan akhlak dengan tasawuf</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="pengertian tajdid menurut bahasa dan istilah">pengertian tajdid menurut bahasa dan istilah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="pengertian ibadah menurut muhammadiyah">pengertian ibadah menurut muhammadiyah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="paham agama dalam muhammadiyah">paham agama dalam muhammadiyah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="www waskitareikippa com">www waskitareikippa com</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="paham agama menurut muhammadiyah">paham agama menurut muhammadiyah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/" title="biografi haedar nashir">biografi haedar nashir</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=563&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/21/komodifikasi-spiritual/' rel='bookmark' title='Komodifikasi Spiritual'>Komodifikasi Spiritual</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/04/10/tajdid-spiritua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Spiritualitas Otentik</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 23:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[komodifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[korporatisasi]]></category>
		<category><![CDATA[narsis]]></category>
		<category><![CDATA[otentik]]></category>
		<category><![CDATA[Pengertian otentik]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa orang rela membayar mahal hanya untuk mengikuti spiritual training selama 1-3 hari? Mari kita tengok kelas-kelas Yoga, Meditasi, Emosional-Spiritual Training, zikir massal, serta berbagai gemblengan spiritual yang akhir-akhir ini menjamur di tanah air. Program-progam “olah” spiritual tersebut ditawarkan oleh berbagai lembaga dengan beragam latar tradisi. Sebagian representasi dari sufisme dalam Islam, sebagian bersumber dari [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F02%2F28%2Fmencari-spiritualitas-otentik%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2010%2F02%2F28%2Fmencari-spiritualitas-otentik%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=komodifikasi,korporatisasi,narsis,otentik,Pengertian+otentik,spiritualitas&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/02/P1160982.jpg"><img class="size-medium wp-image-527 alignleft" title="P1160982" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/02/P1160982-300x225.jpg" alt="" width="270" height="203" /></a>Mengapa orang rela membayar mahal hanya untuk mengikuti spiritual training selama 1-3 hari? Mari kita tengok kelas-kelas Yoga, Meditasi, Emosional-Spiritual Training, zikir massal, serta berbagai gemblengan spiritual yang akhir-akhir ini menjamur di tanah air. Program-progam “olah” spiritual tersebut ditawarkan oleh berbagai lembaga dengan beragam latar tradisi. Sebagian representasi dari sufisme dalam Islam, sebagian bersumber dari tradisi Tiongkok (Reiki, Fallun Ghong), sebagian dari tradisi India (Yoga, Meditasi), sebagian juga dari tradisi Jawa (ritual Ruwatan), dan sebagian lagi merupakan kombinasi antara Sufisme, managemen dan psikologi humanistik.</p>
<p>Yang menarik dari lembaga-lembaga penawar program spiritualitas tersebut adalah upaya korporatisasi layanan spiritual. Lembaga-lembaga tersebut memiliki kantor dan sekretariat yang representatif, staff yang terlatih dan cekatan, serta publikasi yang menawan di berbagai media massa. Selain itu, layanan jasa dan produk spiritual dikemas sedemikian rupa menjadi beragam paket. Manfaat dari mengikuti program spiritual juga selalu mereka expose dalam bentuk testimony para alumninya.<span id="more-522"></span></p>
<p>Bagaimana menjelaskan fenomena tersebut? Apakah program-program tersebut ditawarkan sebagai bisnis untuk memperoleh profit melalui komodifikasi spiritualitas atau murni upaya menyadarkan manusia Indonesia agar semakin menggali fitrah ruhaniyahnya?</p>
<p><strong>Motif</strong></p>
<p>Ada empat kemungkinan mengapa orang tertarik belanja spiritualitas: (1) Menggunakan spiritualitas sebagai sarana refressing di tengah kepenatan hidup. Bagi kelompok ini, mengikuti program-program spiritualitas ibarat rekreasi; (2) Memanfaatkan spiritualitas untuk memperoleh kesembuhan dari derita penyakit fisik maupun psikis. Kelompok kedua ini melihat praktik spiritual (zikir, meditasi, yoga, ruwatan, dll) sebagai sarana menyembuhkan jiwa yang sakit dan menyingkirkan segala bala. Jiwa yang sehat tentu akan mengantarkan tubuh yang sehat; (3) Menjalankan laku spiritual dalam rangka meraih sukses, rezki melimpah dan barokah. Kelompok ini meyakini laku spiritual merupakan sarana efektif mendekatkan diri pada Tuhan. Bila diri sudah dekat dengan Tuhan, maka Tuhan pasti akan mengabulkan segala keinginan hambaNya; dan (4) Mempraktikkan spiritualitas karena merasa &#8220;bosan&#8221; dengan ritual-ritual agama yang dirasa kering. Bagi kelompok ini, ber-spiritualitas-ria dirasa lebih ringan and <em>enjoy </em>sebab terbebas dari beban kewajiban menjalankan ajaran agama.</p>
<p><strong>Komodifikasi</strong></p>
<p>Isu perdagangan spiritualtas bukan hal baru. Carrette dan King (2005) dalam <em>Selling Spirituality, the silent take over of religion </em>mengkritisi proses terkooptasinya spiritualitas oleh cara pandang kapitalisme melalui proses korporatisasi dan individualisasi pelayanan jasa spiritual. Akibatnya, spiritualitas tidak lagi menjadi nilai luhur yang membingkai perilaku manusia, berubah menjadi nilai ekonomi. Secara halus spiritualitas digunakan sebagai alat memperkokoh paradigma neoliberal. Pada tahap inilah agama yang merupakan sumber nilai-nilai spiritual dikemas dan dikomodifikasi sedemikian rupa layaknya barang dagangan melalui proses reduksi: agama ditampilkan sebagai komoditas spiritual.</p>
<p>Hadirnya pusat-pusat spiritual di tengah kota berdampingan dengan kantor bisnis dan industri telah mendorong dunia usaha tersebut menggunakan jasa spiritual baik untuk memperbaiki mental dan <em>mind set</em> karyawannya maupun sebagai wahana implementasi program-program CSR. Namun penggunakan spiritualitas dalam bisnis dan industri ternyata sarat dengan kepentingan untuk melanggengkan agenda kapitalis mereka. Pada tahap inilah terjadi ironi luar biasa, agama kehilangan peran etis dan transformatif-nya sebab melalui perkawinanya dengan kapital ekonomi serta proses komodifikasi layanan jasa  dan produk spiritual, elemen-elemen agama hanya digunakan sebagai  alat pembenar  <em>“the ideology of consumerism and corporate capitalism”</em> (Carrette &amp; King, 2005, 170).</p>
<p><strong>Narsis</strong></p>
<p>Selain spiritualitas pasar yang terus menjamur dengan gegap gempita, ada juga kelompok spiritualitas yang mencoba melawan arus. Mereka mengusung spiritualitas sebagai sarana melepaskan diri dari ikatan tradisi keagamaan. Kritik agama mendominasi wacana mereka. Meski demikian, dengan sadar mereka tetap meyakini keberadaan Tuhan. Bagi mereka “spirituality yes, organized religion no”.</p>
<p>Mengingat praktik keagamaan banyak yang didomplengi kepentingan lain, menurut pengusung model ini, spiritualitas harus lepas dari ikatan-ikatan agama. Sayangnya, model <em>subjective-life spirituality </em>&#8211;meminjam istilahnya<em> </em>Heelas&#8211; yang menolak bentuk-bentuk tradisi dan organisasi keagamaan ini dalam praktiknya terjebak pada narsisme spiritual. Segala bentuk esensi dan expresi spiritual dapat digali dalam diri pribadi setiap orang.</p>
<p><strong>Otentik</strong></p>
<p>Eksistensi spiritualitas non agama di atas merupakan kritik tajam tidak hanya bagi agama-agama yang hanya mengedepankan formalisme dan lupa terhadap isi dan visi yang sebenarnya, namun juga bagi spiritualitas berbasis agama yang telah terjebak praktik komodifikasi dan korporatisasi. Karena itulah Carrette dan King (2005) di bagian akhir bukunya menaruh harapan besar akan munculnya aktivisme keagamaan yang bisa mengolah spiritualitas dengan tetap memelihara peran transformatifnya: mencerahkan, tidak melenakan, anti penindasan, tidak kapitalis, pro keadilan, berjiwa sosial, tidak narsis dan tentu saja rasional. Spiritalitas agama yang semacam ini saya sebut spiritualitas otentik.</p>
<p>Revivalisasi agama melalui jalan spiritual otentik, karena itu, menjadi niscaya. Bila selama ini revivalisme agama cenderung dimaknai sebagai kebangkitan kembali agama dalam konteks politik dan pertarungan identitas baik di aras nasional maupun global. Maka, jalan spiritual otentik akan memberikan peluang agama juga agamawan untuk tampil sebagai kekuatan sipil yang pro kemajuan namun ramah pada lingkungan, beridentitas jelas namun toleran dan menghargai perbedaan. Jalan spiritual otentik agama, dengan demikian, bisa menjadi jawaban terhadap kritik spiritualist tanpa agama sekaligus “meluruskan” praktik-praktik komodifikai dan korporatisasi spiritual. <em>wallahu a&#8217;lam</em></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="Pengertian otentik">Pengertian otentik</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="arti otentik">arti otentik</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="arti kata otentik">arti kata otentik</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="pengertian spiritualitas">pengertian spiritualitas</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="definisi otentik">definisi otentik</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="definisi korporatisasi">definisi korporatisasi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="Pengertian korporatisasi">Pengertian korporatisasi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="arti spiritualitas">arti spiritualitas</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="arti korporatisasi">arti korporatisasi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/" title="spiritualitas muhammadiyah">spiritualitas muhammadiyah</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=522&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

