Ahmad Munjid’s article “Thick Islam and Deep Islam” (The Jakarta Post, Aug. 16, 2009) was responded to by Hilman Latief’s “Cosmopolitan Muslims: Urban vs. Rural Phenomenon” (the Post Aug. 29, 2009).
Although both Munjid and Hilman shared their ideas on the more obvious prevalence of Islamic identity among Indonesian Muslims, they differed in terms of categorization between urban and rural as well as “thick” and “deep” Islam.
Munjid noted that “Thick Islam” was an urban phenomenon, and that “Deep Islam” was a rural one, whereas Hilman argued that the thick and the deep could not be generalized based on urban and rural categories.
Although neither intended to stimulate classical binary opposition between the Muhammadiyah as an urban Muslim organization and the NU as a rural one, the “polemic” is nevertheless interesting if we reckon their backgrounds. Munjid, who is currently the president of the Nahdlatul Ulama Community in North America, would say that the rural tradition of the NU is better than the urban.
Hilman, meanwhile, as a lecturer at Muhammadiyah University’s School of Islamic Studies, in Yogyakarta, would answer that the urban Muslim of the Muhammadiyah are not identical with “Thick Islam”.
This discussion will not pretend to support either of them, but to emphasize the fact of religious change and its various trajectories in late modern era.
Read More
The Best Keyword for the article:
Posted 20 Sep 2009 — by Muttaqin
Category Greetings
“Dan segeralah mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orangg-orang bertakwa. Yaitu mereka: 1) yang berinfak di waktu lapang atau sempit, 2) yang menahan amarahnya, 3) yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” (Q,s. 3:133-134).
Taqabbalallaah minnaa wa minkum. Selamat meraih predikat tagwa. Maaf segala khilaf. (muttaqin-indah-auzi’-naufal).
Posted 05 Sep 2009 — by Muttaqin
Category Kabar/News
Persidangan dengan “terdakwa” seorang ayah dari dua anak digelar Jum’at, 4 September 2009 pukul 3 sore waktu Brisbane. Dihadapan 3 professor dan beberapa mahasiswa program doktor terdakwa diminta mepertanggungjawaban atas semua yang telah ia tulis. Bahkan, yang baru saja ia omongkan dihadapan pengunjung sore itu juga mereka pertanyakan.
Ia sudah berada di dalam ruang Millenium gedung Macrossan bebera menit sebelum mereka datang. Tumpukan “alat bukti” dan “alibi” tertata di atas meja. Sebuah laptop dan LCD projector disiapkan untuk menampilkan barang bukti tersebut. Wajahnya tampak gugup; sesekali ia membenahi pakaian yang dikenakan: baju putih bermotif kotak dimasukkan dalam celana kantoran dan dibalut jaket hitam semi jas. Perasaannya makin bertambah “nano-nano” ketika melihat lelaki tegap 60-an tahun masuk ke ruang sidang. Dia adalah “hakim” external dari kampus yang usianya jauh lebih tua dari tempat terdakwa menuntut ilmu.
Read More