Posts Tagged ‘Movie’

Episode ‘Mendebarkan’

Posted 10 Jun 2009 — by Muttaqin
Category Serba-serbi

Saya harus banyak bersyukur. Sejak dari bangku SLTA hingga bisa melanjutkan ke program Ph.D ini bantuan beasiswa selalu mengililinga saya. SLTA saya dibiayai oleh Departemen Agama melalui program Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) yang diinisiasi oleh Menag H. Munawir Syadzali. Ketika Kuliah S1 memperoleh beasiswa dari Supersemar selama 2 tahun. S2 pertama memperoleh beasiswa dari Departemen Agama R.I. dan S2 yang kedua dari beasiawa Fulbright scholarship. Saat ini saya tengah menempuh program Ph.D dengan beasiswa dari Dirjen Dikti Depdiknas RI.

Selama memperoleh beasiswa-beasiswa tersebut, pengalaman paling ‘heroik’ dan ‘mendebarkan’ terjadi pada beasiswa Dikti. Saya sebut heroik sebab dikti membiayai lebih dari 2000 dosen PTN dan PTS untuk studi di Luar negeri; dan saya bilang mendebarkan sebab saya merasakan berdebar2 selama memproses pencairan beassiwa. Berdebar-debar karena harus menanti dana yang tidak kunjung turun padahal kita sudah di-deadline oleh kampus untuk segera memulai studi atau melanjutkan proses berikutnya. Untuk bisa segera memulai proses itu tentu kita harus memenuhi kewajiban pada pihak kampus dan punya stipend untuk hidup di negeri orang. Mungkin karena pengiriman dosen untuk studi di luar negeri dengan full sponshor pake rupiah ini bagi Dikti masih program baru dan masih mencari “bentuk” sehingga pihak penerima mesti aktif, proaktif, bahkan dalam batas tertentu “greteh” agar dana beasiwa bisa segera cair.

kusut

Dibawah ini penggalan kisah mendebarkan yang saya alami saat mencairkan beasiswa tahap 2, Januari – Juni 2009 yang berbeda dengan pengalaman pencairan tahan 1. Pencairan tahap satu dulu dilakukan dengan cara Kopertis mentransfer langsung dana beasiswa ke rekening karyasiswa. Untuk tahap 2 ini, dana tidak ditransfer langsung ke rekening penerima tapi melalui kampus asal karyasiswa tersebut. Dari kampus baru ditransfer ke dosen yang bersangkutan.

Awal Maret 2009 yang lalu saya memperoleh informasi dari bagian keuangan kampus bahwa dana dari Kopertis sudah dikirim ke rekening rektor di BNI. Dari rekening BNI dana tidak langsung dikirim ke rekening kita yang di Ausia, tapi dikirim dulu ke rekening bendahara kampus yang di BPD. Untuk bisa mengeluarkan dana dari BPD ini harus ada SK turunan dari Kontrak Rektor dengan Kopertis yang menerangkan dana tersebut akan dikirim ke dosennya yang sedang studi di Australia. Bagian keuangan juga mengatakan bahwa mereka baru berani mengirim uang itu setelah ada tanda tangan kwitansi dari penerima. Untungnya, bulan February yang lalu saya ada preliminary research dan konference di Jakarta sehingga bisa mampir Jogja untuk mengurus pencairan tersebut. Kwitansi untuk saya bisa segera saya tanda-tangani, sedang untuk teman yang juga di Ausi saya harus meyakinkan pada meraka, akan kasihan teman tersebut kalo dananya baru ditransfer setelah kwitansi asli dikirim ke Ausi dulu baru dikrim balik ke Jogja. Akhirnya disepakati saya yang akan membawa kwitansi teman tersebut dan menjamin akan segera mengirim kembali ke UIN agar beasiswa saya dan satu teman tersebut bisa segera dikirim. Itu fase ‘mendebarkan’ babak pertama.

Fase ‘mendebarkan’ kedua terjadi ketika saya dipanggil kabag Keuangan. Beliau membacakan Kontrak yang menyatakan penerima beasiswa bersedia dipotong PPh 15%. Hampir saja dana beasiwa kami kena potong 15% dari total dana termasuk beaya SPP dan asuransi kesehatan. Berdasar pesan dari bagian keuangan Kopertis, saya katakan bahwa point dan besaran potongan pajaknya sudah ada di perincian dana pada lampiran Kontrak. Akhirnya beliau cermati lagi lampiran kontrak dan hanya memotong 15 dari living allowance dan uang buku.

