The Power of Forgiveness

1 Comment
Tags: ,
Posted 29 Sep 2010 in Kultum

_________

Mendengar hal itu Hasan lalu berkata pada budaknya bahwa mulai detik itu juga ia bebas, menjadi manusia merdeka. Tidak hanya itu, Hasan bahkan memberinya 400 keping dirham. Bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini, 400 dirham itu sama dengan:  400 x Rp. 37.000,00 = Rp. 14.800.000,00 !!!)

__________

Oleh: Ahmad Muttaqin

Ayat 133-134 QS. Ali Imran sedemikian popular pada bulan Syawal, menjadi ayat pilihan yang paling banyak dibaca dan diulas oleh para ustadz, kyai, dan mubaligh di berbagai forum pengajian, taklim, maupun seremonial. Di acara syawalan atau halal bil-halal, dua yat ini nyaris tidak pernah absen dibaca sebagai “legitimasi” tradisi saling memaafkan.

Saking populernya dan khawatir dua ayat ini dikultuskan, salah seorang khatib Jum’at  di Yogyakarta pada khutbahnya pada H+14 dari Idul Fitri mengingatkan: “Jamah jum’at rahimakumullah…, sekali lagi saya tegaskan  ayat 133-134 surat Ali Imran ini bukan ayat syawalan!!”

Mengapa dua ayat ini yang sering diulas  para penceramah saat menerangkan hikmah halal bil-halal? Mungkin karena ayat 133 menegaskan perintah bersegera menggapai ampunan Allah serta menuju surga-Nya yang diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang  bertaqwa. Ciri-ciri orang yang bertaqwa ini dijelaskan lebih lanjut dalam ayat berikutnya (134), antara lain: aktif bersedekah baik saat berkelimpahan, pas-pasan, mupun kekurangan; mampu menahan amarah; berkenan memaafkan orang lain; dan gemar berbuat kebajikan.

Bila dikaitkan dengan ayat perintah puasa (QS Al-Baqarah 183) yang menegaskan tujuan puasa itu untuk menggapai taqwa, penjelasan ciri orang yang bertaqwa dalam QS Ali Imran 34 ini cukup pas diulas pada bulan syawal, saat kaum Muslimin baru saja selesai menjalankan puasa Ramadhan. Uniknya, secara sosiologis penjelasan ciri pribadi taqwa itu seolah telah termanisfestasi dalam kultur masyarakat Indonesia yang selalu bersilaturahmi dengan kerabat, tetangga dan sahabat dalam rangka maaf-memaafkan pada hari raya idul fithri. Pada konteks inilah tidak mengherankan bila ayat tersebut menjadi sangat popular. Matra saling memaafkan yang terkandung sangat kuat pada ayat tersebut tidak hanya mampu menggerakakan roda sosial bahkan juga ekonomi pada tiap Idul Fitri. Barangkali ini salah satu bentuk keajaiban memaafkan (the power of forgiveness).

Data historis pada masa shahabat menunjukkan “the power of forgiveness” yang sangat manakjubkan.  Salah seorang budak Hasan bin Ali, cucu Rasulullah, memperoleh kebebabasan dan menjadi manusia merdeka lantaran membaca QS. Ali Imran:  134 ini. Maulana Muhammad Ali dalam The Holy Qoran, English Translation and Commentary mengisahkan: suau hari budak cucu Rasulullah tersebut merasa bersalah karene menghidangkan makanan yang terlalu panas. Kawatir akan mendapat murka dari majikannya, buru-buru budak tersebut membaca “…al-kaadzimina al-ghaidha” (orang-orang yang menahan amarah), saat itu juga Hasan menimpali bahwa dirinya tidak marah. Lalu, budak tersebut melanjutkan dengan membaca “…al-‘aafina ‘aninnaas (orang-orang yang berkenan memberi maaf); Hasan pun menjelaskan bahwa ia telah memaafkan kesalahan budak tersebut. Kemudian, melihat sang majikan yang sangat pemaaf itu, si budak kembali melanjutkan penggalan ayat “wa-Allahu yuhibbu al-muhsiniin” (dan Allah mencintai orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan). Mendengar hal itu Hasan lalu berkata pada budaknya bahwa mulai detik itu juga ia bebas, menjadi manusia merdeka. Tidak hanya itu, Hasan bahkan memberinya 400 keping dirham. Bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini, 400 dirham itu sama dengan:  400 x Rp. 37.000,00 = Rp. 14.800.000,00 !!!)

Itulah keajaiban memberi maaf. Tidak hanya menghindarkan konflik dan pertikaian yang berpotensi mendorong manusia saling merendahkan, memaafkan telah mengantarkan ke jalan yang jauh lebih terpuji: memuliakan sesama dan bersedekah. Konflik, gontok-gontokan, dendam, pertikaian, perkelahian antar  kelompok hingga perang saudara yang sering mengkibatkan manusia berada pada titik nadir moralitas, penyebabnya satu: tidak adanya kesediannya saling memaafkan.

Saudara, para pembaca blog ini, dengan ini saya tebarkan maaf untuk segala kemungiknan kesalahan yang para pembaca mungkin pernah perbuat pada saya; dan sebalikanya, saya pun memohon perkenan saudara untuk memaafkan segala salah dan khilaf saya.

Wallahu A’lam

The Best Keyword for the article:


1 Comments

  1. Mantap…. Memberi tak berharap kembali

    Reply


Add Your Comment