<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LIFE FOR OTHERS</title>
	<atom:link href="http://www.ahmadmuttaqin.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ahmadmuttaqin.com</link>
	<description>:Berbagi Merajut Kebersamaan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 03:50:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Hedonisme dan Defisit Moral</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 05:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[defisit moral]]></category>
		<category><![CDATA[hedonimse]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[Istilah “hedonis” kembali  populer di masyarakat. Awalnya adalah “sentilan” ketua KPK, Busyro Muqaddas, pertengahan Nopember yang lalu, tentang kebiasaan hidup mewah para anggota DPR dan pejabat tinggi RI. Kolom surat kabar, acara talk show TV, mailing list, wall facebook, kicauan di tweeter, bahkan gardu ronda menjadi ajang memperbincangkan perilaku hedonis para pejabat. Semuanya  pada ‘koor’ [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F11%2F30%2Fhedonisme-dan-defisit-moral%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F11%2F30%2Fhedonisme-dan-defisit-moral%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=defisit+moral,hedonimse,pejabat&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/12/IMG_2771.jpg"><img class="size-medium wp-image-868 alignleft" title="IMG_2771" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/12/IMG_2771-300x238.jpg" alt="" width="300" height="238" /></a>Istilah “hedonis” kembali  populer di masyarakat. Awalnya adalah “sentilan” ketua KPK, Busyro Muqaddas, pertengahan Nopember yang lalu, tentang kebiasaan hidup mewah para anggota DPR dan pejabat tinggi RI. Kolom surat kabar, acara talk show TV, mailing list, wall facebook, kicauan di tweeter, bahkan gardu ronda menjadi ajang memperbincangkan perilaku hedonis para pejabat. Semuanya  pada ‘koor’ mengkritisi, atau setidaknya menyayangkan, perilaku bermewah-mewah pejabat negara yang seolah tidak peka dengan problem ekonomi masyarakat.</p>
<p>Wajar bila sebagian masyarakat mempertanyakan dari mana para pejabat tersebut dapat uang untuk memperoleh mobil dan rumah mewah bernilai milyaran rupiah. Dihubungkan dengan masih tingginya indek korupsi di negeri ini, serta banyaknya aparatur negara &#8211;angota DPR, pejaba tinggi,  ‘raja-raja” kecil di propinsi, kota dan kabupaten&#8211; yang menjadi OKB (orang kaya baru), kecurigaan masyarakat “jangan-jangan harta yg dipakai bermewah-mewah tersebut dari hasil korupsi” seolah memperoleh pembenaran.<span id="more-867"></span></p>
<p>Merasa disudutkan dengan pemberitaan yang menggenaralisir bahwa pejabat kaya lekat dengan korupsi, sebagian yang merasa sudah kaya sejak sebelum menjadi anggota DPR angkat bicara. Ada yang mengakui bahwa kadang-kadang ia mengendarai mobil seharga 7 miliar saat ke kantor, namun harta tersebut sudah dipunyai sejak sebelum ia jadi anggota DPR. “Saya sejak lahir sudah kaya, mau gemana lagi” kilah salah seorang anggota DPR dari salah satu partai besar.</p>
<p>Tentu, boleh boleh saja orang kaya membelanjakan harta semaunya. Namun, hidup itu kan tidak semata persoalan legal formal. Selain argumen halal haram, ada pertimbangan etika, akhlaq, dan moral yang mesti dijadikan acuan. Secara hukum tidak dilarang dan sah aparat negara yang sudah terlanjur kaya tersebut untuk hidup mewah. Namun, apakah etis mereka memamerkan kekayaanya di tengah rakyat yang 40%-nya berpendapatan kurang dari 2 dollar perhari alias hidup dibawah garis kemiskinan? Terlepas bahwa harta yang  dipakai untuk hidup mewah tersebut adalah halal, murni dari hasil bisnis atau warisan lelulurnya, perilaku hedonis para pejabat di tengah negara yg masih tertatih memerangi kemiskianan ini menunjukkan rendahnya kepekaan meraka pada kaum tak punya. Karena itu, jangan heran bila program pengentasan kemiskinan hanya manjadi slogan, sebab ditelorkan dan dijalankan oleh mereka yang sebagian sedang mengalami “devisit moral” dan “minus etika&#8221;.</p>
<p><em>na&#8217;udzubillaahi min dzaalik.</em></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="pengertian hedonisme">pengertian hedonisme</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="pengertian hedonisme menurut para ahli">pengertian hedonisme menurut para ahli</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="hedonisme menurut para ahli">hedonisme menurut para ahli</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="hedonisme dalam islam">hedonisme dalam islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="pengertian hedonis">pengertian hedonis</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="moral hedonisme">moral hedonisme</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="hedonisme menurut islam">hedonisme menurut islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="definisi hedonis">definisi hedonis</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="pengertian hedonisme dalam islam">pengertian hedonisme dalam islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/" title="definisi hedonisme menurut para ahli">definisi hedonisme menurut para ahli</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=867&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/11/30/hedonisme-dan-defisit-moral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Archive: Islam in South Florida</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/13/islam-in-south-florida/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/13/islam-in-south-florida/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 23:05:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Kutipan]]></category>
		<category><![CDATA[impact of 9/11 to Muslim community]]></category>
		<category><![CDATA[Islam in South Florida]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Minority]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[How did Muslim and Muslim community in the USA respond to the 9/11 terrorist attack? What were the impacts of media&#8217;s framing that the terrorist are Muslims jihadis to the Muslim communities in the USA? As part of our efforts to describe plurality of Islam and Muslim in the USA and their responses to and [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F09%2F13%2Fislam-in-south-florida%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F09%2F13%2Fislam-in-south-florida%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=impact+of+9%2F11+to+Muslim+community,Islam+in+South+Florida,Muslim+Minority&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>How did Muslim and Muslim community in the USA respond to the 9/11 terrorist attack? What were the impacts of media&#8217;s framing that the terrorist are Muslims <em>jihadis</em> to the Muslim communities in the USA?</p>
