Secara lughawi (terminologis) istilah aqidah berasal dari kata “’aqada” yang berarti buhul dan mahkota; sedangkan secara istilah aqidah berarti sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasar wahyu, fitrah dan akal. Kebenaran tersebut dipatrikan dalam hati, diyakini keshahihannya, dan ditolak kemungkinan kebanaran selainnya.
Pada kontek keber-Tuhanan, aqidah umat Islam adalah tauhid, men-gesakan Tuhan (QS. Al-Ikhlash). Setidaknya ada tiga aspek tauhid yang harus diyakini: pertama, kepercayaan dan keyakinan bahwa hanya Allah yang berkuasa mencipta, memelihara, mengatur dan menguasai alam semesta (tauhid Rububiyah - QS. Al-A’raf: 54); kedua, kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang Haq (tauhid Uluhiyah – QS. Muhammad: 19); dan ketiga, kepercayaan dan keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak dan wajib dihampai/disembah (tauhid Ubudiyah – QS. Al Isra: 23).
Bertauhid dengan benar akan membentuk dua kesadaran sekaligus: sadar bahwa hari Akhir (kiamat) itu pasti akan datang dan sadar setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Dua kesadaran ini akan mengantarkan kesadaran berikutnya bahwa hidup manusia ini semata mata untuk beribadah dan beramal shalih dalam rangka menggapai ridha Allah SWT (QS. Adz Dzariyat: 56). Kesadaran tersebut bila diiringan dengan tindakan nayata akan membawa umat Islam mampu menempatkan dirinya sebagai khalifatullah di muka bumi yang bertanggungjawab dan berusaha mempertahankan martabat dirinya sebagai magkhluq Allah yang paling mulia (QS. At-Tin: 4-6).
Pada dasarnya aqidah berkaitan dengan sisi “dalam” manusia. Kekuatannya bergantung pada kebersediaan hati dan akal seseorang untuk berdialog dengan kebenaran wahyu Illahi. Aqidah kita termasuk kuat dan kokoh bila kita mampu mengakui “kebenaran itu tetap benar dan kebathilan itu tetap bathil” di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Keber-aqidahan kita dikatakan ikhlas jika seluruh pikiran dan perbuatan yang kita lakukan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah, diamalkan dengan sebaik-baiknya dan berorientasi pada hasil yang membawa kemaslahatan. Dengan begitu, aqidah tersebut akan membawa ketenteraman hati, menghilangkan riya dan memberi kemanfaatan pada orang lain.
Dengan ungkapan yang lebih fungsional, kalau kita sudah meyakini bahwa Islam yang kita peluk ini adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya, sejak nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Rasul penutup Muhammad SAW; agama yang menjadi hidayah dan rahmat bagi umat manusia sepanjang masa; serta agama yang menjamin kesejahteraan hidup material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi, maka sudah sewajarnya jika seluruh kerja dan karya kita diorientasikan untuk syiar Islam dan menebar kemaslahatan untuk kemanusiaan dan peradaban. Sebab di pundak kita inilah citra Islam dan pesona Islam itu, bukan hanya pada para ulama, kyai atau pemimpin Islam. Semua yang telah mengikrarkan dua kalimah syahadah pada dasarnya memiliki kewajiban moral untuk menghadirkan wajah Islam yang rahmatan lil’aalamin.
Wallahu ‘alam, semoga bermanfat.
Tulisan ini pernah dipost-kan pada KAMIL (Kajian Milis) IISB@yahoogroups.com
Sumber gambar: http://homedecor.cafepress.com/item/traditional-art-ornament-round/202027317
The Best Keyword for the article:
- kata bijak islami
- kata-kata bijak islami
- kultum islami
- amal shalih
- kata bijak untuk amal manusia
- kata kata bijak islami di hadist
- kultum singkat islam tentang rahmat allah
- islam dan amal shalih
- kultum islam
- kultum aqidah
No related posts.
Demi alam akhirat begitu kang? biar tidak salah jalan begitu? atau bahasa kasare ORA MANUT UDELE DEWE gitu?
pikiran dan tindakan kita, langsung maupun tidak, turut membentuk “wajah Islam” di masyarakat, karena itu hadirkanlah ide dan perbuatan yang mencerminkan Islam itu rahmatan lil’aalamin. kira kita begitu om.