<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIFE FOR OTHERS &#187; Indonesiana</title>
	<atom:link href="http://www.ahmadmuttaqin.com/tag/indonesiana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ahmadmuttaqin.com</link>
	<description>:Berbagi Merajut Kebersamaan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 03:50:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Orang-orang Terancam</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/20/orang-orang-terancam/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/20/orang-orang-terancam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 23:46:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Demographic]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim-Christian Relation]]></category>
		<category><![CDATA[Paranoid]]></category>
		<category><![CDATA[Thesis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order (2006), itulah judul disertasi doktoral dosen IAIN Antasari di ISIM/Leiden, Belanda. Ia mengkaji hubungan Muslim-Kristen Indonesia pada masa Orde Baru, menggambarkan ketidaknyamanan hubungan keduanya karena dipenuhi kecurigaan dan rasa saling terancam yang bermuara pada problem politik. Secara tidak langsung, disertasi tersebut “menguatkan” dua thesis master saya, Wacana [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F20%2Forang-orang-terancam%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F20%2Forang-orang-terancam%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Indonesiana,Muslim+Demographic,Muslim-Christian+Relation,Paranoid,Thesis&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="TEXT-ALIGN: left"><em><img class="alignleft size-full wp-image-417" title="paranoid2" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/08/paranoid2.jpg" alt="paranoid2" width="204" height="288" />Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order </em>(2006), itulah judul disertasi doktoral dosen IAIN Antasari di ISIM/Leiden, Belanda. Ia mengkaji hubungan Muslim-Kristen Indonesia pada masa Orde Baru, menggambarkan ketidaknyamanan hubungan keduanya karena dipenuhi kecurigaan dan rasa saling terancam yang bermuara pada problem politik. Secara tidak langsung, disertasi tersebut “menguatkan” dua thesis master saya, <em>Wacana Kristenisasi di Indonesia dan Implikasinya pada Hubungan-Muslim Kristen </em>(2002) di Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan <em>Christianization and Islamization Discourses in Modern Indonesia: A Struggle for Representing Power </em>(2005) di Florida International University, Mimai, USA  (2005). </p>
<p style="TEXT-ALIGN: left">Dalam thesis pertama saya mengkaji implikasi wacana Kristenasisasi terhadap hubungan Muslim-Kristen dan melihat respon pihak Kristiani terhadap wacana tersebut. Sedangkan di thesis kedua, sebagai pengembangan dari thesis pertama, saya mengungkap tidak hanya wacana Kristenisasi di media massa Muslim namun juga wacana Islamisasi yang muncul di media massa Kristiani, mulai dari sejarah kemunculnya, konteks sosial budaya dan politik, proses produksi dan agensinya, siklus kemunculannya, serta mindset di balik wacana tersebut.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: left"><span id="more-409"></span></p>
<p>Beberapa point yang bisa dipetik dari dua thesis tersebut, antara lain, siklus kemunculan wacana tersebut ternyata pararel dengan momen politik nasional. Ada kecenderungan produksi wacana Kristenisasi dan Islamisasi meningkat setiap menjelang pemilu. Ini mengindikasikan kelekatan wacana tersebut dengan “power” yang tengah diperebutkan. Coba tengok selebaran dan isu yang beredar saat pemilu kemarin: “Jangan pilih partai P sebab ia di back up kelompok K”; “Istri capres atau cawapres X bergama K”; juga “hati-hati, bila partai yang berasaskan I ini menang maka Indonesia akan menjadi negara theokrasi seperti Arab.”</p>
<p>Nuansa kecurigaan tersebut muncul karena hubungan Muslim-Kristen di Indonesia selama ini dilandasi oleh tiga nalar: (1) ketakutan dan kekawatiran; (2) kalah-menang; dan  (3) keterancaman. Sebagai missal, pihak Muslim merasa terancam dan khawatir dengan data statistik yang menyebutkan prosentase pemeluk Kristen selalu mengalami kenaikan. Mereka menganggap hal itu buah dari proses panjang kristenisasi di berbagai bidang yang berkongsi dengan penguasa awal Orde Baru. Di lain pihak, komunitas Kristen takut pada kemungkinan Indonesia menjadi Negara Islam dan kawatir dengan DPR/MPR yang makin lama makin ‘hijau’. Mereka juga menilai sejak akhir Orde Baru pemerintah makin akomodatif dengan kebijkan yang pro Islam seperti pendirian bank syariah, UU Perkawinan, UU pornografi, UU pendidikan dll. (Contoh-contoh lain, silahkan baca thesis saya saja, he he).  </p>
<p style="TEXT-ALIGN: center">__________</p>
<p>Sebenarnya, pola hubungan tidak sehat yang diselimuti kecurigaan dan keterancaman tidak melulu khas Indonesia, namun juga berkembang di negara-negara Barat yang menjadi <em>embah</em>nya demokrasi. Lihat saja video tentang Muslim Demographic  ini. Nuansa kekawatiran itu sedemikian kental. Simak baik-baik pernyataan terakhir sang narrator.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/o3UXrnDhcf4&amp;feature" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/o3UXrnDhcf4&amp;feature"> </embed></object></p>
<p> </p>
<p>Untungnya masyarakat sudah cerdas. Sadar bahwa video di atas sangat provoatif dan berpotensi memunculkan konflik horizontal dengan menggunakan sentimen agama, ada yang membuat video bantahan seperti ini:</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/RwqjVjAXwXg" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/RwqjVjAXwXg"> </embed></object></p>
<p> </p>
<p>Sampai di sini, ternyata membangun relasi antar komuntas berbeda secara tulus itu tidak mudah. Video pertama di atas menandakan demokratisasi saja tidak cukup, sebagian masyarakat Barat sendiri sedang ketakutan dengan sistem ‘suara terbanyak’ yang mereka buat. Perkembangan pesat komunitas Muslim di Eropa dan Amerika Utara menjadi sumber ketakutan baru. Tingginya Muslim growth population karena arus migrasi dan new born serta keenganan orang Barat bereproduksi dianggap telah mengancam ekistensi budaya Barat. Untuk membendungnya, sampai-sampai Perancis mengeluarkan larangan pemakaian simbol-simbol agama, termasuk mengenakan jilbab, di sekolah-sekolah negeri. Bahkan, mereka tengah menggodog undang-undang pelarangan wanita mengenakan <em>niqap </em>(cadar) di ruang publik serta burkini (pakaian renang lengkap dengan penutup kepala, tunik dan celana panjang) di kolam renang umum. Paranoid telah mendorong mereka berbuat apa saja, sekalipun harus melanggar ide besar yang selalu mereka dengungkan, HAM.</p>
<p>Sumber gambar: <a href="http://www.iomguide.com/paranoid.php">http://www.iomguide.com/paranoid.php</a> </p>
<p>Dua video di atas juga bisa diunduh di: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=o3UXrnDhcf4">http://www.youtube.com/watch?v=o3UXrnDhcf4</a> dan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=RwqjVjAXwXg">http://www.youtube.com/watch?v=RwqjVjAXwXg</a></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/20/orang-orang-terancam/" title="orang paranoid">orang paranoid</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/20/orang-orang-terancam/" title="kata kata bijak untuk paranoid">kata kata bijak untuk paranoid</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=409&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/20/orang-orang-terancam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasionalisme dalam Semangkuk Bakso</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 07:52:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar/News]]></category>
		<category><![CDATA[Brisbane]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Rakyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[Snake Peek Indonesian Festival: Pesta Rakyat 2009. Itu judul berita yang dipublikasikan oleh PPIA (Pehimpunan Pelajar Indonesia Australia) wilayah Quensland. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari kemerdekaan RI ke 64 ini diperingati warga Indonesia yang berada di Brisbane dan sekitarnya dengan menggelar “Pesta Rakyat”: bazzar makanan, kerajinan dan pakaian serta panggung hiburan nusantara. Siang itu, ratusan [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F16%2Fnasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F16%2Fnasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Brisbane,Indonesiana,Pesta+Rakyat&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-384" title="MieBakso" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/08/MieBakso.jpg" alt="MieBakso" width="300" height="132" />Snake Peek Indonesian Festival: Pesta Rakyat 2009</em>. Itu judul berita yang dipublikasikan oleh PPIA (Pehimpunan Pelajar Indonesia Australia) wilayah Quensland. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari kemerdekaan RI ke 64 ini diperingati warga Indonesia yang berada di Brisbane dan sekitarnya dengan menggelar “Pesta Rakyat”: bazzar makanan, kerajinan dan pakaian serta panggung hiburan nusantara.</p>
