Posts Tagged ‘Spiritual’

Komodifikasi Spiritual

Posted 21 Apr 2010 — by Ahmad Muttaqin
Category Kutipan

Selesai memoderatori diskusi bulanan Laboratorium Religi & Budaya Lokal (LABEL) Fak Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kemarin, Selasa 20 April 2010, wartawati kompas menelepon saya. Berikut laporannya yang termuat di:

http://www1.kompas.com/read/xml/2010/04/20/21061957/Komodifikasi.Spiritualisme.Makin.Kentara-3

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Komodifikasi spiritualitas Jawa semakin kentara. Hal ini ditandai dengan banyaknya iklan maupun penayangan di media yang menawarkan jasa ritual berbasis spiritualisme Jawa. Menguatnya komodifikasi dikhawatirkan membuat nilai-nilai spiritualitas Jawa mengalami pendangkalan, sehingga mengancam keberadaan spiritualitas itu sendiri.

Peneliti Bidang Gerakan Keagamaan Baru dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Ahmad Muttaqin mengatakan, Read More

The Best Keyword for the article:

Stop-Revive-Survive

Posted 15 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Mereka Berkata

stop-revive-surveive‘Why do you pray [shalat] five times a day? Aren’t you disturbed by those activities?” Itu  pertanyaan lain yang sering dilontarkan ‘bule’ pada masyarakat Muslim di Barat. Dan lagi, mereka tidak bakal menerima jawaban tekstual. Karena itu jawabannya sebisa mungkin ‘rasional’ sesuai atau setidaknya mendekati apa yang selama ini ada di sekitar mereka.

“When you make a journey driving in a highway for along time, let’s say from Brisbane to Sidney, you will find a sign “Stop-Revive-Survive” indicating you are close to a rest stop. Do you know what does that means?” Mendengar ilustrasi tersebut sang bule pun mengangguk, tanda mulai mengerti arah pembicaanku.

Hidup itu ibarat melakukan perjalanan panjang. Agar sampai ke tujuan dengan selamat kita perlu bekal dan sarana yang memadahi. Mobil yang kita kendarai perlu diisi bensinnya agar tidak kehabisan di tengah jalan. Perut kita perlu diberi makan agar tetap punya tenaga dan bisa berkonsentrasi menyetir. Fisik kita pun perlu diistirahatkan agar tidak terforsir. Intinya, dalam perjalanan itu kita perlu ‘waktu jeda’ untuk mencharge energi.

Read More

The Best Keyword for the article: