Mendengar hal itu Hasan lalu berkata pada budaknya bahwa mulai detik itu juga ia bebas, menjadi manusia merdeka. Tidak hanya itu, Hasan bahkan memberinya 400 keping dirham. Bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini, 400 dirham itu sama dengan: 400 x Rp. 37.000,00 = Rp. 14.800.000,00 !!!)
__________
Oleh: Ahmad Muttaqin
Ayat 133-134 QS. Ali Imran sedemikian popular pada bulan Syawal, menjadi ayat pilihan yang paling banyak dibaca dan diulas oleh para ustadz, kyai, dan mubaligh di berbagai forum pengajian, taklim, maupun seremonial. Di acara syawalan atau halal bil-halal, dua yat ini nyaris tidak pernah absen dibaca sebagai “legitimasi” tradisi saling memaafkan.
Saking populernya dan khawatir dua ayat ini dikultuskan, salah seorang khatib Jum’at di Yogyakarta pada khutbahnya pada H+14 dari Idul Fitri mengingatkan: “Jamah jum’at rahimakumullah…, sekali lagi saya tegaskan ayat 133-134 surat Ali Imran ini bukan ayat syawalan!!”



“Saudara-saudara bisa berdoa [sholat] lima kali sehari. Namun, kalau akhlakmu, tetap buruk, tidak ada gunanya. Saudara-saudara bisa berdoa dengan teratur, akan tetapi bilamana saudara tetap rakus, kikir, tidak mempunyai rasa prihatin terhadap orang miskin dan berkekurangan, maka doamu tidak akan diterima oleh Allah. Saudara tidak akan masuk surga akan tetapi Neraka. Saudara bisa menyelesaikan tugas puasa. Namun bilamana saudara tetap berbicara buruk tentang orang lain, masih berlaku sombong, tidak ada gunanya berpuasa. Puasamu tidak akan diakui oleh Allah. Nabi berkata: ‘Saya diutus kepadamu untuk memperbaiki akhlakmu, budi pekerti.’ Karena itu mari melakukan doa [sholat], puasa, naik haji, membayar sedakah, dan di atas segala-galanya ini, mari kita memperbaiki akhlak, budi pekerti kita.”