FPI Brisbane

Posted 29 Aug 2010 — by Muttaqin
Category Serba-serbi

Mangan ora mangan sing penting ngumpul (makan tidak makan yang penting berkumpul).” Ungkapan itu sering dilekatkan pada mayarakat Indonesia, terutama Jawa, yang gemar berkumpul baik dalam suasana suka maupun duka.

Budaya kumpul inilah, konon, yang mendorong orang Indonesia lebih banyak memiliki tradisi lisan dibanding tulisan. Dengan berkumpul, interaksi sesama family, kerabat, dan sejawat didominasi ngobrol, senda gurau, serta komunikasi verbal lainnya. Meski teknologi komunikasi telah menawarkan beragam cara “ngobrol” jarak jauh secara virtual (telepon, email, mailingslist, chating, sms, dll) terasa kurang afdhol bila aktifitas tersebut tidak dilakukan dengan tatap muka secara langsung. Alasan itu pula barangkali yang mendasari masyarakat perantauan Nusantara gemar membuat berbagai paguyuban atau organisasi sesuai dengan kepentingannya.

Di Brisbane, perkumpulan sasama perantau asal Indonesia luar biasa banyaknya; ada yang berbentuk organisasi payung, persatuan pelajar/mahasiswa, ikatan keagamaan, kelompok daerah, asosiasi profesi hingga hoby. Sebagian diantaranya adalah: PIQ (Persatuan Indonesia Quensland), PPIA (Persatuan Pelajar Indonesia di Australia) cabang Quensland, ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith Uni), UQISA (The Univerity of Quensland Indonesian Student Association), PPIA QUT, IMCoGU (Indnesian Muslim Community of Griffith University), IISB (Indonesian Islamic Society of Brisbane), MIPIQ (Masyarakat Indonesia Pemburu Ikan Quensland), Perkumpulan Masyarakat Bali di Gold Coast, WKI Brisbane (Warga Kristen Indonesia), Brisbane Fotografer Club, dan masih banyak lagi kelompok-kelompok lain yang saya tidak bisa menyebutkannya.

Setelah hampir 2 tahun berkomunikasi dengan beberapa teman yang bergabung dalam berbagai perkumpulan di perantauan tersebut, ternyata ada “organisasi” lain yang aktifnya musiman. Nama perkumpulan tersebut mirip-mirip dengan salah satu ormas di Indonesia yang identik dengan sikap tegas dan keras-nya. Media Barat sering memberi stempel hardliner atau Islam garis keras pada ormas ini.  Saya yakin anda tahu ormas apa yang saya maksud. Ya betul, FPI.

Meski sebutannya sama, FPI Brisbane ini jauh dari tindak kekerasan. Walaupun beroperasi hanya setiap Ramadhan, FPI Brisbane juga tidak pernah melakukan razia tempat-tempat yang dianggap pusat maksiat. Padahal, selama Ramadhan ini warung-warung makan, kantin di kampus, dan tempat-tempat “maksiat” lain buka sebagaimana biasa. Di Kampus, kita pun bisa dengan mudah melihat hilir mudik wanita pakai baju “you can see”, bercelana ketat, berjalan megal megol sambil makan burger, sandwich, kebab, atau minum soft dring di muka umum. Namun oleh FPI Brisabe hal tersebut dibiarkan saja.

Mau tau apa itu FPI Brisbane? FPI yang saya maksudkan adalah singkatan dari Front Pemburu Ifthar.  Warganya sebagian besar student, namun tidak sedikit juga yang Permanent Resident. Warga FPI ini dengan senang hati menghadiri buka puasa bersama di kampus atau di beberapa masjid yang biasanya dilanjutkan dengan dinner dan sholat tarowih. Dalam perkembangannya, selain FPI versi pemburu, ada juga versi penyedia (Front Penyedia Ifthar). Menjadi warga FPI versi penyedia ini tentu lebih mulia dan insya Allah akan memperoleh berkah labih banyak.

Berdasar pengalamn, menjadi warga FPI Brisbane memberi banyak manfaat. Yang paling utama adalah memperkokoh jalinan silaturahmi. Rasa-rasanya hanya di perantauan-lah saya bisa bertatap-muka langsung dan sholat berjamaah berdampingan dengan saudara sesama Muslim asal Jordan, Saudi, Libyia, Oman, Somalia, Pakistan, India, Maroko, Belanda, Brunei, Malaysia, dan tentu warga Australia sendiri. Selain silaturahmi fisik kita pun juga bersilaturahmi lidah. Saat madhrib tiba, bersama-sama menikmati anake kuliener dari berbagai Negara sahabat (Arab, Afrika, Pakistan, India, Indonesia, dll) tergantung siapa host pada saat ifthar tersebut. Sebuah ukhuwah multicultural yang lengkap, nikmat dan indah.

Apakah anda juga warga FPI? Selamat menuntaskan ibadah Ramadhan.

MENJADI INDONESIA DI MANCA NEGARA

Posted 08 Aug 2010 — by Muttaqin
Category Serba-serbi

Status minoritas bisa jadi salah satu pemicu “militansi” sekaligus kebersamaan. Perasaan senasib di negeri orang telah merekatkan sekat-sekat yang biasanya berjarak di negari asal, lebur jadi satu dalam balutan patriotisme menghadirkan identitas Indonesia. Tidak ada sentimen ras, suku, agama, maupun golongan. Hanya ada satu: INDONESIA. Itu yang tampak ketika komunitas Indonesia di Brisbane yang diorganisir ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith University) menyelenggarakan Indonesian Day di kampus tersebut, Kamis 5 Agustus 2010.

Read More

Peradaban Utama=Khaira Ummah+Ummatan Wasatha

Posted 31 Jul 2010 — by Muttaqin
Category Uncategorized

Agar Muhammadiyah benar-benar menjadi bagian dari khaira ummah, ummatan wasatha dan pelopor peradaban utama, maka radius pergaulan warganya perlu diperluas. Tidak hanya pergaulan secara fisik namun juga secara intelektual dan spiritual. Jalinan silaturahim kader dan aktivisnya diperlebar dan sinergitasnya degan berbagai komponen kebajikan di dipererat. Perbedaan pandangan bukan alasan untuk saling menyingkirkin dan menegasikan namun untuk memperkokoh persaudaran.

Dengan modal khaira umah dan ummatan wasatha inilah peradaban utama bisa terealisir. Bila tidak, ia hanya akan menjadi slogan yang manis diucapkan, penghias ruangan, dan alat gagah-gagahan di berbagai kegiatan.

_____________

Read More

Ikhlas Profesional

Posted 09 Jun 2010 — by Muttaqin
Category Teropong

Gagasan profesionalisasi gerakan Islam mengindikasikan selama ini aktivitas dakwah belum dikelola dengan benar, sekedar kegiatan sambilan di tengah kesibukan bekerja di sektor formal. Kesannya, ikhlas adalah aktivitas tidak berbayar dan gratisan, sementara professional itu bergaji tinggi dan berorientasi financial.  Karena gratisan, sesuatu yang ikhlas  biasanya dikerjakan sambil lalu, asal-asalan, dan dengan waktu+tenaga turahan. Tentu saja ini bertolak belakang dengan professional yang direncanakan secara matang dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan. Tidak bisakah memadukan keduanya; ikhlas yang professional atau profesional tapi ikhlas? Read More

Pawai Budaya

Posted 29 May 2010 — by Muttaqin
Category Kabar/News

Minggu lalu, tepatnya 20 Mei 2010, SD tempak anak saya belajar menyelengarakan Pawai Budaya dalam rangka menyambut 4 moment sekaligus: hari pendidikan nasional, hari kebangkitan nasional, Milad SD Muhammadiyah Bodon yang ke-96, serta menyongsong Muktamar 1 Abad Muhammadiyah ke 46 di Yogyakarta awal Juli yang akan datang.

Selain pawai andong, kegiatan itu juga dimeriahkan dengan lomba peragaan busana Nusantara serta pemilihan Dimas dan Diajeng antar kelas. Tidak kurang 120 andong dihias dengan berbagai atribut, disesaki oleh anak-anak SD yang mengenakan pakaian adat Jawa, Riau, Banjar, Bali, Minang, Palembang, dll. Replika candi prambana dan Tugu Jogaja pun juga ikut diarak.

Read More

Bahasa Kekerasan

Posted 24 Apr 2010 — by Muttaqin
Category Teropong

Betulkah kita bangsa yang ramah, sopan dan santun? Katanya, keramahtamahan  orang Indonesia selaku bangsa Timur tidak hanya  pada sesama anggota keluarga dan masyarakat, namun juga kepada orang lain, the other. “Tamu adalah raja”, demikian slogan yang sering kita dengar, mengandung pesan agar memuliakan orang lain yang hadir di tengah kita..

Tampaknya,  “doktrin” kita ini masyarakat yang ramah dan sopan perlu ditinjau ualang,  sebab akhir-akhir ini kekerasan cenderung dijadikan cara “mengekspresikan” eksistensi dan kepentingan. Lihat saja trend tawuran antar pelajar yang sebenarnya dipicu oleh persoalan sepele, demontrasi mahasiswa mulai sering berakhir ricuh dan merusak fasilitas umum, serta cara-cara main hakim sendiri terhadap anggota masyarakat yang diindikasi berbuat kriminal. Read More

Page 1 of 9123...Last »