Aqidah, Amal Shalih & Wajah Islam

Posted 24 Jul 2009 — by Muttaqin
Category Kultum

IslamicArt-04Secara lughawi (terminologis) istilah aqidah berasal dari kata “’aqada” yang berarti buhul dan mahkota; sedangkan secara istilah aqidah berarti sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasar wahyu, fitrah dan akal. Kebenaran tersebut dipatrikan dalam hati, diyakini keshahihannya, dan ditolak kemungkinan kebanaran selainnya.

Pada kontek keber-Tuhanan, aqidah umat Islam adalah tauhid, men-gesakan Tuhan (QS. Al-Ikhlash). Setidaknya ada tiga aspek tauhid yang harus diyakini: pertama, kepercayaan dan keyakinan bahwa hanya Allah yang berkuasa mencipta, memelihara, mengatur dan menguasai alam semesta (tauhid Rububiyah - QS. Al-A’raf: 54); kedua, kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang Haq (tauhid Uluhiyah – QS. Muhammad: 19); dan ketiga, kepercayaan dan keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak dan wajib dihampai/disembah (tauhid Ubudiyah – QS. Al Isra: 23).

Read More

Viva Religious Studies

Posted 24 Jul 2009 — by Muttaqin
Category English, Kabar/News

FIU Logo-2

…closing the department on the reason to save the budget is really an unwise decision. The argument that religion can be studied alone or attached to other departments, not in single body department reflecting inter-religious relationship, means the luck of comprehension on the important of mutual understanding among various religious backgrounds amid this rapid globalization. Since religion is one of humans’ ingredients that affect their economic, political, social, and cultural manifestations, studying religion needs a strong institution. 

Read More

Cukup Satu Kali

Posted 16 Jul 2009 — by Muttaqin
Category Teropong

number-oneMenutut Foucault, pemenang dalam partarungan politik bukan siapa yang memperoleh suara terbanyak tapi siapa yang menentukan aturan main pertandingan itu. Masalahnya, apa yang akan terjadi bila diantara petarung teryata merangkap sebagai pembuat aturan? Itulah mengapa incumbent selalu memiliki lebih banyak kapital menang dibanding peserta lain.

Meski berbagai aturan telah sedemikian rupa mengeliminir campur tangan incumbent pada lembaga idependent pelaksana pertadingan, namun relasi kuasa antar lembaga yang berpusat pada the incumbent menjadikan lembaga tersebut sulit bisa netral 100%. Pun demikian juga pada lembaga pengawas dan perangkat penegak hukum lain yang dibentuk untuk mengontrol kerja pelaksana. Yang sering terjadi, laporan dari incumbent biasanya direspon dengan cepat, sementara laporan atas kecurangan incumbent cenderung diabaikan. Read More

Konsumerisme Pilpres

Posted 09 Jul 2009 — by Muttaqin
Category Teropong

media-changeTampaknya budaya konsumer kembali menuai keberhasilan. Untuk sekian kalinya image, pesona dan kepopuleran seseorang menjadi preferensi pilihan, mengalahkan program, rekam jejak dan visi yang ditawarkan. Sebagaimana kontes bintang/idol, yang terpilih adalah mereka yang dicitrakan sesuai dengan selera pemirsa. Budaya konsumtif yang dibesarkan oleh media massa sukses menggesar paradigma “yang benar” menjadi “yang popular”. Kebenaran itu sendiri menjadi sangat relatif tergantung dari sisi mana subyek melihat obyek. Untuk mengiring perspesi subyek terhadap obyek, diperlukan rekayasa media yang sistematik terencana, terprogram, dan terntu saja berbiaya mahal.  

Pilpress 2009 kemarin menggambarkan fenomena itu. Semua pasangan all out menghadirkan citra terbaiknya melalui media. Belanja iklan dan building image menempati porsi paling dominan. Sayangnya, rakyat digiring hanya bisa menerima informasi sepihak, seolah-olah pribadi orang tersebut sempurna. Kalaupun ada informasi miring yang biasanya dilontarkan kubu lawan, buru-buru ditangkis sebagai bentuk black-campaign. Hilanglah hak audiens untuk tahu informasi utuh tentang si calon. Maka pertarungan yang sesunggunya adalah penguasaan media agar ia selalu menjual “kebenaran hibrida” sesuai kehendak pabrik pesona.

Kenapa isyarat, bahasa tubuh, juga pernyataan terang-terangan dari beberapa kyai, ulama serta tokoh dan pimpinan ormas tidak berbuah? Jawabnya mungkin, para kyai, ulama dan tokoh ormas tersebut berada pada putaran “permainan” yang tidak imbang melawan raksasa konsumersime-popularisme. Dengan argumen “kulli al-haq walau kaana murran” (ungkaplah kebenaran itu meski akibatnya pahit) kelompok pertama menyuarakan ontology kebenaran itu sendiri, sementara yang kedua bermain pada dataran epistemology. Dari kaca mata budaya konsumer seruan kyai dan ulama dari mimbar-mimbar agama tidak lagi memiliki “tuah”, hanya dilihat sebagai wacana sebagaimana berita di TV, radio dan Koran. Dengan sokongan kapitalisme, isyarat dan seruan agamawan diperlakukan media tak ubahnya seperti infotainment, hanya sebagai hiburan, bukan anjuran. Apalagi di tengah menjamurnya — meminjam istilah Kuntowijoyo “Muslim tanpa Masjid” — kelas menengah indepent yang tidak lagi mau terikat dengan paham keagamaan juga politik aliran. Semakin sukses konsumerisme memprodusir “kebenaran”.

Bila ditelusuri lebih jauh, kekalahan perang wacana antara pemimpin informal dengan raksasa media ini berpangkal pada belum adanya media massa kuat dan representatif atau pelaku media independent yang tidak terjebak pada hukum dagang dan kapitalisme. Sebenarnya, kesadaran membangun media komunikasi bebasis komunitas yang independent sudah lama muncul. Namun kenapa realisasinya begitu seret atau malah mandeg? Entah sampai kapan kita mampu belajar dari peristiwa yang selalu berulang. 

Sumber foto: http://www.america.gov/publications/ejournalusa/1207.html

Contreng !!!

Posted 08 Jul 2009 — by Muttaqin
Category Serba-serbi

pemilu_20093

Harapan perubahan itu kumulai hari ini. Bersama satu teman yang mengambil PhD bidang climate change asal Kendari, kami berangkat ke TPS. Sampai di lokasi berpuluh warga telah mengantri. Mereka bergerompol, ada yang berdiri, duduk di kursi, banyak juga yang melingkari meja penjualan makanan khas nusantara: siomay, pempek, tekwan, juga teh kotak. Seorang Bapak yang berdiri di depan pintu mengatakan, untuk masuk ruangan TPS kita harus antri. Saya sendiri dapat nomor urut 10. Begitu giliran tiba, saya serahkan paspor dan surat undangan pada panitia. Sekitar sepuluh orang tampak sudah duduk di dalam ruangan menunggu giliran mencontreng. Saya menuju deretan kursi paling belakang. Lima menit kemudian, kira-kira pukul 12.14 nama saya dipanggil. Panitia menyerahkan kembali paspor saya dan memberi “kupon” tertulis angka 5. Saya serahkan kupon itu pada meja berikutnya dan panitia menggantinya dengan  kartu suara. Ia meminta saya membuka kartu tersebut dihadaannya, mengecek kalau-kalau ada kerusakan. Setelah dipastikan kartu “aman”, dengan pasti kulangkahkah kakiku menuju bilik pencontrengan. Sejak pagi jam 09.00 hingga petang pukul 20.00 waktu setempat, warga negara Indonesia yang berada di Brisbane dan sekitarnya diberi kesempatan untuk menentukan pilihan president dan wakil president RI ke 7 di Gedung 69 ruang 110 University of Queensland, St Lucia Campus.

Diujung pilpres 2009 yang heboh dan carut marut ini saya masih ingat berbagai analisis politik, rumor, issue, dan kampanye gelap berseliweran dengan janji-janji manis para capres dan cawapres. Saat menuju bilik suara, satu demi satu memori hingar-bingar kampanye yang terekam diberbagai media, milis, facebook dan obrolan santai muncul: mulai dari saling sindir dan cibir antar capres, lomba “ramalan” antar lembaga survey tentang prediksi perolehan suara masing-maisng calon, isu antek neolib, permainan canggih “merekayasa” polling sms, penelanjangan identitas agama keluarga cawapres, politik jilbab istri para capres dan cawapres, sinyalement salah satu capres yang gemar pada dunia klenik, “pelecehan” etnis tertentu oleh salah satu tim sukses, kisruh DPT hingga dugaan ketidaknetralan KPU.

