Posts Tagged ‘Muhammadiyah’

Pawai Budaya

Posted 29 May 2010 — by Muttaqin
Category Kabar/News

Minggu lalu, tepatnya 20 Mei 2010, SD tempak anak saya belajar menyelengarakan Pawai Budaya dalam rangka menyambut 4 moment sekaligus: hari pendidikan nasional, hari kebangkitan nasional, Milad SD Muhammadiyah Bodon yang ke-96, serta menyongsong Muktamar 1 Abad Muhammadiyah ke 46 di Yogyakarta awal Juli yang akan datang.

Selain pawai andong, kegiatan itu juga dimeriahkan dengan lomba peragaan busana Nusantara serta pemilihan Dimas dan Diajeng antar kelas. Tidak kurang 120 andong dihias dengan berbagai atribut, disesaki oleh anak-anak SD yang mengenakan pakaian adat Jawa, Riau, Banjar, Bali, Minang, Palembang, dll. Replika candi prambana dan Tugu Jogaja pun juga ikut diarak.

Read More

The Best Keyword for the article:

Menanti Tajdid Spiritual

Posted 10 Apr 2010 — by Muttaqin
Category Teropong

Di beberapa kegiatan resmi organisasi dan forum-forum pengajian sering muncul pertanyaan peserta tentang sikap Muhammadiyah terhadap Tasawuf. Dalam sebuah pelatihan kader se-Sumatera beberapa waktu yang lalu, pertanyaan ini menyeruak ketika narasumber menyampaikan materi Paham Agama dalam Muhammadiyah, Dinamika Gerakan Pembaharuan dan Pemikiran dalam Islam, serta Perbedaan Identitas Muhammadiyah dengan Gerakan-Gerakan Islam lainnya. Beberapa penanya tidak sekedar mencari pejelasan sikap resmi organisasi terhadap Sufism beserta segala apseknya namun juga menekankan bahwa dimensi esoteris itu diperlukan dalam beragama agar tidak terjebak pada formalisasi ritual. Dalam bahasa studi agama, having religion saja tidak cukup, perlu ditingkatkan menjadi being religious agar tidak terjebak pada dataran simbolik.

Read More

The Best Keyword for the article:

Muhammaddiyah, the Fatwa & Paradox of Modernity

Posted 06 Apr 2010 — by Muttaqin
Category English, Teropong

“Why does Muhammadiyah enthusiastically release fatwas (religious verdicts) lately?” Ask a friend of mine in a milis responding the new fatwa of the Majelis Tarjih and Tajdid (MTT – Council of Legal Affair and Reform) on bank interest. The fatwa was one of Council National Meeting (Munas Tarjih) outcomes in Malang, East Java, 1-4 April 2010. Like previous Muhammadiyah fatwa on banning cigarette, the latest fatwa also stirred up pros and conts.

This brief posting will not address to the pro and cont issues about the fatwa. It rather would like to see beyond the fatwa from theory of modernity noting the phenomena as both the paradox of Muhammadiyah and, in a broader scope, the paradox of modernity.

Read More

The Best Keyword for the article:

Muhammadiyah, Fatwa & Paradok Modernitas

Posted 06 Apr 2010 — by Muttaqin
Category Teropong

“Mengapa Muhammadiyah akhir-akhir ini getol mengeluarkan fatwa?” Tanya seorang kawan dalam sebuah milis saat menanggapi keluarnya fatwa Muhammadiyah tentang haramnya bunga bank pada Munas Tarjih di Malang 1-4 April 2010. Sebagaimana fatwa MTT sebelumnya tentang haramnya rokok, fatwa tentang bunga bank ini juga menuai pro dan kontra.

Hemat saya, produktifnya Muhammadiyah mengeluarkan fatwa akhir-akhir ini menandakan paradox Muhammadiyah sekaligus paradox modernitas pada konteks yang lebih luas.

Read More

The Best Keyword for the article:

Muhammadiyah, Fiqih Tembakau & Kritik Negara

Posted 11 Mar 2010 — by Muttaqin
Category Teropong

Muhammadiyah baru saja mengeluarkan fatwa rokok haram,  merevisi fatwa sebelumnya (2005) yang menyatakan rokok itu mubah tapi ditinggalkan lebih baik. Fatwa Muhammadiyah kali ini “setingkat lebih tinggi” dari fatwa MUI tentang rokok yang menyatakan rokok pada dasarnya makhrukh, namun haram untuk anak-anak dan wanita hamil.

Berbagai respon, pro dan kontra terhadap fatwa haram rokok Muhammadiyah terus bermunculan. Diantara yang kontra menyatakan keluarnya fatwa  rokok haram itu menunjukkan para ulama Muhammadiyah tidak peka terhadap permasalahan kaum tani, dan hanya bisa memberi stempel halal dan haram. Betulkah demikian? Read More

The Best Keyword for the article:

Doa Pemimpin Terpilih

Posted 25 Aug 2009 — by Muttaqin
Category Kutipan

Mas_MansurDia terpilih dengan suara 100 persen. Meskipun ketika itu ada juga propaganda supaya dia jangan terpilih, rupanya ia berhasil.

Sehari sehabis konggres, yaitu tanggal 13 Januari 1941 kelihatan dia mengepit tasnya dari kantor H.B. menuju kampung Kauman. Kemana dia pergi? Mengapa seorang saja? Dia pergi menemui….. Nyai Dahlan, istri almarhum K.H.A. Dahlan!

Ditemuinya satrya putri itu, teman hidup dan kawan berjuang dari seorang yang mendirikan Muhammadiyah mula-mula. Lalu dia berkata: “Ibu, ….sekarang saya terpilih kembali buat memikul beban yang berat ini, buat menjalankan bahtera peninggalan almarhum.”

“Saya ucapkan selamat,” ujar perempuan tua yang teguh hati itu.

“Catatlah itu, empat perkara yang saya harap supaya ibu doakan kepada Tuhan, moga-moga dilimpahkan pada diriku didalam memimpin persyarikatan ini.”

Nyai Dahlan mengambil potlood dan notesnya serta mendengarkan dengan hati-hati.

“Doakan saya dianugerahi Tuhan empat perkara: yaitu kesabaran, kemajuan, taqwa dan tawakkal.”

Setalah itu dia [KH. Mas Mansur] minta diri….

(Dikutip dari Pedoman Masyarakat, Medan via Adil, Solo, no. 34, 24 Mei 1941, dalam Soebagijo I.N., K.H. Mas Mansur Pembaharu Islam di Indonesia. Jakarta: PT Gunung Agung, 1982, hlm. 131).

Sumber gambar: http://wiwapia.com/id/KH_Mas_Mansur

The Best Keyword for the article:

Page 1 of 212