<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>muttaQin</title>
	<atom:link href="http://www.ahmadmuttaqin.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ahmadmuttaqin.com</link>
	<description>Keluarga dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 05:59:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Muhammadiyah, Fiqih Tembakau &amp; Kritik Negara</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/03/11/fiqih-tembakau/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/03/11/fiqih-tembakau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 03:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Rokok Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik negara]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Muhammadiyah baru saja mengeluarkan fatwa rokok haram,  merevisi fatwa sebelumnya yang menyatakan rokok itu makhruh. Fatwa Muhammadiyah ini &#8220;setingkat lebih tinggi&#8221; dari fatwa MUI tentang rokok yang menyatakan rokok pada dasarnya makhrukh, namun haram untuk anak-anak dan wanita hamil.
Berbagai respon, pro dan kontra terhadap fatwa haram rokok Muhammadiyah terus bermunculan. Diantara yang kontra menyatakan keluarnya [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/03/monkey-smoking3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-540" title="monkey-smoking3" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/03/monkey-smoking3.jpg" alt="" width="216" height="154" /></a>Muhammadiyah baru saja mengeluarkan fatwa rokok haram,  merevisi fatwa sebelumnya yang menyatakan rokok itu makhruh. Fatwa Muhammadiyah ini &#8220;setingkat lebih tinggi&#8221; dari fatwa MUI tentang rokok yang menyatakan rokok pada dasarnya makhrukh, namun haram untuk anak-anak dan wanita hamil.</p>
<p>Berbagai respon, pro dan kontra terhadap fatwa haram rokok Muhammadiyah terus bermunculan. Diantara yang kontra menyatakan keluarnya fatwa  rokok haram itu menunjukkan para ulama Muhammadiyah tidak peka terhadap permasalahan kaum tani, dan hanya bisa memberi stempel halal dan haram. Betulkah demikian?<span id="more-536"></span></p>
<p><strong>Anti Petani Tembakau?</strong></p>
<p>Setahu saya fatwa  rokok haram Muhammadiyah itu melalui kajian ineterdispliner, kesehatan, fiqh ushul fiqh, tafsir hadits, dan juga sosial ekonomi. Salah satu rujukan bidang sosial ekonomi adalah hasil riset pusat demografi FEUI terkait perekonomian petani tembakau. Hasilnya, petani tembau selama ini sebenernya rugi secara eknomis dibandingkan bila yang bersangkutan menanam produk lain. Mereka juga sering menjadi korban &#8220;kenakalan&#8221; tengkulak tembakau dan cukong-cukong benih dan pupuk. Pada tahap ini, fatwa tersebut justru bagian dari sikap pro pada petani untuk mengentaskan mereka dari kubangan kapitalisasi tembakau yang hanya dinikmati oleh segelintir orang.</p>
<p>Bukankah di bagian lain fatwa tersebut juga dinyatakan Muhammadiyah akan membantu petani tembakau dalam proses transfer tanaman? Saya kira &#8220;hujatan&#8221; ulama kita atau Muhammadiyah tidak peka terhadap petani bukan tindakan yang bijak. Aktivisme MPM periode ini bisa jadi bukti langkah-langkah Muhammadiyah dalam mengadvokasi para petani.</p>
<p><strong>Kebijakan yang Amburadul</strong></p>
<p>Harus diakui, konsumen rokok terbesar di negeri ini adalah masyarakat miskin. Data SUSENAS 2006, yang juga dikutip oleh ketua Majelis Tarjih dalam Halaqoh Fiqih Pengendalian Tembakau di Yogyakarta berapa waktu yang lalu, menunjukkan pengeluaran keluarga miskin untuk rokok mencapai 11.9%, sedangkan keluarga kaya hanya 6,8%. Kelurga miskin inilah sejatinya korban dari kebijakan negara yang tidak tegas mengatur/membatasi peredaran tembakau. BLT yang tahun-tahun kemarin digelontorkan pemerintahan SBY ke masyarakat miskin ujung-ujungnya banyak yang justru dipakai beli rokok.</p>
<p>Salah satu periset ekonomi rokok di keluarga miskin menemukan data sebagai berikut: Rokok telah mengalahkan kebutuhan gizi, biaya kesehatan dan pendidikan keluarga. Uang rokok ternyata  17 kali lebih besar dari pengeluaran untuk daging, 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu, 2 kali lebih besar dari ikan dan sayuran, 9 kali lebih besar dari pengeluaran untuk buah, 15 kali lebih besar dari biaya kesehatan, dan 9 kali lebih besar dari biaya pendidikan.  Artinya harga satu bungkus rokok terkenal setara dengan setengah kilogram telor, 2 kg beras, 1 liter minyak goreng, setengah kotak susu dengan berat 200 gram, 1 porsi makan di warung padang, setengah ekor daging ayam, 1-2 ikan bandeng ukuran sedang  (Abdillah Hasan, 2010). Kurang lebih harga satu bungkus rokok juga setara dengan setengah rim kertas HVS, 2 buku tulis, 5 buah pensil, 4 karet penghapus, dan begitu seterusnya.</p>
<p>Dibandingkan dengan negara-negara lain, harga rokok di Indonesia paling murah. Di Indonesia, dengan satu dolar AS kita sudah bisa mendapatkan satu bungkus rokok, beberapa merek bahkan dijual dengan harga lebih murah. Di negara-negara maju, harga satu bungkus rokok bisa 5 – 10 kali lipat di Indonesia. Dalam rangka mengendalikan peredaran tembakau/rokok ini pemerintah diminta oleh banyak lalangan untuk menaikkan harga cukai rokok, tapi pemerintah tidak mau, takut pendapatan cukai akan menurun. Padahal dari berbagai kajian, justru pendapatan pemerintah meningkat tajam bila cukai itu dinaikkan. Kenapa pemerintah takut menaikkan cukai? Siapa yang menekan? Apakah bob-bos produsen rokok itu? Bukankah yang membayar cukai sejatinya bukan produsen rokok, tapi para konsumen rokok yang sebagian besar miskin itu?</p>
<p>Baru-baru ini MK sedang menangani kasus gugatan iklan rokok. Penggugat meminta negara mengatur kembali iklan rokok yang selalam ini begitu gencar dan mudah ditemui di mana-mana sehingga membahayakan anak-anak. Tergugat dengan menghadirkan berbagai kalangan, diantaranya seniman, berargumen iklan rokok turut membantu proses kreativitas dalam bidang seni. Menurut produsen rokok iklan rokok itu tidak untuk mencari konsumen baru tapi dalam rangka memelihata para perokok lama. Betulkah demikian? Bagi perokok, akibat sifat adiktif dari rokok tersebut, ada atau tidak ada iklan sama saja, mereka akan tetap mencari rokok itu. Iklan tersebut dengan demikian menjadi media yang efektif dan ampuh untuh menggoda para calon perokok.</p>
<p><strong>Fiqih Tembakau</strong></p>
<p>Dalam sebuah ceramah, seorang dokter menjelaskan ayat &#8220;Inna shalaata tanha &#8216;ani al-fakhsa wa al-munkar&#8221;: Fakhsa adalah segela perbuatan yang akan mendatangkan kerusakan pada diri sendiri, sedangkan Munkar itu tindakan yang akan mendatangkan kerusakan pada diri sendiri dan orang lain. Bila merekok itu katanya hanya akan membahayakan diri sendiri si perokok, maka ia termasuk perbuatan <em>fakhsa. </em>Bila merokok itu ternyata menyebkan kerusakan diri si perokok dan orang lain (perokok pasif), maka ia termasuk perilaku <em>munkar.</em></p>
<p>Banyak orang masih berdebat soal kemanfaatan dan kemudzaratan merokok. Ada yang bilang industri rokok telah mengidupi banyak orang, menjadi sumber devisa, dan bla bla bla begitu sterusnya, termasuk di dalamnya menjadi lahan rezeki dokter jantung . Meski rokok telah menghidupi banyak orang, tapi ingat ia juga telah membunuh orang banyak. Apakah kemashlahatan rokok itu sepadan dengan kemudzatannya? Ada baiknya kita ingat kembali salah satu kaidah ushul yang fiqh yang menyatakan <em>Dar’u al-Mafaasidu muqaddamun ‘ala jalbi al-mashaalih</em>”. Jadi, kalau ada kemanfaatan dan kemudzaratan, maka membentengai kemungkinan kemudratan itu lebih diutamakan dari pada mengambil kemaslahatannya.</p>
<p>Secara umum merokok itu aktivitas profan sebagaimana makan dan minum yang tidak terkait dengan ritual khusus keagamaan. Lalu mengapa Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan harus turun tangan mengeluarkan fatwa? Saya kira fatwa haram rokok Muhammadiyah itu bagian dari kritik komponen masyarakat madani yang gemas melihat negara tidak tegas dan ambigu dalam mengatur peredaran tembakau. Ketidakjelasan kebijakan yang selama ini turut melanggengkan keterpurukan keluarga miskin.  Pada kontesks ini, fatwa rokok haram tersebut bagian dari ijtihad Fiqih Pengendalian Tembakau yang dilakukan Muhammadiyah dalam rangka melindungi warganya. Bila negara masih saja gagal melindungi dan mensejahterakan warganya, bisa dimengerti bila instrumen-instrumen agama selalu dihadirkan di tengah kehidupan profan.</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p><em>NB. Info lebih lanjut tentang Ekonomi tembakau bisa diakses di disini.</em></p>
<p>http://docs.google.com/viewer?a=vq=cache:2s3Ax8sfgU4J:www.worldlungfoundation.org/ht/a/GetDocumentAction/i/6568+riset+lembaga+demografi+feui+tentang+tembakau&amp;hl=id&amp;gl=id&amp;pid=bl&amp;srcid=ADGEEShIk49gxGB556&#215;693w3aYFIjtd5tgHHAIV9PQuGJcgBBlHQe3I2Jj0pPKGlQJf1OZJRgy-CkOwMmt-eOA8GKk3LsGf6oIAPLroqZZX355OFYf3UmUNKgJmhVBlXrxv7EOvZr21B&amp;sig=AHIEtbSpBt6zZYJ6u_BG0leY1p4pDjqdAA</p>
<p>Sumber gambar: http://petrukmoroto.wordpress.com/2009/04/08/perokok-pemabok-rokok/</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=536&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/03/11/fiqih-tembakau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Spiritualitas Otentik</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 23:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[komodifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[korporatisasi]]></category>
		<category><![CDATA[narsis]]></category>
		<category><![CDATA[otentik]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa orang rela membayar mahal hanya untuk mengikuti spiritual training selama 1-3 hari? Mari kita tengok kelas-kelas Yoga, Meditasi, Emosional-Spiritual Training, zikir massal, serta berbagai gemblengan spiritual yang akhir-akhir ini menjamur di tanah air. Program-progam “olah” spiritual tersebut ditawarkan oleh berbagai lembaga dengan beragam latar tradisi. Sebagian representasi dari sufisme dalam Islam, sebagian bersumber dari [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/02/P1160982.jpg"><img class="size-medium wp-image-527 alignleft" title="P1160982" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/02/P1160982-300x225.jpg" alt="" width="270" height="203" /></a>Mengapa orang rela membayar mahal hanya untuk mengikuti spiritual training selama 1-3 hari? Mari kita tengok kelas-kelas Yoga, Meditasi, Emosional-Spiritual Training, zikir massal, serta berbagai gemblengan spiritual yang akhir-akhir ini menjamur di tanah air. Program-progam “olah” spiritual tersebut ditawarkan oleh berbagai lembaga dengan beragam latar tradisi. Sebagian representasi dari sufisme dalam Islam, sebagian bersumber dari tradisi Tiongkok (Reiki, Fallun Ghong), sebagian dari tradisi India (Yoga, Meditasi), sebagian juga dari tradisi Jawa (ritual Ruwatan), dan sebagian lagi merupakan kombinasi antara Sufisme, managemen dan psikologi humanistik.</p>
<p>Yang menarik dari lembaga-lembaga penawar program spiritualitas tersebut adalah upaya korporatisasi layanan spiritual. Lembaga-lembaga tersebut memiliki kantor dan sekretariat yang representatif, staff yang terlatih dan cekatan, serta publikasi yang menawan di berbagai media massa. Selain itu, layanan jasa dan produk spiritual dikemas sedemikian rupa menjadi beragam paket. Manfaat dari mengikuti program spiritual juga selalu mereka expose dalam bentuk testimony para alumninya.<span id="more-522"></span></p>
<p>Bagaimana menjelaskan fenomena tersebut? Apakah program-program tersebut ditawarkan sebagai bisnis untuk memperoleh profit melalui komodifikasi spiritualitas atau murni upaya menyadarkan manusia Indonesia agar semakin menggali fitrah ruhaniyahnya?</p>
<p><strong>Motif</strong></p>
<p>Ada empat kemungkinan mengapa orang tertarik belanja spiritualitas: (1) Menggunakan spiritualitas sebagai sarana refressing di tengah kepenatan hidup. Bagi kelompok ini, mengikuti program-program spiritualitas ibarat rekreasi; (2) Memanfaatkan spiritualitas untuk memperoleh kesembuhan dari derita penyakit fisik maupun psikis. Kelompok kedua ini melihat praktik spiritual (zikir, meditasi, yoga, ruwatan, dll) sebagai sarana menyembuhkan jiwa yang sakit dan menyingkirkan segala bala. Jiwa yang sehat tentu akan mengantarkan tubuh yang sehat; (3) Menjalankan laku spiritual dalam rangka meraih sukses, rezki melimpah dan barokah. Kelompok ini meyakini laku spiritual merupakan sarana efektif mendekatkan diri pada Tuhan. Bila diri sudah dekat dengan Tuhan, maka Tuhan pasti akan mengabulkan segala keinginan hambaNya; dan (4) Mempraktikkan spiritualitas karena merasa &#8220;bosan&#8221; dengan ritual-ritual agama yang dirasa kering. Bagi kelompok ini, ber-spiritualitas-ria dirasa lebih ringan and <em>enjoy </em>sebab terbebas dari beban kewajiban menjalankan ajaran agama.</p>
<p><strong>Komodifikasi</strong></p>
<p>Isu perdagangan spiritualtas bukan hal baru. Carrette dan King (2005) dalam <em>Selling Spirituality, the silent take over of religion </em>mengkritisi proses terkooptasinya spiritualitas oleh cara pandang kapitalisme melalui proses korporatisasi dan individualisasi pelayanan jasa spiritual. Akibatnya, spiritualitas tidak lagi menjadi nilai luhur yang membingkai perilaku manusia, berubah menjadi nilai ekonomi. Secara halus spiritualitas digunakan sebagai alat memperkokoh paradigma neoliberal. Pada tahap inilah agama yang merupakan sumber nilai-nilai spiritual dikemas dan dikomodifikasi sedemikian rupa layaknya barang dagangan melalui proses reduksi: agama ditampilkan sebagai komoditas spiritual.</p>
<p>Hadirnya pusat-pusat spiritual di tengah kota berdampingan dengan kantor bisnis dan industri telah mendorong dunia usaha tersebut menggunakan jasa spiritual baik untuk memperbaiki mental dan <em>mind set</em> karyawannya maupun sebagai wahana implementasi program-program CSR. Namun penggunakan spiritualitas dalam bisnis dan industri ternyata sarat dengan kepentingan untuk melanggengkan agenda kapitalis mereka. Pada tahap inilah terjadi ironi luar biasa, agama kehilangan peran etis dan transformatif-nya sebab melalui perkawinanya dengan kapital ekonomi serta proses komodifikasi layanan jasa  dan produk spiritual, elemen-elemen agama hanya digunakan sebagai  alat pembenar  <em>“the ideology of consumerism and corporate capitalism”</em> (Carrette &amp; King, 2005, 170).</p>
<p><strong>Narsis</strong></p>
<p>Selain spiritualitas pasar yang terus menjamur dengan gegap gempita, ada juga kelompok spiritualitas yang mencoba melawan arus. Mereka mengusung spiritualitas sebagai sarana melepaskan diri dari ikatan tradisi keagamaan. Kritik agama mendominasi wacana mereka. Meski demikian, dengan sadar mereka tetap meyakini keberadaan Tuhan. Bagi mereka “spirituality yes, organized religion no”.</p>
<p>Mengingat praktik keagamaan banyak yang didomplengi kepentingan lain, menurut pengusung model ini, spiritualitas harus lepas dari ikatan-ikatan agama. Sayangnya, model <em>subjective-life spirituality </em>&#8211;meminjam istilahnya<em> </em>Heelas&#8211; yang menolak bentuk-bentuk tradisi dan organisasi keagamaan ini dalam praktiknya terjebak pada narsisme spiritual. Segala bentuk esensi dan expresi spiritual dapat digali dalam diri pribadi setiap orang.</p>
<p><strong>Otentik</strong></p>
<p>Eksistensi spiritualitas non agama di atas merupakan kritik tajam tidak hanya bagi agama-agama yang hanya mengedepankan formalisme dan lupa terhadap isi dan visi yang sebenarnya, namun juga bagi spiritualitas berbasis agama yang telah terjebak praktik komodifikasi dan korporatisasi. Karena itulah Carrette dan King (2005) di bagian akhir bukunya menaruh harapan besar akan munculnya aktivisme keagamaan yang bisa mengolah spiritualitas dengan tetap memelihara peran transformatifnya: mencerahkan, tidak melenakan, anti penindasan, tidak kapitalis, pro keadilan, berjiwa sosial, tidak narsis dan tentu saja rasional. Spiritalitas agama yang semacam ini saya sebut spiritualitas otentik.</p>
<p>Revivalisasi agama melalui jalan spiritual otentik, karena itu, menjadi niscaya. Bila selama ini revivalisme agama cenderung dimaknai sebagai kebangkitan kembali agama dalam konteks politik dan pertarungan identitas baik di aras nasional maupun global. Maka, jalan spiritual otentik akan memberikan peluang agama juga agamawan untuk tampil sebagai kekuatan sipil yang pro kemajuan namun ramah pada lingkungan, beridentitas jelas namun toleran dan menghargai perbedaan. Jalan spiritual otentik agama, dengan demikian, bisa menjadi jawaban terhadap kritik spiritualist tanpa agama sekaligus “meluruskan” praktik-praktik komodifikai dan korporatisasi spiritual. <em>wallahu a&#8217;lam</em></p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=522&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/02/28/mencari-spiritualitas-otentik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari ini, tujuh tahun yang lalu</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/01/04/hari-ini-tujuh-tahun-yang-lalu/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/01/04/hari-ini-tujuh-tahun-yang-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 02:44:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar/News]]></category>
		<category><![CDATA[positive feeling]]></category>
		<category><![CDATA[positive motivation]]></category>
		<category><![CDATA[positive thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[
Maka nikmat Tuhan yang mana (lagi) yang akan engkau dustakan? Demikian salah satu ayat yang diulang hingga 30 kali dalam Surat Ar-Rahman.
Mengapa Allah mengulang-ulang ayat tersebut? Apakah manusia begitu bebal hingga diingatkan berkalai-kali? Saya yakin Allah tahu persis dengan makhluk ciptaannya ini yang mudah berbuat salah dan lupa. Karena itulah peringatan dalam bentuk kalimat tanya [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-507" title="P1160669" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/01/P1160669-150x150.jpg" alt="P1160669" width="150" height="150" /><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-508" title="P1160672" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2010/01/P1160672-150x150.jpg" alt="P1160672" width="150" height="150" /></p>
<p>Maka nikmat Tuhan yang mana (lagi) yang akan engkau dustakan? Demikian salah satu ayat yang diulang hingga 30 kali dalam Surat Ar-Rahman.</p>
<p>Mengapa Allah mengulang-ulang ayat tersebut? Apakah manusia begitu bebal hingga diingatkan berkalai-kali? Saya yakin Allah tahu persis dengan makhluk ciptaannya ini yang mudah berbuat salah dan lupa. Karena itulah peringatan dalam bentuk kalimat tanya itu Allah firmankan berulang kali, meski kenyataanya hanya sedikit dari manusia yang mau bersyukur (<em>w</em><em>a qaliilun min &#8216;ibaadiyas-syakuur</em>).</p>
<p><span id="more-506"></span></p>
<p>Mengapa manusia enggan bersyukur dan  malah sering menyalahkan Sang Pemberi hidup? Karena manusia terlalu sering bernegatif thingking (<em>su’udhan</em>) bukan hanya terhadap orang lain dan diri mereka sendiri namun juga kepada sang Khaliq. Ungakapan “ah, aku kan lahir dari keluarga miskin, mana bisa sekolah sampai jenjang tertinggi” misalnya, tidak hanya merendahkan kemampuan dan potensi diri si pengucap namun juga ujud ingkar terhadap Allah yang telah melimpahkan setiap manusia potensi yang adiluhung (<em>ahsani taqwim</em>). Negatif thingking inilah yang mendasari manusia sulit bersyukur.</p>
<p>Pada konteks mensikapai hidup, syukur adalah ungkapan positive feeling terhadap segala situasi yang dihadapi: keluarga, masyarakat, pekerjaan, anak, kesehatan, rezeki, dan begitu seterusnya. Positif feeling inilah yang akan memunculkankan positive motivation yang pada gilirannya akan mengundang rizki tak terhingga sebagaimana firman-Nya <em>Lainsyakartum La-aziidanakum..</em>.</p>
<p>Hari ini tujuh tahun yang lalu adalah hari lahir anak pertamaku. Tiga hari yang lalu, tepatnya tanggal 1 januari, hari lahir anakku yang kedua. Satu munajat yang selalu aku panjatkan: Semoga aku selalu bisa mensyukuri kelahirannya; menyemai positive thinking, memupuk positive feeling, serta mengalirkan positive motivation kepada mereka. Selamat ulang tahun anak-anak-ku.</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=506&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2010/01/04/hari-ini-tujuh-tahun-yang-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pengkhianat</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/12/28/sang-pengkhianat/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/12/28/sang-pengkhianat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 05:04:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[pengkhianat]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=499</guid>
		<description><![CDATA[Umumnya, orang merasa sakit bila dikhianti. Namun akhir-akhir ini banyak yang, tanpa mereka sadari, justru merasa senang dan bangga. Dengan suka cita mereka bahkan merayakan kehadiran &#8217;sang pengkhianat&#8217; itu.
Mau tahu siapa pengkhianat dan penyambut setia kehadirannya? Simak refleksi berikut ini.
Ketika sambungan telepon kabel belum menjangkau ke semua rumah, hand phone (HP) masih menjadi barang mewah yang [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/12/P1160458.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-517" title="P1160458" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/12/P1160458-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Umumnya, orang merasa sakit bila dikhianti. Namun akhir-akhir ini banyak yang, tanpa mereka sadari, justru merasa senang dan bangga. Dengan suka cita mereka bahkan merayakan kehadiran &#8217;sang pengkhianat&#8217; itu.</p>
<p>Mau tahu siapa pengkhianat dan penyambut setia kehadirannya? Simak refleksi berikut ini.</p>
<p>Ketika sambungan telepon kabel belum menjangkau ke semua rumah, <em>hand phone</em> (HP) masih menjadi barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang, wartel adalah pilihan utama masyarakat untuk berkomunikasi jarak jauh dengan kolega dan keluarganya. Usaha wartel pada waktu itu betul-betul jadi primadona. Sayangnya, hanya mereka yang punya modal dan koneksi dengan otoritas perusahaan telekomunikasi lah yang bisa mengakses bisnis yang sangat menguntungkan waktu itu.</p>
<p><span id="more-499"></span><br />
Belakangan kran membuka wartel, kiostel, serta kiospon terbuka lebar. Syarat-syarat ketat dan njelimet yang dulu ada dihilangkan. Hanya dengan modal kurang dari 6 juta, masyararakat sudah bisa bisnis telekomunikasi dengan satu KBU. Wartel dan kiostel dengan mudah bisa dijumpai hampir di tiap RT dan lokasi&#8211;lokasi strategis.</p>
<p>Belum cukup lama para pemilik wartel itu mencari peruntungant tiba-tiba pasar telekomunkasi dibanjiri oleh telepon selluler. Saat ini, hampir semua orang punya HP. Tidak sedikit diantara mereka bahkan punya lebih dari satu.  Jasa wartel tidak dibutuhkan lagi. Jaringan telepon seluler telah menjangkau hingga ke pelosok-pelosok. HP dengan harga murah pun mudah didapat. Maka tidak sedikit wartel, kiostel, maupun kiospun yang gulung tikar. Saya yakin, banyak diantara mereka yang belum balik modal, terutama para pemain baru.  Kasihan masyarakat “awam” itu, mereka dikhianati teknologi.</p>
<p>Pengkhianatan teknologi juga terjadi pada kasus gulung tikarnya pengusaha tekstil ATBM tergilas oleh pabrik tekstil dengan mesin-mesin modern; menghilangnya andong dan dokar karena masyarakat lebih memilih sepeda motor atau mobil; jasa pengetikan manual yang tergeser oleh computer dan printer; surutnya usaha penyewaan komputer sebab PC dan laptop bukan lagi jadi barang mewah, tukang poto yang tidak laku sebab hampir tiap orang kini punya camera digital; redupnya usaha warnet setelah muncul teknologi wifi, GPRS hingga HSDP yang disediakan oleh berbagai profider telepon seluler; dan masih banyak lagi. Saya yakin pola pengkhinatan dan kanibal teknologi baru terhadap yang lama ini akan terus berlangsung. Entah sampai kapan.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir, teknologilah si pengkhianat sejati itu. Ia selalu mengkhianati pengikutnya. Tidak ada kata setia dalam teknologi. Setia berarti siap ditikam si pengkhianat.</p>
<p>Bila anda termasuk maniak teknologi baru, sebut saja selalu ganti HP bila ada produk baru tanpa bisa memanfaatkannya secara optimal, besar kemungkinan anda  salah satu penyambut setia hadirnya &#8220;sang penkhianat&#8221; itu.</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=499&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/12/28/sang-pengkhianat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah, Debat &amp; Kebebesan Berekspresi</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 03:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kultum]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Debat]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kebebesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wa mau’idhati al-hasanati wa jaadil-hum billaatii hiya ahsan. (Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak (hikmah) dan peringatan yang baik-baik, lalu debatlah dengan cara yang terbaik).
Ayat diatas sering dijadikan rujukan tentang metode dan strategi berdakwah: yang pertama dengan menyeru pada jalan Allah secara bijak (bi al-hikmah), kedua pemberian wejangan/nasihat [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-494" title="Screen shot 2009-11-02 at 9.37.29 AM" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/11/Screen-shot-2009-11-02-at-9.37.29-AM.png" alt="Screen shot 2009-11-02 at 9.37.29 AM" width="298" height="163" />Ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wa mau’idhati al-hasanati wa jaadil-hum billaatii hiya ahsan. </em>(Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak (hikmah) dan peringatan yang baik-baik, lalu debatlah dengan cara yang terbaik).</p>
<p>Ayat diatas sering dijadikan rujukan tentang metode dan strategi berdakwah: yang pertama dengan menyeru pada jalan Allah secara bijak (<em>bi al-hikmah</em>), kedua pemberian <em>wejangan</em>/nasihat yang baik-baik (<em>mau’idha hasanah</em>), dan yang ketiga, bila masih nggak mau juga, maka debatlah namun dengan cara yang paling baik, tidak menimbulkan prahara (<em>jaadilhum billati hiya ahsan</em>). Ketiga strategi tersebut seoalah berlaku <em>squence</em>, 1, 2, dan 3. Padahal, kalau dicermati ayat tersebut mengandung dua perintah. Pertama adalah perintah dakwah dengan cara menyeru dan memberi peringatan, yang kedua adalah perintah untuk mendebat dengan cara yang sebaik mungkin.</p>
<p><span id="more-493"></span></p>
<p>Kenapa dua perintah? Sebab <em>wau ‘athf</em> pada <strong><em>wa</em></strong><em> jaadilhum </em>mestinya merujuk pada kata perintah (<em>fi’il amr</em>) <em>ud’uu, </em>bukannya pada kata benda (<em>isim</em>) <em>al-hikmah wa mau’idhatu al-hasanah</em> yang selama ini sering dipahami. Dalam struktur bahasa Arab kata sambung “dan” (<em>wa athf</em>) mesti merujuk pada kata yang pararel. Karena <em>Jaadil-hum</em> adalah <em>fiil amr</em>, maka ia mesti merujuk pada <em>fii’l amr</em> sebelumnya, yaitu <em>ud’uu, </em>bukan pada dua kata benda (<em>isim</em>) <em>al-hikmah</em> dan al-<em>mau’idhah</em>.</p>
<p>Perintah untuk berdebat ini perlu dimaknai secara komprehensif. Bukan hanya mendebat pandangan pihak lain yang tidak sesuai dengan kita pada forum-furum debat. Juga bukan terbatas pada forum debat antar dua kelompok agama sebagaimana sering dilakukan oleh Ahmad Dedat dengan para pendeta dan pastur untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam. Lebih luas lagi, debat bisa juga dimaknai sebagai <em>counter information </em>terhadap isu-isu miring yang memojokkan Islam.</p>
<p>Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dalam dunia internet yang mengantarkan setiap orang bisa dengan bebas dan leluasa membuat blog, memposting opini dan pendapat pribadi atau kelompok, maka berita dan informasi yang merendahkan, menghina, dan menghujat Islam dan umat Islam akan semakin banyak. Ditutupnya blog yang memuat kartun nabi Muhammad di Indonesia beberapa waktu yang lalu tidak akan menutup syahwat mereka yang tetep gigih ingin melecehkan Islam. Ini bisa dibaca dari tidak menyesalnya kartunis Denmark yang telah melecehkan Nabi bahkan akan tetep berkarya atas nama kebebasan berekspresi meski karyanya tersebut diprotes oleh kaum Muslim seantero Dunia. Disinilah perlunya umat Islam proaktif “mendebat” informasi-informasi yang menghina Islam tersebut dengan cara terbaik. Tidak cukup hanya dengan sikap reaktif; protes, demo turun ke jalan sambil marah-marah. Informasi tentang Islam yang sesat menyesatkan tersebut harus didebat dengan counter informasi yang cerdas dan terarah.</p>
<p>Saatnya umat Islam membuat <em>task force</em> “pusat informasi” terdiri dari orang-orang yang “melek” hukum, media, teknologi dan tentu saja ajaran Islam itu sendiri untuk mendebat dan meluruskan berita-berita miring tentang Islam. Saatnya generasi Muslim proaktif memanfaatkan fasilitas blog, wordpress, mailing list, friendster, facebook serta fasilitas ‘dunia maya’ lainnya untuk syiar Islam. Bila tidak, maka internet akan dipenuhi oleh bloger-bloger yang hanya menyiarkan kesesatan. Itulah kira-kira makna strategis dari perintah Allah “<em>jaadilhum billati hiya ahsan</em>.” Semoga bermanfaat.</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=493&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/11/02/dakwah-debat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajar Islamologi Mahasiswa Tiongkok</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 23:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Islamologi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[          Ceritanya, tiga miggu yang lalu saya menyambangi sekretariat Center for Teaching Staff Development (CTSD) di lantai 3 Gedung Pusat Studi UIN Sunan Kalijaga. Direktur CTSD yang akan bertugas ke Sorong selama 3 minggu tampak surprise melihat saya datang siang itu. Kukatakan padanya kalau saya sedang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/05/persidangan-mahasiswa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Persidangan Mahasiswa'>Persidangan Mahasiswa</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' />  <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' />  <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' />  <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' />  <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/headspin.gif' alt='(headspin)' class='wp-smiley' /> <img class="alignleft size-medium wp-image-476" title="Masjid Tiongkok" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/10/Masjid-Tiongkok-300x198.jpg" alt="Masjid Tiongkok" width="300" height="198" />Ceritanya, tiga miggu yang lalu saya menyambangi sekretariat Center for Teaching Staff Development (CTSD) di lantai 3 Gedung Pusat Studi UIN Sunan Kalijaga. Direktur CTSD yang akan bertugas ke Sorong selama 3 minggu tampak surprise melihat saya datang siang itu. Kukatakan padanya kalau saya sedang riset lapangan di Jogja. Mengetahui saya punya waktu agak luang pada akhir pekan, setengah kegiraangan dia meminta saya untuk mengganti mengajar Studi Islam pada mahasiswa asal Tiongkok yang tengah mengambil program Sandwich di Universitas Ahmad Dahlan, salah satu Perguruang Tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta.</p>
<p>Tidak satupun mahasiswa asal Tiongkok di kelas tersebut Muslim, karena itu materi Keislaman yang disampaikan pun lebih ditekankan pada Islamologi. <em>Islam Ditinjau Dari Berbagai Aseknya </em>karya Harun Nasution dipandang pas sebagai rujukan untuk menjelaskan seluk beluk agama Islam bagi non Muslim. Buku tersebut menguraikan Islam tidak secara doktriner, tapi mengupasnya dari berbagai sudut pandang seperti historis, sosiologis serta filosofis.  Meski jauh dari kesan indroktinatif, namun karya doctor alumni McGil Univesity itu tetap diperkaya dengan nukilan-nukilan dalil naqli dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits untuk menunjukkan bahwa paparan historis, sosiologis dan filosofis dalam buku ini tidak bertentangan dengan nash .<span id="more-474"></span></p>
<p>Sabtu 17 Oktober saya masuk kelas untuk menjelaskan Makna Islam yang Sebenarnya. Lalu pada 25 Oktober mengupas keterkaitan antara Ibadah dalam Islam dengan Latihan Spiritual dan Pembinaan Moral. Sejak awal saya dipesan agar menjelakan secara pelan-pelan, sebab mereka juga masih belajar bahasa Indonesia. Semula saya berpikir, kalau bahasa Indonesia mereka masih terbata-bata saya toh bisa menerangkan dengan bahasa Inggris. Namun, salah satu pengelola program menyampaiakan sms bahwa mereka juga tidak faham bahasa Inggris. Akhirnya satu istilah bisa saya ulang berpuluh kali agar mereka mengerti. Hampir 30an mahasiswa itupun setia mebuka-buka “Buku Bantal” Kamus Indonesia-Tiongkok. Belum cukup, masing-masing mereka juga ditemani kamus elektronik.</p>
<p>Meski saya harus rela berserak-serak akibat teriak mengulang-ulang materi kuliah, namun saya salut pada kegigihan mereka belajar bahasa Indonesia. Salah satu alasan kenapa saya bersedia mengajar mereka adalah hasrat untuk menjelaskan pada dunia bahwa Islam itu damai, indah, anti kekerasan dan penuh dengan ajaran etika universal. Islam sama sekali tidak identik dengan terror dan ketebelakngan, seperti yang sering dipropagandakan berbagai media Asing.</p>
<p>Sumber gambar: http://img219.imageshack.us/img219/743/xianmosque02gh4.jpg</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=474&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/05/persidangan-mahasiswa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Persidangan Mahasiswa'>Persidangan Mahasiswa</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/10/25/mengajar-islamologi-pada-mahasiswa-tiongkok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Between Islam, the market and spiritual revolution</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/30/between-islam-the-market-and-spiritual-revolution/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/30/between-islam-the-market-and-spiritual-revolution/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 08:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Market]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual Revolution]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad Munjid&#8217;s article &#8220;Thick Islam and Deep Islam&#8221; (The Jakarta Post, Aug. 16, 2009) was responded to by Hilman Latief&#8217;s &#8220;Cosmopolitan Muslims: Urban vs. Rural Phenomenon&#8221; (the Post Aug. 29, 2009).
Although both Munjid and Hilman shared their ideas on the more obvious prevalence of Islamic identity among Indonesian Muslims, they differed in terms of categorization [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/07/modernity-religious-change-and-spiritual-revolution/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Modernity, Religious Change and Spiritual Revolution'>Modernity, Religious Change and Spiritual Revolution</a></li><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/06/recreational-therapeutic-spirituality-vs-religious-moral/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Recreational-therapeutic Spirituality vs. Religious Moral'>Recreational-therapeutic Spirituality vs. Religious Moral</a></li><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/islamic-cleric-among-indonesian-modernist-muslims/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Islamic Cleric among Indonesian &#8220;Modernist&#8221; Muslims'>Islamic Cleric among Indonesian &#8220;Modernist&#8221; Muslims</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-482" title="Screen shot 2009-10-25 at 8.43.25 AM" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/09/Screen-shot-2009-10-25-at-8.43.25-AM-300x229.png" alt="Screen shot 2009-10-25 at 8.43.25 AM" width="300" height="229" />Ahmad Munjid&#8217;s article &#8220;Thick Islam and Deep Islam&#8221; (The Jakarta Post, Aug. 16, 2009) was responded to by Hilman Latief&#8217;s &#8220;Cosmopolitan Muslims: Urban vs. Rural Phenomenon&#8221; (the Post Aug. 29, 2009).</p>
<p>Although both Munjid and Hilman shared their ideas on the more obvious prevalence of Islamic identity among Indonesian Muslims, they differed in terms of categorization between urban and rural as well as &#8220;thick&#8221; and &#8220;deep&#8221; Islam.</p>
<p>Munjid noted that &#8220;Thick Islam&#8221; was an urban phenomenon, and that &#8220;Deep Islam&#8221; was a rural one, whereas Hilman argued that the thick and the deep could not be generalized based on urban and rural categories.</p>
<p>Although neither intended to stimulate classical binary opposition between the Muhammadiyah as an urban Muslim organization and the NU as a rural one, the &#8220;polemic&#8221; is nevertheless interesting if we reckon their backgrounds. Munjid, who is currently the president of the Nahdlatul Ulama Community in North America, would say that the rural tradition of the NU is better than the urban.</p>
<p>Hilman, meanwhile, as a lecturer at Muhammadiyah University&#8217;s School of Islamic Studies, in Yogyakarta, would answer that the urban Muslim of the Muhammadiyah are not identical with &#8220;Thick Islam&#8221;.</p>
<p>This discussion will not pretend to support either of them, but to emphasize the fact of religious change and its various trajectories in late modern era.</p>
<p><span id="more-469"></span></p>
<p>While to some extent modernity has interestingly provided trajectories of religions to be symbolically more prevalent concomitant with other secular institutions, it also provides another trend to the opposite, namely the bourgeoning of subjective life religiosity.</p>
<p>Like Munjid and Hilman, I do agree that Indonesia encounters the continuing significant appearance of religion in public. Religious revivals, mainly Islamic, continue to prevail, ranging from groups of liberals, modernists, moderates, charismatics, scriptural-puritans , to hard-line &#8220;fundamentals&#8221; . The global religious market flooding into this country embedded with socio-cultural background of Indonesians, known as bangsa yang religius (a religious country).</p>
<p>The government&#8217;s policies on religion also support the significant role of religion not only in people&#8217;s personal outlooks, but also in the public sphere. These have been manifested in, for example, the state formation of &#8220;delimitated religious plurality&#8221; to restrict the public into only five official religions: Islam, Catholicism, Protestantism, Hinduism and Buddhism.</p>
<p>The Pancasila (Five Principles) is the only ideology of the state in which its first principle is Ketuhanan Yang Maha Esa (Monotheism) ; the establishment of the Religious Affairs Ministry; and the government policy stating that every citizen should embrace one of the official religions on citizenship ID cards.</p>
<p>In addition, the government also officially maintains the definition of (religion) as being restricted to those that have a theological doctrine, prophets and scriptures, and are internationally spread.</p>
<p>The above notion underlines Hilman&#8217;s assertion of the interplay of state and market in determining forms of religious expression. The way of Islam is perceived and articulated, determined by the actor and the context.</p>
<p>A religious person proposes certain services that are absolutely consider targeted at &#8220;customers&#8221; who can afford the services.</p>
<p>As a &#8220;living organism&#8221;, Islam appears in various expressions, and sociologically we find multifaceted manifestation. Munjid and Hilman have provided thoughtful analyses on the &#8220;outer&#8221; symbolic expression of Islam, but they overlooked the &#8220;inner&#8221; one, the emergence of contemporary Islamic spirituality. In fact, as Howell (2006) noted, spiritual Islam is part of Indonesian Islamic revival.</p>
<p>To start this discussion, let me borrow Heelas and Woodhead&#8217;s notion from their subjectivization thesis. The subjective turn is &#8220;a turn away from life as to subjective life,&#8221; said Heelas and Woodhead (2005). They further state that &#8220;life as&#8221; means &#8220;life in accordance to&#8221; other external authorities &#8211; religion, community, state and many more &#8211; such as life as a dutiful wife, husband, father, teacher, etc. in order to conform. Subjective life means life in one&#8217;s own authenticity, &#8220;in deep connection with the unique experience of the self&#8221; and &#8220;with the inner depth of one&#8217;s unique life-in-relation&#8221; .</p>
<p>Implemented in the spiritual/religious field, then, one is categorized as life-as religion when his/her religiosity as well religious expression is drifted by following the duties and instruction of religious authorities (leaders, dogma/tenets, institutions and many others).</p>
<p>By contrast, one is said to be of subjective life spirituality when he/she lives in a deep connection with his/her own unique spirituality. The primary focus of life-as religion is congregation, whereas the primary focus of subjective life spirituality is holistic milieu.</p>
<p>Based on the above perspective, it is true that Islamic identity both culturally and politically is more prevalent in Indonesian public spaces as a representation of &#8220;life-as religion&#8221;, but there actually also prevails the development of &#8220;subjective life spirituality/ religiosity&#8221; in contemporary Indonesia.</p>
<p>We face a number of spiritual centers operating in urban arenas, such as the neo-Sufism groups, preprogrammed experimental spiritual trainings, yoga classes and reiki programs, alternative healing and many others.</p>
<p>These kinds of spiritual hybrid appear in newspapers, magazines, even TV programs promoting the efficacies of spirituality. Such spiritual centers have successfully invited a huge number of urban Muslims to participate.</p>
<p>The so-called Islamic spirituality is part of a global trend where religious and spiritual trajectories are flourishing in the contemporary era, both in modernized and modernizing cities. Contemporary expressions of religiosity include New Religious Movements (NRM) and the New Spiritual Movements that flourish in various forms. Some NRMs are revivals of indigenous religions; some are Christian charismatic movements such as Pentecostalism; some take the form of New Age, alternative healing, yoga, Holism, and Mind-Body-Spirit; and some constitute the practices like Human Potential Movement. All these movements emerged as responses to the perceived aridity of Western tradition, in ph</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=469&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/07/modernity-religious-change-and-spiritual-revolution/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Modernity, Religious Change and Spiritual Revolution'>Modernity, Religious Change and Spiritual Revolution</a></li><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/06/recreational-therapeutic-spirituality-vs-religious-moral/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Recreational-therapeutic Spirituality vs. Religious Moral'>Recreational-therapeutic Spirituality vs. Religious Moral</a></li><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/07/25/islamic-cleric-among-indonesian-modernist-muslims/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Islamic Cleric among Indonesian &#8220;Modernist&#8221; Muslims'>Islamic Cleric among Indonesian &#8220;Modernist&#8221; Muslims</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/30/between-islam-the-market-and-spiritual-revolution/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/20/taqabbalallah-minna-wa-minkum/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/20/taqabbalallah-minna-wa-minkum/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 09:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Greetings]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dan segeralah mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orangg-orang bertakwa. Yaitu mereka: 1) yang berinfak di waktu lapang atau sempit, 2) yang menahan amarahnya, 3) yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan&#8221; (Q,s. 3:133-134).
Taqabbalallaah minnaa wa minkum. Selamat meraih predikat tagwa. [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><img class="alignleft size-medium wp-image-485" title="Screen shot 2009-10-25 at 9.09.18 AM" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/09/Screen-shot-2009-10-25-at-9.09.18-AM-220x300.png" alt="Screen shot 2009-10-25 at 9.09.18 AM" width="220" height="300" />&#8220;Dan segeralah mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orangg-orang bertakwa. Yaitu mereka: 1) yang berinfak di waktu lapang atau sempit, 2) yang menahan amarahnya, 3) yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan&#8221; (Q,s. 3:133-134).</p></blockquote>
<p>Taqabbalallaah minnaa wa minkum. Selamat meraih predikat tagwa. Maaf segala khilaf. <em>(muttaqin-indah-auzi&#8217;-naufal)</em>.  <img src='http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/scenic.gif' alt='(scenic)' class='wp-smiley' /> </p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=466&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/20/taqabbalallah-minna-wa-minkum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persidangan Mahasiswa</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/05/persidangan-mahasiswa/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/05/persidangan-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 09:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar/News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Persidangan dengan &#8220;terdakwa&#8221; seorang ayah dari dua anak digelar Jum’at, 4  September 2009  pukul 3 sore waktu Brisbane. Dihadapan 3 professor dan beberapa mahasiswa program doktor terdakwa diminta mepertanggungjawaban atas semua yang telah ia tulis. Bahkan, yang baru saja ia omongkan dihadapan pengunjung sore itu juga mereka pertanyakan.
Ia sudah berada di dalam ruang Millenium gedung Macrossan bebera [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-463" title="courtroom" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/09/courtroom-300x199.jpg" alt="courtroom" width="300" height="199" />Persidangan dengan &#8220;terdakwa&#8221; seorang ayah dari dua anak digelar Jum’at, 4  September 2009  pukul 3 sore waktu Brisbane. Dihadapan 3 professor dan beberapa mahasiswa program doktor terdakwa diminta mepertanggungjawaban atas semua yang telah ia tulis. Bahkan, yang baru saja ia omongkan dihadapan pengunjung sore itu juga mereka pertanyakan.</p>
<p>Ia sudah berada di dalam ruang Millenium gedung Macrossan bebera menit sebelum mereka datang. Tumpukan “alat bukti” dan “alibi” tertata di atas meja. Sebuah laptop dan LCD projector disiapkan untuk menampilkan barang bukti tersebut. Wajahnya tampak gugup; sesekali ia membenahi pakaian yang dikenakan: baju putih bermotif kotak dimasukkan dalam  celana kantoran dan dibalut jaket hitam semi jas. Perasaannya makin bertambah “nano-nano” ketika melihat lelaki tegap 60-an tahun masuk ke ruang sidang. Dia adalah “hakim” external dari kampus yang usianya jauh lebih tua dari tempat terdakwa menuntut ilmu.  </p>
<p><span id="more-460"></span></p>
<p>Maka yang terjadi terjadilah. Terbayang bakal ada gontok-gontokan adu argumen, saling menunjuk kesalahan orang lain dan membusungkan dada bahwa dirinya yang paling benar. Ah, yang begitu itu ternyata bukan iklim akademis.</p>
<p>Ia hanya mengikuti irama yang mengalun di persidangan. Mereka bertanya dia menjawab. Mereka memberi saran, dia menerima dengan tangan terbuka. Mereka minta penjelasan, dia menerangkan secara gamblang.</p>
<p>Akhirnya, mereka bisa menerima dan memahami jalan pikiran terdakwa. Bahkan, external assessor memberi saran yang justru memudahkan langkah berikutnya. Deg-degan-nya berangsur-angsur hilang. Ternyata mereka begitu bersahaja dan sangat supportif. Terimakasih semuanya. Atas doa dan dukungan anda semua, PhD Confirmation Seminar kemarin berjalan lancar &amp; sukses.</p>
<p>Sumber gambar: http://www.huseby.com/blog/</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=460&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/09/05/persidangan-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan bagi Minoritas Muslims</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 03:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Minoritas Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Negeri Orang]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[
The more temptation we face, the more reward we will have. Saat sedang asyik mendengarkan kuliah di kelas; datang mahasiswi dengan pakaian musim panas yang “compang-camping &#38; tidak lengkap.&#8221; Dia langsung duduk di sampingku, membuka tas, mengeluarkan minuman kaleng lalu menenggaknya, glek glek glek…. “uh segarnya…” batin saya. Kadang saya berfikir, puasa umat Islam Indonesia itu terlalu “manja.” Atas [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-452" title="IMCoGU  Ifthar" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2009/08/IMCoGU-Ifthar.jpg" alt="IMCoGU  Ifthar" width="415" height="311" /></p>
<p><em>The more temptation we face, the more reward we will have.</em> Saat sedang asyik mendengarkan kuliah di kelas; datang mahasiswi dengan pakaian musim panas yang “compang-camping &amp; tidak lengkap.&#8221; Dia langsung duduk di sampingku, membuka tas, mengeluarkan minuman kaleng lalu menenggaknya, glek glek glek…. “uh segarnya…” batin saya. Kadang saya berfikir, puasa umat Islam Indonesia itu terlalu “manja.” Atas nama menghormati bulan Ramadhan tempat-tempat hiburan dan warung makan dihimbau tutup. Tempat maksiat digerebek. Operasi miras dilakukan di berbagai daerah, hotel dan rumah-rumah bordil pun dirazia.</p>
<p>______________</p>
<p>Rabu malam 26 Agustus 2009 waktu Brisbane, seorang jurnalis sebuah media massa cetak di Semarang mengontak saya via YM. Dia ingin tahu pengalaman puasa di negeri orang. Berikut ini penggalan chatting saya dengan wartawati tersebut, setalah dilakukan beberapa editing. Semoga bermanfaat.  </p>
<p>Fani (F)<em>: Assalamu&#8217;alaikum, mas Taqin.</em></p>
<p>Muttaqin (M): &#8216;Alaikum salam. Gemana kabarnya mbak?</p>
<p><em>F: Alhamdulillah</em></p>
<p>M: Oke. How may I help you?</p>
<p><em>F: Enggak, aku cuma mau nanya aja pengalaman puasa di luar negri. Sekarang di Australia ya mas?</em></p>
<p>M: Betul.</p>
<p><span id="more-449"></span></p>
<p><em>F: Di kota apa?</em></p>
<p>M: Brisbane.</p>
<p><em>F: Kuliah dimana, trus jurusannya apa?</em></p>
<p>M: Saya di PhD program Internatinal Business &amp; Asian Studies (IBAS), Griffith University.</p>
<p>Secara umum Ramadhan di Brisbane tahun 1430 ini lama puasanya hampir sama di Indonesia. Sekitar duabelas setangah jam. Hanya saja, pas masuk Ramadhan berbarengan dengan cuaca yang agak extrim; kalau siang panas banget &amp; menyengat.</p>
<p><em>F: Sahur jam berapa? Azan subuhnya?</em></p>
<p>M: Saya biasa mulai sahur jam 4 pagi. Adzan subuh hari pertama jam 5 kurang 5 menit. Buka puasa / maghrib jam 5.30 sore. Dari jadwal yang ada, tiap hari puasanya makin lama. Rata-rata bertambah 3-5 menit.</p>
<p><em>F: Enak puasa dimana, di Ausi apa Indonesia?</em></p>
<p>M: Secara sosial jelas enak di Indonesia.</p>
<p><em>F: Kenapa?</em></p>
<p>M: Karena gebyar ramadhan betul betul terasa di Indonesia, mulai dari telivisi, aktivitas masjid, media massa, pusat-pusat perbelanjaan, dlll</p>
<p>Di Indonesia kita selalu diiingatkan oleh pengeras suara masjid bahwa waktu sahur sudah tiba, suara mengaji/tadarus dari masjid2 sekitar, dll. Semua menambah suasana ramadhan makin syahdu.</p>
<p>Di Brisbane atau di negara Barat lain saat komunitas Muslim minoritas, sulit menemukan suasana Ramadhan di ruang publik.</p>
<p><em>F: Di sana masjidnya jauh atau dekat? Trus azannya dari masjid atau dari laptop?</em></p>
<p>M: Ada banyak masjid, tapi kebetulah jauh dari tempat tinggal saya. Untungnya di kampus ada “mushalla” yang bisa digunakan oleh teman-teman GUMSA (Griffith Uni Muslim Student Association) untuk kegiatan. Selama Ramadhan GUMSA mengkoordinir buka puasa bersama + sholat tarowih di mushalla kampus tiap hari. Buka puasa yang disediakan termasuk makan besar (dinner). Karena mayoritas muslims student berasal dari Timur Tengah, maka setiap buka puasa selalu tersedia kurma berkardus2. Setelah sholat maghrib kita makan malam bersama, dengan porsi yang, menurut ukuran perut Indonesia, bisa dipakai hingga sahur.</p>
