Komodifikasi Spiritual

3 Comments
Tags: ,
Posted 21 Apr 2010 in Kutipan

Selesai memoderatori diskusi bulanan Laboratorium Religi & Budaya Lokal (LABEL) Fak Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kemarin, Selasa 20 April 2010, wartawati kompas menelepon saya. Berikut laporannya yang termuat di:

http://www1.kompas.com/read/xml/2010/04/20/21061957/Komodifikasi.Spiritualisme.Makin.Kentara-3

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Komodifikasi spiritualitas Jawa semakin kentara. Hal ini ditandai dengan banyaknya iklan maupun penayangan di media yang menawarkan jasa ritual berbasis spiritualisme Jawa. Menguatnya komodifikasi dikhawatirkan membuat nilai-nilai spiritualitas Jawa mengalami pendangkalan, sehingga mengancam keberadaan spiritualitas itu sendiri.

Peneliti Bidang Gerakan Keagamaan Baru dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Ahmad Muttaqin mengatakan, komodifikasi spiritualitas Jawa terlihat pada ruwatan massal, berbagai teknik pengobatan dengan basis spiritual Jawa, serta ritual-ritual budaya yang dikemas sekedar sebagai pertunjukan pariwisata.

“Pelaksanaan ritual-ritual itu tidak lagi berdasarkan pakem-pakem yang berlaju. Dulu, pakem-pakem ini sangat pantang dilanggar. Sekarang, penyelenggaraan ritual lebih mengikuti keinginan pasar,” ujarnya usai diskusi Komodifikasi Spiritual di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (20/4/2010).

Meski demikian, ujar Muttaqin, komodifikasi pada spiritualitas Jawa masih lebih halus dibandingkan komodifikasi yang terjadi pada spiritualitas aliran-aliran yang lain. Untuk spiritualisme Jawa, umumnya komodifikasi belum sampai menetapkan tarif. Biaya masih sukarela pemberi, ujar Muttaqin yang meneliti komodifikasi spiritualisme dan budaya selama beberapa waktu terakhir.

Di Yogyakarta saja, saat ini terdapat setidaknya 10 lembaga penyedia jasa layanan spiritualisme. Spiritualisme aliran-aliran ini telah ditawarkan dalam bentuk paket-paket dengan tarif yang telah ditetapkan. Di antaranya Yoga, meditasi, emot ional-spiritual training, maupun reiki. Komodifikasi spiritualitas juga merambah sekolah, yaitu melalui pembangkitan motivasi sebelum ujian nasional, seperti zikir bersama maupun emotional-spiritual training.

The Best Keyword for the article:


3 Comments

  1. Aku heran, sesuatu yang belum jelas barang dan bentuknya, kok bisa diberi tarif yo?
    Kira-kira ukuran kepuasan konsumennya seperti apa itu Kang? (haha) (haha)

    Reply
  2. Ngeri juga dengan REPUBLIK ini.. tapi apa ini tidak hanya di INDONESIA yaa?

    Reply
  3. “Dimana ada PEmbeli, panjual pun akan berdatangan kang. Sekarang Trennya Penjual mendekati pembeli, tidak lagi Pembeli mencari Pasar…”

    (hassle)

    Reply


Add Your Comment