<p>Siang itu, ratusan orang berkerumun di Queens Street Square. Laki, perempuan, tua, muda, remaja, anak-anak, balita dan bayi berwajah melayu dan china khas Indonesia tumpek blek menyatu dengan tenda-tenda penjual bakso, gudeg, sate ayam, lontong, nasi campur, soto, bubur ketan, kering tempe, sambal teri, tahu isi, rujak, lotis, dan aneka makanan khas Indonesia. Beberapa lelaki bertampang bule juga terlihat dikerumunan itu. Meraka kebanyakan suami dari wanita Indonesia yang menikah dengan WNA Australia. Beberapa ibu ada yang menggelar tikar disamping tenda, bercengkerama dengan sanak dan famili. Sementara itu ratusan mahasiswa/i Indonesia sibuk lalu lalang, sebagian bapak-bapak berdiri membuat kelompok masing-masing, ngobrol sambil menikmati jajanan.</p>
<p><span id="more-382"></span>Seteleh melakukan survey ke hampir semua tenda untuk melihat lebih dekat menu yang mereka jual, akhirnya kuputuskan menjajal bakso made in Bribane. Tenda bakso ini terlihat paling rame. Meski yang dijual tidak hanya bakso, namun menu inilah yang paling banyak diserbu. Rasa<em> </em>lapar dan kangen pada tanah air membuatku rela berdiri antri demi mendapatkan jajanan yang sangat populer di Indonesia itu. Setelah mendapat jatah dan giliran mau membayar, penyakit <em>calculative currency </em>saya kambuh. Harga semangkung bakso itu $ 8.5 AUD, setara Rp. 70.000,00! Itulah bakso termahal yang pernah saya beli. Mengingat beasiswa studi saya pake rupiah, terjadilah perang batin: jadi beli atau tidak?. Sekedar perbandingan, di Jogja, dengan uang sebanyak itu saya bisa mendapat 10 – 15 mangkuk.</p>
<p>Maka yang terjadi-terjadilah. Ini kan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI yang setahun sekali. Tidak ada apa-apanya ‘pengorban’ merogoh tujuh puluh ribu untuk semangkuk bakso dibanding dengan perjuangan para pahlawan yang rela menyabung nyawa di medan perang. Saya katakana &#8216;pengorbanan&#8217; sebab bakso itu jauh dari yang saya bayangkan: kurang ‘nendang’ baik rasa dan aromanya. Berhubung sudah hampir enam bulan perut ini tidak disapa bakso, ludes juga satu mangkok jumbo itu. Mau tahu apa saja isinya? Mie gepeng, 3 bola bakso, 1 pangsit basah, 1 super mini spring role, irisan seledri, tauge, bawang goreng, sambal, kecap manis, kecap asin dan saus pedas. Saat menikmati bakso sambil duduk dipinggir pagar, kulihat beberapa bule ikut mengerumuni tenda. Muncul kebanggan ketika warga bangsa lain mau menikmati makanan dan jajanan nusantara.</p>
<p>Kira-kira tiga ratus meter dari lokasi bazzar, tepatnya di <em>Queen St Mall Stage</em>, kerumunan dengan jumlah 5 kali lipat lebih banyak dari yang di bazzar tampak asyik menikmati tarian saman khas aceh. Berkali-kali penontot memberikan applause pada belasan penari yang sedang beraksi. Usai tari saman, penonton dimanja dengan peragaan gaun pengantin adat nusantara. Di lokasi hiburan ini, nuansa international lebih tampak pada wajah penonton, meski mayoritas tetap Indonesia. Sama seperti makanan tadi, rasa bangga itu muncul kembali menyaksikan budaya dan kesenian kita diapresiasi oleh bangsa-bangsa lain.</p>
<p>Apakah kebanggaan saya tersebut bagian dari rasa nasionalisme, meski dalam kadar yang amat rendah? Silahkan diterjemahkan sendiri. Bukankah makanan dan kesenian bagian identitas dan budaya sebuah bangsa? Karena itulah saya sangat apresiatif terhadap segelintir warga Indonesia yang mau berpayah-payah membuka rumah makan khas nusantara meski harus bersaing dengan Asian restoran lain seperti Chinese, Sushi-Japanese, Thai, dan Vietnamese yang jumlahnya jauh lebih banyak. Selain mengumpulkan dollar di negeri orang mereka juga menjadi duta identitas bangsa. Melalui makanan mereka telah melakukan <em>cultural food diplomatic </em>secara langsung<em>,</em> melampaui diplomasi budaya dalam seni pertunjukkan.</p>
<p>Sumber gambar: <a href="http://www.shigotosoken.com/citacita/dining/page/dinner.html">http://www.shigotosoken.com/citacita/dining/page/dinner.html</a></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="pengertian bakso">pengertian bakso</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="definisi bakso">definisi bakso</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="Mimpi makan bakso">Mimpi makan bakso</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="puisi nasionalisme">puisi nasionalisme</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="arti mimpi makan bakso">arti mimpi makan bakso</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="kata bijak nasionalisme">kata bijak nasionalisme</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="puisi bakso">puisi bakso</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="puisi tentang bakso">puisi tentang bakso</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="nasionalisme indonesia">nasionalisme indonesia</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/" title="kata bijak tentang nasionalisme">kata bijak tentang nasionalisme</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=382&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/16/nasionbalisme-dalam-semangkuk-bakso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merdeka?</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/13/merdeka/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/13/merdeka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 03:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Enampuluh empat tahun usia republik-ku, namun kemerdekaannya hingga kini masih kusangsikan. Setiap bulan Agustus tanda tanya itu selalu muncul. Bukan hanya aku, kamu dan mereka kukira juga akan mempertanyakan status kemerdekaan ini; mengapa asing masih menguasai sumber daya mineral, bisnis strategis, arus informasi, bahkan juga makanan yang kita konsumsi. Coba lihat: teknologi informasi kita ambil [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F13%2Fmerdeka%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F08%2F13%2Fmerdeka%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Indonesiana,Merdeka&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-355" title="Merdeka" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/08/Merdeka.jpg" alt="Merdeka" width="324" height="243" />Enampuluh empat tahun usia republik-ku, namun kemerdekaannya hingga kini masih kusangsikan. Setiap bulan Agustus tanda tanya itu selalu muncul. Bukan hanya aku, kamu dan mereka kukira juga akan mempertanyakan status kemerdekaan ini; mengapa asing masih menguasai sumber daya mineral, bisnis strategis, arus informasi, bahkan juga makanan yang kita konsumsi.</p>
<p>Coba lihat: teknologi informasi kita ambil dari Amerika dan Eropa. Mobil dan motor kita datangkan dari Jepang. Daging dan susu yang kita minum produk Austraia dan New Zealand. Durian dan klengkeng yang tersaji di atas meja berasal dari Thailand. Bahkan bawang putih yang beredar di pasar tradisional pun diimpor dari China.</p>
<p>Lalu kemana saja putra-putri terbaik bangsa yang begelar doktor, insyinyur, dan ekonom itu? Diapakan saja tanah subur <em>gemah ripah loh jinawi</em> seluas nusantara itu? Apa saja yang diperbuat oleh petani dan nelayan kita selama ini? Kukira tidak bijak menggungat ketergantungan republik ini pada para insinyur, kaum intelek, petani, pedagang, juga nelayan. Aku yakin mereka telah bekerja keras sesuai bidangnya. Petani kita itu, misalnya, telah bekerja luar biasa: berangkat ke ladang pagi ba’da subuh; menjelang dhuhur pulang lalu dua jam kemudian  ke ladang lagi hingga menjelang maghrib. Kukira mitos pribumi malas yang mengatakan “orang Melayu kalau bekerja tidak berkeringat, kalau makan baru berkeringat,” itu sangat menyesatkan.</p>