<p>As part of our efforts to describe plurality of Islam and Muslim in the USA and their responses to and impacts of the 9/11 terrorist attack on them, I and a friend of mine, Samsul Maa&#8217;rif, did a fieldwork in 1995, profiling 10 mosques/islamic cenhtres in Miami South Florida. The research was funded by the Pluralism Project at Harvard University. Below is the snapshot of the project:</p>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/09/Picture-2.png"><img class="size-large wp-image-848 alignleft" title="Picture 2" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/09/Picture-2-1024x553.png" alt="" width="620" height="334" /></a></p>
<p>Further detail at:</p>
<p>http://www.pluralism.org/affiliates/student/maarifandmuttaqin/index.php</p>
<p><span id="more-847"></span></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/13/islam-in-south-florida/" title="istilah florida">istilah florida</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=847&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/13/islam-in-south-florida/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBERI MAAF</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 11:43:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar/News]]></category>
		<category><![CDATA[Memberi Maaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=834</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang akan Anda lakukan bila anak Anda yang masih balita ditabrak sepeda motor dari belakang? Segera memberi pertolongan pada si anak, itu pasti. Maksud saya, apa tindakan Anda terhadap si penabrak tersebut? Marah, memukul, menuntut ganti rugi, atau membawanya ke pihak yang berwajib? Pagi itu, sekitar jam 10 pagi, seorang perempuan tampak sibuk dan [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F09%2F07%2Fmemberi-maaf%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F09%2F07%2Fmemberi-maaf%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Memberi+Maaf&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/09/Nuafal01.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-836" title="Nuafal01" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/09/Nuafal01-264x300.jpg" alt="" width="264" height="300" /></a>Apa yang akan Anda lakukan bila anak Anda yang masih balita ditabrak sepeda motor dari belakang? Segera memberi pertolongan pada si anak, itu pasti. Maksud saya, apa tindakan Anda terhadap si penabrak tersebut? Marah, memukul, menuntut ganti rugi, atau membawanya ke pihak yang berwajib?</p>
<p>Pagi itu, sekitar jam 10 pagi, seorang perempuan tampak sibuk dan tergesa. Ia mengendarai sepeda motor hanya dengan tangan kanannya. Tangan kirinya memegang rantang sayur, kedua kakinya menahan beban bahan makanan yang diletakkan di dedapannya. Sementara bagian belakang sepeda motor dipenuhi dengan sekarung padi. Bisa dibayangkan betapa repotnya perempuan muda itu.</p>
<p>Selesai bermain ayunan di depan rumah, seorang anak kecil keluar dari halaman, hendak menyusul kakaknya di rumah tetangga. Ia susuri pinggaran jalan dengan langkah pasti. Tiba-tiba tubuhnya terpental, berguling-guling membentur kerasnya aspal. Jerit tangis kesakitan seketika mengagetkan orang-orang sekitar.</p>
<p><span id="more-834"></span>Begitulah ceritanya, anak ragil saya, Naufal Muwaffaq Muttaqin (4,9 tahun), Kamis 1 September yang lalu, tepat di hari ke-3 keluarga kami merayakan idul Fitri 1432H, tertabrak atau di tabrak oleh pengendara motor yang sangat <em>sendelewer</em>. Kejadiannya di jalan kampung depan rumah eyangnya di dusun Latek, Lamongan, Jatim.</p>
<p>Bagian kepala di atas kedua telinganya berdarah. Lukanya membentuk jalur setengah lingaran dari ujung pelipis kanan mewati dahi terus ke pelipis kiri. Kedua tangan dan jari-jarinya lecet dan memar. Dan luka yang cukup parah ada di bawah punggung, membentuk garis berkelok ke bawah hingga diatas pinggul.</p>
<p>Melihat tingkat keparahan luka si anak, serta sembrononya si pengendara motor tersebut, Eyang Kakung n Pakde sempat akan membawa si penabrak ke pihak yang berwajib. Untuk memberikan pelajaran agar lebih berhati-hati, katanya. Sebab, menurut para tetangga, si penabrak tersebut punya kebiasaan <em>ngebut</em>, meski di jalan kampung.</p>
<p>Saya salut dengan istri yang selalu berhati luar biasa. Dia lebih memilih berkonsentrasi merawat anak, tidak balik marah, membentak atau menyerang si penabrak yang sama-sama perempuan. Beberapa kali penabarak dan suaminya datang ke rumah, menyatakn rasa bersalah dan menawarkan ganti rugi pengobatan. Namun, istri saya memilih untuk  memaafkannya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>MAAF. Kata yang terdiri dari empat huruf tesebut sangat populer di Indonesia. Lebih lebih di bulan Syawal, setelah umat Islam  selesai menjalankan Ibadah Ramadhan. Bak mantra, kata itu selalu terucap dari mulut hampir semua orang, baik yang muda, tua, laki-laki mapun perempuan.</p>
<p>Bahasa arab untuk maaf adalah <em>‘afwun</em> dan kata itu 32 kali disebutkan dalam  Al Quran. Dari 32 kata <em>‘afwun</em> dan derivasinya tersebut, 31 diantaranya berarti “<strong>memberi maaf</strong>” tidak satupun yang berarti “<strong>meminta maaf</strong>.” Di masyarakat, meminta maaf lebih populer dibanding member maaf. Coba saja perhatikan, silaturahim idul fitri lebih banyak didahului dengan ungkapan meminta maaf dari pada pernyataan memberi maaf. Parahnya, masih sering kita jumpai orang yang merasa enggan dan berat untuk memberi maaf.</p>
<p>Keputusan istri untuk memaafkan si penabrak anak kami tersebut semoga bagian dari ikhtiar bertindak sesuai semangat Al Qur’an: aktif memberi maaf, tanpa harus menunggu permohonan si pelaku yang dianggap telah berbuat salah. Bukankah Al Qur’an (Ali Imran 134) telah mengajarkan 3 pilihan yang bisa kita lakukan terhadap orang yang telah “mendhalimi” kita? Ketiga pilihan tersebut bila diurutkan dari yang minimalis ke yang maksimalis adalah: (1) Menahan amarah terhadapnya; (2) Memaafkannya; dan (3) Membalasnya dengan kebajikan.</p>
<p>Nah, bila suatu saat Anda yang menjadi korban,  mana yang akan Anda pilih?</p>
<p><em>Wallahu a’lam. </em></p>
<p><em> </em>Semoga lekas sembuh anakku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="ungkapan kesal">ungkapan kesal</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="kata ungkapan kesal yang bijak">kata ungkapan kesal yang bijak</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="ungkapan kata marah">ungkapan kata marah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="ungkapan marah yang sopan">ungkapan marah yang sopan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="kata memberi maaf">kata memberi maaf</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="kata ungkapan kesal">kata ungkapan kesal</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="kata-kata ungkapan marah">kata-kata ungkapan marah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="sepeda anak balita">sepeda anak balita</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="Unkapan marah">Unkapan marah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/" title="ungkapan jengkel">ungkapan jengkel</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=834&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/09/07/memberi-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Idul Fitri di Mancanegara: Indahnya Perbedaan</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 11:27:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[Eid Mubarak]]></category>
		<category><![CDATA[Hisab]]></category>
		<category><![CDATA[Kalender Hijriyah Global]]></category>
		<category><![CDATA[merayakan perpebedaan]]></category>
		<category><![CDATA[Rukyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=821</guid>
		<description><![CDATA[Idul Fitri 1432 H ini merupakan kali kesian yang saya rayakan tidak bersama keluarga. Tahun 2004 dan 2005 saya merayakkanya di negeri paman Sam, dan sejak 2009 saya mesti merakayakannya di negeri Kangguru. Setiap kali memasuki malam takbiran, perasaan jadi nano-nano: sedih, senang, sepi, sunyi dan bingung. Sedih, sebab Ramadhan, sang tamu Agung, akan segara [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2008/09/30/ber-idul-fitri-di-kampung-halman/' rel='bookmark' title='Ber Idul Fitri di Kampung Halaman'>Ber Idul Fitri di Kampung Halaman</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F08%2F29%2Fidul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F08%2F29%2Fidul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Eid+Mubarak,Hisab,Kalender+Hijriyah+Global,merayakan+perpebedaan,Rukyat&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_2652.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-824" title="IMG_2652" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_2652-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Idul Fitri 1432 H ini merupakan kali kesian yang saya rayakan tidak bersama keluarga. Tahun 2004 dan 2005 saya merayakkanya di negeri paman Sam, dan sejak 2009 saya mesti merakayakannya di negeri Kangguru. Setiap kali memasuki malam takbiran, perasaan jadi nano-nano: sedih, senang, sepi, sunyi dan bingung. Sedih, sebab Ramadhan, sang tamu Agung, akan segara pergi; senang, karena besok pagi idul fitri; sepi, soalnya mesti merayakn idul fitri sendiri jauh dari anak istri; sunyi, karena tidak terdengar gema takbir dari anak-anak di jalanan dan pengeras suara masjid atau mushalla, semua mesti saya cipatakan sendiri dalam hati, di kamar yang  dingin dan senyap.</p>
<p>Lalu mengapa kok bingung? Apa sulit mencari tempat sholat Ied di negara mayoritas non Muslim tersebut? Jawabnya ya dan tidak. Semuanya berpangkal pada seringnya terjadi perbedaan waktu penyelenggaraan idul fitri dan idul adha antara mesjid yang menggunakan metode hisab dengan yang menggunakan rukyat dalam penentuan tanggal 1 syawal. Jadi, saya mesti cari tahu ke &#8220;Professor Goegle&#8221; tentang waktu dan lokasi penyelenggaraan solat ied terdekat.<span id="more-821"></span></p>
<p>Untunglah &#8220;kebingunan&#8221; tersebut hanya sesaat. Kalau di Indonesia media sering mengkomodifikasi perbedaan pelaksanaan idul fitri atara ahli hisab dan ahli rukyah yang sering membuat masyarakat awam tambah bingung, di negeri-negeri sekuler macam Amerika dan Australia perbedaan pelaksanaan idul fitri tampak menjadi hal yang lumrah, tidak menjadi hot news bagi media massa. Mungkin karena media Barat sudah tidak tertarik dengan berita-berita umat Islam, terutam saat umat Islam dalam kegembiran. Yang sering terjadi selama ini, media Barat itu kan gemar memframming Islam atau umat Islam dalam bingkai “object yang bermasalah.”</p>
<p>Dalam menyikapi perbedaan penentuan Idul Fitri dan Idul Adha, umat Islam di Barat, sepenggal pengamatan dan pengalamn saya secara langsung, tampak sangat dewasa. Mereka sudah saling maklum tentang perbedaan itu. Tidak ada saling menyerang dan menyalahkan. Bila kebetulan masjid di dekat tempat tinggalnya ber-idul fitri di hari yang bebeda dengan keyakinannya, maka dia tidak akan teriak-teriak protes. Dia sudah cukup maklum dengan perbedaan itu lalu pergi ke mesjid lain yang sama dengan keyakinannya. Pun tidak ada opini yg dibangun menggunakan otoritas tertentu  untuk menyudutkan pihak lain sebagai biang kerok runtuhnya ukhuwah Islamiyah hanya karena berbeda dalam metode penentuan awal bulan Qomariyah.</p>
<p>Meski antar mesjid dan komunitas berbeda dalam penyelenggaraan sholat Ied, namun berbagai komunitas tersebut akan berduyun-duyun mendatangi Eid Fest yg biasanya diselenggarakan beberapa hari setelah Iedain. Disitulah umat Islam dari berbagai negara dan benua, seperti Amerika, Eropa, Australia, Mesir, Palestine, Maroko, Lebanon, India Pakistan, Turki, Indonesia, Malaysia, dan begitu seterusnya tumblek blek jadi satu. Masing-masing komunitas menampilkan program dan budaya masing-masing dalam stand yang telah disiapkan baik dalam bidang busana, kuliner, maupun seni. Kegiatan semacam ini biasanya disupport oleh pemerintah setempat sebagi bagian kampanye multikultural. Komunitas lokal non Muslim pun juga kadang turut hadir untuk mengenal lebih dekat kultur para immigrant tersebut. Begitulah, perbedaan tidak sekedar dimaklumi namun dimediasi dengan &#8220;pesta rakyat&#8221; bersama.</p>
<p>Kondisi ini sangat kontras dengan yang terjadi di Indonesia. Yang saya baca dari hiruk pikuk di berbagai milist tentang perdebatan penentuan idul fitri di tanah air akhir-akhir ini, kesan saya, ada pihak-pihak yang sangat obsessive bahwa atas nama ukhuwah idul fitri atau idul adha itu mesti bareng, lalu mengkritik dan  menjumudkan pihak lain yang kebetulan menggunakan metode berbeda dalam penentuan awal bulan qomariah.</p>
<p>Memang, idealnya umat Islam bisa serempak dalam merayakan &#8216;idain tersebut. Namun akan sangat sulit mencapai cita-cita mulia itu selama umat Islam belum memiliki sistem kalender hijrah yg berlaku secara global dan berkelanjutan. Daan… setahu saya, untuk menuju kalender yg semacam itu tidak mudah. Metode hisab hakiki wujudul hilal adalah salah satu ikhtiar menuju itu. Memang ada berbagai metode hisab lain, sebut saja hisab imkanu rukyat yg dianggap sebagai kompromi antara hisab dan rukyat, namun metode ini oleh sebagian kalangan dinilai masih menyisakan persoalan. Misalnya, ia belum bisa menjawab kebutuhan kalender hijriyah global yang mensyaratkan seluruh wilayah dunia dalam satu kesatuan tanggal, lebih-lebih bila belum ada kesepakatan kriteria di atas berapa derajat dari ufuk hilal tersebut memungkinkan untuk dirukyat dengan mata telanjang.</p>
<p>Karena itu, dari pada memaksakan kehendak dengan menyerang dan menyalahkan pihak lain yang berbeda sebagai jumud, yang dari situ justru berpotensi memunculkan disharmoni, akan lebih arif bila menghormati pebedaan yang selama ini masih ada, namun terus menerus berdialog untuk mencari solusi agar kelender hijrah global tersebut segera terealisir. Tidak perlu mengagung-agungkan metode  yang dipakenya saat ini sebagai yng paling up-to-date. Karena, saya yakin masing masing pihak sudah menggunakan pertimbangan syar’i dan sains yang bisa dipertanggungjawabkan lengkap dengan plus minus-nya.</p>
<p>Nah, dari pada sibuk menyalahkan dan &#8220;menyerang&#8221; jamaah lain yang berbeda waktu merayakan idul fitri, mari saling menghargai berbedaan tersebut. Bila dalam ritual kita belum bisa bersatu, dan nampaknya akan sulit bersatu, mari kita rayakan perbedaan tersebut melalui kegiatan sosial dan kultural.  <em>Wallahu A&#8217;lam.</em></p>
<p>EID MUBAARAK&#8230; !!!</p>
<p><em>Taqobbalallu minaa wa minkum.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="tarian manca negara">tarian manca negara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="perbedaan hisab dan rukyah">perbedaan hisab dan rukyah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="macam macam tari mancanegara">macam macam tari mancanegara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="macam macam tari india">macam macam tari india</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="komodifikasi budaya adalah">komodifikasi budaya adalah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="apa itu komodifikasi">apa itu komodifikasi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="uraian global tentang isi kepribadian muhammadiyah">uraian global tentang isi kepribadian muhammadiyah</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="macam macam slogan lingkungan">macam macam slogan lingkungan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="indahnya perbedaan menurut islam">indahnya perbedaan menurut islam</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/" title="kata kata mengeritik">kata kata mengeritik</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=821&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2008/09/30/ber-idul-fitri-di-kampung-halman/' rel='bookmark' title='Ber Idul Fitri di Kampung Halaman'>Ber Idul Fitri di Kampung Halaman</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/08/29/idul-fitri-di-mancanegara-indahnya-perbedaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RAMADHAN MUBAARAK</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/07/31/ramadhan-mubaarak/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/07/31/ramadhan-mubaarak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 04:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Greetings]]></category>
		<category><![CDATA[Marbahan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan 1432H]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[Rasululah besabda: &#8220;Bila Ramadhan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, dkuncilah pintu-pintu neraka, dan dirantailah setan-setan.&#8221; (HR. Bukhary &#38; Muslim) &#8220;Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak: orang yang puasa ketika berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang yang didhalimi&#8221; (HR. At-Tirmidzi) Pembaca, tahun ini kita kembali dipertemukan dengan Bulan Suci Ramadhan. Siapkah kita  menjadi  “tuan rumah” yang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/' rel='bookmark' title='Maher Zain'>Maher Zain</a></li>
<li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/' rel='bookmark' title='Ramadhan bagi Minoritas Muslims'>Ramadhan bagi Minoritas Muslims</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F07%2F31%2Framadhan-mubaarak%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F07%2F31%2Framadhan-mubaarak%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Marbahan,Ramadhan+1432H&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: left;">Rasululah besabda:</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Bila Ramadhan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, dkuncilah pintu-pintu neraka, dan dirantailah setan-setan.&#8221; (HR. Bukhary &amp; Muslim)</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak: orang yang puasa ketika berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang yang didhalimi&#8221; (HR. At-Tirmidzi)</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca, tahun ini kita kembali dipertemukan dengan Bulan Suci Ramadhan. Siapkah kita  menjadi  “tuan rumah” yang baik? Akankah “Tamu Agung” datang sekedar rutinitas tahunan minus rekam jejak sosial, moral dan spiritual? Mari manfaatkan moment penting ini untuk mengendalaikan dan melumpuhkan setan-setan yang bersemayam dalam diri kita.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca, selamat menunaikan ibadah Ramadhan 1432H, dan terimalah sajian nasheed dalam rangka <em>mengayubagya</em> bulan ramadhan berikut ini:</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=5tA6AKRgEd0&amp;feature=related">http://www.youtube.com/watch?v=5tA6AKRgEd0&amp;feature=related</a></p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=D_5DEchv4Uo&amp;feature=related">http://www.youtube.com/watch?v=D_5DEchv4Uo&amp;feature=related</a></p>
<p>Maaf segala khilaf.</p>
<img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=808&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/' rel='bookmark' title='Maher Zain'>Maher Zain</a></li>
<li><a href='http://www.ahmadmuttaqin.com/2009/08/27/ramadhan-di-tengah-minoritas-muslims/' rel='bookmark' title='Ramadhan bagi Minoritas Muslims'>Ramadhan bagi Minoritas Muslims</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/07/31/ramadhan-mubaarak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup untuk makan atau makan untuk hidup?</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 06:28:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq pada makanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=799</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan di atas dilontarkan oleh seorang ustadz saat saya mondok di sebuah pesantren 26 tahun lalu. Saat itu para santri merengek supaya kelasnya segera diakhiri sebab waktu makan siang sudah tiba. Bukannya mengucap salam, sang Ustazd justru bertanya kepada para santri “anda itu hidup untuk makan atau makan untuk hidup?” Ia menasehati santri-sanntrinya jangan sampai [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F06%2F14%2Fhidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F06%2F14%2Fhidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=akhlaq+pada+makanan&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/06/IMG_3878.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-800" title="IMG_3878" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/06/IMG_3878-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Pertanyaan di atas dilontarkan oleh seorang ustadz saat saya mondok di sebuah pesantren 26 tahun lalu. Saat itu para santri merengek supaya kelasnya segera diakhiri sebab waktu makan siang sudah tiba. Bukannya mengucap salam, sang Ustazd justru bertanya kepada para santri “anda itu hidup untuk makan atau makan untuk hidup?” Ia menasehati santri-sanntrinya jangan sampai manusia hidup itu hanya dihabiskan untuk makan. Masih banyak aktifitas lain yang mesti dilakukan: belajar, bekerja, berkarya, bermasyarakat, dan begitu seterusnya. Kalau dibahas dalam konteks NLP, kira-kira sang Ustadz ingin mengingatkan santrinya bahwa rasa lapar itu berkaitan dengan “state of mind.” Kalau setiap saat yang kita pikirkan hanya makanan, maka rasa lapar mudah menghinggapi diri kita.</p>
<p>Tentang bagaimana semestinya kita menyikapi makanan, Rasulullah pernah bersabda: “makanlah di kala sudah merasa lapar dan berhentilah sebelum kenyang.” Sabda ini mengajarkan pentingnya berbuat bijak pada makanan. Makan secukupnya, tidak berlebihian, sebatas memenuhi asupan gizi dan kebutuhan kalori. Intinya makan sekedar untuk bisa hidup, bukan sebaliknya, hidup untuk makan.</p>
<p>Sayangya, <span id="more-799"></span>seiring makanan sudah menjadi industri pengepul rupiah melalui bendera wisata kuliner dan iklan makanan bertebaran di mana-mana, tidak sedikit orang yang sulit merasa cukup dan gagal menahan nafsu makannya. Selesai mencoba menu di warung A,  pingin segera mencoba sajian di rumah makan B, kemudian di restoran C, dan begitu seterusnya yang menguatkan sindiran “for human, enough is never enough!” Tanpa sadar, kita termasuk bagian pendukung &#8220;ideologi&#8221; hidup untuk makan ini dengan aktif memasang status dan gambar makanan yang akan kita santap di FB.  Padahal secara sosial, filosofi hidup untuk makan inilah yang mengantarkan ketimpangan. Di satu pihak, kita saksiakan orang-orang berlebih dengan santai setiap saat bertanya “nanti kita mau makan di mana (?)” sebab bingung menentukan pilihan tempat makan mana yang belum dicoba, namun di pihak lain banyak saudara kita yang masih bertanya “nanti kita mau makan apa (?)” sebab tidak ada yang bisa di makan.</p>
<p>Maka, jangan heran bila bukan sehat yang didapat oleh para pengumbar nafsu makan ini, namun tumpukan lemak yg menimbun di tubuh. Raga tidak lagi menjadi tempat nyaman berdiamnya jiwa, berubah menjadi “tong sampah” berjalan. Obeisitas-pun menjamur dimana-mana.</p>
<p>Bila anda termasuk yang sulit mengendalikan nafsu makan, ada baiknya mengubah <em>state of mind</em> dari “hidup untuk makan” ke “makan untuk hidup”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="manusia makan untuk hidup">manusia makan untuk hidup</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="HIDUP UNTUK MAKAN ATAU MAKAN UNTUK HIDUP">HIDUP UNTUK MAKAN ATAU MAKAN UNTUK HIDUP</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="google">google</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="Maksud dari makan untuk hidup">Maksud dari makan untuk hidup</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="perbedaan makan untuk hidup dan hidup untuk makan">perbedaan makan untuk hidup dan hidup untuk makan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="makna dari makan itu untuk hidup atau hidup itu untuk makan">makna dari makan itu untuk hidup atau hidup itu untuk makan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="pengertian makan untuk hidup">pengertian makan untuk hidup</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="waktu makan siang">waktu makan siang</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="kata prinsip hidup untuk makan makan untuk hidup">kata prinsip hidup untuk makan makan untuk hidup</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/" title="makan buat hidup hidup buat makan apa maksud dari kata kata itu">makan buat hidup hidup buat makan apa maksud dari kata kata itu</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=799&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/14/hidup-untuk-makan-atau-makan-untuk-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Jujur: Yuk… mulai dari kita sendiri</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 03:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[Jujur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu istri saya tampak sibuk dan tergesa. Sejak jam 3 pagi dia sudah bangun, duduk serius di depan laptop sambil tangannya memencet-mencet huruf demi huruf pada keyboard. Menjelang jam 7, dia minta tolong di-lay-out-kan hasil kerjanya dan mengeprintkannya sambil wanti-wanti pada saya untuk tidak mengotak-atik isinya. Dia sendiri langsung menuju kamar mandi dan bersiap [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F06%2F12%2Findonesia-jujur%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F06%2F12%2Findonesia-jujur%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=diri+sendiri,Jujur&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/06/Trio-Lanang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-782" title="Trio Lanang" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/06/Trio-Lanang-300x231.jpg" alt="" width="300" height="231" /></a>Pagi itu istri saya tampak sibuk dan tergesa. Sejak jam 3 pagi dia sudah bangun, duduk serius di depan laptop sambil tangannya memencet-mencet huruf demi huruf pada keyboard. Menjelang jam 7, dia minta tolong di-lay-out-kan hasil kerjanya dan mengeprintkannya sambil wanti-wanti pada saya untuk tidak mengotak-atik isinya. Dia sendiri langsung menuju kamar mandi dan bersiap ke kampus untuk ujian.</p>
<p>Saat me-lay-out kubaca kalimat-kalimat pada paper istriku itu. Jiwa “editor” saya langsung bekerja dan membenahi beberapa kalimat yang menurutku kurang pas. Selesai; segera saya print, lalu kuserahkan ke istri sesaat sebelum dia men-starter motornya.</p>
<p>Siang hari, sekembalinya dari kampus saya bertanya: “Gemana ujiannya Bunda? Sukses? Terus, papernya?”</p>
<p>Dengan santai dia menjawab, “Ya… begitulah. Yang penting semua sudah Bunda jawab, tapi paper tidak jadi Bunda kumpulkan.”</p>
<p>“Lho, kenapa?” protesku.</p>
<p><span id="more-781"></span>“Setelah Bunda baca lagi di kampus tadi, paper Bunda memang jadi lebih bagus, tapi Bunda tidak mau mengumpulkan tugas yang bukan orisinal hasil karya Bunda sendiri. Terimakasih dan maaf tadi Ayah sudah ikut capek-capek mengedit.”</p>
<p>Dug, saya jadi merasa bersalah sebab tidak menjalankan amanat istriku tadi dengan baik. Saat me-lay-out, jujur, saya juga mengedit tidak hanya yang salah ketik tapi juga memasukan beberapa opini saya di paper itu. Saya menyesal, gara-gara mengedit terlalu jauh menjadikan istriku gagal mengumpukan tugas. Namun pada saat bersamaan saya bangga pada istri yang kekeh dengan pendiriannya untuk berbuat jujur, memperoleh nilai kuliah hanya dari karya dan keringatnya sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Akhir-akhir ini dunia pendidikan tanah air  kembali tercoreng dengan terungkapnya kasus menyontek massal yang sistimatis pada SDN Gadel II Surabaya saat Ujian Nasional Mei lalu. Lebih memprihatinkan lagi, meski sudah terungkap terjadi contek massal, guru wali kelas serta kepala sekolah juga mengakui praktik itu dan telah diberi sanksi oleh Pemkot Surabaya, sebagian wali murid SD tersebut justru menjustifikasi &#8220;praktik nyontek itu sudah biasa”.</p>
<p>Bermula dari pengakuan anaknya, Al, bahwa ia telah ditekan oleh guru wali kelasya agar &#8220;membantu&#8221; teman-temannya saat UN, Ny S tergugah untuk mengajarkan kejujuran pada anaknya dengan melaporkan kasus penyontekan massal itu ke pihak sekolah, komite sekolah, serta instansi terkait. Karena pihak-pihak yang dilapori lamban mengambil tindakan, kasus tersebut diungkap  ke media massa. Barulah dinas pendidikan dan pemkot Sby bertindak.  Alih-alih mendukung penegakan kejujuran yang dilakukan Ny. S, sebagian wali murid justru mendemo dan mengusir Ny S beserta keluarganya dengan tuduhan telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung.</p>
<p>Waduw..…, tuduhan mencemarkan nama baik sekolah dan kampung? Emang masih punya nama baik setelah terbukti ada praktik curang massal di UN itu? Bukankah sebagian wali murid dan warga itulah yang mencemarkan nama baik mereka sendiri dengan tanpa malu dan hati nurani serta membabi buta membela kebathilan?</p>
<p>Menyimak barbagai berita di media massa dan milist  tentang peristiwa miris tersebut, nama baik sekolah dan kampung justru makin terpuruk dengan perilaku tidak terpuji sebagian wali murid dan warganya yang mengusir salah satu warganya yang berusaha berbuat jujur.</p>
<p>&#8220;Warga g*bl#g…!&#8221; “Memalukan…!” &#8220;Dunia sudah terbalik&#8230;!&#8221; &#8220;Masyarakat kita sudah sakit.&#8221; Itu sebagian komentar pedas pembaca pada sebuah berita online yang intinya menyayangkan tindakan sebagian warga dan wali murid yang kebablasan. Ada juga komentar yang lebih lunak mengatakan: “Mereka adalah korban dari sistem Pendidikan Nasional yang hanya mengukur anak didik dari angka-angka.”</p>
<p>Sadar telah terjadi sesat logiga di sebagian masyarakat bahwa jujur tidak lagi membawa mujur, namun jujur bisa berarti hancur sebagaimana di alami Ny. S dan keluarganya, muncul dukungan dan pembelaan dari masyarakat luas terhadap keluarga penegak kejujuran ini melalui kumpulan organisasi profesi, face book, milist dan jejaring sosial lainnya. Ikatan Guru Indonesia (IGI), misalnya, selain membuat pernyataan keprihatinan dan seruan dukungan bagi keluarga Ny. S juga telah menginisiasi menghimpun dana kepedulian untuk menyediakan beasiswa bagi si Al, anak cerdas yang ditekan oleh wali kelas untuk menyebarkan contekan di kasus tersebut. Kerena keluarga tersebut sudah terusir dari kampungnya, ada juga usaha menghimpun bantuan membuatkan rumah baru bagi keluarga jujur tersebut melaui berbagai milist. Kasus yang dialami Ny. S ini juga mendorong masyarakat untuk kembali menyuarakan pentingnya kejujuran seperti pada blog <a href="http://www.bincangedukasi.com/indonesiajujur-suarakan-dukunganmu-akan-kejujuran.html">bincangedukasi</a> ini.</p>
<p>Upaya membela dan mengapresiasi individu dan keluarga penegak kejujuran tersebut patut didukung dan dihargai. Kampanye berbuat jujur pun juga perlu terus digalakkan. Namun siapa kira-kira yang bersedia mengadvokasi sebagian wali murid dan warga yang telah terperosok &#8220;sesat logika&#8221; tersebut? Bukankah mereka juga perlu didampingi agar sadar dan kembali kepada track yang benar? Saya kawatir, selalu mencemooh dan menyalahkan sepenuhnya kepada mereka justru makin memperparah keadaan, sebab sebagaimana dinyatakan para ahli, mereka sejatinya juga korban kebijakan UN yang salah kaprah.</p>
<p>***</p>
<p>Bagi saya sendiri yang mengikuti hiruk pikuk kasus tersebut dari luar Indonesia, keberanian Ny. S untuk menjadi <em>whistle blower</em> menyuarakan kejujuran meski burujung pengusiran dari kampungnya telah memberikan banyak hikmah. Saya semakin terpanggil untuk terus berperilaku jujur kapanpun dan kepada siapapun.</p>
<p>Misalnya, suatu waktu juragan  warung ayam panggang saya di Sydney memberikan uang cash lewat adiknya yang setelah saya hitung teryata terlalu banyak. Segera saya meng-sms juragan tersebut untuk mengklarifikasi bahwa uang yang diberikan untuk membayar kekurangan upah minggu kemarin &#8220;is too much.&#8221;</p>
<p>Sabtu kemarin, saat warung tutup lebih awal dari biasanya dan bos saya tanya kira-kira nanti akan selesai bersih-bersih jam berapa; saya jawab seperti biasanya, kira-kira jam 6 sore. Ternyata saya berhasil menyelesaikan perkerjaan satu jam lebih awal. Kawatir dia nanti mengirim upah ke rekening saya kelebihan, maka paginya segera saya SMS si bos memberitahukan “Yesterday I finished at 5pm instead of 6”.  Padahal, kalaupun saya tidak memberitahukan selesai lebih awal, si Bos tidak bakalan tahu, sebab dia sudah terlanjur mencatat jadwal kerja saya Sabtu ini dari jam 12.30 – 18.00. Hmmm&#8230;, rasanya “PLONG…” bisa berbuat jujur minggu ini.</p>
<p>Indonesia Jujur: mari mulai dari diri kita sendiri, dari hal-hal yang dianggap remeh temeh sekalipun.</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="slogan kejujuran">slogan kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="contoh slogan kejujuran">contoh slogan kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="kultum tentang kejujuran">kultum tentang kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="contoh kalimat slogan kejujuran">contoh kalimat slogan kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="contoh slogan jujur">contoh slogan jujur</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="slogan jujur">slogan jujur</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="anak kampung sudah mandi">anak kampung sudah mandi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="slogan akhlak">slogan akhlak</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="kalimat slogan kejujuran">kalimat slogan kejujuran</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/" title="Slogan Bergambar Kebersihan">Slogan Bergambar Kebersihan</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=781&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/06/12/indonesia-jujur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara RNW</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 08:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar/News]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[RNW]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[Saat melakukan riset pustaka di Leiden akhir tahun 2010, kami peserta upgrading course Indonesian Young Leader Program diundang oleh Radio Nederland Wereldomreap (Radio Netherlands Worldwide &#8211; RNW). Selain melihat dari dekat radio internasional yang mengudara dengan 10 bahasa tersebut, saya sempat diwawancarai oleh Bapak Bari Muchtar, selaku producer acara, reporter dan pembaca berita versi Indonesia [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F05%2F07%2Fwawancara-nrw%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F05%2F07%2Fwawancara-nrw%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Indonesia,RNW,spiritualitas,Wawancara&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/RNW.jpg"><img class="size-full wp-image-776 alignleft" title="RNW" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/RNW.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Saat melakukan riset pustaka di Leiden akhir tahun 2010, kami peserta upgrading course Indonesian Young Leader Program diundang oleh Radio Nederland Wereldomreap (Radio Netherlands Worldwide &#8211; RNW). Selain melihat dari dekat radio internasional yang mengudara dengan 10 bahasa tersebut, saya sempat diwawancarai oleh Bapak Bari Muchtar, selaku producer acara, reporter dan pembaca berita versi Indonesia tentang riset yang sedang saya lakukan. Waktu itu, saya sendiri kurang memperhatikan kapan wawancara tersebut mau diudarakan. Saat googling sekitar 5 bulan setelah wawancara tersebut, saya menemukan tautan tentang menjamurnya kelompok spiritualitas di Indonesia. Setelah saya klik ternyata hasil wawancara RNW yang telah disiarkan sejak 7 Januari 2011 yang lalu.</p>
<p>Berikut screen shoot dari wawancara tersebut yang saya ambil dari http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/kelompok-spiritualitas-menjamur-di-indonesia<span id="more-760"></span><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/Picture-1.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-777" title="Picture 1" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/Picture-1.png" alt="" width="650" height="524" /></a></p>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/Picture-3.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-778" title="Picture 3" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/05/Picture-3.png" alt="" width="649" height="495" /></a></p>
<p>Rekaman wawancara selengkapnya ada di <a href="http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/kelompok-spiritualitas-menjamur-di-indonesia">sini.</a></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="pengertian wawancara">pengertian wawancara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="pengertian wawancara menurut para ahli">pengertian wawancara menurut para ahli</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="definisi wawancara menurut para ahli">definisi wawancara menurut para ahli</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="contoh wawancara">contoh wawancara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="definisi wawancara">definisi wawancara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="wawancara berita">wawancara berita</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="contoh berita">contoh berita</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="wawancara menurut para ahli">wawancara menurut para ahli</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="contoh wawancara berita">contoh wawancara berita</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/" title="pengertian pawai selengkapnya">pengertian pawai selengkapnya</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=760&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/05/07/wawancara-nrw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maher Zain</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 04:28:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Global]]></category>
		<category><![CDATA[Maher Zain]]></category>
		<category><![CDATA[Shalawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini saat saya numpang mobil teman di Sydney selalu mendengar alunan shalawat nabi yang lain dari yang lain. Nada, irama dan melodinya sangat khas. Vocalnya jernih, berkarakter dan berkelas penyayi internasional. Sholawat tersebut dinyanyikan baik dalam versi arab maupun Inggris. Daaannn, yang membuat saya semakin penasaran dan terkesima, cara pelafalan shalawat versi Arabnya sangat [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F04%2F01%2Fmaher-zain%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F04%2F01%2Fmaher-zain%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=Global,Maher+Zain,Shalawat&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/04/maher-zain-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-788" title="maher-zain-1" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/04/maher-zain-1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Akhir-akhir ini saat saya numpang mobil teman di Sydney selalu mendengar alunan shalawat nabi yang lain dari yang lain. Nada, irama dan melodinya sangat khas. Vocalnya jernih, berkarakter dan berkelas penyayi internasional. Sholawat tersebut dinyanyikan baik dalam versi arab maupun Inggris. Daaannn, yang membuat saya semakin penasaran dan terkesima, cara pelafalan shalawat versi Arabnya sangat fashih, Englishnya juga sangat <em>fluent</em>.</p>
<p>Setelah goggling dan “youtubing” akhirnya ketemu juga penyanyi tersebut. Dialah Maher Zain. Ternyata, lagu-lagu Islaminya  sudah beredar di pasaran sejak 2009!! Sungguh kuper saya dalam hal ini.</p>
<p>Menyimak beberapa lagu serta tema videoklipnya, saya kira Maher Zain cukup berhasil membawa pesan universalitas Islam lewat musik. Video klipnya dibuat sangat professional. Meski lagu-lagunya mengandung lafal arab dan tema-temanya diambil dari kisah dan ajaran Rasulullah Muhammad SAW, namun figure dan setting video klipnya tidak melulu berbau mesjid, padang pasir, atau onta. Coba simak video klip lagu <a href="http://www.youtube.com/watch?v=QbICjWI7Vrw&amp;feature=related">The Chosen One</a> yang, bahkan, terkesan sangat &#8220;Barat&#8221; di bawah ini:<span id="more-742"></span></p>
<p><object width="620" height="374"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/QbICjWI7Vrw?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/QbICjWI7Vrw?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="620" height="374" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Selain tema klip, syair, dan genre lagu yang beragam mulai dari Pop, R&amp;B, India-Pakistani hingga Middle-eastern, universalisasi Musik Islami juga ditunjukkan Maher dengan menampilkan lagu dalam berbagai bahasa. Lagunya  yang berjudul <a href="http://www.youtube.com/watch?v=Kvger_C4LN8">Insya-Allah</a> di-launching dalam empat versi: Inggris, Arab, Perancis, dan Melayu. Dibawah ini adalah klip versi France:</p>
<p><object width="620" height="374"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Kvger_C4LN8?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/Kvger_C4LN8?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="620" height="374" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Terakhir, sebagaimana Islam mengajarkana agar umatnya tidak mengumbar syahwat serta memelihara karunia cinta, ada baiknya kita simak lagunya yang berjudul <a href="http://www.youtube.com/watch?v=Plkq0sd-n54">for the rest of my life</a> ini.</p>
<p><object width="620" height="490"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Plkq0sd-n54?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/Plkq0sd-n54?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="620" height="490" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Selamat menikmati.</p>
<p>NB: Foto Maher Zein dari http://teroponginternet.blogspot.com/2011/05/maher-zein-siapakah-dia.html</p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="lagu-lagu maher zain">lagu-lagu maher zain</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="sholawat nabi">sholawat nabi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="www sholawat com">www sholawat com</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="shalawat nabi">shalawat nabi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="LAFAL LAGU">LAFAL LAGU</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="shalawat maher zain">shalawat maher zain</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="sholawat versi inggris">sholawat versi inggris</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="teks lagu maher zein dan shalawat nabi">teks lagu maher zein dan shalawat nabi</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="latar belakang lagu maher zain - the chosen one">latar belakang lagu maher zain - the chosen one</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/" title="maher zain memohon ampun">maher zain memohon ampun</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=742&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/04/01/maher-zain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Study hard, collect money (?)</title>
		<link>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/</link>
		<comments>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 05:27:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Muttaqin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[study hard]]></category>
		<category><![CDATA[study smart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ahmadmuttaqin.com/?p=727</guid>
		<description><![CDATA[“Study hard mate, the money is waiting for you to be collected,” pesan seorang sopir bemata sipit saat menjawab ucapan “thank you” para mahasiswa yang turun dari MetroBus menuju kampus University of Western Sydney di Bankstown NSW. Saya yang mendengar ucapan sang sopir tersenyum. “Tumben nih pak sopir ngasih pesan pada mahasiawa supaya belajar baik-baik,” [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F03%2F14%2Fstudy-hard-collect-money%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.ahmadmuttaqin.com%2F2011%2F03%2F14%2Fstudy-hard-collect-money%2F&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;hashtags=study+hard,study+smart&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/03/study_hard_wallpaper_by_ims_corner-d330tcx.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-734" title="study_hard_wallpaper_by_ims_corner-d330tcx" src="http://www.ahmadmuttaqin.com/wp-content/uploads/2011/03/study_hard_wallpaper_by_ims_corner-d330tcx-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>“Study hard mate, the money is waiting for you to be collected,” pesan seorang sopir bemata sipit saat menjawab ucapan “thank you” para mahasiswa yang turun dari MetroBus menuju kampus University of Western Sydney di Bankstown NSW. Saya yang mendengar ucapan sang sopir tersenyum. “Tumben nih pak sopir ngasih pesan pada mahasiawa supaya belajar baik-baik,” batinku.  Biasanya ucapan yang muncul dari para sopir itu cuman “thank you mate,” itupun diucapkan dengan senyum terpaksa dan nada yang rendah.</p>
<p>Meski saya salut dengan keramahan pak sopir itu tadi, saya juga tersentak dengan lanjutan yang  kira-kira dalam ungkapan Jawa begini: <em>ndang luluso, ndang goleko duwit!!!</em></p>
<p><em>Dug</em>, pikiranku berontak: “Aku tidak mau jadi budak duit!” Belajar itu selain harus  HARD, juga mesti SMART. Lagi pula, belajar bukan untuk cari uang tapi mencerna pengetahun, mendaur ulangnya menjadi thesis, dibuktikan jadi teory, lalu menemukan formula ilmu baru yang syukur-syukur menjadi bagian pemecah masalah kehidupan. Kalo hanya untuk cari uang, mengapa mesti nunggu lulus? Dengan belajar SMART, insya Allah uang bisa didapat sambil terus belajar.<span id="more-727"></span></p>
<p>Hmm, bukankah itu terlalu muluk-muluk, sok idealis? Ya, memang sih. Tapi bukankah harapan itu harus diformat dari cita-cita ideal? Lihat tuh akibat program pragmatis, banyak yang sekolah hanya demi nilai, demi tambahan dua atau tiga huruf gelar, demi selembar ijazah, demi popularitas, dan bla-bla-bla&#8230; demi-demi hal pragmatis lainnya, yang penting setalah lulus dapat kerja. Begitu dapat kerja, berhentilah proses belajar. Yang kayak gini nih, tak ubahnya hanya jadi robot industri.</p>
<p>Tidak mau bernasib seperti robot? Tanyakan pada diri Anda, untuk apa sekolah dan kuliah? Lalu, teruslah belajar, kapanpun, dimanapun, kepada siapapun.</p>
<p>__________</p>
<p>Poster from: <a href="http://i-am-elfandcassiopeia116.blogspot.com/2011_01_01_archive.html">http://i-am-elfandcassiopeia116.blogspot.com/2011_01_01_archive.html</a></p>
<h4>The Best Keyword for the article:</h4><div class='dicari'><a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="wallpaper keren">wallpaper keren</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="study hard">study hard</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="wallpaper kata mutiara">wallpaper kata mutiara</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="study hard wallpaper">study hard wallpaper</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="gambar-gambar buku">gambar-gambar buku</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="walpaper keren">walpaper keren</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="wallpaper pesan">wallpaper pesan</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="wallpaper unik">wallpaper unik</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="ucapan thank you">ucapan thank you</a>, <a href="http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/" title="wallpaper tata boga">wallpaper tata boga</a></div><img src="http://www.ahmadmuttaqin.com/?ak_action=api_record_view&id=727&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ahmadmuttaqin.com/2011/03/14/study-hard-collect-money/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

