MEMBERI MAAF

4 Comments
Tags:
Posted 07 Sep 2011 in Kabar/News

Apa yang akan Anda lakukan bila anak Anda yang masih balita ditabrak sepeda motor dari belakang? Segera memberi pertolongan pada si anak, itu pasti. Maksud saya, apa tindakan Anda terhadap si penabrak tersebut? Marah, memukul, menuntut ganti rugi, atau membawanya ke pihak yang berwajib?

Pagi itu, sekitar jam 10 pagi, seorang perempuan tampak sibuk dan tergesa. Ia mengendarai sepeda motor hanya dengan tangan kanannya. Tangan kirinya memegang rantang sayur, kedua kakinya menahan beban bahan makanan yang diletakkan di dedapannya. Sementara bagian belakang sepeda motor dipenuhi dengan sekarung padi. Bisa dibayangkan betapa repotnya perempuan muda itu.

Selesai bermain ayunan di depan rumah, seorang anak kecil keluar dari halaman, hendak menyusul kakaknya di rumah tetangga. Ia susuri pinggaran jalan dengan langkah pasti. Tiba-tiba tubuhnya terpental, berguling-guling membentur kerasnya aspal. Jerit tangis kesakitan seketika mengagetkan orang-orang sekitar.

Begitulah ceritanya, anak ragil saya, Naufal Muwaffaq Muttaqin (4,9 tahun), Kamis 1 September yang lalu, tepat di hari ke-3 keluarga kami merayakan idul Fitri 1432H, tertabrak atau di tabrak oleh pengendara motor yang sangat sendelewer. Kejadiannya di jalan kampung depan rumah eyangnya di dusun Latek, Lamongan, Jatim.

Bagian kepala di atas kedua telinganya berdarah. Lukanya membentuk jalur setengah lingaran dari ujung pelipis kanan mewati dahi terus ke pelipis kiri. Kedua tangan dan jari-jarinya lecet dan memar. Dan luka yang cukup parah ada di bawah punggung, membentuk garis berkelok ke bawah hingga diatas pinggul.

Melihat tingkat keparahan luka si anak, serta sembrononya si pengendara motor tersebut, Eyang Kakung n Pakde sempat akan membawa si penabrak ke pihak yang berwajib. Untuk memberikan pelajaran agar lebih berhati-hati, katanya. Sebab, menurut para tetangga, si penabrak tersebut punya kebiasaan ngebut, meski di jalan kampung.

Saya salut dengan istri yang selalu berhati luar biasa. Dia lebih memilih berkonsentrasi merawat anak, tidak balik marah, membentak atau menyerang si penabrak yang sama-sama perempuan. Beberapa kali penabarak dan suaminya datang ke rumah, menyatakn rasa bersalah dan menawarkan ganti rugi pengobatan. Namun, istri saya memilih untuk  memaafkannya.

***

MAAF. Kata yang terdiri dari empat huruf tesebut sangat populer di Indonesia. Lebih lebih di bulan Syawal, setelah umat Islam  selesai menjalankan Ibadah Ramadhan. Bak mantra, kata itu selalu terucap dari mulut hampir semua orang, baik yang muda, tua, laki-laki mapun perempuan.

Bahasa arab untuk maaf adalah ‘afwun dan kata itu 32 kali disebutkan dalam  Al Quran. Dari 32 kata ‘afwun dan derivasinya tersebut, 31 diantaranya berarti “memberi maaf” tidak satupun yang berarti “meminta maaf.” Di masyarakat, meminta maaf lebih populer dibanding member maaf. Coba saja perhatikan, silaturahim idul fitri lebih banyak didahului dengan ungkapan meminta maaf dari pada pernyataan memberi maaf. Parahnya, masih sering kita jumpai orang yang merasa enggan dan berat untuk memberi maaf.

Keputusan istri untuk memaafkan si penabrak anak kami tersebut semoga bagian dari ikhtiar bertindak sesuai semangat Al Qur’an: aktif memberi maaf, tanpa harus menunggu permohonan si pelaku yang dianggap telah berbuat salah. Bukankah Al Qur’an (Ali Imran 134) telah mengajarkan 3 pilihan yang bisa kita lakukan terhadap orang yang telah “mendhalimi” kita? Ketiga pilihan tersebut bila diurutkan dari yang minimalis ke yang maksimalis adalah: (1) Menahan amarah terhadapnya; (2) Memaafkannya; dan (3) Membalasnya dengan kebajikan.

Nah, bila suatu saat Anda yang menjadi korban,  mana yang akan Anda pilih?

Wallahu a’lam.

Semoga lekas sembuh anakku.

 

The Best Keyword for the article:

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • email
  • PDF
  • Posterous
  • Reddit

No related posts.


4 Comments

  1. Ada Hikmah setiap kejadian.. kejadian baik maupun buruk tergantung dari sisi mana kita memandang….

    Reply
  2. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Aku bersyukur akan sikap terpuji Ponakanku, Yuyun. Barokah besar untukmu, Insya Allah. Kita setiap saat harus berlatih untuk menerima takdir-Nya. Dan, itu akan membuat kita tenang. Namun sebaliknya. Jika takdir tidak kita terima dengan lapang dan tawakkal, pastilah hati kita semakin sakit. Subhanallah.

    Reply
  3. Lear biasa… semoga lekas sembuh ponakanku….

    Reply
  4. Supper…… Semoga mas Opel segera sembuh…….

    Reply


Add Your Comment