Search Results ahmadmuttaqin+uin

Komodifikasi Spiritual

Posted 21 Apr 2010 — by Ahmad Muttaqin
Category Kutipan

Selesai memoderatori diskusi bulanan Laboratorium Religi & Budaya Lokal (LABEL) Fak Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kemarin, Selasa 20 April 2010, wartawati kompas menelepon saya. Berikut laporannya yang termuat di:

http://www1.kompas.com/read/xml/2010/04/20/21061957/Komodifikasi.Spiritualisme.Makin.Kentara-3

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Komodifikasi spiritualitas Jawa semakin kentara. Hal ini ditandai dengan banyaknya iklan maupun penayangan di media yang menawarkan jasa ritual berbasis spiritualisme Jawa. Menguatnya komodifikasi dikhawatirkan membuat nilai-nilai spiritualitas Jawa mengalami pendangkalan, sehingga mengancam keberadaan spiritualitas itu sendiri.

Peneliti Bidang Gerakan Keagamaan Baru dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Ahmad Muttaqin mengatakan, Read More

The Best Keyword for the article:

Mengajar Islamologi Mahasiswa Tiongkok

Posted 25 Oct 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Serba-serbi

(headspin) (headspin) (headspin) (headspin) (headspin) Masjid TiongkokCeritanya, tiga miggu yang lalu saya menyambangi sekretariat Center for Teaching Staff Development (CTSD) di lantai 3 Gedung Pusat Studi UIN Sunan Kalijaga. Direktur CTSD yang akan bertugas ke Sorong selama 3 minggu tampak surprise melihat saya datang siang itu. Kukatakan padanya kalau saya sedang riset lapangan di Jogja. Mengetahui saya punya waktu agak luang pada akhir pekan, setengah kegiraangan dia meminta saya untuk mengganti mengajar Studi Islam pada mahasiswa asal Tiongkok yang tengah mengambil program Sandwich di Universitas Ahmad Dahlan, salah satu Perguruang Tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta.

Tidak satupun mahasiswa asal Tiongkok di kelas tersebut Muslim, karena itu materi Keislaman yang disampaikan pun lebih ditekankan pada Islamologi. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aseknya karya Harun Nasution dipandang pas sebagai rujukan untuk menjelaskan seluk beluk agama Islam bagi non Muslim. Buku tersebut menguraikan Islam tidak secara doktriner, tapi mengupasnya dari berbagai sudut pandang seperti historis, sosiologis serta filosofis.  Meski jauh dari kesan indroktinatif, namun karya doctor alumni McGil Univesity itu tetap diperkaya dengan nukilan-nukilan dalil naqli dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits untuk menunjukkan bahwa paparan historis, sosiologis dan filosofis dalam buku ini tidak bertentangan dengan nash . Read More

The Best Keyword for the article:

Between Islam, the market and spiritual revolution

Posted 30 Sep 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category English, Teropong

Screen shot 2009-10-25 at 8.43.25 AMAhmad Munjid’s article “Thick Islam and Deep Islam” (The Jakarta Post, Aug. 16, 2009) was responded to by Hilman Latief’s “Cosmopolitan Muslims: Urban vs. Rural Phenomenon” (the Post Aug. 29, 2009).

Although both Munjid and Hilman shared their ideas on the more obvious prevalence of Islamic identity among Indonesian Muslims, they differed in terms of categorization between urban and rural as well as “thick” and “deep” Islam.

Munjid noted that “Thick Islam” was an urban phenomenon, and that “Deep Islam” was a rural one, whereas Hilman argued that the thick and the deep could not be generalized based on urban and rural categories.

Although neither intended to stimulate classical binary opposition between the Muhammadiyah as an urban Muslim organization and the NU as a rural one, the “polemic” is nevertheless interesting if we reckon their backgrounds. Munjid, who is currently the president of the Nahdlatul Ulama Community in North America, would say that the rural tradition of the NU is better than the urban.

Hilman, meanwhile, as a lecturer at Muhammadiyah University’s School of Islamic Studies, in Yogyakarta, would answer that the urban Muslim of the Muhammadiyah are not identical with “Thick Islam”.

This discussion will not pretend to support either of them, but to emphasize the fact of religious change and its various trajectories in late modern era.

Read More

The Best Keyword for the article:

Doa Pemimpin Terpilih

Posted 25 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Kutipan

Mas_MansurDia terpilih dengan suara 100 persen. Meskipun ketika itu ada juga propaganda supaya dia jangan terpilih, rupanya ia berhasil.

Sehari sehabis konggres, yaitu tanggal 13 Januari 1941 kelihatan dia mengepit tasnya dari kantor H.B. menuju kampung Kauman. Kemana dia pergi? Mengapa seorang saja? Dia pergi menemui….. Nyai Dahlan, istri almarhum K.H.A. Dahlan!

