Idul Fitri 1432 H ini merupakan kali kesian yang saya rayakan tidak bersama keluarga. Tahun 2004 dan 2005 saya merayakkanya di negeri paman Sam, dan sejak 2009 saya mesti merakayakannya di negeri Kangguru. Setiap kali memasuki malam takbiran, perasaan jadi nano-nano: sedih, senang, sepi, sunyi dan bingung. Sedih, sebab Ramadhan, sang tamu Agung, akan segara pergi; senang, karena besok pagi idul fitri; sepi, soalnya mesti merayakn idul fitri sendiri jauh dari anak istri; sunyi, karena tidak terdengar gema takbir dari anak-anak di jalanan dan pengeras suara masjid atau mushalla, semua mesti saya cipatakan sendiri dalam hati, di kamar yang dingin dan senyap.
Lalu mengapa kok bingung? Apa sulit mencari tempat sholat Ied di negara mayoritas non Muslim tersebut? Jawabnya ya dan tidak. Semuanya berpangkal pada seringnya terjadi perbedaan waktu penyelenggaraan idul fitri dan idul adha antara mesjid yang menggunakan metode hisab dengan yang menggunakan rukyat dalam penentuan tanggal 1 syawal. Jadi, saya mesti cari tahu ke “Professor Goegle” tentang waktu dan lokasi penyelenggaraan solat ied terdekat.
Untunglah “kebingunan” tersebut hanya sesaat. Kalau di Indonesia media sering mengkomodifikasi perbedaan pelaksanaan idul fitri atara ahli hisab dan ahli rukyah yang sering membuat masyarakat awam tambah bingung, di negeri-negeri sekuler macam Amerika dan Australia perbedaan pelaksanaan idul fitri tampak menjadi hal yang lumrah, tidak menjadi hot news bagi media massa. Mungkin karena media Barat sudah tidak tertarik dengan berita-berita umat Islam, terutam saat umat Islam dalam kegembiran. Yang sering terjadi selama ini, media Barat itu kan gemar memframming Islam atau umat Islam dalam bingkai “object yang bermasalah.”
Dalam menyikapi perbedaan penentuan Idul Fitri dan Idul Adha, umat Islam di Barat, sepenggal pengamatan dan pengalamn saya secara langsung, tampak sangat dewasa. Mereka sudah saling maklum tentang perbedaan itu. Tidak ada saling menyerang dan menyalahkan. Bila kebetulan masjid di dekat tempat tinggalnya ber-idul fitri di hari yang bebeda dengan keyakinannya, maka dia tidak akan teriak-teriak protes. Dia sudah cukup maklum dengan perbedaan itu lalu pergi ke mesjid lain yang sama dengan keyakinannya. Pun tidak ada opini yg dibangun menggunakan otoritas tertentu untuk menyudutkan pihak lain sebagai biang kerok runtuhnya ukhuwah Islamiyah hanya karena berbeda dalam metode penentuan awal bulan Qomariyah.
Meski antar mesjid dan komunitas berbeda dalam penyelenggaraan sholat Ied, namun berbagai komunitas tersebut akan berduyun-duyun mendatangi Eid Fest yg biasanya diselenggarakan beberapa hari setelah Iedain. Disitulah umat Islam dari berbagai negara dan benua, seperti Amerika, Eropa, Australia, Mesir, Palestine, Maroko, Lebanon, India Pakistan, Turki, Indonesia, Malaysia, dan begitu seterusnya tumblek blek jadi satu. Masing-masing komunitas menampilkan program dan budaya masing-masing dalam stand yang telah disiapkan baik dalam bidang busana, kuliner, maupun seni. Kegiatan semacam ini biasanya disupport oleh pemerintah setempat sebagi bagian kampanye multikultural. Komunitas lokal non Muslim pun juga kadang turut hadir untuk mengenal lebih dekat kultur para immigrant tersebut. Begitulah, perbedaan tidak sekedar dimaklumi namun dimediasi dengan “pesta rakyat” bersama.
Kondisi ini sangat kontras dengan yang terjadi di Indonesia. Yang saya baca dari hiruk pikuk di berbagai milist tentang perdebatan penentuan idul fitri di tanah air akhir-akhir ini, kesan saya, ada pihak-pihak yang sangat obsessive bahwa atas nama ukhuwah idul fitri atau idul adha itu mesti bareng, lalu mengkritik dan menjumudkan pihak lain yang kebetulan menggunakan metode berbeda dalam penentuan awal bulan qomariah.
Memang, idealnya umat Islam bisa serempak dalam merayakan ‘idain tersebut. Namun akan sangat sulit mencapai cita-cita mulia itu selama umat Islam belum memiliki sistem kalender hijrah yg berlaku secara global dan berkelanjutan. Daan… setahu saya, untuk menuju kalender yg semacam itu tidak mudah. Metode hisab hakiki wujudul hilal adalah salah satu ikhtiar menuju itu. Memang ada berbagai metode hisab lain, sebut saja hisab imkanu rukyat yg dianggap sebagai kompromi antara hisab dan rukyat, namun metode ini oleh sebagian kalangan dinilai masih menyisakan persoalan. Misalnya, ia belum bisa menjawab kebutuhan kalender hijriyah global yang mensyaratkan seluruh wilayah dunia dalam satu kesatuan tanggal, lebih-lebih bila belum ada kesepakatan kriteria di atas berapa derajat dari ufuk hilal tersebut memungkinkan untuk dirukyat dengan mata telanjang.
Karena itu, dari pada memaksakan kehendak dengan menyerang dan menyalahkan pihak lain yang berbeda sebagai jumud, yang dari situ justru berpotensi memunculkan disharmoni, akan lebih arif bila menghormati pebedaan yang selama ini masih ada, namun terus menerus berdialog untuk mencari solusi agar kelender hijrah global tersebut segera terealisir. Tidak perlu mengagung-agungkan metode yang dipakenya saat ini sebagai yng paling up-to-date. Karena, saya yakin masing masing pihak sudah menggunakan pertimbangan syar’i dan sains yang bisa dipertanggungjawabkan lengkap dengan plus minus-nya.
Nah, dari pada sibuk menyalahkan dan “menyerang” jamaah lain yang berbeda waktu merayakan idul fitri, mari saling menghargai berbedaan tersebut. Bila dalam ritual kita belum bisa bersatu, dan nampaknya akan sulit bersatu, mari kita rayakan perbedaan tersebut melalui kegiatan sosial dan kultural. Wallahu A’lam.
EID MUBAARAK… !!!
Taqobbalallu minaa wa minkum.
Cerdas Cermat dan Pingin Lebaran di Negeri orang juga pakde
saya sudah pernah sekali merasakan lebaran juga di negeri Tetangga pakdhe…. LEbaran Ied Adha