<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIFE FOR OTHERS &#187; Pengalaman</title>
	<atom:link href="http://www.ahmadmuttaqin.com/tag/pengalaman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ahmadmuttaqin.com</link>
	<description>:Berbagi Merajut Kebersamaan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 03:50:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>PhD by Research</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:46:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[IBAS Griffith Uni]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[PhD by research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Sekedar berbagi pengalaman PhD by research tampaknya cocok untuk mahasiswa yang “malas” ikut perkuliahan seperti saya. Memang betul, saat aplikasi ke kampus calon mahasiswa harus sudah punya draft proposal disertasi, dan itu bagian dari persyaratan. Akan lebih baik bila jauah hari sebelum mendaftar sudah punya draft sebab proposal tersebut sangat berguna untuk hunting profesor yang [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F25%2Fphd-by-research%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F25%2Fphd-by-research%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=IBAS+Griffith+Uni,Pengalaman,PhD+by+research&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Sekedar berbagi pengalaman</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-252" title="research" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/research-300x214.jpg" alt="research" width="300" height="214" />PhD by research tampaknya cocok untuk mahasiswa yang “malas” ikut perkuliahan seperti saya. Memang betul, saat aplikasi ke kampus calon mahasiswa harus sudah punya draft proposal disertasi, dan itu bagian dari persyaratan. Akan lebih baik bila jauah hari sebelum mendaftar sudah punya draft sebab proposal tersebut sangat berguna untuk hunting profesor yang kira-kira tertarik dan bersedia menjadi supervisor. Sebelum mengirim aplikasi ke kampus yang dituju, ada baiknya melakukan kontak-kontak dengan calon supervisor. Bukti korespondensi dengan professor tersebut akan memudahkan memperoleh LoA dari bagian admisi kampus. Kalau sudah ada professor yang bersedia membimbing, biasanya bagian admisi tinggal menunjuk co-supervisor.</p>
<p><span id="more-248"></span></p>
<p>Enaknya PhD by research itu mahasiswa bisa langsung fokus ke object yang akan diteliti tanpa diribeti dengan tugas-tugas kuliah. Secara umum, full-time student PhD by research dapat jatah study minimal 2 tahun dan maksimal 4 tahun. Tahun pertama biasanya digunakan untuk mematangkan proposal disertasi, tahun kedua untuk field work, dan sisanya, tahun ke tiga dan keempat, untuk menulis disertasi secara lengkap.</p>
<p>Pada tahun pertama biasanya supervisor akan “mempush” PhD student melakukan bibliographical review yang berkaitan dengan teori, metode dan topik yang dikaji. Kadang-kadang mahasiswa dibuat “bingung” dan terasa <em>diombang-ambing;</em> diminta baca buku/jurnal yang sepintas tidak sesui dengan topik riset. Saking banyaknya bahan yang harus dibaca dan dibuat report untuk pertemuan mingguan atau dwi-mingguan, seorang teman dari department lain sampai bilang: “jangan harap anda bisa santai;  supervisor  itu nggak ingin mahasiswanya <em>ngangur </em>walau hanya sejenak. Selesai satu bacaan segera disusuli bacaan lain.” Tidak jarang draft teori dan metodologi yang diajukan ke supervisor tidak segera di-acc. Ungkapan “your report/paper is good, but I want it better,” atau “please convince me!,” juga “I want to push you in order to be the best,” sangat sering terdengar saat mahasiswa menghadap supevisor. Belakangan  saya menyadari bahwa semua proses itu bagian dari “cara” supervisor membimbing agar mahasiswa melihat topik riset secara komprehensif bahkan kemungkinan dari persepektif yang berbeda sekalipun.</p>
<p>Bisa dibilang tahun pertama adalah masa-masa tersulit. Mahasiswa diminta menyiapkan proposal riset yang harus dipresentasikan pada ujian “confirmation&#8221;. Dalam confirmation tersebut mahasiswa harus mempresentaskan rencana risetnya dihadapan 2 supervisor, external examiner, serhati hadirin lain yang biasanya PhD student atau juga dosen serta menjawab pertanyaan2 yang muncul. Confirmation inilah yang akan menentukan apakah proposal riset kita layak untuk diteruskan tanpa revisi, boleh dilakukan tapi dengan perbaikan, atau ditolak dengan konsekuensi status PhD student kita terancam pupus.</p>
<p>Setelah external examiner serta supervisor menyatakan riset project yang diseminarkan layak untuk diteruskan, mahasiswa diperbolehkan melakukan field work, itupun setelah memperoleh ethical clearance. Untuk medapatkan ethical clearance tersebut harus melewati serangkaian proses yang membutuhkan pikiran dan waktu yang tidak singkat. Meski demikian, ide dari ethical clearance tersebut saya pikir  sangat bagus, sebab memberikan perlindungan kepada subyek penelitian agar tidak menjadi korban exploitasi peneliti atas nama kerja ilmiah. Di Indonesia ethical clearance ini belum menjadi prasarat namun di negara-negara maju sudah.  </p>
<p>Bagi saya, tantangan terberat PhD by research adalah menjaga konsistensi untuk selalu keep going on the project di tengah berbagai godaan. Bukan hanya godaan terhadap gaya hidup yang serba “wah” di masyarakat Barat, atau juga rasa kangen yang luar bisa pada keluarga di tanah air, tapi juga godaan untuk switch ke topik lain yang sepintas lebih menarik setelah melakukan literature review.  </p>
<p>Meski banyak godaan dan tantangan, ambil program PhD di luar negeri itu lebih &#8220;kondusif&#8221; dibanding di negeri sendiri. Kalau di kampung sendiri proses menulis cenderung kurang fokus sebab terlalu banyak aktivitas extra seperti ronda, rapat RT, jagong manten, pertemuan organisasi, atau mungkin juga godaan untuk terlibat dalam proyek sambilan.  Proses menulis disertasi sering terbengkalai karena disibukkan oleh aktivitas extra tersebut. Akibatnya program doktor di tanah air rata-rata diselesaikan di atas 6 tahun. Belum lagi kalau ada hambatan sumber literatur yang belum tersedia di perpustakaan-perpusatakaan lokal.</p>
<p>_____________</p>
<p>Setelah disertasi selesai, kewajiban mahasiswa hanyalalah &#8220;men-submit&#8221; disertasitasinya ke program studi. Program studi lalu akan menunjuk &#8220;penguji&#8221; dari luar kampus. Setalah membaca dan menelaah disertasi tersebut, penguji akan menilai apakah disertasi tersebut diterima dan ybs layak diberi gelar Dr, atau harus ada minor revision, mayor revision, atau kadang, meski kasusnya jarang, diperlukan oral defense. Semua proses tersebut ditenggat oleh batasan waktu yang jelas sehingga mahasiwa tahu kapan hasil </p>
<p>Setahuku, PhD by research itu corak Eropa dan Australia namun keduanya ada perbedan. Kalao di Eropa, Belanda misalnya tidak ada ujian proposal. Proposal cukup di acc oleh supervisor, namun ada ujian desertasi (oral defense). Di Australia sebaliknya, ada ujian proposal namun umumnya tidak ada oral defense/ujian disertasi.</p>
<p>Sebagai ganti tidak ada kelas, PhD student di Australia biasanya dapat fasilitas ruang/office untuk kerja, dan kalo di kampus saya, lengkap dengan PC baru, unlimited internet access, serta acces pinjam buku-buku perpustakaan untuk waktu yang lebih lama. Selain itu, biasanya program study juga menawarkan berbagai macam workshop, seminar, dll. yang menunjung untuk riset/menulis disertasi.</p>
<p>Selain itu, program study juga memberikan allowance tiap mahasiswa untuk kepentingan riset, beli buku, atau menghadiri conference di dalam maupun luar negeri. Besarnya bervariasi tergantung tingkat &#8220;kemakmuran&#8221; prodi. Di tempat kami misalnya, Departemen International Business &amp; Asian Studies (IBAS) Griffith University Brisbane QLD, memberi 4000 AUD, di departemen lain cuma 3500 AUD. </p>
<p>Skian dulu, semoga bermanfaat.</p>
<p>Sumber gambar: http://www.geos.ed.ac.uk/research/rso/</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="arti phd">arti phd</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="pengalaman phd">pengalaman phd</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="program doktor Unsoed">program doktor Unsoed</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="persyaratan profesor">persyaratan profesor</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="jurnal perbaikan tanah">jurnal perbaikan tanah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="persyaratan proffesor">persyaratan proffesor</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="proposal disertasi">proposal disertasi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="pengalaman ph d">pengalaman ph d</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="p hd artinya">p hd artinya</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/" title="pengalaman phd australia">pengalaman phd australia</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=248&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/phd-by-research/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Cleaner ke Main Film</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/08/dari-cleaner-ke-main-film/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/08/dari-cleaner-ke-main-film/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 04:42:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Cleaner]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Ada ada saja pengalaman unik di negeri orang. Selama saya di negeri Kangguru ini beragam “profesi” telah saya jalani. Resminya, saya adalah mahasiswa PhD di Griffith University. Namun keinginan untuk memperoleh selingan aktivitas yang menghasilkan dollar mendorong saya mencari “lowongan kerja” yang bisa diisi pada waktu luang. Salah satu keuntungan study di Australia ini mahasiswa [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F06%2F08%2Fdari-cleaner-ke-main-film%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F06%2F08%2Fdari-cleaner-ke-main-film%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Cleaner,Film,Movie,Pengalaman&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ada ada saja pengalaman unik di negeri orang. Selama saya di negeri Kangguru ini beragam “profesi” telah saya jalani. Resminya, saya adalah mahasiswa PhD di <strong>Griffith University</strong>. Namun keinginan untuk memperoleh selingan aktivitas yang menghasilkan dollar mendorong saya mencari “lowongan kerja” yang bisa diisi pada waktu luang. Salah satu keuntungan study di Australia ini mahasiswa diperbolehkan bekerja tanpa harus mengurus working permit sebagaimana di USA dulu. Student visa yang diberikan oleh kedubes Australia sekaligus berfungsi sebagai visa kerja, meski maksimum 20 jam perminggu.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-51" title="siemens_vacuum_cleaner_11" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/06/siemens_vacuum_cleaner_11-150x150.jpg" alt="siemens_vacuum_cleaner_11" width="158" height="124" />Debut perburuan dollar saya mulai dengan menjadi cleaner. Awalnya diajak teman, ikut membantu membersihkan toko yang lumayan luas di pagi hari dari jam 7.30 – 9.30an. Meski jadwal tidak pasti, pengalaman menyapu dan mengepel ini cukup memberi banyak pelajaran. Setidaknya saya tahu bagaimana sebuah toko itu dikelola secara professional. Selain di Toko, kadang saya juga diajak untuk membersihkan rumah orang Australia. Beragam bentuk rumah sudah saya masuki. Dari situ saya saya terkesan dengan tata ruang dan efisiensi pemanfaatan perabotannya.