Palembang: “Hari ini, satu tahun yang lalu. ‘Selamat jalan Bunda’
Wonosari: “Sejenak Mengenang kepergian bunda: Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha, amin ya robbal alamiin.”
Yogya: “Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha. May Allah bless all her did n dedication.”
Pesan pendek pada layar telepon genggam saya satu persatu berdatangan. Adik dan kakak saling mengirim pesan, mengingatkan kepulangan Ibunda satu tahun yang lalu, tepatnya 13 April 2009.
Mengingat kematin bisa menjadi media instropeksi diri. Idealnya tiap saat kita selalu ingat pada kematian, sebab dengan itu kita jadi tahu diri, menyadari bahwa ucapan dan perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawab.
Menurut orang bijak, yang berbahaya bukanlah takut pada kematian. Sebab, setakut apapun kita padanya ia akan tetap hadir menjemput di saat kita siap maupun tidak siap. Yang lebih berbahaya adalah lupa pada kematian itu sendiri.
Terhadap orang-orang tercinta yang telah mendahului kita, mari doakan semoga segala amal dan dedikasinya di dunia di ridhoi Allah SWT.
Bunda, kami akan selalu mendoakanmu, meneruskan amal jariyah-mu.
Allahummaghfirli waliwalidaiya warhamhuma kamaa rabbayani shaghiira. Amien.
_______________
Sumber gambar: www.jauhari.net/sarilah-is-my-mother.jsp