‘Why do you pray [shalat] five times a day? Aren’t you disturbed by those activities?” Itu pertanyaan lain yang sering dilontarkan ‘bule’ pada masyarakat Muslim di Barat. Dan lagi, mereka tidak bakal menerima jawaban tekstual. Karena itu jawabannya sebisa mungkin ‘rasional’ sesuai atau setidaknya mendekati apa yang selama ini ada di sekitar mereka.
“When you make a journey driving in a highway for along time, let’s say from Brisbane to Sidney, you will find a sign “Stop-Revive-Survive” indicating you are close to a rest stop. Do you know what does that means?” Mendengar ilustrasi tersebut sang bule pun mengangguk, tanda mulai mengerti arah pembicaanku.
Hidup itu ibarat melakukan perjalanan panjang. Agar sampai ke tujuan dengan selamat kita perlu bekal dan sarana yang memadahi. Mobil yang kita kendarai perlu diisi bensinnya agar tidak kehabisan di tengah jalan. Perut kita perlu diberi makan agar tetap punya tenaga dan bisa berkonsentrasi menyetir. Fisik kita pun perlu diistirahatkan agar tidak terforsir. Intinya, dalam perjalanan itu kita perlu ‘waktu jeda’ untuk mencharge energi.
Bayangkan, apa yang akan terjadi bila jalan tol yang beratus-ratus kilo itu tidak ada fasilitas rest area? Berapa banyak mobil macet karena kehabisan bensin? Berapa banyak kecelakaan bakal terjadi karena pengemudinya capek, lapar dan ngantuk? Nah, sholat itu analoginya sebagaimana rest area itu. Ia menjadi sarana revive agar tetap bisa survive.
Di tengah kesibukan menjalani beragam aktivitas, manusia perlu ‘jeda’ untuk mengisi ‘battery’ spiritual dan menyegarkan kembali tubuh dan pikiran. Kadang kita merasa stuck, meaningless, dan tidak ada progress dalam bekerja; kalaupun ada progressnya tidak sesuai dengan harapan. Saat itulah sebenarnya kita perlu stop, berhenti sesaat dari aktivitas itu sebab fisik, jiwa dan pikiran kita sedang drop. Kita perlu waktu untuk melakukan evaluasi, instropeksi, dan mungkin juga reorientasi.
Bagi Muslims, sholat memberi sarana revive yang lengkap. Ia mampu memulihkan kepenatan lahir, mengobati keletihan batin dan menjernihkan fikir. Energi yang kita peroleh dari sholat inilah yang akan membantu kita tetap survive dalam menapaki jalan panjang duniawi yang kadang terjal dan berliku. Menyadari arti penting sholat ini, maka ia tidak semata-mata kewajiban tapi kebutuhan. To Muslims, sholat is not a burden at all; it is a basic need.
Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/chrissam42/3211794317/
The Best Keyword for the article:
No related posts.
hoho..
nice..
eh..eh..
trus si bule njawab apa abis diterangin begitu?
ceritone nggantung mas. endinge pye?
@jauhari & tikabanget. Cerita tadi hanya untuk prolog menuju moral dari sholat itu. Jadi endingnya diserahkan pada pembaca. Di paragraf dua ada sedikit clue kalau si bule sudah mengangguk, tanda faham.
setuju pak dhe. sesuk aku nek ditakoni tentang shalat, aku tak jawab podo sampeyan yo :)