Search Results muttaqin+definition

Between Islam, the market and spiritual revolution

Posted 30 Sep 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category English, Teropong

Screen shot 2009-10-25 at 8.43.25 AMAhmad Munjid’s article “Thick Islam and Deep Islam” (The Jakarta Post, Aug. 16, 2009) was responded to by Hilman Latief’s “Cosmopolitan Muslims: Urban vs. Rural Phenomenon” (the Post Aug. 29, 2009).

Although both Munjid and Hilman shared their ideas on the more obvious prevalence of Islamic identity among Indonesian Muslims, they differed in terms of categorization between urban and rural as well as “thick” and “deep” Islam.

Munjid noted that “Thick Islam” was an urban phenomenon, and that “Deep Islam” was a rural one, whereas Hilman argued that the thick and the deep could not be generalized based on urban and rural categories.

Although neither intended to stimulate classical binary opposition between the Muhammadiyah as an urban Muslim organization and the NU as a rural one, the “polemic” is nevertheless interesting if we reckon their backgrounds. Munjid, who is currently the president of the Nahdlatul Ulama Community in North America, would say that the rural tradition of the NU is better than the urban.

Hilman, meanwhile, as a lecturer at Muhammadiyah University’s School of Islamic Studies, in Yogyakarta, would answer that the urban Muslim of the Muhammadiyah are not identical with “Thick Islam”.

This discussion will not pretend to support either of them, but to emphasize the fact of religious change and its various trajectories in late modern era.

Read More

The Best Keyword for the article:

Muhammadiyah dan Sufisme

Posted 06 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Teropong

muhammadiyah2Di beberapa kesempatan, professor saya selalu bilang Sufisme tidak bakal mati. Meski puritanisme yang berkongsi dengan modernisme selalu berusaha memarginalkannya, ia selalu bisa hadir menerobos celah-celah kepenatan duniawi maupun ritual keagamaan yang terlalu formal dan “kering”. Kelenturannya beradaptasi dengan berbagai kondisi dan daya tahannya melintasi sekat-sekat aliran, kelompok, kelas sosial bahkan juga zaman merupakan nilai lebih mystical experience dalam Islam itu.

Muhammadiyah yang selama ini identik dengan organisasi Muslim kaum modernis berulang kali dinilai sebagai salah satu yang anti, atau setidaknya kurang ramah dan tidak apresiatif terhadap Sufisme (Howell 2001, 2004, 2007, 2008). Tampaknya, penilain ini berdasar pada: (1) Citra Modern Muhammadiyah, sementara kaum modern itu sendiri selalu melihat mystical experience bagian dari barrier yang menghambat kemajuan. Lebih kejam lagi, modernisme melekatkan mistisisme dengan keterbelakangan [backwards]. Penilaian Muhammadiyah sebagai gerakan yang mempelopori rasionalisasi pragmatik dalam Islam serta mengedepankan akal dan intelek sebagaimana diungkap Geerzt (1960) dan Peacok (1978) telah menempatkan Muhammadiyah itu by definition anti tasawuf yang dianggap expresi tradisionalisme; (2) karakter puritan Muhammadiyah yang anti TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat) serta pendapat sebagian ulama yang memandang tasawuf adalah expresi keberagaam yang kurang autentik dalam Islam sebab rujukannya sulit ditemukan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah secara langsung; dan (3) tidak satupun “organisasi” kaum Sufi atau Tarikat yang bernaung di bawah Muhammadiyah. Hal ini berbeda dengan, misalnya, Nahdhatul Ulama yang secara organisatoris “memayungi” kelompok-kelompok tarikat yang dinilai muktabar (diakui keabsahannya).

Read More

The Best Keyword for the article: