Tunjukkan, bukan Katakan

2 Comments
Tags: , ,
Posted 05 Aug 2009 in Mereka Berkata

anti terrorist

Menangkal terorisme adalah kewajiban kita bersama. Tunjukkan pada dunia bahwa perilaku teroris itu sama sekali tidak Islami. Isyhaduu bi-anna Muslimun pada konteks ini bisa berati: Tunjukkan-lah bahwa kami itu bukan teroris! 

——————–

“Pak, saya malu pada teman-teman di sekolah. Mereka selalu bilang saya teroris hanya kerana saya beragama Islam. Apa yang harus saya katakana pada mereka bahwa saya bukan teroris?” Demikian pertanyaan salah satu siswa sekolah menengah di Austrlia. Sejak peristiwa 9/11 dia selalu diledek teman-temannya sebagai teroris. Cara berfikir asosiatif media Barat yang sering melekatkan pelaku terror dengan identitas Islam pelan namun pasti telah mempengaruhi cara pandang masyarakat pada minoritas Muslim di Barat. Realitas di Australia ini mengingatkan saya saat melakukan riset dampak tragedy 11/9 terhadap kehidupan sehari-hari komunitas Muslim Miami, Florida USA. Beberapa informan mengabarkan tidak sedikit sister yang terpaksa cobot jilbab dan beberapa brother menyamarkan identitas keislamannya seperti mengganti nama Muhammad dengan Mo, dan mencukur jenggot. 

Yang ditanya siswa di atas adalah anak Kyai Indonesia yang jadi dosen di sebuah universitas Australia bagian selatan. Ia menjawab, “well, anda tidak perlu mengatakan apa-apa. Tidak perlu repot berteriak lantang menyangkal tuduhan mereka.”

Mendapat jawaban demikian, makin bingung siswa tadi. “Lha kog?” kira-kira begitu dia terus bertanya.

Sang dosen lalu melanjutkan: “Sekeras apapun kita berteriak lantang menyangkal, imagi asosiatif mereka akan terus muncul. Di sini kita bisa menjelaskan panjang lebar bahwa Islam itu berasal dari kata sa-la-ma yang berarti selamat. Allah itu bersifat Rahman (Maha Pengasih) dan Rahiem (Maha Penyayang). Islam adalah agama yang megajarkan rahmat untuk semesta alam, anti kekerasan dan cintai damai. Islam itu… dan begitu seterusnya. Eh, belum selesai kita berargumen tiba-tiba bom meledak lagi di London, di Mumbai, dan di Jakarta yang ironisnya si pelaku dengan lantang mengatasnamakan Islam. Maka satu-satunya cara menjawab bahwa kita bakan teroris ya dengan pebuatan; tidak cukup hanya kata-kata. Tunjukkan sikap dan kepribadian yang Islami, yang rahmatan lil-‘aalamien. Mulailah dari dari hal-hal kecil, misalnya: datang tepat waktu, disiplin, rajin, dan selalu menjaga kebersihan. Tunjukkan bahwa kita itu peduli pada kelestarian lingkungan; bahwa kita itu toleran dan bisa menghargai perbedaan. Kalau mereka perlu bantuan, kita tolong sebelum mereka meminta. Kita sapa mereka dengan ramah, dan begitu seterusnya. Insya Allah, pelan-pelan imagi mereka akan berubah setelah melihat langsung perilaku kita dan menyadari bahwa Muslim itu ramah dan anti kekerasan.”

Harus diakui, hingga kini definisi terorisme itu sendiri masih tendensius. PBB cenderung membatasi pengertian yang menyebut terorisme itu segala tidakan kekerasan yang dilakukan sabagai expresi ideologis atau politis tertentu. Dengan definisi ini, maka kekerasan-kerasan yang dilakukan dengan motive non ideologis/politis bukan dianggap terror. Misalnya, karena cinta ditolak seseorang meledakkan gedung. Berdasar definisi di atas, tindakan ini meski bisa menimbulkan korban yang jauh lebih banyak dan ketakutan yang luar biasa tidak dianggap teror, hanya kriminal.

Di tengah perang wacana, definisi yang tendensius ini dengan mudah menggiring media melakukan framing bahwa aksi terorisme satu dasawarsa terakhir ini punya kelekatan dengan Islam; mengikuti “sabda” Huntington bahwa Islam adalah “lawan” dari peradaban Barat setelah kekuatan Sosialis runtuh. Bebeberapa media lalu berlomba mengexplorasi kepribadian tersengka yang masih buron, bahwa ia itu pendiam, sederhana, dan rajin beribadah (mahfum mukhalafah-nya kira-kira: agar tidak jadi teroris maka jadilah orang yang periang, kaya dan tidak perlu rajin beribadah). Celakanya, sebagian pelaku yang tertangkap dengan bangga mengaku tindakan biadabnya atas nama Islam. Padahal semua mafhum yang namanya kekerasan, apalagi terror, itu tidak beragama. Untuk itu, menangkal terorisme adalah kewajiban kita bersama. Tunjukkan pada dunia bahwa perilaku teroris itu sama sekali tidak Islami. Isyhaduu bi-annaa Muslimun pada konteks ini bisa berati: Tunjukkan-lah bahwa kami itu bukan teroris! Dengan apa menunjukkankanya? Dengan menebar kebajikan dan keadilan.

Sumber gambar: http://www.totalstatements.com/product_info.php?products_id=34

The Best Keyword for the article:

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • email
  • PDF
  • Posterous
  • Reddit

No related posts.


2 Comments

  1. Bentul!

    Reply
  2. I am a gree Brother…

    Reply


Add Your Comment

:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)