About Me
Ahmad Muttaqin lahir di Ponjong, Gunungkidul Handayani, Ngayogjakarta Hadiningrat, pada tanggal 14 April 1972. Ia anak ketiga dari enam bersaudara, dari pasangan Bapak H. Anas Ngabid, BA dan Ibu Hj. Sarilah.
Muttaqin, begitu biasanya ia dipanggil oleh koleganya, menyelesaikan Pendidikan Dasar di SD Muhammadiyah Kuwon, Ponjong, Gunungkidul. Pendidikan menengah ia tempuh di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Surakarta dan MAN Yogyakarta 1 program khusus (MAPK). Sarjana Strata 1 dan 2 masing-masing ia peroleh dari Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN (Kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan PPs UIN Yogyakarta dengan konsentrasi Hubungan Antar Agama.
Tahun 2003-2005 Muttaqin memperoleh beasiswa Fulbright untuk program MA dalam bidang Religious Studies di Florida International University, USA. Sebelumnya selama 3 bulan ia berada di Indiana University @ Blomington untuk pre-academic program.
Sehari-hari Muttaqin mengajar di Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam (FUSAP) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan aktif di LaBEL (Laboratorium Religi dan Budaya Lokal), CTSD (Center for Teaching Staff Development) dan CISForm (Center for the Study of Islam and Social Transformation).
Sejak tahun 2008 ia mendapat besiswa dari Dirjen Dikti Depdiknas RI untuk mengambil program Doktor di Department International Busines and Asian Studies (IBAS), Griffith University, Brisbane, QLD, Australia. Di akhir tahun 2010 ia melakukan riset kepustakaan di Leiden University dan KITLV, Belanda untuk mendukung disertasinya. Mengikuti jejak pembimbingnya, sejak Januari 2011 ia ikut pindah ke Centre for the Study of Contemporary Muslim Societies (CSCMS), University of Western Sydney, NSW, Australia.
Me and family family



Assalamu alaikum.
salut buat bapak yang aktif ngeblog di sela-sela kesibukan ngajar dan studi lanjut. saya mau naya pak, jauhari itu saudara bapak ya? keluarga bapak memang hebat….
Salam kenal pak, saya alumni Keuangan Islam UIN Sunan Kalijaga. Tulisan bapak bagus-bagus, khas UIN banget….
Wa’alaikum salam. Salam kenal kembali.
Terimakasih apresiasinya mas Showwam.
Betul, Jauhari itu saudara saya, tepatnya adik saya.
Sukses selalu buat mas Showwam.
wah…ternyata kakak beradik yg sama-sama hebat..
ada dosen UIN SuKa lain yang ngeblog kaya bapak gk ya? biar saya bisa berkunjung, nambah ilmu, dan silaturahmi?
Amix, lha kuwi gambare Kang Jauhari, yang pakai baju batik warna abu-abu putih.
ada satu lagi NADA KEKERASAN kang
Maunya menghalau kekerasan tapi menggunakan KEKERASAN
“DILARANG MELARANG….”
Assalamualaikum Wr Wb,
Salam kenal, salam sejahtera untuk Pak Ahmad Muttaqin dan keluarga di Griffitt University Brisbane Australia. Saat sedang mencari tahu info Griffith Univ, saya tanpa sengaja singgah di Blog Pak Mutaqin yang bermanfaat dan bagus ini. Melalui surat ini saya hendak meminta suggestion tentang pilihan universitas di Ausi.
Saya PNS Kementerian Sosial RI, salah seorang ADS awardees tahun ini. Saat ini sedang pre-departure training (EAP 8 weeks) di IALf jaKARTA untuk rencana keberangkatan minggu pertama Januari 2011.