Fase ketiga muncul ketika saya harus memantau sudah sampai di mana perjalanan dana beasiswa tersebut, sejak akhir bulan Februari and 3 hari pertama bulan Maret saya harus kontak terus dengan bag Keuangan Kopertis dan salah satuKepala Biro di kampus saya. Hari Senin tgl 2 Maret dapat info dari Kopertis bahwa dana sudah masuk ke masing-masing Perguruan Tinggi. Info tersebut saya gunakan untuk terus menanyakan ke Kabiro bahwa dana sudah ditransfer. Kenapa saya terus aktif bertanya, sebab tgl 5 Maret saya harus kembali ke Brisbane. Tangal 3 Maret siang, saya baru dapat telepon dari bagian keuangan kampus yang meminta saya menyerahkan nomor rekening dan menandatangan kwitansi. Semula bagian keuangan kampus yang akan mentrasfer dana tersebut ke rekening kami di Ausi, tetapi ketika di BPD mereka memperoleh informasi kalo transfer dari BPD ke rekening luar negeri biayanya mencapai tujuh jutaan rupiah. Wow, cukup mahal kan? Akhirnya dana beasiswa kami berdua dari BPD diambil cash pada Rabu 4 Maret siang, diserahkan ke saya dan saya sendiri yang diminta mentrasfer dari Mandiri ke rekening Ausi dengan beaya $30 dolar per transfer. Biaya tranfer ditanggung oleh kita, penerima beasiswa.

Episode ‘mendebarkan’ terakhir terjadi saat saya harus membawa dana ratusan juta tersebut –jumlah yang cukup besar untuk ukuran saya– dari BPD ke Mandiri. Tidak mau abil resiko akhirnya kami putuskan untuk minta pengawalan polisi, lengkap dengan senapan di badannya. Sampai di Bank Mandiri sudah mendekati jam 15. Pihak teller mengatakan kalo transfer cash akan butuh waktu lama, sebab uang harus dihitung dulu, dipastikan keasliannya, dll. Karena keburu bank akan segera tutup, akhirnya saya debit dulu uang tersebut ke rekening saya, baru kamis pagi sekitar jam 8 saya ke Mandiri lagi untuk mentransfer dana tersebut ke Ausi. Untuk mentrasfer ke 2 nomor rekning di Ausi saya harus ‘ngendong’ sekitar 120 menit di Mandiri. Padahal, Kamis  siang 5 Maret itu saya harus meninggalkan Jogja menuju Brisbane lagi.

Berdasar pengalaman tersebut, kebijakan untuk mentrasfer dulu dana beasiswa dari Kopertis ke kampus asal karyasiwa semakin manambah alur birokrasi yang rumit dan berkepanjangan. Belum lagi masing-masing perguruan tinggi punya kebijakan birokrasi yang khas, unik dan berbeda-beda, yang umumnya bila pihak yang berkepentingan tidak aktif menanyakan cenderung akan terabaikan.

Saat ini saya kembali memasuki fase mendebarkan KELIMA, sebab menurut informasi pihak Kopertis, dana tahap 3 untuk bulan Juli-Desember akan dicairkan bulan Juni ini. Sekarang sudah tanggal 10 Juni, tapi belum ada berita tentang prose pencairannya. Entah berapa episode kisah heroik untuk pencairan tahap 3 ini. Semoga semuanya lancar.

Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/unsunghero/90562369/

The Best Keyword for the article:

Dari Cleaner ke Main Film

Posted 08 Jun 2009 — by Muttaqin
Category Serba-serbi

Ada ada saja pengalaman unik di negeri orang. Selama saya di negeri Kangguru ini beragam “profesi” telah saya jalani. Resminya, saya adalah mahasiswa PhD di Griffith University. Namun keinginan untuk memperoleh selingan aktivitas yang menghasilkan dollar mendorong saya mencari “lowongan kerja” yang bisa diisi pada waktu luang. Salah satu keuntungan study di Australia ini mahasiswa diperbolehkan bekerja tanpa harus mengurus working permit sebagaimana di USA dulu. Student visa yang diberikan oleh kedubes Australia sekaligus berfungsi sebagai visa kerja, meski maksimum 20 jam perminggu.

