
The more temptation we face, the more reward we will have. Saat sedang asyik mendengarkan kuliah di kelas; datang mahasiswi dengan pakaian musim panas yang “compang-camping & tidak lengkap.” Dia langsung duduk di sampingku, membuka tas, mengeluarkan minuman kaleng lalu menenggaknya, glek glek glek…. “uh segarnya…” batin saya. Kadang saya berfikir, puasa umat Islam Indonesia itu terlalu “manja.” Atas nama menghormati bulan Ramadhan tempat-tempat hiburan dan warung makan dihimbau tutup. Tempat maksiat digerebek. Operasi miras dilakukan di berbagai daerah, hotel dan rumah-rumah bordil pun dirazia.
______________
Rabu malam 26 Agustus 2009 waktu Brisbane, seorang jurnalis sebuah media massa cetak di Semarang mengontak saya via YM. Dia ingin tahu pengalaman puasa di negeri orang. Berikut ini penggalan chatting saya dengan wartawati tersebut, setalah dilakukan beberapa editing. Semoga bermanfaat.
Fani (F): Assalamu’alaikum, mas Taqin.
Muttaqin (M): ‘Alaikum salam. Gemana kabarnya mbak?
F: Alhamdulillah
M: Oke. How may I help you?
F: Enggak, aku cuma mau nanya aja pengalaman puasa di luar negri. Sekarang di Australia ya mas?
M: Betul.
Dia terpilih dengan suara 100 persen. Meskipun ketika itu ada juga propaganda supaya dia jangan terpilih, rupanya ia berhasil.
Many people assume local culture is the symbol of backward, barriers for development and in contrast to modern culture. To be a modern (rational, engaged in secular institutions, and disenchanted of the world) one should drop all that connected to the local. Through their purified wings, world religions in fact involved in negating –or even destroying– local cultures, blaming them as unauthentic and source of heresy.
Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order (2006), itulah judul disertasi doktoral dosen IAIN Antasari di ISIM/Leiden, Belanda. Ia mengkaji hubungan Muslim-Kristen Indonesia pada masa Orde Baru, menggambarkan ketidaknyamanan hubungan keduanya karena dipenuhi kecurigaan dan rasa saling terancam yang bermuara pada problem politik. Secara tidak langsung, disertasi tersebut “menguatkan” dua thesis master saya, Wacana Kristenisasi di Indonesia dan Implikasinya pada Hubungan-Muslim Kristen (2002) di Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Christianization and Islamization Discourses in Modern Indonesia: A Struggle for Representing Power (2005) di Florida International University, Mimai, USA (2005).
“Saudara-saudara bisa berdoa [sholat] lima kali sehari. Namun, kalau akhlakmu, tetap buruk, tidak ada gunanya. Saudara-saudara bisa berdoa dengan teratur, akan tetapi bilamana saudara tetap rakus, kikir, tidak mempunyai rasa prihatin terhadap orang miskin dan berkekurangan, maka doamu tidak akan diterima oleh Allah. Saudara tidak akan masuk surga akan tetapi Neraka. Saudara bisa menyelesaikan tugas puasa. Namun bilamana saudara tetap berbicara buruk tentang orang lain, masih berlaku sombong, tidak ada gunanya berpuasa. Puasamu tidak akan diakui oleh Allah. Nabi berkata: ‘Saya diutus kepadamu untuk memperbaiki akhlakmu, budi pekerti.’ Karena itu mari melakukan doa [sholat], puasa, naik haji, membayar sedakah, dan di atas segala-galanya ini, mari kita memperbaiki akhlak, budi pekerti kita.”
Snake Peek Indonesian Festival: Pesta Rakyat 2009. Itu judul berita yang dipublikasikan oleh PPIA (Pehimpunan Pelajar Indonesia Australia) wilayah Quensland. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari kemerdekaan RI ke 64 ini diperingati warga Indonesia yang berada di Brisbane dan sekitarnya dengan menggelar “Pesta Rakyat”: bazzar makanan, kerajinan dan pakaian serta panggung hiburan nusantara.