Sesuai “pesanan” saya diharuskan mengambil S2 “Disability Studies.” Setelah browsing, saya menemukan hanya ada 2 universitas yang tahun 2011 nanti menawarkan “Kajian Disabilitas” yaitu FLINDERS univ adelaide dan GRIFFITH. Bedanya, Flinders –> MDisSt (Master of Disability Studies) Griffith –> MSocWk (Master of Social Work). Di Flinders, Disability Studies menjadi major dan fokus studi. Di Griffith,Disability Studies hanya elective courses dan untuk pilihan practicuum, tapi di Griffith ada professor yang bagus dan cocok dengan topic minor thesis saya nanti.
Tgl 27 Agustus 2010 nanti, saya sudah harus submit application soal University Preferences dam harus memutuskan mana pilhan pertama dan mana yang ke-2.
Pertanyaan saya, menurut Pak Muttaqin yang sudah tinggal di Brisbane dan mengalami studi di Griffith, sebaiknya saya memilih Flinders atau Griffith?
TErimakasih banyak atas kesediaannya untuk menjawab.
Sincerely yours
Dede
Wa’alaikum salam Wr. Wb.
Pak Dede yang baik
Terima kasih atas kunjungannya ke “rumah maya” saya. Maaf baru “hidangan itu” itu yang bisa saya sajikan.
Begini, tentang pilihan kampus, ada beberapa hal yang biasanya jadi bahan pertimbangan dalam memilih kampus, antara lain: (1) Reputasi, (2) Fasilitas, (3) Biaya pendidikan, (4) Lokasi kampus, (4) Ketersediaan program dan kesesuaian dengan minat studi kita, dan (5) Ketersediaan Profesor yang expert di bidang yang akan kita teliti.
Oke, saya awali dengan point 4 dan 5 dulu.
Tentu kita akan senang bila semua kriteria itu ada dalam satu kampus, sehingga tidak perlu pusing memilih kampus mana yang akan dipilih. Masalahnya, tidak jarang univeritas dengan reputasi bagus (mungkin masuk 10 ten of best universities in the world) tidak punya program atau professor yang expert dalam bidang yang kita minati, adanya justru di universitas yang dari segi ranking, mungkin, dibawahnya.
Itu juga yang saya alami dulu ketika mau memilih kampus. Saat hunting kampus dulu saya kontak beberapa Profesor dan memperoleh beragam response. Ada 2 Professor yang sangat supportive dan berminat dengan study saya; satu dari kampus gede yang secara ranking masuk 3 besar terbaik Australia, yang satu dari Griffith Uni. Namun expertise calon supervisor saya dari kampus yang lebih Gede tadi kurang sesuai dengan bidang yang akan saya kaji. Akhirnya pilihan jatuh pada professor saya di Griffith. Jadilah saya mahasiswa Griffith.
Untuk kita yang akan menulis thesis, ketersediaan Professor yang sesuai dengan minat riset kita itu penting. Dengan begitu kita betul-betul dibimbing oleh orang yang tahu dengan bidang yang kita minati. Kesamaan minat ini akan memudahkan proses bimbingan sehingga berjalan lancer.
Saat ini di Griffith Uni juga banyak mahasiswa Indonesia penerima ADS. Griffith juga punya CESDI (Centre for the Study of Suitability Development in Indonesia), kerjasama Griffith Uni dan Kementerian Lingkungan Hidup RI. Rombongan wakil-wakil dari kampus Indonesia, Depkes, kantor KLH, dll sering datang untuk short course.
Karena pak Dede dapat beasiswa ADS, masalahbiaya tentu tidak jadi soal. Dari segi iklim, menurut treman-teman, kota Brisbane, lebih “human”, dibandingkan kota lain di Australia bagian selatan: cuacanya sejuk dan tidak terlalu extrim dingin pada Winter, dan tidak terlalu panas, pada Summer. Biaya hidup di kota Brisbane juga lebih murah dibanding kota-kota lain, misal Sydney atau Melbourn. Public transportasion-nya juga bagus.
Baik, ini dulu yang dapat saya sampaikan.
Kami tunggu kedatangannya di Griffith. :))
salam kenal kembali
Muttaqin