siemens_vacuum_cleaner_11Debut perburuan dollar saya mulai dengan menjadi cleaner. Awalnya diajak teman, ikut membantu membersihkan toko yang lumayan luas di pagi hari dari jam 7.30 – 9.30an. Meski jadwal tidak pasti, pengalaman menyapu dan mengepel ini cukup memberi banyak pelajaran. Setidaknya saya tahu bagaimana sebuah toko itu dikelola secara professional. Selain di Toko, kadang saya juga diajak untuk membersihkan rumah orang Australia. Beragam bentuk rumah sudah saya masuki. Dari situ saya saya terkesan dengan tata ruang dan efisiensi pemanfaatan perabotannya.

pemotong-rumput1Pengalaman kedua adalah menjadi tukang kebun, bahasa kerennya gardener. Kurang lebih satu bulan saya bergelut dengan aktivitas ini, seminggu dua kali. Bos saya orang Palestina, korban agresi Israel yang sudah mengungsi di negara orang lebih dari 40 tahun. Tugas utama saya memotong rumput dengan mesin yang selalu menjerit-jerit memekakkan telinga. Saya harus mendorong mesin tersebut mengikuti contour lahan taman. Mengingat kota Brisbane itu berbukit dan sebagian besar perumahan berdiri di atas tanah yang miring, maka jarang ada taman di lahan yang datar. Ada yang memiliki kemiringan 10 derajat, ada yang 15, 30, bahkan ada yang mendekati 45 derajat! Bisa dibayangkan betapa beratnya mendorong keatas mesin dengan bobot 30kg lebih di lahan yang miring itu. Jangan ditanya betapa bengkaknya otot tangan dan kaki saya seusai menjadi garneger di hari pertama. Berpuluh-puluh taman rumah Australia sudah pernah saya potong rumputnya. Dari situ saya bisa menyaksikan rumah dan taman yang asri dan indah bak istana. Dalam hati saya berkata, “apa karena orang-orang Barat itu sudah bisa membuat surga di dunia sehingga tidak lagi percaya pada surga di akherat?”

kamera-film-23Pengalaman yang paling menantang adalah menjadi “bintang” film. Hingga awal Juni 2009 ini saya sudah terlibat dalam tiga film/serial TV. Yang pertama Film Denmark yang mengambil lokasi shooting di Brisbane, berjudul At the World End. Film ini bercerita tentang sekelompok ilmuwan Denmark yang tengah meneliti bunga di pedalaman hutan Sumatra. Konon bunga tersebut bahan baku obat awet muda. Karena tertarik dengan khasiatnya, berbagai kelompok mafia berebut ingin menguasainya. Aparat keamanan Indonesia terpaksa terlibat karena perang perebutan bunga itu berada di wilayah hukum Indonesia. Pada film ini saya berperan sebagai salah satu ipir penjara Cipinang yang sedang mengawasi tahanan kelas wahid, dilengkapi dengan seragam dan ‘pistol’ di pinggang sambil menenteng M16 beneran.

Film kedua adalah serial Sea Patrol dari Chanel 9 Televisi Australia. Bila dalam At the Wold End saya menjadi Sipir penjara yang sok gagah mengawasi tahanan, dalam Sea Patrol ini giliran saya harus bermuka memelas, memohon iba sebagai nelayan yang ditangkap oleh Otoritas laut Australian karena melakukan illegal fishing.

Film ketiga adalah iklan TV comersial dari Griffith University. Inilah peran saya yang paling keren, sebab saya tidak lagi menjadi sipir maupun pesakitan tapi sebagai businessman sebuah multinational company. Saya sedang terlibat dalam international meeting dengan kolege business mancanegara, berpakain necis bak executive dan professional muda dan selalu menebar senyum namun dengan tetap terjaga kewibawaannya.

Keterlibatan saya dalam dunia film, meskipun hanya sebagai pemain extra, telah menyadarkan bahwa proses produksi film itu sedemikian pelik, rumit, dan high cost. Hanya untuk mendapatkan adegan kurang dari 10 menit saja, kadang diperlukan waktu 12 bahkan bisa sampe 24 jam. Dulu saya begitu mudah mencemooh film-film yang saya tidak suka, namun setelah terlibat denganproses shooting, saya makin bisa mengapresiasi sebuah karya.

Sumber foto:  http://www.appliancist.com/green_appliances/siemens-automatic-vacuum-cleaner-z4.html | etc

The Best Keyword for the article: