Archive for August, 2009

Stop-Revive-Survive

Posted 15 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Mereka Berkata

stop-revive-surveive‘Why do you pray [shalat] five times a day? Aren’t you disturbed by those activities?” Itu  pertanyaan lain yang sering dilontarkan ‘bule’ pada masyarakat Muslim di Barat. Dan lagi, mereka tidak bakal menerima jawaban tekstual. Karena itu jawabannya sebisa mungkin ‘rasional’ sesuai atau setidaknya mendekati apa yang selama ini ada di sekitar mereka.

“When you make a journey driving in a highway for along time, let’s say from Brisbane to Sidney, you will find a sign “Stop-Revive-Survive” indicating you are close to a rest stop. Do you know what does that means?” Mendengar ilustrasi tersebut sang bule pun mengangguk, tanda mulai mengerti arah pembicaanku.

Hidup itu ibarat melakukan perjalanan panjang. Agar sampai ke tujuan dengan selamat kita perlu bekal dan sarana yang memadahi. Mobil yang kita kendarai perlu diisi bensinnya agar tidak kehabisan di tengah jalan. Perut kita perlu diberi makan agar tetap punya tenaga dan bisa berkonsentrasi menyetir. Fisik kita pun perlu diistirahatkan agar tidak terforsir. Intinya, dalam perjalanan itu kita perlu ‘waktu jeda’ untuk mencharge energi.

Read More

Merdeka?

Posted 13 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Teropong

MerdekaEnampuluh empat tahun usia republik-ku, namun kemerdekaannya hingga kini masih kusangsikan. Setiap bulan Agustus tanda tanya itu selalu muncul. Bukan hanya aku, kamu dan mereka kukira juga akan mempertanyakan status kemerdekaan ini; mengapa asing masih menguasai sumber daya mineral, bisnis strategis, arus informasi, bahkan juga makanan yang kita konsumsi.

Coba lihat: teknologi informasi kita ambil dari Amerika dan Eropa. Mobil dan motor kita datangkan dari Jepang. Daging dan susu yang kita minum produk Austraia dan New Zealand. Durian dan klengkeng yang tersaji di atas meja berasal dari Thailand. Bahkan bawang putih yang beredar di pasar tradisional pun diimpor dari China.

Lalu kemana saja putra-putri terbaik bangsa yang begelar doktor, insyinyur, dan ekonom itu? Diapakan saja tanah subur gemah ripah loh jinawi seluas nusantara itu? Apa saja yang diperbuat oleh petani dan nelayan kita selama ini? Kukira tidak bijak menggungat ketergantungan republik ini pada para insinyur, kaum intelek, petani, pedagang, juga nelayan. Aku yakin mereka telah bekerja keras sesuai bidangnya. Petani kita itu, misalnya, telah bekerja luar biasa: berangkat ke ladang pagi ba’da subuh; menjelang dhuhur pulang lalu dua jam kemudian  ke ladang lagi hingga menjelang maghrib. Kukira mitos pribumi malas yang mengatakan “orang Melayu kalau bekerja tidak berkeringat, kalau makan baru berkeringat,” itu sangat menyesatkan.

Read More

Modernity, Religious Change and Spiritual Revolution

Posted 07 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category English, Teropong

Emma FlowersAlthough Marx, Freud, and Weber had predicted religions would progressively disappear from society for the expansion of modern institutions, we watch not only religions that reject to away from society but also see the emergence of novel sensibility of religions and spirituality in late modernity. ‘Why should this be?’ ask Giddens who then finds Durkheim’s affirmation that religion has ‘some thing eternal’ namely ‘symbol of collective unity’ (Giddens, 1992: 207).

Will religion truly disappear due to massive spread of modernity? Were the question directed to Hefner, he would answer that the absent of religion in modern time is just temporary. Every society needs ‘collective moral consciousnesses’. Durkheim, as noted by Hefner, “believed that this lost of religion was but a temporary dysfunction of early modernization (see also Beckford, 1989: 25). No society can survive without a collective moral consciousness. The lost of social power of certain religions will be followed by the emergence of a new ‘civil religion’ replacing social role of the earliest. Such a civil religion is able to “provide coherence and stability even in the absence of a theistic canopy” (Hefner in Heelas, 1998: 150). Berger (1992) and Cox (1990) also predicted that the availability of spirituality in modern and even post-modern time is clearly potential (Hefner in Heelas, 1998: 150).  This because, as Mellor says, “societies have a sui generis reality that is collectively represented in religion”. Furthermore, “Religion is more than the mere cement of social solidarity”, it “continues act as an emergent, dynamic and creative force in societies” (Beckford and Wallis, 2006: xv).

Read More

The Best Keyword for the article:

Muhammadiyah dan Sufisme

Posted 06 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Teropong

muhammadiyah2Di beberapa kesempatan, professor saya selalu bilang Sufisme tidak bakal mati. Meski puritanisme yang berkongsi dengan modernisme selalu berusaha memarginalkannya, ia selalu bisa hadir menerobos celah-celah kepenatan duniawi maupun ritual keagamaan yang terlalu formal dan “kering”. Kelenturannya beradaptasi dengan berbagai kondisi dan daya tahannya melintasi sekat-sekat aliran, kelompok, kelas sosial bahkan juga zaman merupakan nilai lebih mystical experience dalam Islam itu.

Muhammadiyah yang selama ini identik dengan organisasi Muslim kaum modernis berulang kali dinilai sebagai salah satu yang anti, atau setidaknya kurang ramah dan tidak apresiatif terhadap Sufisme (Howell 2001, 2004, 2007, 2008). Tampaknya, penilain ini berdasar pada: (1) Citra Modern Muhammadiyah, sementara kaum modern itu sendiri selalu melihat mystical experience bagian dari barrier yang menghambat kemajuan. Lebih kejam lagi, modernisme melekatkan mistisisme dengan keterbelakangan [backwards]. Penilaian Muhammadiyah sebagai gerakan yang mempelopori rasionalisasi pragmatik dalam Islam serta mengedepankan akal dan intelek sebagaimana diungkap Geerzt (1960) dan Peacok (1978) telah menempatkan Muhammadiyah itu by definition anti tasawuf yang dianggap expresi tradisionalisme; (2) karakter puritan Muhammadiyah yang anti TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat) serta pendapat sebagian ulama yang memandang tasawuf adalah expresi keberagaam yang kurang autentik dalam Islam sebab rujukannya sulit ditemukan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah secara langsung; dan (3) tidak satupun “organisasi” kaum Sufi atau Tarikat yang bernaung di bawah Muhammadiyah. Hal ini berbeda dengan, misalnya, Nahdhatul Ulama yang secara organisatoris “memayungi” kelompok-kelompok tarikat yang dinilai muktabar (diakui keabsahannya).

Read More

The Best Keyword for the article:

Tunjukkan, bukan Katakan

Posted 05 Aug 2009 — by Ahmad Muttaqin
Category Mereka Berkata

anti terrorist

Menangkal terorisme adalah kewajiban kita bersama. Tunjukkan pada dunia bahwa perilaku teroris itu sama sekali tidak Islami. Isyhaduu bi-anna Muslimun pada konteks ini bisa berati: Tunjukkan-lah bahwa kami itu bukan teroris! 

——————–

“Pak, saya malu pada teman-teman di sekolah. Mereka selalu bilang saya teroris hanya kerana saya beragama Islam. Apa yang harus saya katakana pada mereka bahwa saya bukan teroris?” Demikian pertanyaan salah satu siswa sekolah menengah di Austrlia. Sejak peristiwa 9/11 dia selalu diledek teman-temannya sebagai teroris. Cara berfikir asosiatif media Barat yang sering melekatkan pelaku terror dengan identitas Islam pelan namun pasti telah mempengaruhi cara pandang masyarakat pada minoritas Muslim di Barat. Realitas di Australia ini mengingatkan saya saat melakukan riset dampak tragedy 11/9 terhadap kehidupan sehari-hari komunitas Muslim Miami, Florida USA. Beberapa informan mengabarkan tidak sedikit sister yang terpaksa cobot jilbab dan beberapa brother menyamarkan identitas keislamannya seperti mengganti nama Muhammad dengan Mo, dan mencukur jenggot. 

Read More

The Best Keyword for the article:

Page 2 of 212