Ditemuinya satrya putri itu, teman hidup dan kawan berjuang dari seorang yang mendirikan Muhammadiyah mula-mula. Lalu dia berkata: “Ibu, ….sekarang saya terpilih kembali buat memikul beban yang berat ini, buat menjalankan bahtera peninggalan almarhum.”

“Saya ucapkan selamat,” ujar perempuan tua yang teguh hati itu.

“Catatlah itu, empat perkara yang saya harap supaya ibu doakan kepada Tuhan, moga-moga dilimpahkan pada diriku didalam memimpin persyarikatan ini.”

Nyai Dahlan mengambil potlood dan notesnya serta mendengarkan dengan hati-hati.

“Doakan saya dianugerahi Tuhan empat perkara: yaitu kesabaran, kemajuan, taqwa dan tawakkal.”

Setalah itu dia [KH. Mas Mansur] minta diri….

(Dikutip dari Pedoman Masyarakat, Medan via Adil, Solo, no. 34, 24 Mei 1941, dalam Soebagijo I.N., K.H. Mas Mansur Pembaharu Islam di Indonesia. Jakarta: PT Gunung Agung, 1982, hlm. 131).

Sumber gambar: http://wiwapia.com/id/KH_Mas_Mansur

The Best Keyword for the article:

Islamic Cleric among Indonesian “Modernist” Muslims

Posted 25 Jul 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category English, Teropong

…it would be a problematic to generalize the norm of Islamic Clerics among Indonesian Modernist Muslims. The ‘faces’ of modernist Muslims are changing just as other institutions where polarization is one of the characteristics. The clerical authority among reformist Muslim in Indonesia is now, especially after reformation era, more multi-polar and more plural than ever before.

Read More

The Best Keyword for the article:

Episode ‘Mendebarkan’

Posted 10 Jun 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Serba-serbi

Saya harus banyak bersyukur. Sejak dari bangku SLTA hingga bisa melanjutkan ke program Ph.D ini bantuan beasiswa selalu mengililinga saya. SLTA saya dibiayai oleh Departemen Agama melalui program Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) yang diinisiasi oleh Menag H. Munawir Syadzali. Ketika Kuliah S1 memperoleh beasiswa dari Supersemar selama 2 tahun. S2 pertama memperoleh beasiswa dari Departemen Agama R.I. dan S2 yang kedua dari beasiawa Fulbright scholarship. Saat ini saya tengah menempuh program Ph.D dengan beasiswa dari Dirjen Dikti Depdiknas RI.

Selama memperoleh beasiswa-beasiswa tersebut, pengalaman paling ‘heroik’ dan ‘mendebarkan’ terjadi pada beasiswa Dikti. Saya sebut heroik sebab dikti membiayai lebih dari 2000 dosen PTN dan PTS untuk studi di Luar negeri; dan saya bilang mendebarkan sebab saya merasakan berdebar2 selama memproses pencairan beassiwa. Berdebar-debar karena harus menanti dana yang tidak kunjung turun padahal kita sudah di-deadline oleh kampus untuk segera memulai studi atau melanjutkan proses berikutnya. Untuk bisa segera memulai proses itu tentu kita harus memenuhi kewajiban pada pihak kampus dan punya stipend untuk hidup di negeri orang. Mungkin karena pengiriman dosen untuk studi di luar negeri dengan full sponshor pake rupiah ini bagi Dikti masih program baru dan masih mencari “bentuk” sehingga pihak penerima mesti aktif, proaktif, bahkan dalam batas tertentu “greteh” agar dana beasiwa bisa segera cair.

kusut

Dibawah ini penggalan kisah mendebarkan yang saya alami saat mencairkan beasiswa tahap 2, Januari – Juni 2009 yang berbeda dengan pengalaman pencairan tahan 1. Pencairan tahap satu dulu dilakukan dengan cara Kopertis mentransfer langsung dana beasiswa ke rekening karyasiswa. Untuk tahap 2 ini, dana tidak ditransfer langsung ke rekening penerima tapi melalui kampus asal karyasiswa tersebut. Dari kampus baru ditransfer ke dosen yang bersangkutan.

Awal Maret 2009 yang lalu saya memperoleh informasi dari bagian keuangan kampus bahwa dana dari Kopertis sudah dikirim ke rekening rektor di BNI. Dari rekening BNI dana tidak langsung dikirim ke rekening kita yang di Ausia, tapi dikirim dulu ke rekening bendahara kampus yang di BPD. Untuk bisa mengeluarkan dana dari BPD ini harus ada SK turunan dari Kontrak Rektor dengan Kopertis yang menerangkan dana tersebut akan dikirim ke dosennya yang sedang studi di Australia. Bagian keuangan juga mengatakan bahwa mereka baru berani mengirim uang itu setelah ada tanda tangan kwitansi dari penerima. Untungnya, bulan February yang lalu saya ada preliminary research dan konference di Jakarta sehingga bisa mampir Jogja untuk mengurus pencairan tersebut. Kwitansi untuk saya bisa segera saya tanda-tangani, sedang untuk teman yang juga di Ausi saya harus meyakinkan pada meraka, akan kasihan teman tersebut kalo dananya baru ditransfer setelah kwitansi asli dikirim ke Ausi dulu baru dikrim balik ke Jogja. Akhirnya disepakati saya yang akan membawa kwitansi teman tersebut dan menjamin akan segera mengirim kembali ke UIN agar beasiswa saya dan satu teman tersebut bisa segera dikirim. Itu fase ‘mendebarkan’ babak pertama.

Fase ‘mendebarkan’ kedua terjadi ketika saya dipanggil kabag Keuangan. Beliau membacakan Kontrak yang menyatakan penerima beasiswa bersedia dipotong PPh 15%. Hampir saja dana beasiwa kami kena potong 15% dari total dana termasuk beaya SPP dan asuransi kesehatan. Berdasar pesan dari bagian keuangan Kopertis, saya katakan bahwa point dan besaran potongan pajaknya sudah ada di perincian dana pada lampiran Kontrak. Akhirnya beliau cermati lagi lampiran kontrak dan hanya memotong 15 dari living allowance dan uang buku.

Fase ketiga muncul ketika saya harus memantau sudah sampai di mana perjalanan dana beasiswa tersebut, sejak akhir bulan Februari and 3 hari pertama bulan Maret saya harus kontak terus dengan bag Keuangan Kopertis dan salah satuKepala Biro di kampus saya. Hari Senin tgl 2 Maret dapat info dari Kopertis bahwa dana sudah masuk ke masing-masing Perguruan Tinggi. Info tersebut saya gunakan untuk terus menanyakan ke Kabiro bahwa dana sudah ditransfer. Kenapa saya terus aktif bertanya, sebab tgl 5 Maret saya harus kembali ke Brisbane. Tangal 3 Maret siang, saya baru dapat telepon dari bagian keuangan kampus yang meminta saya menyerahkan nomor rekening dan menandatangan kwitansi. Semula bagian keuangan kampus yang akan mentrasfer dana tersebut ke rekening kami di Ausi, tetapi ketika di BPD mereka memperoleh informasi kalo transfer dari BPD ke rekening luar negeri biayanya mencapai tujuh jutaan rupiah. Wow, cukup mahal kan? Akhirnya dana beasiswa kami berdua dari BPD diambil cash pada Rabu 4 Maret siang, diserahkan ke saya dan saya sendiri yang diminta mentrasfer dari Mandiri ke rekening Ausi dengan beaya $30 dolar per transfer. Biaya tranfer ditanggung oleh kita, penerima beasiswa.

Episode ‘mendebarkan’ terakhir terjadi saat saya harus membawa dana ratusan juta tersebut –jumlah yang cukup besar untuk ukuran saya– dari BPD ke Mandiri. Tidak mau abil resiko akhirnya kami putuskan untuk minta pengawalan polisi, lengkap dengan senapan di badannya. Sampai di Bank Mandiri sudah mendekati jam 15. Pihak teller mengatakan kalo transfer cash akan butuh waktu lama, sebab uang harus dihitung dulu, dipastikan keasliannya, dll. Karena keburu bank akan segera tutup, akhirnya saya debit dulu uang tersebut ke rekening saya, baru kamis pagi sekitar jam 8 saya ke Mandiri lagi untuk mentransfer dana tersebut ke Ausi. Untuk mentrasfer ke 2 nomor rekning di Ausi saya harus ‘ngendong’ sekitar 120 menit di Mandiri. Padahal, Kamis  siang 5 Maret itu saya harus meninggalkan Jogja menuju Brisbane lagi.

Berdasar pengalaman tersebut, kebijakan untuk mentrasfer dulu dana beasiswa dari Kopertis ke kampus asal karyasiwa semakin manambah alur birokrasi yang rumit dan berkepanjangan. Belum lagi masing-masing perguruan tinggi punya kebijakan birokrasi yang khas, unik dan berbeda-beda, yang umumnya bila pihak yang berkepentingan tidak aktif menanyakan cenderung akan terabaikan.

Saat ini saya kembali memasuki fase mendebarkan KELIMA, sebab menurut informasi pihak Kopertis, dana tahap 3 untuk bulan Juli-Desember akan dicairkan bulan Juni ini. Sekarang sudah tanggal 10 Juni, tapi belum ada berita tentang prose pencairannya. Entah berapa episode kisah heroik untuk pencairan tahap 3 ini. Semoga semuanya lancar.

Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/unsunghero/90562369/

The Best Keyword for the article:

Page 1 of 212