Menutut Foucault, pemenang dalam partarungan politik bukan siapa yang memperoleh suara terbanyak tapi siapa yang menentukan aturan main pertandingan itu. Masalahnya, apa yang akan terjadi bila diantara petarung teryata merangkap sebagai pembuat aturan? Itulah mengapa incumbent selalu memiliki lebih banyak kapital menang dibanding peserta lain.
Meski berbagai aturan telah sedemikian rupa mengeliminir campur tangan incumbent pada lembaga idependent pelaksana pertadingan, namun relasi kuasa antar lembaga yang berpusat pada the incumbent menjadikan lembaga tersebut sulit bisa netral 100%. Pun demikian juga pada lembaga pengawas dan perangkat penegak hukum lain yang dibentuk untuk mengontrol kerja pelaksana. Yang sering terjadi, laporan dari incumbent biasanya direspon dengan cepat, sementara laporan atas kecurangan incumbent cenderung diabaikan.
Mengingat begitu kuat aura kuasa incumbent yang sering mempengaruhi netralitas kerja pelaksana dan pengawas, saya kok berfikir sebaiknya jabatan publik itu dibuat satu periode saja. Bila masa baktinya habis, maka yang bersangkutan tidak perlu mencalonkan lagi, atau tidak boleh dicalonkan lagi. Dengan demikian ia akan bekerja maksimal selama satu periode, mengurus pertandingan politik di ujung masa kerjanya tanpa tumpang tindih dengan ambisi pribadinya.
Dari segi regenerasi, pilihan satu periode ini juga lebih memberi peluang proses pembeliaan pimpinan. Mau tidak mau, wajah-wajah baru tertantang untuk tampil ke depan mengambil alih estafet kepemimpinan. Satu periode juga tidak membosankan, masak selama 3 pemilu sejak reformasi, kita hanya disuguhi ‘elo lagi, elo lagi…’ Capek deeh….!!!
Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama, baru-baru baru ini sudah menyatakan kalau dirinya lebih memilih menjadi president satu periode namun memiliki prestasi gemiliang dari pada dua periode dengan prestasi pas-pasan. Nah, silahkan nilai, bagaimana prestasi para presiden republik ini. Coba hitung score prestasi tiap president, lebih banyak yang gemilang, pas-pasan, atau jangan-jangan memalukan? Karena itu, mari kita kampanyekan once is enough, twice is too much. Wallahu a’lam.
Sumber gambar: http://www.myspace.com/yellowhammertunes
No related posts.
Jadikan yang terbaik dalam tiap langkah