Agar Muhammadiyah benar-benar menjadi bagian dari khaira ummah, ummatan wasatha dan pelopor peradaban utama, maka radius pergaulan warganya perlu diperluas. Tidak hanya pergaulan secara fisik namun juga secara intelektual dan spiritual. Jalinan silaturahim kader dan aktivisnya diperlebar dan sinergitasnya degan berbagai komponen kebajikan di dipererat. Perbedaan pandangan bukan alasan untuk saling menyingkirkin dan menegasikan namun untuk memperkokoh persaudaran.
Dengan modal khaira umah dan ummatan wasatha inilah peradaban utama bisa terealisir. Bila tidak, ia hanya akan menjadi slogan yang manis diucapkan, penghias ruangan, dan alat gagah-gagahan di berbagai kegiatan.
_____________
Read More
The Best Keyword for the article:
Posted 10 Apr 2010 — by Muttaqin
Category Teropong
Di beberapa kegiatan resmi organisasi dan forum-forum pengajian sering muncul pertanyaan peserta tentang sikap Muhammadiyah terhadap Tasawuf. Dalam sebuah pelatihan kader se-Sumatera beberapa waktu yang lalu, pertanyaan ini menyeruak ketika narasumber menyampaikan materi Paham Agama dalam Muhammadiyah, Dinamika Gerakan Pembaharuan dan Pemikiran dalam Islam, serta Perbedaan Identitas Muhammadiyah dengan Gerakan-Gerakan Islam lainnya. Beberapa penanya tidak sekedar mencari pejelasan sikap resmi organisasi terhadap Sufism beserta segala apseknya namun juga menekankan bahwa dimensi esoteris itu diperlukan dalam beragama agar tidak terjebak pada formalisasi ritual. Dalam bahasa studi agama, having religion saja tidak cukup, perlu ditingkatkan menjadi being religious agar tidak terjebak pada dataran simbolik.
Read More
The Best Keyword for the article:
“Why does Muhammadiyah enthusiastically release fatwas (religious verdicts) lately?” Ask a friend of mine in a milis responding the new fatwa of the Majelis Tarjih and Tajdid (MTT – Council of Legal Affair and Reform) on bank interest. The fatwa was one of Council National Meeting (Munas Tarjih) outcomes in Malang, East Java, 1-4 April 2010. Like previous Muhammadiyah fatwa on banning cigarette, the latest fatwa also stirred up pros and conts.
This brief posting will not address to the pro and cont issues about the fatwa. It rather would like to see beyond the fatwa from theory of modernity noting the phenomena as both the paradox of Muhammadiyah and, in a broader scope, the paradox of modernity.
Read More
The Best Keyword for the article:
Posted 06 Apr 2010 — by Muttaqin
Category Teropong
“Mengapa Muhammadiyah akhir-akhir ini getol mengeluarkan fatwa?” Tanya seorang kawan dalam sebuah milis saat menanggapi keluarnya fatwa Muhammadiyah tentang haramnya bunga bank pada Munas Tarjih di Malang 1-4 April 2010. Sebagaimana fatwa MTT sebelumnya tentang haramnya rokok, fatwa tentang bunga bank ini juga menuai pro dan kontra.
Hemat saya, produktifnya Muhammadiyah mengeluarkan fatwa akhir-akhir ini menandakan paradox Muhammadiyah sekaligus paradox modernitas pada konteks yang lebih luas.
Read More
The Best Keyword for the article:
…it would be a problematic to generalize the norm of Islamic Clerics among Indonesian Modernist Muslims. The ‘faces’ of modernist Muslims are changing just as other institutions where polarization is one of the characteristics. The clerical authority among reformist Muslim in Indonesia is now, especially after reformation era, more multi-polar and more plural than ever before.
Read More
The Best Keyword for the article: