Ada ada saja pengalaman unik di negeri orang. Selama saya di negeri Kangguru ini beragam “profesi” telah saya jalani. Resminya, saya adalah mahasiswa PhD di Griffith University. Namun keinginan untuk memperoleh selingan aktivitas yang menghasilkan dollar mendorong saya mencari “lowongan kerja” yang bisa diisi pada waktu luang. Salah satu keuntungan study di Australia ini mahasiswa diperbolehkan bekerja tanpa harus mengurus working permit sebagaimana di USA dulu. Student visa yang diberikan oleh kedubes Australia sekaligus berfungsi sebagai visa kerja, meski maksimum 20 jam perminggu.
Debut perburuan dollar saya mulai dengan menjadi cleaner. Awalnya diajak teman, ikut membantu membersihkan toko yang lumayan luas di pagi hari dari jam 7.30 – 9.30an. Meski jadwal tidak pasti, pengalaman menyapu dan mengepel ini cukup memberi banyak pelajaran. Setidaknya saya tahu bagaimana sebuah toko itu dikelola secara professional. Selain di Toko, kadang saya juga diajak untuk membersihkan rumah orang Australia. Beragam bentuk rumah sudah saya masuki. Dari situ saya saya terkesan dengan tata ruang dan efisiensi pemanfaatan perabotannya.
Pengalaman kedua adalah menjadi tukang kebun, bahasa kerennya gardener. Kurang lebih satu bulan saya bergelut dengan aktivitas ini, seminggu dua kali. Bos saya orang Palestina, korban agresi Israel yang sudah mengungsi di negara orang lebih dari 40 tahun. Tugas utama saya memotong rumput dengan mesin yang selalu menjerit-jerit memekakkan telinga. Saya harus mendorong mesin tersebut mengikuti contour lahan taman. Mengingat kota Brisbane itu berbukit dan sebagian besar perumahan berdiri di atas tanah yang miring, maka jarang ada taman di lahan yang datar. Ada yang memiliki kemiringan 10 derajat, ada yang 15, 30, bahkan ada yang mendekati 45 derajat! Bisa dibayangkan betapa beratnya mendorong keatas mesin dengan bobot 30kg lebih di lahan yang miring itu. Jangan ditanya betapa bengkaknya otot tangan dan kaki saya seusai menjadi garneger di hari pertama. Berpuluh-puluh taman rumah Australia sudah pernah saya potong rumputnya. Dari situ saya bisa menyaksikan rumah dan taman yang asri dan indah bak istana. Dalam hati saya berkata, “apa karena orang-orang Barat itu sudah bisa membuat surga di dunia sehingga tidak lagi percaya pada surga di akherat?”
Pengalaman yang paling menantang adalah menjadi “bintang” film. Hingga awal Juni 2009 ini saya sudah terlibat dalam tiga film/serial TV. Yang pertama Film Denmark yang mengambil lokasi shooting di Brisbane, berjudul At the World End. Film ini bercerita tentang sekelompok ilmuwan Denmark yang tengah meneliti bunga di pedalaman hutan Sumatra. Konon bunga tersebut bahan baku obat awet muda. Karena tertarik dengan khasiatnya, berbagai kelompok mafia berebut ingin menguasainya. Aparat keamanan Indonesia terpaksa terlibat karena perang perebutan bunga itu berada di wilayah hukum Indonesia. Pada film ini saya berperan sebagai salah satu ipir penjara Cipinang yang sedang mengawasi tahanan kelas wahid, dilengkapi dengan seragam dan ‘pistol’ di pinggang sambil menenteng M16 beneran.
Film kedua adalah serial Sea Patrol dari Chanel 9 Televisi Australia. Bila dalam At the Wold End saya menjadi Sipir penjara yang sok gagah mengawasi tahanan, dalam Sea Patrol ini giliran saya harus bermuka memelas, memohon iba sebagai nelayan yang ditangkap oleh Otoritas laut Australian karena melakukan illegal fishing.
Film ketiga adalah iklan TV comersial dari Griffith University. Inilah peran saya yang paling keren, sebab saya tidak lagi menjadi sipir maupun pesakitan tapi sebagai businessman sebuah multinational company. Saya sedang terlibat dalam international meeting dengan kolege business mancanegara, berpakain necis bak executive dan professional muda dan selalu menebar senyum namun dengan tetap terjaga kewibawaannya.
Keterlibatan saya dalam dunia film, meskipun hanya sebagai pemain extra, telah menyadarkan bahwa proses produksi film itu sedemikian pelik, rumit, dan high cost. Hanya untuk mendapatkan adegan kurang dari 10 menit saja, kadang diperlukan waktu 12 bahkan bisa sampe 24 jam. Dulu saya begitu mudah mencemooh film-film yang saya tidak suka, namun setelah terlibat denganproses shooting, saya makin bisa mengapresiasi sebuah karya.
Sumber foto: http://www.appliancist.com/green_appliances/siemens-automatic-vacuum-cleaner-z4.html | etc
The Best Keyword for the article: