‘Why do you pray [shalat] five times a day? Aren’t you disturbed by those activities?” Itu pertanyaan lain yang sering dilontarkan ‘bule’ pada masyarakat Muslim di Barat. Dan lagi, mereka tidak bakal menerima jawaban tekstual. Karena itu jawabannya sebisa mungkin ‘rasional’ sesuai atau setidaknya mendekati apa yang selama ini ada di sekitar mereka.
“When you make a journey driving in a highway for along time, let’s say from Brisbane to Sidney, you will find a sign “Stop-Revive-Survive” indicating you are close to a rest stop. Do you know what does that means?” Mendengar ilustrasi tersebut sang bule pun mengangguk, tanda mulai mengerti arah pembicaanku.
Hidup itu ibarat melakukan perjalanan panjang. Agar sampai ke tujuan dengan selamat kita perlu bekal dan sarana yang memadahi. Mobil yang kita kendarai perlu diisi bensinnya agar tidak kehabisan di tengah jalan. Perut kita perlu diberi makan agar tetap punya tenaga dan bisa berkonsentrasi menyetir. Fisik kita pun perlu diistirahatkan agar tidak terforsir. Intinya, dalam perjalanan itu kita perlu ‘waktu jeda’ untuk mencharge energi.
Enampuluh empat tahun usia republik-ku, namun kemerdekaannya hingga kini masih kusangsikan. Setiap bulan Agustus tanda tanya itu selalu muncul. Bukan hanya aku, kamu dan mereka kukira juga akan mempertanyakan status kemerdekaan ini; mengapa asing masih menguasai sumber daya mineral, bisnis strategis, arus informasi, bahkan juga makanan yang kita konsumsi.
Although Marx, Freud, and Weber had predicted religions would progressively disappear from society for the expansion of modern institutions, we watch not only religions that reject to away from society but also see the emergence of novel sensibility of religions and spirituality in late modernity. ‘Why should this be?’ ask Giddens who then finds Durkheim’s affirmation that religion has ‘some thing eternal’ namely ‘symbol of collective unity’ (Giddens, 1992: 207).
Di beberapa kesempatan, professor saya selalu bilang Sufisme tidak bakal mati. Meski puritanisme yang berkongsi dengan modernisme selalu berusaha memarginalkannya, ia selalu bisa hadir menerobos celah-celah kepenatan duniawi maupun ritual keagamaan yang terlalu formal dan “kering”. Kelenturannya beradaptasi dengan berbagai kondisi dan daya tahannya melintasi sekat-sekat aliran, kelompok, kelas sosial bahkan juga zaman merupakan nilai lebih mystical experience dalam Islam itu.