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-59" title="pemotong-rumput1" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/06/pemotong-rumput1-150x150.jpg" alt="pemotong-rumput1" width="159" height="157" />Pengalaman kedua adalah menjadi tukang kebun, bahasa kerennya <em>gardener</em>. Kurang lebih satu bulan saya bergelut dengan aktivitas ini, seminggu dua kali. Bos saya orang Palestina, korban agresi Israel yang sudah mengungsi di negara orang lebih dari 40 tahun. Tugas utama saya memotong rumput dengan mesin yang selalu menjerit-jerit memekakkan telinga. Saya harus mendorong mesin tersebut mengikuti contour lahan taman. Mengingat kota Brisbane itu berbukit dan sebagian besar perumahan berdiri di atas tanah yang miring, maka jarang ada taman di lahan yang datar. Ada yang memiliki kemiringan 10 derajat, ada yang 15, 30, bahkan ada yang mendekati 45 derajat! Bisa dibayangkan betapa beratnya mendorong keatas mesin dengan bobot 30kg lebih di lahan yang miring itu. Jangan ditanya betapa bengkaknya otot tangan dan kaki saya seusai menjadi garneger di hari pertama. Berpuluh-puluh taman rumah Australia sudah pernah saya potong rumputnya. Dari situ saya bisa menyaksikan rumah dan taman yang asri dan indah bak istana. Dalam hati saya berkata, “apa karena orang-orang Barat itu sudah bisa membuat surga di dunia sehingga tidak lagi percaya pada surga di akherat?”</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-56" title="kamera-film-23" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/06/kamera-film-23-150x150.jpg" alt="kamera-film-23" width="157" height="151" />Pengalaman yang paling menantang adalah menjadi “bintang” film. Hingga awal Juni 2009 ini saya sudah terlibat dalam tiga film/serial TV. Yang pertama Film Denmark yang mengambil lokasi shooting di Brisbane, berjudul <em>At the World End</em>. Film ini bercerita tentang sekelompok ilmuwan Denmark yang tengah meneliti bunga di pedalaman hutan Sumatra. Konon bunga tersebut bahan baku obat awet muda. Karena tertarik dengan khasiatnya, berbagai kelompok mafia berebut ingin menguasainya. Aparat keamanan Indonesia terpaksa terlibat karena perang perebutan bunga itu berada di wilayah hukum Indonesia. Pada film ini saya berperan sebagai salah satu ipir penjara Cipinang yang sedang mengawasi tahanan kelas wahid, dilengkapi dengan seragam dan &#8216;pistol&#8217; di pinggang sambil menenteng M16 beneran.</p>
<p>Film kedua adalah serial <em>Sea Patrol </em>dari Chanel 9 Televisi Australia. Bila dalam At the Wold End saya menjadi Sipir penjara yang sok gagah mengawasi tahanan, dalam Sea Patrol ini giliran saya harus bermuka memelas, memohon iba sebagai nelayan yang ditangkap oleh Otoritas laut Australian karena melakukan illegal fishing.</p>
<p>Film ketiga adalah iklan TV comersial dari Griffith University. Inilah peran saya yang paling keren, sebab saya tidak lagi menjadi sipir maupun pesakitan tapi sebagai businessman sebuah multinational company. Saya sedang terlibat dalam international meeting dengan kolege business mancanegara, berpakain necis bak executive dan professional muda dan selalu menebar senyum namun dengan tetap terjaga kewibawaannya.</p>
<p>Keterlibatan saya dalam dunia film, meskipun hanya sebagai pemain extra, telah menyadarkan bahwa proses produksi film itu sedemikian pelik, rumit, dan high cost. Hanya untuk mendapatkan adegan kurang dari 10 menit saja, kadang diperlukan waktu 12 bahkan bisa sampe 24 jam. Dulu saya begitu mudah mencemooh film-film yang saya tidak suka, namun setelah terlibat denganproses shooting, saya makin bisa mengapresiasi sebuah karya.</p>
<p><em>Sumber foto:  http://www.appliancist.com/green_appliances/siemens-automatic-vacuum-cleaner-z4.html | etc</em></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/08/dari-cleaner-ke-main-film/" title="kamera film">kamera film</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/08/dari-cleaner-ke-main-film/" title="kata kata sufi">kata kata sufi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/08/dari-cleaner-ke-main-film/" title="pemotong rumput">pemotong rumput</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/08/dari-cleaner-ke-main-film/" title="Pengalaman mencari kerja di australia">Pengalaman mencari kerja di australia</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/08/dari-cleaner-ke-main-film/" title="pengertian kamera shooting">pengertian kamera shooting</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=15&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/06/08/dari-cleaner-ke-main-film/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

