Idul Fitri 1432 H ini merupakan kali kesian yang saya rayakan tidak bersama keluarga. Tahun 2004 dan 2005 saya merayakkanya di negeri paman Sam, dan sejak 2009 saya mesti merakayakannya di negeri Kangguru. Setiap kali memasuki malam takbiran, perasaan jadi nano-nano: sedih, senang, sepi, sunyi dan bingung. Sedih, sebab Ramadhan, sang tamu Agung, akan segara pergi; senang, karena besok pagi idul fitri; sepi, soalnya mesti merayakn idul fitri sendiri jauh dari anak istri; sunyi, karena tidak terdengar gema takbir dari anak-anak di jalanan dan pengeras suara masjid atau mushalla, semua mesti saya cipatakan sendiri dalam hati, di kamar yang dingin dan senyap.
Lalu mengapa kok bingung? Apa sulit mencari tempat sholat Ied di negara mayoritas non Muslim tersebut? Jawabnya ya dan tidak. Semuanya berpangkal pada seringnya terjadi perbedaan waktu penyelenggaraan idul fitri dan idul adha antara mesjid yang menggunakan metode hisab dengan yang menggunakan rukyat dalam penentuan tanggal 1 syawal. Jadi, saya mesti cari tahu ke “Professor Goegle” tentang waktu dan lokasi penyelenggaraan solat ied terdekat. Read More