<p>Bagi mahasiswa, bulan puasa seperti ini bisa &#8220;ngirit&#8221;, karena bisa ifthar + dinner &#8220;gratis&#8221; selama ramadhan. Itu salah satu kenikmatan puasa di Brisbane, he he he.</p>
<p>Mahasiswa Muslim dari Indonesia juga berpartisipasi menyediakan dinner buka puasa di kampus kami. Kita “patungan” menyediakan buka puasa bersama untuk <span style="text-decoration: underline;">+</span>150 mahasiswa. (Insya Allah dilaksanakan Sabtu 29 Agt 2009 ini).</p>
<p>Tentang adzan di mesjid atau mushalla kampus, yang adzan ya muadzin. Ada orang yang adzan, tapi pengerasnya hanya cukup untuk dalam mesjid. Tidak ada pengeras suara keluar. Kalau kita yang di kamar-kamar, untuk keperluan pribadi, biasanya dengan mengeset program adzan di laptopnya masing2.</p>
<p><em>F: Apa tantangan puasa di negeri orang.</em></p>
<p>M: Pertama jauh dari keluarga. Kedua, tidak ada suasana Ramadhan sama sekali di ruang piblik, termasuk kampus. Dan ketiga, &#8220;godaan&#8221; lingkungan sekitar.</p>
<p>Sebagai gambaran, kantin dan rumah makan kampus tetap buka seperti biasa, mengeluarkan aroma makanan yang menggoda. Mudah kita jumpai mahasiswa yang lalu lalang sambil menikmati burger dan minuman kemasan. Demikian juga di ruang kelas. Siang tadi, misalnya, saya menghadiri seminar yang menyediakan lunch. Mereka dengan santainya makan, terpaksa deh kita menelan ludah. Belum lagi dengan cara berpakaian para mahasiswi. Tahu sendirikan bagaimana cewek-cewek Barat bila berpakaian di musim panas? Pernah suatu saat sedang asyik mendengarkan kuliah di kelas; datang mahasiswi dengan pakaian “compang-camping” &amp; tidak lengkap yang langsung duduk di sampingku. Setelah itu dia buka tas, mengeluarkan minuman kaleng lalu menenggaknya, glek glek glek…. “uh segarnya…” batin saya.</p>
<p>Terlepas dari itu semua, meski puasa di negeri orang itu godaan dan tantangannya lebih besar, tapi pahalanya saya kira juga lebih banyak. <em>The more the temptation we face, the more reward we will have. </em>Begitu kira-kra.  ha ha ha.</p>
<p><em>F: Cuaca extrim yang panas di Brisbane sekarang sampai berapa derajat?</em></p>
<p>M: Kalau siang mencapai 30an derajat celcius. Mungkin untuk ukuran Indonesia masih moderate ya segitu itu. Hanya saya di Brisbane menjadi terasa extrim karena sebelum puasa suhunya sejuk di sekitar 10 derajat celcius; eh, begitu masuk Ramadhan suhu-nya tiba-tiba menjadi 30an derajat.</p>
<p><em>F: Apa yang dilakukan untuk mensiasati suhu yang panas itu?</em></p>
<p>M: Kita biasanya ngadem di kantor atau ruang ber AC lainnya di kampus.</p>
<p><em>F: Kalau hari libur gemana?</em></p>
<p>M: Alhamdulillah, mahasiswa PhD di kampus kami dapat jatah ruang kantor untuk kerja dan menulis. Kita bisa di kantor tersebut kapanpun kita mau, tidak terikat hari libur.</p>
<p><em>F: Itu untuk mahasiswa PhD, bagaimana dengan mahasiswa lain pada umunya. Sebab AC-kan mahal?</em></p>
<p>M: Mereka biasanya pergi ke perpustakaan yang tetap bukan meskipun hari libur.</p>
<p><em>F: Dibanding puasa di Amrik dulu enak mana?</em></p>
<p>M: Berdasar pengalaman, puasa di Ausi jauh lebih enak dibandingkan di Amrik (Miami, Florida). Kota Brisbane tempat saya tinggal sekarang lebih “ramah” pada komunitas Muslim. Toko-toko daging halal mudah didapat. Kampus tempat kami belajar menyediakan mushalla yang jadi satu dengan multifaith-centre . Di Brisbane juga banyak komunitas Indonesia. Mereka membuat perkumpulan seperti IISB (Indonesian Islamic Soceity of Brisbane) dan IMCoGU (Indonesian Muslim Community at Griffith Uni), dll. Komunitas2 ini aktif meyelenggarakan pertemuan seperti kajian mingguan dan pengajian bulanan. Di bulan Ramadhan ini kita sering menyelenggarakan buka puasa bersama. Kampus kami di Miami dulu tidak ada fasilitas khusus untuk prayer room, kegiatan MSA juga kurang meriah. Ramadhan betul-betul terasa hambar di Miami dulu.</p>
<p><em>F: Apa hikmah puasa di negari orang?</em></p>
<p>M: Menjadi minoritas Muslim di negeri orang tentu banyak tantangan, namun tetap banyak hikmah yang bisa dipetik: (1) Saya bisa menjalin persaudaraan dengan teman-teman Muslim dari berbagai Negara: Saudi, Mesir, Oman, Irak, Pakistan, India, Australia, Albania Brunei, Malaysia, dll. (2) Saya merasa benar-benar berpuasa, sebab tantangan dan godaan selalu di depan mata. (3) Terus, puasa saya terasa lebih bermakna sebab terbebas dari “gebyar simbolik ramadhan” yang terjebak budaya konsumtif sebagaimana terjadi di tanah air. (4) Karena secara kultur saya tidak bisa menemukan suasana Ramadhan di ruang publik, saya tertantang untuk menciptakan nuansa Ramadhan itu secara mandiri, dalam diri dan hati kita sendiri. Saya kira ini bagus untuk menumbuhkan “awareness of self-religiosity.” Kadang saya berfikir, puasa umat Islam Indonesia itu terlalu “manja.” Atas nama menghormati bulan Ramadhan tempat-tempat hiburan dan warung makan dihimbau tutup. Tempat  maksiat digerebek. Operasi miras dilakukan di berbagai daerah, serta hotel dan rumah-rumah bordil dirazia.</p>
<p><em>F: Bukankah bagus bila PSK dan Miras di basmi?</em></p>
<p>M: Betul itu bagus. Kalau memang berniat memerangi <em>pekat</em> tersebut jangan hanya dilakukan sesaat dong. Buat program yang sistematis, entaskan mereka dari libah nista dengan menyediakan lapangan kerja yang lebih bertarbat. Jangan hanya menggeropyok dan mempermalukan mereka didepan sorot kamera televisi. Mereka juga manusia kan? </p>
<p><em>F: Betul juga, kadang saya kasihan dengan cara-cara petugas yang membentak dan menyeret-nyeret mereka. </em></p>
<p>M: Ya begitulah. Saya kira mereka itu korban dari ketidakadilan. Tampaknya kita selalu gagal belajar dari peristiwa masa lalu. Selalu berteriak atas nama moral, tapi nyaris nihil prestasi dalam soal kesejahteraan. Tiap tahun drama penggropyokan itu selalu muncul, tanpa dibarengi dengan langkah nyata mengentaskan mereka dari lembah keterpurukan. Secara tidak lansung aparat berkata: Bermaksiat di bulan Ramadhan itu illegal, di luar bulan Ramadhan silahkan. Saya kawatir image “Islam” makin tercoreng dengan kebijakan seperti itu. Siapa tahu, akan muncul dendam terhadap Islam dari mereka yang kena razia itu, sebab operasinya selalau mengatasnamakan “cipta kondisi romadhan” namun cara melakukannnya jauh dari norma dan kesantunan.</p>
<p><em>Wallahu’alam</em></p>
<p>Sumber foto: <a href="http://s297.photobucket.com/albums/mm205/wandy_email/?action=view&amp;current=DSCN3037.jpg">http://s297.photobucket.com/albums/mm205/wandy_email/?action=view&amp;current=DSCN3037.jpg</a> | IMCoGU menjamu buka puasa (ifthar) bersama di Griffith University tahun 2008 / Ramadhan 1429.</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=449&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
