Posts Tagged ‘Indonesiana’

Orang-orang Terancam

Posted 20 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Teropong

paranoid2Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order (2006), itulah judul disertasi doktoral dosen IAIN Antasari di ISIM/Leiden, Belanda. Ia mengkaji hubungan Muslim-Kristen Indonesia pada masa Orde Baru, menggambarkan ketidaknyamanan hubungan keduanya karena dipenuhi kecurigaan dan rasa saling terancam yang bermuara pada problem politik. Secara tidak langsung, disertasi tersebut “menguatkan” dua thesis master saya, Wacana Kristenisasi di Indonesia dan Implikasinya pada Hubungan-Muslim Kristen (2002) di Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Christianization and Islamization Discourses in Modern Indonesia: A Struggle for Representing Power (2005) di Florida International University, Mimai, USA  (2005). 

Dalam thesis pertama saya mengkaji implikasi wacana Kristenasisasi terhadap hubungan Muslim-Kristen dan melihat respon pihak Kristiani terhadap wacana tersebut. Sedangkan di thesis kedua, sebagai pengembangan dari thesis pertama, saya mengungkap tidak hanya wacana Kristenisasi di media massa Muslim namun juga wacana Islamisasi yang muncul di media massa Kristiani, mulai dari sejarah kemunculnya, konteks sosial budaya dan politik, proses produksi dan agensinya, siklus kemunculannya, serta mindset di balik wacana tersebut.

Read More

The Best Keyword for the article:

Nasionalisme dalam Semangkuk Bakso

Posted 16 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Kabar/News

MieBaksoSnake Peek Indonesian Festival: Pesta Rakyat 2009. Itu judul berita yang dipublikasikan oleh PPIA (Pehimpunan Pelajar Indonesia Australia) wilayah Quensland. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari kemerdekaan RI ke 64 ini diperingati warga Indonesia yang berada di Brisbane dan sekitarnya dengan menggelar “Pesta Rakyat”: bazzar makanan, kerajinan dan pakaian serta panggung hiburan nusantara.

Siang itu, ratusan orang berkerumun di Queens Street Square. Laki, perempuan, tua, muda, remaja, anak-anak, balita dan bayi berwajah melayu dan china khas Indonesia tumpek blek menyatu dengan tenda-tenda penjual bakso, gudeg, sate ayam, lontong, nasi campur, soto, bubur ketan, kering tempe, sambal teri, tahu isi, rujak, lotis, dan aneka makanan khas Indonesia. Beberapa lelaki bertampang bule juga terlihat dikerumunan itu. Meraka kebanyakan suami dari wanita Indonesia yang menikah dengan WNA Australia. Beberapa ibu ada yang menggelar tikar disamping tenda, bercengkerama dengan sanak dan famili. Sementara itu ratusan mahasiswa/i Indonesia sibuk lalu lalang, sebagian bapak-bapak berdiri membuat kelompok masing-masing, ngobrol sambil menikmati jajanan.

Read More

The Best Keyword for the article:

Merdeka?

Posted 13 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Teropong

MerdekaEnampuluh empat tahun usia republik-ku, namun kemerdekaannya hingga kini masih kusangsikan. Setiap bulan Agustus tanda tanya itu selalu muncul. Bukan hanya aku, kamu dan mereka kukira juga akan mempertanyakan status kemerdekaan ini; mengapa asing masih menguasai sumber daya mineral, bisnis strategis, arus informasi, bahkan juga makanan yang kita konsumsi.

Coba lihat: teknologi informasi kita ambil dari Amerika dan Eropa. Mobil dan motor kita datangkan dari Jepang. Daging dan susu yang kita minum produk Austraia dan New Zealand. Durian dan klengkeng yang tersaji di atas meja berasal dari Thailand. Bahkan bawang putih yang beredar di pasar tradisional pun diimpor dari China.

Lalu kemana saja putra-putri terbaik bangsa yang begelar doktor, insyinyur, dan ekonom itu? Diapakan saja tanah subur gemah ripah loh jinawi seluas nusantara itu? Apa saja yang diperbuat oleh petani dan nelayan kita selama ini? Kukira tidak bijak menggungat ketergantungan republik ini pada para insinyur, kaum intelek, petani, pedagang, juga nelayan. Aku yakin mereka telah bekerja keras sesuai bidangnya. Petani kita itu, misalnya, telah bekerja luar biasa: berangkat ke ladang pagi ba’da subuh; menjelang dhuhur pulang lalu dua jam kemudian  ke ladang lagi hingga menjelang maghrib. Kukira mitos pribumi malas yang mengatakan “orang Melayu kalau bekerja tidak berkeringat, kalau makan baru berkeringat,” itu sangat menyesatkan.

Read More

Cukup Satu Kali

Posted 16 Jul 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Teropong

number-oneMenutut Foucault, pemenang dalam partarungan politik bukan siapa yang memperoleh suara terbanyak tapi siapa yang menentukan aturan main pertandingan itu. Masalahnya, apa yang akan terjadi bila diantara petarung teryata merangkap sebagai pembuat aturan? Itulah mengapa incumbent selalu memiliki lebih banyak kapital menang dibanding peserta lain.

Meski berbagai aturan telah sedemikian rupa mengeliminir campur tangan incumbent pada lembaga idependent pelaksana pertadingan, namun relasi kuasa antar lembaga yang berpusat pada the incumbent menjadikan lembaga tersebut sulit bisa netral 100%. Pun demikian juga pada lembaga pengawas dan perangkat penegak hukum lain yang dibentuk untuk mengontrol kerja pelaksana. Yang sering terjadi, laporan dari incumbent biasanya direspon dengan cepat, sementara laporan atas kecurangan incumbent cenderung diabaikan. Read More

The Best Keyword for the article:

Contreng !!!

Posted 08 Jul 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Serba-serbi

pemilu_20093

Harapan perubahan itu kumulai hari ini. Bersama satu teman yang mengambil PhD bidang climate change asal Kendari, kami berangkat ke TPS. Sampai di lokasi berpuluh warga telah mengantri. Mereka bergerompol, ada yang berdiri, duduk di kursi, banyak juga yang melingkari meja penjualan makanan khas nusantara: siomay, pempek, tekwan, juga teh kotak. Seorang Bapak yang berdiri di depan pintu mengatakan, untuk masuk ruangan TPS kita harus antri. Saya sendiri dapat nomor urut 10. Begitu giliran tiba, saya serahkan paspor dan surat undangan pada panitia. Sekitar sepuluh orang tampak sudah duduk di dalam ruangan menunggu giliran mencontreng. Saya menuju deretan kursi paling belakang. Lima menit kemudian, kira-kira pukul 12.14 nama saya dipanggil. Panitia menyerahkan kembali paspor saya dan memberi “kupon” tertulis angka 5. Saya serahkan kupon itu pada meja berikutnya dan panitia menggantinya dengan  kartu suara. Ia meminta saya membuka kartu tersebut dihadaannya, mengecek kalau-kalau ada kerusakan. Setelah dipastikan kartu “aman”, dengan pasti kulangkahkah kakiku menuju bilik pencontrengan. Sejak pagi jam 09.00 hingga petang pukul 20.00 waktu setempat, warga negara Indonesia yang berada di Brisbane dan sekitarnya diberi kesempatan untuk menentukan pilihan president dan wakil president RI ke 7 di Gedung 69 ruang 110 University of Queensland, St Lucia Campus.

Diujung pilpres 2009 yang heboh dan carut marut ini saya masih ingat berbagai analisis politik, rumor, issue, dan kampanye gelap berseliweran dengan janji-janji manis para capres dan cawapres. Saat menuju bilik suara, satu demi satu memori hingar-bingar kampanye yang terekam diberbagai media, milis, facebook dan obrolan santai muncul: mulai dari saling sindir dan cibir antar capres, lomba “ramalan” antar lembaga survey tentang prediksi perolehan suara masing-maisng calon, isu antek neolib, permainan canggih “merekayasa” polling sms, penelanjangan identitas agama keluarga cawapres, politik jilbab istri para capres dan cawapres, sinyalement salah satu capres yang gemar pada dunia klenik, “pelecehan” etnis tertentu oleh salah satu tim sukses, kisruh DPT hingga dugaan ketidaknetralan KPU.

Sesampai di bilik, kartu suara segera saya buka dan kutemukan tiga pasang gambar capres dan cawapres. Semuanya berdandan rapi. Tatapannya mantap dengan sedikit senyum refleksi orang terhormat penuh martabat. Melihat foto wajah-wajah gagah dan bersih itu, rasanya sulit dipercaya kalau di negeri tempat mereka berlaga ”berebut” menjadi yang nomor satu masih banyak dijumpai pengangguran, komunitas kumuh, busung lapar, serta anak-anak tidak sekolah.

Satu persatu foto mereka saya pandangi. Dalam hati saya bertanya, “hanya inikah stok calon pemimpin republik yang berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa?” Mataku kemudian fokus pada pasangan yang berada di ujung paling kiri. Saya teringat slogan-slogannya yang ingin memperjuangkan rakyat kecil, menyelamatkan ekonomi rakyat, berjanji pertumbuhan ekonomi diatas dua dugit, dan berteriak lantang anti neolib. Saya terbakar semangat mereka ingin mewujudkan negeri yang mandiri dan disegani. Namun saya segera berfikir, bagaimana mungkin itu terwujud wong dulu ketika capres tersebut menjadi presiden banyak BUMN strategis yang dijual? Saat mataku menatap pasangan yang di tengah, saya mengerti  dia telah berusa berbuat, diantaranya merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN meski itu atas “ultimatum”  Mahkamah Konstitusi; juga usahanya memberantas  korupsi meski dinilai masih tebang pilih. Namun aku juga tahu dari berbagi media dan milis, ia dikenal melankolis, sibuk membangun citra dan tebar pesona. Tim suksesnya juga terkesan pongah. Apa kayak gini yang mesti dilanjutkan? Dan ketika mataku tertuju pada pasangan di ujung kanan, saya mengenal semboyan mereka “the sooner the better” yang katanya terjemahan dari fastabiquu al-khairat. Saya suka gaya ceplas ceplos saudagar ini. Namun rekam jejak pasangannya dinilai banyak orang masih punya hutang masa lalu terkait HAM. Sebagian kalangan juga khawatir bisnis keluarga capres ini akan bertabrakan dengan kepentingan Negara.

Akhirnya, dengan bismillahirrahmanirrahiem, saya tentukan pilihan pada pasangan capres dan cawapres yang, menurut saya, visioner, cepat tanggap, berani mengambil keputusan. Pokoknya yang bisa membawa kemajuan bangsa LEBIH CEPAT, mampu meLANJUTKAN yang lalu ke arah yang LEBIH BAIK, dan mengeluarkan kebijakan yang lebih PRO RAKYAT KECIL. Wallahu a’lam.

pemilu-31