
Harapan perubahan itu kumulai hari ini. Bersama satu teman yang mengambil PhD bidang climate change asal Kendari, kami berangkat ke TPS. Sampai di lokasi berpuluh warga telah mengantri. Mereka bergerompol, ada yang berdiri, duduk di kursi, banyak juga yang melingkari meja penjualan makanan khas nusantara: siomay, pempek, tekwan, juga teh kotak. Seorang Bapak yang berdiri di depan pintu mengatakan, untuk masuk ruangan TPS kita harus antri. Saya sendiri dapat nomor urut 10. Begitu giliran tiba, saya serahkan paspor dan surat undangan pada panitia. Sekitar sepuluh orang tampak sudah duduk di dalam ruangan menunggu giliran mencontreng. Saya menuju deretan kursi paling belakang. Lima menit kemudian, kira-kira pukul 12.14 nama saya dipanggil. Panitia menyerahkan kembali paspor saya dan memberi “kupon” tertulis angka 5. Saya serahkan kupon itu pada meja berikutnya dan panitia menggantinya dengan kartu suara. Ia meminta saya membuka kartu tersebut dihadaannya, mengecek kalau-kalau ada kerusakan. Setelah dipastikan kartu “aman”, dengan pasti kulangkahkah kakiku menuju bilik pencontrengan. Sejak pagi jam 09.00 hingga petang pukul 20.00 waktu setempat, warga negara Indonesia yang berada di Brisbane dan sekitarnya diberi kesempatan untuk menentukan pilihan president dan wakil president RI ke 7 di Gedung 69 ruang 110 University of Queensland, St Lucia Campus.
Diujung pilpres 2009 yang heboh dan carut marut ini saya masih ingat berbagai analisis politik, rumor, issue, dan kampanye gelap berseliweran dengan janji-janji manis para capres dan cawapres. Saat menuju bilik suara, satu demi satu memori hingar-bingar kampanye yang terekam diberbagai media, milis, facebook dan obrolan santai muncul: mulai dari saling sindir dan cibir antar capres, lomba “ramalan” antar lembaga survey tentang prediksi perolehan suara masing-maisng calon, isu antek neolib, permainan canggih “merekayasa” polling sms, penelanjangan identitas agama keluarga cawapres, politik jilbab istri para capres dan cawapres, sinyalement salah satu capres yang gemar pada dunia klenik, “pelecehan” etnis tertentu oleh salah satu tim sukses, kisruh DPT hingga dugaan ketidaknetralan KPU.
Sesampai di bilik, kartu suara segera saya buka dan kutemukan tiga pasang gambar capres dan cawapres. Semuanya berdandan rapi. Tatapannya mantap dengan sedikit senyum refleksi orang terhormat penuh martabat. Melihat foto wajah-wajah gagah dan bersih itu, rasanya sulit dipercaya kalau di negeri tempat mereka berlaga ”berebut” menjadi yang nomor satu masih banyak dijumpai pengangguran, komunitas kumuh, busung lapar, serta anak-anak tidak sekolah.
Satu persatu foto mereka saya pandangi. Dalam hati saya bertanya, “hanya inikah stok calon pemimpin republik yang berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa?” Mataku kemudian fokus pada pasangan yang berada di ujung paling kiri. Saya teringat slogan-slogannya yang ingin memperjuangkan rakyat kecil, menyelamatkan ekonomi rakyat, berjanji pertumbuhan ekonomi diatas dua dugit, dan berteriak lantang anti neolib. Saya terbakar semangat mereka ingin mewujudkan negeri yang mandiri dan disegani. Namun saya segera berfikir, bagaimana mungkin itu terwujud wong dulu ketika capres tersebut menjadi presiden banyak BUMN strategis yang dijual? Saat mataku menatap pasangan yang di tengah, saya mengerti dia telah berusa berbuat, diantaranya merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN meski itu atas “ultimatum” Mahkamah Konstitusi; juga usahanya memberantas korupsi meski dinilai masih tebang pilih. Namun aku juga tahu dari berbagi media dan milis, ia dikenal melankolis, sibuk membangun citra dan tebar pesona. Tim suksesnya juga terkesan pongah. Apa kayak gini yang mesti dilanjutkan? Dan ketika mataku tertuju pada pasangan di ujung kanan, saya mengenal semboyan mereka “the sooner the better” yang katanya terjemahan dari fastabiquu al-khairat. Saya suka gaya ceplas ceplos saudagar ini. Namun rekam jejak pasangannya dinilai banyak orang masih punya hutang masa lalu terkait HAM. Sebagian kalangan juga khawatir bisnis keluarga capres ini akan bertabrakan dengan kepentingan Negara.
Akhirnya, dengan bismillahirrahmanirrahiem, saya tentukan pilihan pada pasangan capres dan cawapres yang, menurut saya, visioner, cepat tanggap, berani mengambil keputusan. Pokoknya yang bisa membawa kemajuan bangsa LEBIH CEPAT, mampu meLANJUTKAN yang lalu ke arah yang LEBIH BAIK, dan mengeluarkan kebijakan yang lebih PRO RAKYAT KECIL. Wallahu a’lam.

No related posts.
Sopo wae pilihanmu mogo-mugo menang….
Yang penting bisa nyumbang suoro nggo pilpres, nggak koyo aku sing ‘DIPEKSO GOLPUT” sama konstitusi…
Negeri kita masih seperti itu…
belum siap dengan PEMIMPIN BERKONSEP PEMBANGUNAN YANG JELAS
Lihat aja saat AR maju dan ketika JK…. akhirnya harus merelakan kekalahannya
Masyarakat Kita masih masuk wilayah MASYARAKAT INSTAN dan TAMPANG adalah Nomer Wahid.
berarti mbok contreng kabeh, om? sebagai pilihanmu?
He he, apa perlu diungkap secara terbuka pake-nala?
Alhamdulillah… akhirnya saya bisa nyontreng juga di Manok €, setelah menunggu ketidak pastian bisa tidaknya nyontreng di Tanah yang terkenal masih perawan hutannya dan saat ini beberapa daerahnya tengah bergejolak.
jam 11 saya memberanikan diri datang ke TPS di daerah Wosi Dalam dengan bermodalkan KTP Nasionalku yg beralamat di Sumber Kidul, Gunungkidul. dan Alhamdulillah. Cukup sekali contreng dapat saya lakukan.