<p><span id="more-354"></span>Jadi, yang mesti digugat atas ‘kemerdekaan semu’ ini para penguasa republik, baik eksekutif, legislative maupun yudikatif itu. Tanyakan apa yang telah mereka perbuat untuk menciptakan kedaulatan pangan, kemandirian teknologi, indepensi informasi, pengembangan jatidiri, dan kebanggaan pada budaya sendiri! Tanya kenapa mereka masih selalu bergantung pada konsultan asing dan ‘menelantarkan’ anak bangsa?! Tanya kenapa mereka kurang berdaya membela warganya  yang telah menjadi pahlawan devisa?! Tanya kenapa mereka menerapkan tariff hampir 0% impor produk-produk pangan yang jelas akan mengancam produktifitas petani dan peternak kita?! Tanya kenapa mereka memberi keleluasan hypermarket “melibas” pasar-pasar tradisional?! Tanya kenapa distribusi pupuk tersendat?! Tanya kenapa tempe dan tahu kita begitu tergantung pada kedelai Amerika? Tanya kenapa explorasi tambang lebih dipercayakan pada perusahaan PMA? Tanya kenapa BUMN strategis dilego dengan harga &#8220;kacang&#8221;? Tanya kenapa korupsi masih menggurita?! Tanya kenapa… Tanya kenapa… dan begitu seterusnya.</p>
<p>Aku tidak anti asing. Aku juga tidak sedang mencemooh atau menihilkan prestasi pemimpin negeri ini. Aku hanya ingin &#8220;game&#8221; berjalan dengan adil sehingga warga punya <em>equal position in their battlefields </em>di tengah dunia yang makin terlipat. Aku merindukan pemerintahan yang berwibawa di kancah global. Yang berani berkata tidak atas kesewenangan.  Aku geram mengapa kita belum bisa sepenuhnya merdeka.</p>
<p>Sumber foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/leoroubos/2156214722/">http://www.flickr.com/photos/leoroubos/2156214722/</a></p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=354&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/13/merdeka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cukup Satu Kali</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/16/cukup-satu-kali/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/16/cukup-satu-kali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 02:20:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Barack Hussein Obama]]></category>
		<category><![CDATA[Incumbent]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Menutut Foucault, pemenang dalam partarungan politik bukan siapa yang memperoleh suara terbanyak tapi siapa yang menentukan aturan main pertandingan itu. Masalahnya, apa yang akan terjadi bila diantara petarung teryata merangkap sebagai pembuat aturan? Itulah mengapa incumbent selalu memiliki lebih banyak kapital menang dibanding peserta lain. Meski berbagai aturan telah sedemikian rupa mengeliminir campur tangan incumbent [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F16%2Fcukup-satu-kali%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F16%2Fcukup-satu-kali%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Barack+Hussein+Obama,Incumbent,Indonesiana,Pemilu&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal"><span><img class="alignleft size-full wp-image-173" title="number-one" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/number-one.jpg" alt="number-one" width="217" height="222" />Menutut Foucault, pemenang dalam partarungan politik bukan siapa yang memperoleh suara terbanyak tapi siapa yang menentukan aturan main pertandingan itu. Masalahnya, apa yang akan terjadi bila diantara petarung teryata merangkap sebagai pembuat aturan? Itulah mengapa incumbent selalu memiliki lebih banyak kapital menang dibanding peserta lain. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Meski berbagai aturan telah sedemikian rupa mengeliminir campur tangan incumbent pada lembaga idependent pelaksana pertadingan, namun relasi kuasa antar lembaga yang berpusat pada <em>the incumbent</em> menjadikan lembaga tersebut sulit bisa netral 100%. Pun demikian juga pada lembaga pengawas<span> </span>dan perangkat penegak hukum lain yang dibentuk untuk mengontrol kerja pelaksana. Yang sering terjadi, laporan dari incumbent biasanya direspon dengan cepat, sementara laporan atas kecurangan incumbent cenderung diabaikan.<span id="more-170"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mengingat begitu kuat aura kuasa incumbent yang sering mempengaruhi netralitas kerja pelaksana dan pengawas, saya kok berfikir sebaiknya jabatan publik itu dibuat satu periode saja. Bila masa baktinya habis, maka yang bersangkutan tidak perlu mencalonkan lagi, atau tidak boleh dicalonkan lagi. Dengan demikian ia akan bekerja maksimal selama satu periode, mengurus pertandingan politik di ujung masa kerjanya tanpa tumpang tindih dengan ambisi pribadinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dari segi regenerasi, pilihan satu periode ini juga lebih memberi peluang proses pembeliaan pimpinan. Mau tidak mau, wajah-wajah baru tertantang untuk tampil ke depan mengambil alih estafet kepemimpinan. Satu periode juga tidak membosankan, masak selama 3 pemilu sejak reformasi, kita hanya disuguhi ‘elo lagi, elo lagi…’ Capek deeh….!!! <span> </span><span> </span></span></p>
<p><strong>Presiden Amerika Serikat</strong>, <strong>Barack Hussein Obama,</strong> baru-baru  baru ini sudah menyatakan kalau dirinya lebih memilih menjadi president satu periode namun memiliki prestasi gemiliang dari pada dua periode dengan prestasi pas-pasan. Nah, silahkan nilai, bagaimana prestasi para presiden republik ini. Coba hitung score prestasi tiap president, lebih banyak yang gemilang, pas-pasan, atau jangan-jangan memalukan? Karena itu, mari kita kampanyekan <em>once is enough, twice is too much. </em><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p class="MsoNormal"><em> <span><span>Sumber gambar: <a href="http://www.myspace.com/yellowhammertunes">http://www.myspace.com/yellowhammertunes</a></span></span></em><!--EndFragment--></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/16/cukup-satu-kali/" title="bunga islam">bunga islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/16/cukup-satu-kali/" title="number one">number one</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/16/cukup-satu-kali/" title="aturan main">aturan main</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/16/cukup-satu-kali/" title="pengertian number one">pengertian number one</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=170&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/16/cukup-satu-kali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contreng !!!</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/08/contreng/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/08/contreng/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 05:29:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Contreng]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[TPS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Harapan perubahan itu kumulai hari ini. Bersama satu teman yang mengambil PhD bidang climate change asal Kendari, kami berangkat ke TPS. Sampai di lokasi berpuluh warga telah mengantri. Mereka bergerompol, ada yang berdiri, duduk di kursi, banyak juga yang melingkari meja penjualan makanan khas nusantara: siomay, pempek, tekwan, juga teh kotak. Seorang Bapak yang berdiri [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F08%2Fcontreng%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2009%2F07%2F08%2Fcontreng%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Contreng,Indonesiana,Pemilu,TPS&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"><img class="alignleft size-full wp-image-126" title="pemilu_20093" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/pemilu_20093.jpg" alt="pemilu_20093" width="68" height="114" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Harapan perubahan itu kumulai hari ini. Bersama satu teman yang mengambil <strong>PhD bidang climate change</strong> asal Kendari, kami berangkat ke TPS. Sampai di lokasi berpuluh warga telah mengantri. Mereka bergerompol, ada yang berdiri, duduk di kursi, banyak juga yang melingkari meja penjualan makanan khas nusantara: siomay, pempek, tekwan, juga teh kotak. Seorang Bapak yang berdiri di depan pintu mengatakan, untuk masuk ruangan TPS kita harus antri. Saya sendiri dapat nomor urut 10. Begitu giliran tiba, saya serahkan paspor dan surat undangan pada panitia. Sekitar sepuluh orang tampak sudah duduk di dalam ruangan menunggu giliran mencontreng. Saya menuju deretan kursi paling belakang. Lima menit kemudian, kira-kira pukul 12.14 nama saya dipanggil. Panitia menyerahkan kembali paspor saya dan memberi &#8220;kupon&#8221; tertulis angka 5. Saya serahkan kupon itu pada meja berikutnya dan panitia menggantinya dengan  kartu suara. Ia meminta saya membuka kartu tersebut dihadaannya, mengecek kalau-kalau ada kerusakan. Setelah dipastikan kartu &#8220;aman&#8221;, dengan pasti kulangkahkah kakiku menuju bilik pencontrengan. Sejak pagi jam 09.00 hingga petang pukul 20.00 waktu setempat, warga negara Indonesia yang berada di Brisbane dan sekitarnya diberi kesempatan untuk menentukan pilihan president dan wakil president RI ke 7 di Gedung 69 ruang 110 <strong>University of Queensland, St Lucia Campus. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Diujung pilpres 2009 yang heboh dan carut marut ini saya masih ingat berbagai analisis politik, rumor, issue, dan kampanye gelap berseliweran dengan janji-janji manis para capres dan cawapres. Saat menuju bilik suara, satu demi satu memori hingar-bingar kampanye yang terekam diberbagai media, milis, facebook dan obrolan santai muncul: mulai dari saling sindir dan cibir antar capres, lomba &#8220;ramalan&#8221; antar lembaga survey tentang prediksi perolehan suara masing-maisng calon, isu antek neolib, permainan canggih &#8220;merekayasa&#8221; polling sms, penelanjangan identitas agama keluarga cawapres, politik jilbab istri para capres dan cawapres, sinyalement salah satu capres yang gemar pada dunia klenik, &#8220;pelecehan&#8221; etnis tertentu oleh salah satu tim sukses, kisruh DPT hingga dugaan ketidaknetralan KPU. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Sesampai di bilik, kartu suara segera saya buka dan kutemukan tiga pasang gambar capres dan cawapres. Semuanya berdandan rapi. Tatapannya mantap dengan sedikit senyum refleksi orang terhormat penuh martabat. Melihat foto wajah-wajah gagah dan bersih itu, rasanya sulit dipercaya kalau di negeri tempat mereka berlaga &#8221;berebut&#8221; menjadi yang nomor satu masih banyak dijumpai pengangguran, komunitas kumuh, busung lapar, serta anak-anak tidak sekolah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Satu persatu foto mereka saya pandangi. Dalam hati saya bertanya, “hanya inikah stok calon pemimpin republik yang berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa?” Mataku kemudian fokus pada pasangan yang berada di ujung paling kiri. Saya teringat slogan-slogannya yang ingin memperjuangkan rakyat kecil, menyelamatkan ekonomi rakyat, berjanji pertumbuhan ekonomi diatas dua dugit, dan berteriak lantang anti neolib. Saya terbakar semangat mereka ingin mewujudkan negeri yang mandiri dan disegani. Namun saya segera berfikir, bagaimana mungkin itu terwujud <em>wong</em> dulu ketika capres tersebut menjadi presiden banyak BUMN strategis yang dijual? Saat mataku menatap pasangan yang di tengah, saya mengerti  dia telah berusa berbuat, diantaranya merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN meski itu atas &#8220;ultimatum&#8221;  Mahkamah Konstitusi; juga usahanya memberantas  korupsi meski dinilai masih tebang pilih. Namun aku juga tahu dari berbagi media dan milis, ia dikenal melankolis, sibuk membangun citra dan tebar pesona. Tim suksesnya juga terkesan pongah. Apa kayak gini yang mesti dilanjutkan? Dan ketika mataku tertuju pada pasangan di ujung kanan, saya mengenal semboyan mereka “the sooner the better” yang katanya terjemahan dari <em>fastabiquu al-khairat. </em>Saya suka gaya ceplas ceplos saudagar ini.<em> </em>Namun rekam jejak pasangannya dinilai banyak orang masih punya hutang masa lalu terkait HAM. Sebagian kalangan juga khawatir bisnis keluarga capres ini akan bertabrakan dengan kepentingan Negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Akhirnya, dengan <em>bismillahirrahmanirrahiem</em>, saya tentukan pilihan pada pasangan capres dan cawapres yang, menurut saya, visioner, cepat tanggap, berani mengambil keputusan. Pokoknya yang bisa membawa kemajuan bangsa <em>LEBIH CEPAT, </em> mampu me<em>LANJUTKAN</em> yang lalu ke arah yang <em>LEBIH</em> BAIK, dan mengeluarkan kebijakan yang lebih <em>PRO </em><em>RAKYAT KECIL</em><em>.</em> </span><em><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;">Wallahu a’lam.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 6pt; margin-left: 0cm; text-align: center;"><em><span style="color: black; font-family: Georgia; mso-fareast-language: EN-AU;"><img class="size-large wp-image-133  aligncenter" title="pemilu-31" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/07/pemilu-31-1024x768.jpg" alt="pemilu-31" width="502" height="377" /></span></em></p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=118&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/08/contreng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