Sesampai di bilik, kartu suara segera saya buka dan kutemukan tiga pasang gambar capres dan cawapres. Semuanya berdandan rapi. Tatapannya mantap dengan sedikit senyum refleksi orang terhormat penuh martabat. Melihat foto wajah-wajah gagah dan bersih itu, rasanya sulit dipercaya kalau di negeri tempat mereka berlaga ”berebut” menjadi yang nomor satu masih banyak dijumpai pengangguran, komunitas kumuh, busung lapar, serta anak-anak tidak sekolah.

Satu persatu foto mereka saya pandangi. Dalam hati saya bertanya, “hanya inikah stok calon pemimpin republik yang berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa?” Mataku kemudian fokus pada pasangan yang berada di ujung paling kiri. Saya teringat slogan-slogannya yang ingin memperjuangkan rakyat kecil, menyelamatkan ekonomi rakyat, berjanji pertumbuhan ekonomi diatas dua dugit, dan berteriak lantang anti neolib. Saya terbakar semangat mereka ingin mewujudkan negeri yang mandiri dan disegani. Namun saya segera berfikir, bagaimana mungkin itu terwujud wong dulu ketika capres tersebut menjadi presiden banyak BUMN strategis yang dijual? Saat mataku menatap pasangan yang di tengah, saya mengerti  dia telah berusa berbuat, diantaranya merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN meski itu atas “ultimatum”  Mahkamah Konstitusi; juga usahanya memberantas  korupsi meski dinilai masih tebang pilih. Namun aku juga tahu dari berbagi media dan milis, ia dikenal melankolis, sibuk membangun citra dan tebar pesona. Tim suksesnya juga terkesan pongah. Apa kayak gini yang mesti dilanjutkan? Dan ketika mataku tertuju pada pasangan di ujung kanan, saya mengenal semboyan mereka “the sooner the better” yang katanya terjemahan dari fastabiquu al-khairat. Saya suka gaya ceplas ceplos saudagar ini. Namun rekam jejak pasangannya dinilai banyak orang masih punya hutang masa lalu terkait HAM. Sebagian kalangan juga khawatir bisnis keluarga capres ini akan bertabrakan dengan kepentingan Negara.

Akhirnya, dengan bismillahirrahmanirrahiem, saya tentukan pilihan pada pasangan capres dan cawapres yang, menurut saya, visioner, cepat tanggap, berani mengambil keputusan. Pokoknya yang bisa membawa kemajuan bangsa LEBIH CEPAT, mampu meLANJUTKAN yang lalu ke arah yang LEBIH BAIK, dan mengeluarkan kebijakan yang lebih PRO RAKYAT KECIL. Wallahu a’lam.

pemilu-31

Recreational-therapeutic Spirituality vs. Religious Moral

Posted 06 Jul 2009 — by Muttaqin
Category English, Teropong

sholat-di-jalan

Some people are worry about the burgeoning of spiritual centers in urban areas. They question why do people living in a modern city drifted by rationalism, individualism and secular point of view participate in spiritual groups considered as irrational and backwards? Does not it reflect the ambiguity or even paradox of modern people? While, may be it is true that modern people are full of paradoxes, or they are even have lost their modern orientations, but the trend is indeed a sign of natural cultural process.

Human beings, wherever and whenever, cannot be reduced into just technical parts of society. Man and woman posses mind, body, and spirit (soul). To some extent modern cultures have successfully provide minds and body’s needs but unable to feed spiritual thirstiness. A huge number of modern people are now living in anxious and continuously searching for medium to balance their life. Spiritual centers appearing in neo-Sufism, yoga, meditation, holism, reiki, Human Potential Movement, and many others, are sort of urban institution to furnish modern people.

It seems, however, that current urban spiritual centres are not merely for balancing modern life. Due to high demand of spiritual markets and the ability of urban people to purchase whatever spiritual cost, the centres develop programs that are suitable for the modern: instant, systematically programmed, easily to be performed, and commodified. The result is spiritual hybrid form greater emphasis on practical efficacy rather than piety and morals for social control. Participating in spiritual centres is narrowed just for recreational and therapeutic purposes. Spirituality is seen as a panacea of exhausted modern culture.

rumi mediation-club yoga

For many people, involving in spiritual centre will be more interesting and enjoyable than performing religion. For them, religion only teaches restrictions and rules; forbids people doing this and that in order to follow certain tenet. Will religious values as social control lost out and be replaced by pragmatic spiritual efficacies? Will spirituality successfully take over religion (Carrette and King, 2005)? As long as religious elites neglect this socio-religious and cultural shifts and are failed to provide appropriate spiritual canals for urban people, the fate of religions are really in “danger.”

Page 7 of 9« First...678...Last »